-->

Laporan Praktikum Pengawetan Telur Dengan Metode Pengasinan



PENGAWETAN TELUR DENGAN METODE PENGASINAN
PERCOBAAN IV
(Praktikum Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan)



PENGAWETAN TELUR DENGAN METODE PENGASINAN Laporan Praktikum PENGAWETAN TELUR DENGAN METODE PENGASINAN






Kelompok : 6

Agus Setiawan                       B1315002
Jamilah                                   B1315028
M. Putra Fajar                      B1315041
Rina Wardani                        B1315061






PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI TANAH LAUT
PELAIHARI
2016



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Osmosis ialah perpindahan molekul air melalui selaput semipermiabel selektif dari kepingan yang lebih encer ke kepingan yang lebih pekat. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi sanggup dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada kepingan dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi kepingan dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang diharapkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor.
Telur yang direndam didalam larutan garam akan mengalami osmosis alasannya ialah telur tersebut ditempatkan ditempat/lingkungan yang konsentrasinya lebih encer/rendah daripada di dalam telur (isi telur). Telur sebagai sel tunggal yang terbungkus cangkang yang mempunyai pori-pori dan merupakan membran yang bersifat selektif permeabel, kuning telur sebagai inti. Hal itu menimbulkan air garam masuk ke dalam telur melewati membran/cangkang telur alasannya ialah konsentrasi di dalam lebih tinggi daripada di luar, sehingga telur menjadi asin. Hal ini juga sesuai dengan pengertian osmosis yaitu proses perpindahan molekul-molekul zat terlarut dari konsentrasi rendah (hipotonik) ke konsentrasi tinggi (hipertonik).
Namun dalam praktikum ini kami mencoba menciptakan telur asin dengan penambahan bawang putih dan cabe yang telah dihaluskan ke dalam blender pada adonan untk telur. Hal ini bertujuan untuk mengetahui efek rasa bawang putih dan cabe yang dicampu ke adonan.

1.2  Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari dan mempraktikkan pengawetan telur dengan metode pengasinan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Telur asin ialah istilah umum untuk kuliner berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan ialah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Masa kadaluwarsa telur asin sanggup mencapai satu bulan (30 hari).
Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan adonan garam dengan tanah liat, atau debu gosok atau bubuk bata merah. Prinsip kedua cara tersebut ialah kehilangan cairan tubuh osmosis, yaitu proses pengurangan air dari materi dengan cara membenamkan      bahan   dalam suatu     larutan ber- konsentrasi tinggi, larutan tersebut mempunyai  tekanan osmosis tinggi. Dehidrasi osmosis (osmotic dehydration) merupakan proses perpindahan massa secara simultan (countercurrent flows) antara keluarnya air dari materi dan zat terlarut berpindah dari larutan ke dalam bahan. Perpindahan massa osmosis dinyatakan sebagai kehilangan air (WL, water loss) dan penambahan padatan (SG, solid gain). Aplikasi kehilangan cairan tubuh osmosis dalam proses pengasinan, terlihat dengan keluarnya air dari dalam telur bersamaan dengan masuknya larutan garam ke dalam telur. (Kastaman dkk, 2005)
Garam (NaCl) akan masuk ke dalam telur dengan cara merembes melalui pori-pori kulit, menuju ke kepingan putih, dan kesannya ke kuning telur. Makin usang dibungkus dengan adonan, makin banyak garam yang merembes masuk ke dalamnya, sehingga telur menjadi semakin abadi dan asin. Lamanya telur dibungkus adonan ini harus diadaptasi dengan selera masyarakat yang akan mengonsumsinya



BAB III
METODE

3.1  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 18 Maret 2016 pukul 09.00-11.00 WITA di Labolatorium Pangan Teknologi Industri Pertanian Politeknik Negeri Tanah Laut.

3.2  Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang dipakai dalam praktikum ini ialah toples, amplas, blender, bejana dan panci.
3.2.2 Bahan
Bahan yang dipakai dalam praktikum ini ialah telur, debu gosok, bata merah bubuk, garam, bawang putih dan cabai.

3.3  Prosedur Kerja
1.      Dicuci higienis adonan telur memakai air
2.      Dikeringkan sebentar kemudian diamplas. Sisihkan
3.      Dibuat 5 macam adonan yaitu debu gosok ditambah garam, debu gosok ditambah garan dan bawang putih yang telah dihaluskan, bata merah bubuk ditambah garam, bata merah bubuk ditambah garam dan bawang putih yang telas dihaluskan, serta bata merah bubu ditambah garam dan cabe yang telah dihaluskan
4.      Ditambahkan air adonan-adonan tersebut hingga kental, tidak encer dan sanggup melekat pada telur
5.      Dimasukkan telur pada masing-masing adonan dan dikepal-kepal telur tersebut
6.      Disimpan di dalam toples yang mempunyai tutup kemudian didiamkan beberapa hari
7.      Setelah itu direbus telur-telurnya hingga mendidih
8.      Diamati telur tersebut
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil
Tabel 1. Data hasil pengamatan organoleptik telur 15 hari
No.
Uji
Organoleptik
Perawatan
Air garam
Abu
Bata
Abu + Bawang
Bata + Bawang
Bata + Cabai
1.
Rasa
Asin
Sangat asin
Sangat asin
Asin
Asin
Asin
2.
Warna
Jingga
Jingga kekuningan
Jingga
Jingga
Jingga
Jingga
3.
Tekstur
Sedikit lembut
Agar keras
Agar keras
Lembut
Lembut
Lembut
4.
Aroma
Telur (wangi)
Telur (wangi)
Telur (wangi)
Bawang (wangi)
Bawang  (wangi)
Telur (wangi)

4.2  Pembahasan
Telur asin ialah istilah umum untuk kuliner berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan ialah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Masa kadaluwarsa telur asin sanggup mencapai satu bulan (30 hari).
Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan adonan garam dengan tanah liat, atau debu gosok atau bubuk bata merah.
Pada praktikum ini kami melaksanakan pengasinan telur memakai adonan adonan garam dengan debu gosok atau bubuk bata merah. Pertama-tama dicuci higienis adonan telur memakai air. Lalu dikeringkan sebentar kemudian diamplas. Tujuan pengamplasan ini ialah biar pori-pori pada cangkang telur terbuka dan gampang meresap garam yang nantinya dicampurkan dengan adonan. Untuk adonan yang kami buat ada 5 macam adonan yaitu debu gosok ditambah garam, debu gosok ditambah garan dan bawang putih yang telah dihaluskan, bata merah bubuk ditambah garam, bata merah bubuk ditambah garam dan bawang putih yang telas dihaluskan, serta bata merah bubu ditambah garam dan cabe yang telah dihaluskan. Selain memakai adonan kami juga mencobanya merendam dengan air garam. Tujuannya untuk mengetahui apakah rasa dan aroma dari bawang putih dan cabe sanggup merembes masuk ke dalam cangkang telur dan menimbulkan telur ada flavor dari bawang putih dan cabai. Adonan-adonan tersebut dibentuk hingga kental, tidak encer dan sanggup melekat pada telur. Hal ini bertujuan biar pada ketika proses pengawetan adonan tidar luntur atau leleh dan tetap melekat pada cangkang. Setelah adonan jadi, dimasukkan telur pada masing-masing adonan dan dikepal-kepal telur tersebut. Disimpan di dalam toples yang mempunyai tutup kemudian didiamkan beberapa hari. Setelah itu direbus telur-telurnya hingga mendidih. Diamati telur tersebut.
Dari hasil pengamatan telur yang paling anggun ialah telur yang memakai adonan bata ditambah bawang, selain teksturnya yang lembut rasanya juga tidak terlalu asin serta tercium aroma bawang. Untuk telur yang tidak anggun ialah telur yang memakai adonan bata merah, selain teksturnya yang keras dan kasar, rasanyapun sangat asin. Kemudian untuk cabai, dari aroma maupun rasa tidak ada khas cabai, ini dikarenakan rasa pedas dan aroma dari cabe tidak sanggup masuk ke dalam telur melalui cangkang.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Dari praktikum ini kita sanggup disimulkan bahwa :
1.      Kita sanggup mengetahui bahwa dalam proses pengasinan telur terjadi proses osmosis.
2.      Telur yang paling anggun ialah telur yang memakai adonan bata ditambah bawang, selain teksturnya yang lembut rasanya juga tidak terlalu asin serta tercium aroma bawang.
3.      Telur yang tidak anggun ialah telur yang memakai adonan bata merah, selain teksturnya yang keras dan kasar, rasanyapun sangat asin.

5.2  Saran
Sebelum melaksanakan praktikum ini sebaiknya direndam dahulu telur ke dalam air untuk mengetahui telur mana yang masih anggun untuk dipakai sebagai percobaan.









DAFTAR PUSTAKA
Aprimera. 2012. https://www.arifinbp.com//search?q=proses-yang-terjadi-pada-saat. Diakses pada tanggal 21 Maret 2016
Diana. 2013. https://www.arifinbp.com//search?q=proses-yang-terjadi-pada-saat. Diakses pada tanggal 21 Maret 2016
Maulana, Ardian https://www.arifinbp.com//search?q=proses-yang-terjadi-pada-saat. Diakses pada tanggal 21 Maret 2016

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship