-->

Teori Asal Seruan Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, Dan Evolusi Lengkap)

Asal-usul kehidupan menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini. Selama ratusan tahun, para ilmuwan telah mengetahui bahwa makhluk hidup yang ada di bumi beraneka ragam. Dalam keanekaragaman tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa pada beberapa makhluk hidup ditemukan juga beberapa kesamaan. Sejak lama, para ilmuwan berusaha menjawab sebuah pertanyaan, bagaimana kehidupan berasal / berawal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, banyak ilmuwan yang mengemukakan banyak sekali teorinya disertai bukti-bukti yang mendukung teori tersebut. Meskipun demikian, pertanyaan tersebut belum sanggup sepenuhnya terjelaskan oleh teori-teori tersebut lantaran teori-teori tersebut sulit dibuktikan.
    Dari banyak teori mengenai asal-usul kehidupan, terdapat dua teori utama yang sanggup diterima secara luas, yakni teori evolusi kimia dan teori evolusi biologi. Selain kedua teori tersebut, dijelaskan pula sejarah munculnya teori abiogenesis dan teori biogenesis yang merupakan awal pemikiran insan mengenai asal-usul kehidupan.

1. Teori Abiogenesis
    Menurut teori abiogenesis, makhluk hidup berasal dari benda tidak hidup atau dengan kata lain makhluk hidup ada dengan sendirinya. Oleh lantaran makhluk itu ada dengan sendirinya maka teori ini dikenal juga dengan teori Generatio Spontanea.  Generatio spontanea berarti penciptaan yang terjadi secara spontan. Artinya bahwa kehidupan berasal dari benda tak hidup yang terjadi secara spontan. Aristoteles merupakan salah satu penggagas teori ini, teori ini diajukan oleh Aristoteles pada tahun 384–322 SM. Aristoteles menyatakan bahwa kehidupan berasal dari benda tak hidup yang terjadi secara spontan. Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles berdasarkan pengamatan adanya larva lalat yang muncul secara tiba-tiba pada daging yang busuk. Aristoteles berkesimpulan bahwa larva lalat tersebut berasal dari daging yang busuk.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Pendukung lain teori Abiogenesis ialah Nedham, seorang ilmuwan dari Inggris. Pada tahun 1713-1781 John Needham melaksanakan percobaan dengan mengisi beberapa labu tertutup dengan kaldu daging, kemudian dipanaskan tetapi tidak hingga mendidih. Selanjutnya labu tersebut ditutup dan disimpan pada suhu kamar. Setelah beberapa hari, ternyata semua labu menjadi keruh yang menunjukkan bahwa di dalam labu sudah berisi mikrobia. Berdasarkan hasil percobaannya, Needham
menyimpulkan bahwa mikrobia yang menyebabkan kekeruhan dalam labu berasal dari kaldu daging yang disiapkan. Berdasarkan percoban tersebut, sanggup disimpulkan bahwa kehidupan berasal dari benda mati.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Jadi, berdasarkan paham generation spontanea, semua kehidupan berasal dari benda tak hidup secara spontan, seperti:
a. ikan dan katak berasal dari lumpur
b. cacing berasal dari tanah
c. belatung terbentuk dari daging yang membusuk
d. tikus berasal dari sekam dan kain kotor.

Akhir tahun 1600, banyak orang percaya mengenai teori generatio spontanea pada hewan. Bahkan seorang doktor ketika itu, Jan Baptist Van Helmont, menciptakan resep untuk menciptakan tikus, yaitu dengan melempar biji-bijian dan kain lusuh ke sudut ruangan. (Sumber: Heath Biology, 1985)
    Setelah ditemukan mikroskop, Antonie van Leeuwenhoek melihat adanya mikroorganisme (animalculus) di dalam air rendaman jerami. Temuan ini seakan-akan menguatkan teori Abiogenesis. Para pendukung teori Abiogenesis menyatakan bahwa mikroorganisme itu berasal dari jerami yang membusuk. Akan tetapi, Leeuwenhoek menolak pernyataan itu dengan mengemukakan bahwa mikroorganisme itu berasal dari udara. Para penganut abiogenesis tersebut di atas dalam menarik
kesimpulan bergotong-royong terdapat kelemahan, yaitu belum bisa melihat benda yang sangat kecil (bakteri, kista, ataupun telur cacing) yang terbawa dalam materi percobaan yang digunakan. Hal ini lantaran pada zaman Aristoteles belum ditemukan mikroskop. Walaupun ada kelemahan pada percobaan, tetapi cara berpikir dalam mencari tanggapan mengenai asal seruan kehidupan di bumi ini sudah mengacu pada contoh metode ilmiah. Tidak semua orang puas dengan teori yang dikemukakan
oleh para penganut paham abiogenesis. Oleh lantaran itu, ada orang yang mulai menyidik asal-usul makhluk hidup melalui banyak sekali percobaan. Walaupun bertahan beratus-ratus tahun, teori Abiogenesis akibatnya goyah dengan adanya penelitian tokoh-tokoh yang tidak puas dengan paham Abiogenesis. Tokoh-tokoh ini antara lain: Francesco Redi (Italia, 1626 - 1697), Lazzaro Spallanzani (Italia, 1729 - 1799), dan Louis Pasteur (Perancis, 1822 - 1895)

2. Teori Biogenesis
    Teori Biogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup. Tokoh pendukung teori ini antara lain Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur. Francesco Redi merupakan orang pertama yang melaksanakan penelitian untuk membantah teori Abiogenesis.
a. Percobaan Francesco Redi
    Francesco Redi melaksanakan penelitian memakai 8 tabung yang dibagi menjadi 2 bagian. Empat tabung masing-masing diisi dengan daging ular, ikan, roti dicampur susu, dan daging. Keempat tabung dibiarkan terbuka. Empat tabung yang lain diperlakukan sama dengan 4 tabung pertama, tetapi tabung ditutup rapat. Setelah beberapa hari pada tabung yang terbuka terdapat larva yang akan menjadi lalat. Berdasarkan hasil percobaannya, Redi menyimpulkan bahwa ulat bukan berasal dari daging, tetapi berasal dari telur lalat yang terdapat dalam daging dan menetas menjadi larva. Penelitian ini ditentang oleh penganut teori Abiogenesis lantaran pada tabung yang tertutup rapat, udara dan zat hidup tidak sanggup masuk sehingga tidak memungkinkan untuk adanya suatu kehidupan. Bantahan itu menerima tanggapan dari Redi. Redi melaksanakan percobaan yang sama, namun tutup diganti dengan kain kasa sehingga udara sanggup masuk dan ternyata dalam daging tidak terdapat larva.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
b. Percobaan Lazzaro Spallanzani
    Lazzaro Spallanzani pada tahun 1765 melaksanakan percobaan untuk menyanggah kesimpulan yang
dikemukakan oleh Nedham. Lazzaro Spallanzani melaksanakan percobaan dengan memanaskan 2 tabung kaldu sehingga semua organisme yang ada di dalam kaldu terbunuh. Setelah didinginkan kaldu tersebut dibagi menjadi 2, satu tabung dibiarkan terbuka dan satu tabung yang lain ditutup. Ternyata pada tabung yang terbuka terdapat organisme, sedangkan pada tabung yang tertutup tidak terdapat organisme.
    Percobaan Spallanzani ini pada prinsipnya sama dengan percobaan Redi, tetapi materi yang dipakai ialah air kaldu.
Labu 1 : diisi 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15ยบ C dan dibiarkan terbuka.
Labu 2 : diisi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat dengan sumbat gabus, kemudian dipanaskan dan pada kawasan pertemuan gabus dengan verbal labu sanggup diolesi lilin biar lebih rapat.
Kedua labu itu ditempatkan di tempat terbuka dan didinginkan. Setelah beberapa hari kemudian, hasil percobaan menunjukkan bahwa:
Labu 1 : terjadi perubahan, air kaldu menjadi keruh dan berbau tidak enak, serta banyak mengandung mikroba.
Labu 2 : tidak ada perubahan sama sekali, air tetap jernih dan tanpa mikroba. Tetapi, bila dibiarkan terbuka lebih usang terdapat banyak mikroba.
    Dengan mikroskop tampak bahwa pada kaldu yang berasal dari labu 1 dan labu 2 terdapat mikroorganisme. Spallanzani menyimpulkan bahwa timbulnya kehidupan hanya mungkin kalau telah ada kehidupan sebelumnya. Jadi, mikroorganisme tersebut telah ada dan tersebar di udara. Pendukung abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Spallanzani, alasannya ialah udara dibutuhkan untuk berlakunya generation spontanea. Sedangkan, paham biogenesis beranggapan bahwa udara itu merupakan sumber kontaminasi.

 c. Percobaan Louis Pasteur
    Orang yang memperkuat teori Biogenesis dan menumbangkan teori Abiogenesis hingga tak tersanggahkan lagi  ialah Louis Pasteur (1822 - 1895) spesialis biokimia berkebangsaan Perancis. Pasteur melaksanakan percobaan penyempurnaan dari percobaan yang dilakukan Spallanzani. Louis Pasteur melaksanakan percobaan memakai labu leher angsa. Pertama-tama kaldu direbus hingga mendidih, kemudian didiamkan. Setelah beberapa hari, air kaldu tetap jernih dan tidak mengandung mikroorganisme. Adanya leher belibis memungkinkan udara sanggup masuk ke dalam tabung, tetapi mikroorganisme udara akan terhambat masuk lantaran adanya uap air pada pipa leher. Namun, apabila tabung dimiringkan hingga air kaldu hingga ke permukaan pipa, air kaldu tersebut akan terkotori oleh mikroorganisme udara. Akibatnya sesudah beberapa waktu, air kaldu akan keruh lantaran terdapat mikroorganisme. Kesimpulan percobaan Pasteur ialah mikroorganisme
yang ada pada air kaldu bukan berasal dari cairan (benda tak hidup), melainkan dari mikroorganisme yang terdapat di udara. Mikroorganisme yang ada di udara masuk ke dalam labu gotong royong dengan debu.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Dalam buku versi lain percobaan Louis Pasteur ialah sebagai berikut:

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Percobaan Louis Pasteur hasilnya,
a. air kaldu yang terdapat di dalam labu yang tidak berbentuk leher angsa, mengandung mikroorganisme.
b. Adapun labu yang berbentuk leher belibis dan berafiliasi dengan udara luar, tidak terdapat mikroorganisme.
    Berdasarkan hasil percobaan para ilmuwan tersebut maka muncullah teori gres yaitu teori Biogenesis yang menyatakan bahwa:
a. setiap makhluk hidup berasal dari telur = omne vivum ex ovo
b. setiap telur berasal dari makhluk hidup = omne ovum ex vivo
c. setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya = omne vivum ex vivo

    Perhatikan ikhtisar percobaan yang dilakukan oleh Nedham, L. Spallanzani, dan L. Pasteur dalam Tabel berikut.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)

3. Teori Cosmozoic / Kosmozoan
    Teori Cosmozoic atau teori Kosmozoan menyatakan bahwa asal mula makhluk hidup bumi berasal dari ”spora kehidupan” yang berasal dari luar angkasa. Keadaan planet di luar angkasa diliputi kondisi kekeringan, suhu yang sangat cuek serta adanya radiasi yang mematikan sehingga tidak memungkinkan kehidupan sanggup bertahan. Pada akibatnya spora kehidupan itu hingga ke bumi. Teori ini tidak sanggup diterima oleh banyak ilmuwan.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)

4. Teori Penciptaan (Special Creation)
    Teori ini berpandangan bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan menyerupai apa adanya. Paham ini hanya membicarakan perkembangan materi hingga terbentuknya organisme tanpa menyinggung asal seruan materi kehidupan. Penciptaan setiap jenis makhluk hidup terjadi secara terpisah. Teori ini tidak berdasarkan suatu eksperimen.

5. Teori Evolusi Biokimia
    Teori ini mencoba menggali warta asal seruan makhluk hidup dari sisi biokimia. Menurut Oparin dalam bukunya yang berjudul The Origin of Life (1936) menyatakan bahwa asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi beserta atmosfernya. Alexander Oparin ialah andal evolusi molekular berkebangsaan Rusia. Lebih lanjut, Oparin menjelaskan bahwa pada mulanya atmosfer bumi purba terdiri atas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan gas hidrogen (H2). Oleh lantaran adanya pemanasan dan energi alam, berupa sinar kosmis dan halilintar, gas-gas tersebut mengalami perubahan menjadi molekul organik sederhana, sejenis substansi asam amino.
    Selama berjuta-juta tahun, senyawa organik itu terakumulasi di cekungan perairan membentuk primordial soup, menyerupai semacam adonan materi-materi di lautan panas. Tahap selanjutnya, primordial soup ini membentuk monomer. Monomer bergabung membentuk polimer. Polimer membentuk agregasi berupa protobion. Protobion ialah bentuk awal sel hidup yang belum bisa bereproduksi, tetapi bisa memelihara lingkungan kimia dalam tubuhnya. Di samping itu, protobion juga telah menunjukkan sifat yang berafiliasi dengan makhluk hidup, menyerupai sanggup melaksanakan metabolisme, kemampuan mendapatkan rangsang, dan bereplikasi sendiri. Terbentuknya polimer dari monomer-monomer telah dibuktikan oleh Sydney W. Fox. Dalam percobaannya, Fox memanaskan 18–20 macam asam amino pada titik leburnya dan didapatkan protein.
    Pendapat Alexander Oparin menerima pertolongan dari andal kimia Amerika Serikat, berjulukan Harold Urey. Urey menyatakan bahwa atmosfer bumi purba terdiri atas gas-gas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan gas hidrogen (H2). Dengan adanya energi alam (berupa halilintar dan sinar kosmis), adonan gas-gas tersebut membentuk asam amino.
Pada tahun 1953, seorang mahasiswa Harold Urey, yaitu Stanley Miller (USA) mencoba melaksanakan eksperimen untuk menandakan kebenaran teori yang dikemukakan Urey.
Percobaannya itu juga dikenal dengan eksperimen Miller-Urey.

Alat percobaan Miller-Urey Terdiri atas bab yang berupa sebuah tabung tertutup yang dihubungkan dengan 2 ruangan. Ruangan atas berisi beberapa gas yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi purba. Selanjutnya pada tempat ini diberi percikan listrik yang menggambarkan halilintar. Kondensor berfungsi untuk mendinginkan gas, menyebabkan terbentuknya tetesan-tetesan air dan berakhir pada ruangan pemanas kedua yang menggambarkan lautan. Beberapa molekul kompleks yang terbentuk di ruangan atmosfer, dilarutkan dalam tetesan-tetesan air ini dan dibawa ke ruangan lautan tempat sampel yang terbentuk diambil untuk dianalisis.
a. Teori Evolusi Kimia berdasarkan Harold Urey (1893)
    Urey menyatakan zat-zat organik terbentuk dari zat-zat anorganik. Menurut Urey, zat-zat anorganik yang ada di atmosfer berupa gas karbondioksida, metana, amonia, hidrogen, dan uap air. Semua zat ini bereaksi membentuk zat organik lantaran energi petir.
Menurut Urey, proses terbentuknya makhluk hidup sanggup dijelaskan dengan 4 tahap, yaitu:
Tahap 1 : Molekul metana, amonia, hidrogen, dan uap air tersedia sangat banyak di atmosfer bumi.
Tahap 2 : Energi yang diperoleh dari fatwa listrik halilintar dan radiasi sinar kosmis menyebabkan zat-zat bereaksi membentuk molekul-molekul zat yang lebih besar.
Tahap 3 : Terbentuk zat hidup yang paling sederhana yang mempunyai susunan kimia, menyerupai susunan kimia pada virus.
Tahap 4 : Zat hidup yang terbentuk berkembang dalam waktu jutaan tahun menjadi organisme (makhluk hidup) yang lebih kompleks.
b. Teori kimia berdasarkan Stanley Miller
    Miller ialah murid Harold Urey yang berhasil menciptakan model alat yang dipakai untuk menandakan hipotesis Urey. Miller memasukkan uap air, metana, amonia, gas hidrogen, dan
karbondioksida ke dalam tabung percobaan. Tabung tersebut kemudian dipanasi. Untuk mengganti energi listrik halilintar ke dalam perangkat alat tersebut dilewatkan lecutan listrik bertegangan tinggi sekitar 75.000 volt. Hal ini dimaksudkan untuk memalsukan kondisi permukaan bumi pada waktu terjadi pembentukan zat organik secara spontan. Dengan adanya energi listrik, terjadilah reaksi-reaksi yang membentuk zat baru. Zat-zat yang terbentuk didinginkan dan ditampung. Hasil reaksi kemudian dianalisis. Ternyata, di dalamnya terbentuk zat organik sederhana, menyerupai asam amino, gula sederhana menyerupai ribosa dan adenin. Dengan demikian, Miller sanggup menandakan bahwa zat organik sanggup terbentuk dari zat anorganik secara spontan.
    Miller memakai adonan gas yang diasumsikan terdapat di atmosfir bumi purba, yaitu amonia, metana, hidrogen, dan uap air dalam percobaannya. Oleh lantaran dalam kondisi alamiah gas-gas itu mustahil bereaksi, Miller memberi stimulus energi listrik tegangan tinggi, sebagai pengganti energi alam (halilintar dan sinar kosmis). Miller mendidihkan adonan gas tersebut pada suhu 100 derajat C selama seminggu. Pada final percobaan, Miller menganalisis senyawa-senyawa kimia yang terbentuk di dasar gelas percobaan dan menemukan 3 jenis dari 20 jenis asam amino.
Keberhasilan percobaan Miller ini memunculkan hipotesis lanjutan perihal asal seruan kehidupan. Para evolusionis menyatakan bahwa asam-asam amino kemudian bergabung dalam urutan yang
sempurna secara kebetulan untuk membentuk protein. Sebagian protein-protein yang terbentuk secara kebetulan ini menempatkan diri mereka pada struktur menyerupai membran sel yang diikuti pembentukan sel primitif. Sel-sel ini kemudian bergabung membentuk organisme hidup. Mereka menyebutnya sebagai evolusi biologi.

6. Evolusi
    Teori biologi merupakan teori evolusi kimia, yang beropini bahwa bumi ini pada awalnya sangat panas sekali, kemudian suatu ketika bumi mengalami proses pendinginan. Dari proses-proses tersebut maka sanggup dihasilkan bahan-bahan kimia. Bahan-bahan yang berat akan menyusun
bumi sedangkan materi yang ringan akan menyusun atmosfer.nnya ini asam amino tersebut belum menunjukkan tanda-tanda hidup.
A.I Oparin
    Oparin ialah seorang ilmuwan berkebangsaan Rusia. Oparin juga mempunyai gagasan yang sama menyerupai Urey, tetapi Oparin tidak sanggup menandakan bahwa reaksi gas CH4, NH3, H2 dan H2O membentuk asam amino. Ia beropini bahwa asam amino terbentuk secara alami. Menurut Oparin,
lautan bumi pada awalnya mempunyai persediaan cukup bahan-bahan organik. Dalam waktu yang usang maka bahan-bahan organik tersebut akan berikatan satu dengan lainnya membentuk selaput-selaput, kemudian molekul organik berselaput ini akan mengikat molekul lainnya dan menyatukan diri sehingga terbentuk gabungan molekul gres yang karakteristik. Ikatan kompleks inilah yang diperkirakan merupakan awal dari kehidupan.

Alexander Oparin (1894-1980) ialah spesialis biokimia berkebangsaan Rusia. Tahun 1917 Oparin menuntaskan studinya di Universitas Moscow dan menjadi profesor biokimia pada tahun 1927. Oparin merupakan salah satu andal yang mengungkapkan asal seruan kehidupan dari sudut pandang fisika dan kimia. 
     Oparin dan Haldane serta teori Urey menyebutkan bahwa zat organik (asam amino) yang merupakan materi dasar penyusun makhluk hidup, pada mulanya terakumulasi di lautan.
Kenyataan ketika ini menunjukkan bahwa dalam sel-sel badan makhluk hidup mengandung garam (NaCl). Hal ini mendasari kesimpulan bahwa makhluk hidup berasal dari laut.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Evolusi biologi dimulai pada ketika pembentukan sel. Asam amino yang terbentuk dari evolusi kimia akan bergabung membentuk makromolekul. Hal ini dibuktikan pada penelitian Sidney W. Fox. Larutan yang mengandung monomer-monomer organik diteteskan ke pasir, batu, atau tanah yang panas sehingga mengalami polimerisasi. Hasil polimerisasi ini dinamakan proteinoid. Apabila proteinoid dicampur dengan air cuek terbentuklah kumpulan proteinoid yang menyusun tetesan
kecil yang disebut mikrosfer. Mikrosfer mempunyai beberapa sifat hidup yang mempunyai membran selektif permeabel namun belum sanggup dikatakan hidup.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Kumpulan proteinoid - Proteinoid merupakan polipeptida yang secara impulsif berpolimerisasi dari penguapan kumpulan asam amino. Proteinoid dibuat oleh kegiatan vulkanik yang tinggi.
Oparin memakai istilah koaservat untuk mikrosfer. Koaservat merupakan tetesan koloid yang terbentuk ketika larutan protein, asam nukleat, dan polisakarida dikocok. Substansi dalam koaservat sanggup membentuk enzim yang berperan dalam pengambilan materi dari lingkungan sebagai materi pembentuk tubuh. Adanya formasi molekul-molekul lipid dan protein yang membatasi koaservat dengan lingkungan luar sekitarnya, telah dianggap sebagai selaput sel primitif. Selaput sel primitif ini menyebabkan stabilitas koaservat akan tetap terjaga. Selaput sel primitif ini diperkirakan berperan dalam pengaturan pertukaran substansi antara koaservat dan lingkungan sekitarnya. Koaservat dengan selaput lipid protein mungkin merupakan tipe sel primitif yang disebut protosel. Protosel kemudian akan membentuk sel awal yang merupakan permulaan dari organisme uniselular. Oleh lantaran keadaan atmosfer ketika itu tidak mengandung O2, organisme awal tersebut diperkirakan bersifat prokariotik, anaerob, dan heterotrof. Bagaimana protosel sanggup bermetamorfosis organisme uniselular, bahkan menjadi makhluk hidup multiselular menyerupai ketika ini?
    Perkembangan protosel menjadi organisme uniselular maupun multiselular tidak terlepas dari sistem genetik pada protosel itu sendiri. Sehubungan dengan hal itu, spesialis biokimia dari
Havard yaitu Walter Gilbert pada tahun 1986 mengajukan hipotesis dunia RNA. Menurut hipotesis itu, miliaran tahun yang kemudian sebuah molekul RNA yang sanggup mereplikasi terbentuk secara kebetulan. Melalui pengaktifan oleh lingkungan, RNA ini sanggup memproduksi protein. Selanjutnya, dibutuhkan molekul kedua untuk menyimpan warta tersebut, maka dengan suatu cara tertentu
terbentuklah DNA. Perhatikan gambar sistem genetik yang pertama biar Anda lebih jelas.

 menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan insan selama ini Teori Asal Usul Kehidupan (Teori Abiogenesis, Biogenesis, Kosmozoan, Penciptaan, Evolusi Biokimia, dan Evolusi  Lengkap)
Sistem genetik yang pertama
a. Gen pertama terbentuk dari polimerisasi secara impulsif beberapa nukleotida.
b. RNA sederhana mengalami replikasi, tanpa keberadaan protein katalitik atau enzim.
c. RNA yang terdiri atas intron dan ekson mensintesis polipeptida (protein) dengan cara melepaskan intron-intron.
d. Enzim reverse transkriptase merupakan enzim pertama dalam sistem ini yang memungkinkan terbentuknya DNA.
e. Sel awal yang terdiri atas DNA, masih merupakan kekerabatan antara intron dan ekson.
Catatan:
1. Intron dan ekson biasanya merupakan kelipatan isyarat triplet.
2. Intron ialah penyusun RNA yang tidak sanggup diekspresikan, sedangkan ekson merupakan penyusun RNA yang sanggup diekspresikan.
Segera sesudah protosel memperoleh gen yang bisa mereplikasi menyebabkan protosel bisa bereproduksi, dan dimulailah proses evolusi biologi. Sejarah kehidupan pun telah dimulai. Selanjutnya organisme-organisme mengalami proses evolusi berdasarkan jalur kehidupan yang berbeda-beda.

Teori Asal-Usul Kehidupan Lain
1. Teori Kreasi Khas
    Teori Kreasi Khas menyatakan bahwa asal seruan kehidupan diciptakan oleh zat supranatural (gaib) pada ketika yang istimewa. Teori ini dikenal dengan nama Teori Kreasi Khas atau Teori Penciptaan Khusus. Carolus Linnaeus ialah salah satu pengikut teori ini.
2. Teori Kataklisma
    Teori kataklisma menyatakan bahwa asal semua spesies diciptakan sendiri-sendiri dan berlangsung dalam periodeperiode, di antara periode yang satu dengan yang lain terjadi tragedi yang menghancurkan spesies usang dan memunculkan spesies baru. Pandangan ini dipelopori oleh cuvier.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship