-->

Penelitian Eksperimen

PENELITIAN EKSPERIMEN
Makalah ini disusun guna memenuhi kiprah mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu: Shidiq Premono, M.Pd


Makalah ini disusun guna memenuhi kiprah mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Penelitian Eksperimen







Oleh Kelompok 4:
1.      Hendra Budi Gunawan              (11670018)
2.      Rahma Mei Widarti                    (11670037)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN




A.  Kata Pengantar
Dalam melaksanakan penelitan banyak sekali pilihan metode yang sanggup digunakan. Namun tidak semua metode cocok digunakan, metode yang dipilih harus sesuai dengan tujuan penelitian. Salah satu metode yang sanggup digunakan dalam penelitia yaitu metode eksperimen. Terutama dalam penelitian pendidikan, salah satu metode yang banyak digunakan yaitu metode penelitian eksperimen.
Untuk sanggup melaksanakan suatu eksperimen yang baik, perlu dipahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkait dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan dengan variabel, hakekat, karakteristik, tujuan, syarat-syarat, langkah-langkah penelitian, serta validitas dalam penelitian eksperimen.
Selanjutnya, untuk lebih memahami mengenai penelitian eksperimen, dalam makalah ini yang berjudul “Penelitian Eksperimen” akan dibahas mengenai metode penelitian eksperimen beserta hal-hal yang terkait di dalamnya.




























BAB II
PEMBAHASAN

A.    MASALAH
1.      Pengertian Masalah
Pada dasarnya penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapat data yang antara lain sanggup digunakan untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu, setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari perkara (Sugiyono, 2013). Menurut Emory dalam Sugiyono (2013) menyampaikan bahwa penelitian murni dan terapan intinya berangkat dari masalah, hanya saja untuk penelitian terapan kesannya eksklusif sanggup digunakan untuk menciptakan keputusan.
Tuckman dalam Sugiyono (2013) beropini bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah, walaupun sanggup diakui bahwa menentukan perkara penelitian merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian. Apabila dalam penelitian telah sanggup menemukan perkara yang benar-benar masalah, maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai. Oleh karena itu, menemukan perkara dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi sesudah perkara sanggup ditemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera sanggup dilakukan (Sugiyono, 2013).
Jadi, perkara atau problem yaitu suatu pertanyaan yang mengawali suatu penelitian. Proses mencari tanggapan dari permasalahan yang hanya bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian, suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian dilakukan, dan perkara atau problem dalam penelitian tidak lepas kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, serta merupakan sesuatu yang lumrah (Ghony dan Almansur, 2009).

2.      Karakteristik Masalah
Permasalahan yang ada harus sanggup diklasifikasikan, selanjutnya sanggup diangkat sebagai perkara yang sanggup diteliti. Menurut Syukardi dalam Djunaidi dan Fauzan (2009) perkara biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a.       Permasalahn tersebut biasanya dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu bidang yang sama.
b.      Permasalahan tersebut sering muncul dan secara signifikasi ditemui oleh orang-orang yang terlibat.
c.       Permasalahan tersebut sanggup diukur dengan alat ukur penelitian, ibarat skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.
d.      Permasalahan tersebut sanggup diteliti, karena sanggup diungkapkan kejelasannya melalui tindakan koleksi data dan kemudian dianalisis.
e.       Permasalahan tersebut sanggup dikontribusi signifikan, karena mempunyai nilai guna dan memanfaatkan baik pada tataran teoritis yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun pada tataran mudah dalam kehidupan sehari-hari.
f.       Permasalah tersebut didukung oleh data empiris yakni sanggup diukur baik secara kuantitatif ataupun  secara empiris yang memperlihatkan hubungan erat antara  fakta konstruk suatu fenomena, disamping mendukung pada suatu yang harus didasarkan aturan positif, empiris dan terukur. Apabila tidak demikian, maka akan jatuh pada kategori common sense yang sulit ditindak lanjuti dalam proses pengumpulan data.
g.      Sesuai dengan kemampuan dan impian peneliti, hal ini penting karena memperlihatkan motivasi dan kepercayaan diri pada peneliti bahwa apa yang hendak diteliti di lapangan akan berhasil, karena data yang ada di lapangan kemudian peneliti memiliki  kemampuan untuk dikumpulkan sehingga sanggup dianalisis hingga hasil penelitian sanggup diperoleh. 

3.      Sumber Masalah
Masalah sanggup diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara planning dengan pelaksanaan (Sugiyono, 2013). Stonner dalam Sugiyono (2013) mengemukakan bahwa masalah-masalah sanggup diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi.
Menurut Borg dalam Ghony dan Almansur (2009), perkara atau permasalahan yang ada dilingkungan kita sehari-hari cukup banyak, untuk itu diharapkan bagi peneliti bisa mengidentifikasi, memilih, merumuskan, dan kemudian menentukan tipologi penelitiannya secara tepat. Menurut Surya brata dalam Ghony dan Almansur (2009), terdapat beberapa akar perkara atau permasalahan yang sanggup diperoleh dari:
a.       Literatur, yang meliputi : buku, buku teks, monography, laporan statistik, dan yang berupa non buku seperti: jurnal, tesis, disertasi, dsb.
b.      Sebagai pertemuan ilmiah, seperti: seminar, diskusi, loka karya, sarasehan, dsb.
c.       Pengalaman pribadi dan pengalaman yang bersifat longitudinal.
d.      Pertanyaan dari pemegang otoritas.
e.       Perasaan insituitif.
Disamping permasalahan diatas, masih ada beberapa macam sumber masalah  yang sanggup membantu peneliti dalam memperoleh permasalahan yang layak dijadikan materi untuk diteliti (Ghony dan Almansur, 2009), diantaranya :
a.       Pengalaman seseorang atau kelompok, dimana pengalaman yaitu guru terbaik dalam karier maupun profesi seseorang ibarat guru, dokter, pengacara, dimana mereka diberi gelar dan tanda jasa untuk menghormati pengalaman dibidangnya. Mereka telah usang menekuni bidangnya sehingga sanggup digunakan sebagai sumber untuk membantu mencari permasalah yang signifikan untuk diteliti.
b.      Lapangan tempat peneliti bekerja merupakan tempat dimana seseorang maupun peneliti bekerja merupakan salah satu sumber permasalahan yang baik dan layak untuk digali sebagai akar perkara yang akan diteliti.
c.       Laporan hasil penelitian, disamping ada hasil temuan yang gres juga ada kemungkinan penelitian yang direkomendasikan karena berkaitan dengan hasil penelitian yang telah ada, sehingga dari sumber tersebut diperoleh dari suatu citra permasalahan yang baik unuk diteliti.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Pengertian Rumusan Masalah
Rumusan perkara berbeda dengan masalah. Jika perkara merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan perkara merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Akan tetapi, antara perkara dengan rumusan perkara sangat berkaitan erat, karena setiap rumusan perkara penelitian harus didasarkan pada perkara (Sugiyono, 2013).
2.      Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan perkara merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Dimana bentuk-bentuk rumusan perkara penelitian ini dikembangkan berdasarkan penelitian berdasarkan tingkat eksplanasi (level of explanation). Adapun bentuk-bentuk rumusan perkara tersebut (Sugiyono, 2013) antara lain:
a.       Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan perkara deskriptif yaitu suatu rumusan perkara yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi, dalam penelitian ini peneliti tidak menciptakan perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain.
Contoh:
1)      Seberapa baik kinerja Departemen Pendidikan Nasional?
2)      Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeri berbadan hukum?
3)      Seberapa tinggi efektivitas kebijakan manajemen berbasis sekolah di Indonesia?

b.      Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan perkara komparatif yaitu rumusan perkara penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
Contoh:
1)      Adakah perbedaan prestasi berguru antara murid dari sekolah negeri dan swasta?
2)      Adakah perbedaan disiplin kerja guru antara sekolah di Kota dan di Desa?
3)      Adakah perbedaan produktivitas karya ilmiah antara perguruan tinggi negeri dan swasta?

c.       Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan perkara asosiatif yaitu rumusan perkara penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu:
1)      Hubungan Simetris
Hubungan simetris yaitu suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Jadi, bukan hubungan kausal maupun interaktif. Contoh rumusan masalah:
a)      Adakah hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah?
b)      Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah?
c)      Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah murid sekolah?
Contoh judul penelitian:
a)      Hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah?
b)      Hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah?
c)      Hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah murid sekolah?

2)      Hubungan Kausal
Hubungan kausal yaitu hubungan yang bersifat alasannya akibat. Jadi, di sini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi).
Contoh:
a)      Adakah efek pendidikan orang renta terhadap prestasi belajar anak?
b)      Seberapa besar efek kepemimpinan kepala Sekolah Menengah kejuruan terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan?
c)      Seberapa besar efek tata ruang kelas terhadap efisiensi pembelajaran di SMA?
Contoh judul penelitian:
a)      Pengaruh pendidikan orang renta terhadap prestasi belajar anak di SD Kabupaten Alengkapura?
b)      Pengaruh kepemimpinan kepala Sekolah Menengah kejuruan terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan pada Sekolah Menengah kejuruan di Provinsi Indrakila?
c)      Pengaruh tata ruang kelas terhadap efisiensi pembelajaran di Sekolah Menengan Atas Negeri 1 Losari?

3)      Hubungan Interaktif
Hubungan interaktif yaitu hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen.
Contoh:
a)      Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di Kecamatan A.
b)      Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan.

3.      Langkah-langkah dalam Merumuskan Masalah
Dalam menentukan perkara atau permasalahan penelitian akan lebih gampang jikalau peneliti memahai dan mengikuti secara organisatoris langkah-langkah penting (Ghony dan Almansur, 2009), yaitu:
a.       Peneliti sebagai mengidentifikasi cakupan luas dari permasalah tersebut, kemudian dispesifikasikan untuk mencari apakah permasalahan tersebut sering kali muncul dan sanggup dinilai secara bergairah kemanfaatannya baik terhadap perkembangan ilmu, perekembangan ilmu pengetahuan maupun terhadap stakeholder hasil penelitian.
b.      Peneliti mempersempit permasalahan sehingga menjadi permasalahan yang sanggup diteliti, sesuai dengan kemampuan peneliti untuk melaksanakannya, disamping menghindari adanya kesulitan nantinya dalam mengukur data.
c.       Masalah penelitian yang telah diidentifikasi dan dibatasi biar memperoleh perkara yang layak untuk diteliti masih harus dirumuskan biar sanggup memperlihatkan arah bagi penelitian secara jelas.
d.      Masalah yang telah dirumuskan secara tepat dan benar harus meliputi dan memperlihatkan semua variabel maupun hubungan variabel yang satu dengan yang lainnya yang hendak diteliti.

C.    KAJIAN TEORI
Fungsi teori dalam penelitian (Ghony dan Almansur, 2009) diantaranya:
a.       Teori berfungsi sebagai klasifikasi
Dalam hal ini teori memberi pedoman dan strategi, melalui konsep-konsepnya, untuk memgumpulkan data yang relevan, untuk melakuakn pembagian terstruktur mengenai atau pengelompokan/ penggolongan data, memutuskan kategori-kategori yang dipandang mempunyai maksud dan tujuan. Dengan bekal kerangka teori peneliti dalam mengumpulkan data tidak lagi merupakan himpunan yang tidak teratur dan tidak menentu, alasannya teori memberi arah dan petunjuk bagi peneliti terutama data apa yang perlu dikumpulkan, bagaimana menyusun klasifikasinya berdasarkan atas tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya.
Misalnya, teori peningkatan mutu, kualitas pendidikan yang menghubungkan kerajinan guru dengan anak putus sekolah (droup out). Peneliti dengan bekal teori yang mantap bisa melaksanakan dan menghimpun pengelompokan data anak yang putus sekolah (droup out) berdasarkan tingkat pendidikan. Hal ini erat kaitannya dengan teori yang menyatakan adanya perbedaan tingkat anak putus sekolah diantara tingkat pendidikan yang ada mulai dari tingkat sekolah dasar, tingkat menengah pertama, tingkat menengah atas, maupun tingkat perguruan tinggi.

b.      Teori berfungsi sebagai eksplanatur
Maksudnya bekerjsama teori mempunyai banyak informasi dibalik rangkaian fenomena. Informasi disini diharapkan teori bisa memperlihatkan tanggapan mengenai alasannya terjadinya suatu fenomena. Sebenarnya kegiatan penciptaan teori yang paling penting yaitu proses kegiatan untuk mememukan sejumlah ulasan yang memperlihatkan bukti penyebab dari suatu kegiatan atau insiden tertentu. Alasan yang merupakan inti atau bukti tentu saja sanggup diperoleh melalui pengujian secara empiris dengan memakai mekanisme dan metodologi yang memadai.
Teori selalu bersifat menemukan kesimpulan dengan jalan mengadakan abstraksi  dari sejumlah fakta yang konkret. Kerangka abstraksi menghubungkan antara fakta itu selalu menjadi rangkaian yang berafiliasi satu sama lain dalam kaitan yang mempunyai makna. Inilah salah satu jasa yang diberikan teori dalam klarifikasi sebuah fakta, dan dengan berkat teori maka hubungan antara fakta menjadi terperinci dan masuk akal.

c.       Fungsi teori sebagai prediktif
Dalam kaitan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari teori yang berfungsi sebagai eksplanasi  yakni menjelaskan alasannya akhir insiden tertentu. Sebab dengan mengetahui suatu insiden akan tahu pula penyebab terjadianya insiden yang lain, sehingga apabila insiden yang semacam itu terjadi berulangkali dan polanya sama, maka peneliti menjadi yakin akan ketepatan hubungan alasannya akhir dari insiden tersebut, yang selanjutnya peneliti diharapkan bisa untuk meramalkan apa yang akan terjadi. Apabila terjadi dalam situasi yang berbeda, peneliti menjumpai timbulnya faktor penyebab yang sama, maka sanggup dipastikan adanya akhir tertentu akan terjadi.

D.    PENELITIAN YANG RELEVAN


E.     KERANGKA BERFIKIR
Menurut Uma Sekaran dalam Sugiyono (2013) mengemukakan bahwa kerangka berfikir merupakan model konseptual perihal bagaimana teori berafiliasi dengan aneka macam faktor yang telah diidentifikasi sebagai perkara yang penting.
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi, secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. Apabila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu, pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.
Sapto Haryoko dalam Sugiyono (2013) mengemukakan bahwa kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti.

F.     HIPOTESIS
1.      Pengertian Hipotesis
Hipotesis merupakan tanggapan sementara terhadap rumusan perkara penelitian, di mana rumusan perkara penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena tanggapan yang diberikan gres didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga sanggup dinyatakan sebagai tanggapan teoritis terhadap rumusan perkara penelitian, belum tanggapan yang empirik dengan data (Sugiyono, 2013).
Menurut Emmy dalam Ghony dan Almansur (2009), hipotesis merupakan pertanyaan logis yang menjadi dasar untuk menarik suatu kesimpulan sementara, atau proses berfikir deduksi mengenai hubungan antar variabel yang diteliti dan dengan proses berfikir deduksi dan induksi yang selalu saling melengkapi dalam mekanisme keilmuan.
Dari klarifikasi tersebut apa yang harus dilakukan oleh peneliti, maksud maupun dari tujuannya tak lain untuk menentukan suatu konsep yang tepat dan benar menuju  ketaraf mencari hubungan antara tanda-tanda dan fakta. Sebab hipotesis merupakan suatu kebenaran sementara yang sanggup diubah atau diganti dengan yang lebih tepat dan lebih representatif (Ghony dan Almansur, 2009).
Penelitian yang merumuskan hipotesis yaitu penelitian yang memakai pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan sanggup ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan memakai pendekatan kuantitatif.

2.      Bentuk-bentuk Hipotesis
Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan perkara penelitian. Apabila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk hipotesis penelitian sama dengan bentuk rumusan perkara penelitian (Sugiyono, 2013), yaitu:
a.       Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan tanggapan sementara terhadap perkara deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.
b.      Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan tanggapan sementara terhadap rumusan perkara komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
c.       Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif yaitu tanggapan sementara terhadap rumusan perkara asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Adapun jenis atau macam hipotesis dalam penelitian berdasarkan Ghony dan Almansur (2009), yaitu:
a.       Hipotesis null atau nihil, yaitu hipotesis yang mengandung pernyataan negatif yakni menyatakan tidak adanya hubungan, tidak adanya efek antara variabel yang satu dengan yang lain.
b.      Hipotesis kerja atau hipotesis alternatif, yaitu hipotesis yang mengandung pernyataan positif yakni menyatakan adanya hubungan, adanya efek antara variabel yang satu dengan  yang lain.

3.      Karakteristik Hipotesis
Terdapat tiga karakteristik hipotesis yang baik (Sugiyono, 2013), yaitu:
a.       Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada aneka macam sampel, dan merupakan dugaan perihal hubungan antara dua variabel atau lebih.
b.      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan aneka macam penafsiran.
c.       Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.

4.      Merumuskan Hipotesis Penelitian
Menurut Ary dalam Ghony dan Almansur (2009), menyatakan bahwa dalam perumusan hipotesis seorang peneliti harus mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu:
a.       Hipotesis yang baik memperlihatkan bahwa peneliti mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup dalam kaitannya dengan permasalahan.
b.      Hipotesis yang baik sanggup memperlihatkan arah dan petunjuk perihal pengambilan dan proses interprestasinya.
           
G.    DESAIN EKSPERIMEN
Desain eksperimen yaitu kerangka konseptual pelaksanaan eksperimen. Suatu desain mempunyai dua fungsi (Furchan, 2004), yaitu:
1.      Menciptakan kondisi bagi perbandingan yang diharapkan oleh hipotesis eksperimen, dan
2.      Melalui analisis data secara stastistik, memungkinkan peneliti melaksanakan tafsiran yang berarti mengenai hasil penelitaian.
Wiersma dalam Emzir (2007) mengemukakan sejumlah kriteria untuk suatu desain penelitian eksperimental yang baik, antara lain:


1.      Kontrol eksperimental yang memadai
2.      Kekurangan artifisialitas
3.      Dasar untuk perbandingan
4.      Informasi yang memadai dari data
5.      Data yang tidak terkontaminasi
6.      Tidak mencampurkan variabel yang relevan
7.      Keterwakilan
8.      kecermatan



Menurut Arifin (2012), ada beberapa jenis desain penelitian eksperimental, yaitu:
1.      Pra Eksperimen (pre experimental)
Kelompok ini hampir sama dengan eksperimen, tetapi bukan eksperimen, karena tidak ada penyamaan karakteristik atau random dan tidak ada variabel kontrol. Fraenkel dan Norman dalam Arifin (2012) menyebutnya sebagai eksperimen lemah (weak experimental), karena dianggap eksperimen paling lemah. Jenis eksperimen ini hanya digunakan untuk penelitian latihan, bukan untuk penelitian akademik, penelitian kebijakan, pengembangan ilmu atau sejenisnya. Desain ini terdiri dari studi perkara satu tembakan (one-shot case study), satu kelompok prates-postes (one-group pretest-posttest design), dan perbandingan kelompok lengkap (intact-group comparison).

2.      Eksperimen Murni (true experimental)
Kelompok ini menguji variabel bebas dan variabel terikat yang dilakukan terhadap sampel kelompok kontrol. Sampel dari kedua kelompok tersebut diambil secara acak. Sampel acak bisa diambil jikalau subjek-subjek tersebut mempunyai ciri yang sama atau dibentuk sama atau disamakan, sehingga harus dilakukan pengujian. Jika tidak bisa diuji, maka karakteristik kesamaan itu harus dibangun berdasarkan perkiraan yang kuat dari peneliti. Disain eksperimen murni mempunyai tiga karakteristik, yaitu adanya kelompok kontrol, subjek ditarik secara random dan ditandai untuk masing-masing kelompok, serta sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Desain ini terdiri dari: the posttest-only group control design, the pretest-posttest control group design, dan the solomon four-group design.

3.      Eksperimen Kuasi (quasi experimental)
Eksperimen ini disebut juga eksperimen semu. Tujuannya yaitu untuk memprediksi keadaan yang sanggup dicapai melalui eksperimen yang sebenarnya, tetapi tidak ada pengontrolan dan/atau manipulasi terhadap seluruh variabel yang relevan.
Eksperimen kuasi banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dengan desain pre-test post-test, karena variabel-variabelnya banyak yang tidak bisa diamati, ibarat kematangan, imbas pengujian, regresi statistik, dan adaptasi. Begitu juga penelitian mengenai masalah-masalah sosial, ibarat kenakalan, keresahan, merokok, jumlah penderita penyakit jantung, yang mana kontrol dan manipulasi tidak selalu sanggup dilaksanakan. Desain ini terdiri dari: the nonequivalent control group design, the time series design, conterbalanced design, dan factorial design.

4.      Eksperimen Subjek-Tunggal (single-subject experimental)
Eksperimen subjek-tunggal yaitu suatu eksperimen di mana subjek atau pertisipasinya bersifat tunggal, bisa satu orang, dua orang, atau lebih. Hasil eksperimen disajikan dan dianalisis berdasarkan subjek secara individual. Prinsip dasar eksperimen subjek tunggal yaitu meneliti individu dalam dua kondisi, yaitu tanpa perlakuan dan dengan perlakuan. Pengaruh terhadap variabel akhir diukur dalam kedua kondisi tersebut. Penelitian ini sangat mempunyai kegunaan bagi guru yang sedang melaksanakan penelitian terhadap individual akseptor didik. Misalnya, dalam melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling atau dalam melaksanakan rehabilitasi dan terapi fisik yang perlakuannya hanya diberikan pada satu individu. Desain single-subject umumnya memakai pengukuran yang berulang dan hanya mengimplementasikan variabel bebas tunggal yang diharapkan sanggup mengubah hanya satu variabel terikat. Pengukuran variabel dilakukan pada kondisi normal yang disebut baseline.

H.    VARIABEL
1.      Pengertian Variabel
Menurut effendi dalam Ghony dan Almansur (2009), variabel dalam penelitian ilmiah yaitu faktor yang selalu berubah-ubah, atau suatu konsep yang mempunyai variasi nilai, sedangkan berdasarkan Ary dalam Ghony dan Almansur (2009), variabel dikenal sebagai suatu atribut yang dianggap mencerminkan atau mengungkapkan konsep atau konstruksi dalam penelitian. Seperti halnya konsep tubuh bukan variabel, karena tubuh tidak mengandung pengertian dan nilai yang bervariasi. Variabel itu mengandung nilai- nilai yang berbeda, sedangkan tinggi tubuh dan berat tubuh termasuk dalam kategori variabel, karena mempunyai sebuah nilai.

2.      Jenis Variabel Penelitian
Menurut Ghony dan Almansur (2009), variabel sanggup dibedakan menjadi 7, yaitu :
a.      Independent Variabel dan Dependent Variabel
Variabel ini penting diketahui peneliti bila mengetahui analisis sosiologik yang berkaitan dengan hubungan asimetrik. Dalam hubungan ini variabel independen dianggap memberi landasan untuk variabel dependen. Hubungan antara variabel independen dan dependen tidak perlu merupakan sesuatu hubungan alasannya (causation). Sebagai pedoman mudah dalam menentukan variabel independen yakni dengan menentukan sifat gampang tidaknya variabel tersebut berubah atau diubah. Misalnya variabel sex, ras urutan kelahiran sanggup dipandang tetap dan tergolong variabel independen. Sebab dalam keadaan tertentu variabel ibarat nasionalitas, agama, kelas sosial, dan sanggup juga dikelompokkan pada variabel independen. Selanjutnya bila dibentuk dalam suatu fungsi: Y-F(X), di mana variabel X disebut variabel independen, dan Y yaitu variabel dependen. Ada kemungkinan bahwa hanya ada satu nilai Y tertentu berkaitan dengan tiap nilai X, sedangkan variabel Y yaitu merupakan suatu fungsi dari X yang bernilai tunggal. Bilamana mempunyai nilai lebih dari satu nilai Y yang berkaitan dengan nilai X, sedangkan variabel Y yaitu suatu fungsi yang bernilai multiple dari X, di mana suatu fungsi sanggup meliputi lebih dari dua variabel, ibarat contohnya Z = F (X, Y).

b.      Extraneous Variabel
Variabel ini merupakan variabel pelengkap yang adakala perlu ditinjau ulang untuk menjelaskan dan memahami sesuatu hubungan antara variabel yang sudah ada. Kadang-kadang variabel extraneous ini ditambahkan oleh peneliti sebagai “tes faktor” untuk membantu suatu analisis antara dua faktor lain. Sebagi conoh dalam analisis hubungan jumlah nelayan dengan jumlah ikan yang ditangkap. Maka kebenaran hubungan ini sanggup diuji terhadap variabel extraneous ibarat iklim, modernisasi, alat penangkap yang digunakan nelayan, dan sebagainya.

c.       Variabel komponen
Variabel komponen yaitu variabel yang merupakan sub potongan atau komponen dari variabel yang dimaksud dalam penelitian. Biasanya uraian klarifikasi variabel komponen tersebut menyangkut variabel independen. Misalnya, banyak sedikitnya perceraian dikalangan petani didaerah tertentu pada setiap animo panen, bukan disebabkan karena faktor “panen” yang merupakan konsep umum, tetapi berkaitan dengan komponen konsep “panen” itu seperti: panen jenis, hasil bumi tertentu, atau ketetapan waktu panen, dan seterusnya.

d.      Intervening Variabel
Variabel ini merupakan variabel yang perlu memperoleh perhatian, alasannya dalam variabel ini ada unsu-unsur yang ikut campur tangan dalam hubungan dengan variabel yang sedang diteliti. Adanya variabel “intervening” akan sanggup diduga bila dalam hubungan antara variabel yang sedang diteliti tidak memperhatikan pola yang sama pada kesempatan atau lokasi yang berlainan. Misalnya kerajianan murid dengan prestasi hasil berguru siswa, sedang variabel interveningnya antara lain: kesehatan, keadaan rumah tangga siswa, beban keluarga siswa dan sebagainya.

e.       Tresendent Variabel
Di mana variabel intervening yang telah diungkapkan diatas  dan variabel antisendent ini mempunyai peranan yang serupa, hanya pertama tempatnya diantara variabel-variabel independen dan dependen. Sedangkan variabel anticendent mendahului variabel independen dan dependen.

f.       Supresor Variabel
Dalam hal ini adakala hubungan antara variabel yang sedang diteliti ternyata tidak ada, atau hubungan lemah bukan karena memang demikian adanya tetapi disebakan karena sesuatu variabel yang melemahkan hubungan tersebut. Variabel yang demikian itu dalam peneltian disebur supresor. Variabel ini penting dalam suatu tindakan analisis untuk menguji suatu hipotesis, sehingga hipotesis itu bisa ditolak atas dasar hubungan variabel yang lemah, sedangkan variabel supresor itu ditemukan maka hubungan yang dicari tersebut ternyata cukup kuat. Misalnya, dalam penelitian pembuktian bahwasannya IQ seseorang tidak bergantung pada ketentuan keturunan atau ras. Berbagai peneliti membuktikan ternyata kesannya terjadi sebaliknya, yang menekan hubungan yang tidak ada sehingga menjadi ada hubungan tak lain yaitu faktor ekonomi dari pihak responden aneka macam ras keturunan yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, serta ethnosentrisitas aneka macam tes IQ yang diadakan.

g.      Variabel yang Menyebabkan Distorsi
Di mana adanya variabel ini menimbulkan seseorang peneliti menciptakan kesimpulan yang berupa sebaliknya dari apa yang seharusnya atau yang sebenarnya terjadi. Misalnya, di dalam forum permasyarakatan Cipinang Jakarta Timur kebanyakan narapidana yaitu penduduk dari luar kawasan DKI. Kesimpulan yang sanggup antara asal narapidana dan tingkat atau jenis kriminalitas yaitu bahwa penduduk diluar DKI mempunyai kecenderungan berbuat tindakan kriminal yang lebih dibandingkan dengan penduduk di wilayah DKI sendiri.
Bila variabel distorsi yang dalam kenyataanya menyatakan bahwa kegiatan tindakan pidana kriminal itu dilakukan oleh adanya variabel pengangguran dari responden pendatang, maka tindak pidana kriminal itu dilakukan oleh adanya variabel penganguran dari responden pendatang, maka tindak pidana kriminal di DKI yang tergolong penganguran dan pendatang gres juga tidak kalah tingginya.

I.       DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Setelah variabel-variabel itu diidentifikasi dan diklasifikasi, pekerjaan peneliti berikutnya yaitu mendefinisikan variabel-variabel itu yang lebih operasional. Artinya, batasan yang mempunyai sifat memudahkan peneliti untuk melaksanakan pengamatan terhadap data yang dikumpulkan berdasarkan jenis variabel tersebut (Setyosari, 2010).
Menurut Arifin (2012), definisi operasional yaitu definisi khusus yang didasarkan atas sifat-sifat yang didefinisikan, sanggup diamati dan dilaksanakan oleh peneliti lain. Definisi operasional merupakan cara yang paling efektif bagi peneliti untuk melaksanakan pengumpulan data penelitiannya. Ada beberapa cara mendefinisikan variabel, yaitu ada yang menitikberatkan pada segi kegiatan-kegiatan (operasi) apa yang harus dilakukan, dan ada yang menekankan sifat-sifat statis (konseptual) perihal hal yang didefinisikan. Biasanya dalam merumuskan batasan operasional variabel itu disertai atau ditunjukkan pula cara atau alat (instrumen) pengumpul data yang digunakan (Setyosari, 2010).

J.      POPULASI
Populasi yaitu sasaran seluruh orang atau objek yang akan menjadi sasaran kesimpulan penelitian. Dalam penelitian, populasi ini dibedakan antara populasi secara umum dsan populasi target. Populasi sasaran yaitu populasi yang menjadi sasaran keberlakuan kesimpulan penelitian kita. Populasi umum penelitian mungkin seluruh guru Sekolah Menengan Atas Negri di Jawa Barat, tetapi populasi targetnya yaitu seluruh guru IPA Sekolah Menengan Atas negri di Jawa Barat. Hasil Penelitian kita tidak berlaku untuk guru- guru selain guru negri dan harus guru IPA (Ghony dan Almansur, 2009).

K.    SAMPEL
1.      Pengertian Sampel
Sampel yaitu kelompok kecil yang secara nyata kita teliti dan tarik kesimpulan. Dalam penentuan sampel langkah awal yang harus ditempuh yaitu pembatasan jenis populasi, atau menentukan populasi target. Selain berdasarkan jenisnya populasi, sampel juga sanggup dibatasi dalam area atau dalam wilayah, entah itu perkotaan, pedesaan dst. (Sukmadinata, 2012).
Semakin banyak jumlah sampel penelitian diambil akan semakin representatif, artinya akan semakian mendekati populasi yang diperoleh peneliti. Namun, apabila populasi penelitiannya homogen tepat maka besar kecilnya sampel tidak ada dampaknya. Untuk pengambilan sampel penelitian yang representatif perlu dipahami dan diperhatikan juga kawasan generalisasinya, dimana peneliti terlebih dahulu memutuskan luas populasi penelitiannya sebagai kawasan generalisasi gres kemudian menentukan sampelnya sebagai kawasan penelitian. Disamping itu peneliti harus menentukan terlebih dahulu luas dan sifat- sifat populasi, memperlihatkan batas-batas yang tegas, gres kemudian memutuskan sampel penelitiannya. Begitu pula harus dipertimbangkan secara cermat terutama dalam mengguanakan sumber-sumber informasi dari segi validitas dari apa yang dimuat didalamnya. Pentimg untuk diketahui oleh peneliti waktu dibuatnya dokumen tersebut, bagaimana data yang dikumpulkan dan bagaimana pula data itu diklasifikasikan dan dianalisis. Suatu hal yang sangat penting untuk memperoleh perhatian dari peneliti dalam menentukan besar kecilnya sampel penelitian yaitu homogenitas populasi. Jika keadaan populasi homogen, jumlah sampel penelitian hampir tidak menjadi persoalan. Akan tetapi jikalau keadaan populasi homogen, maka peneliti dalam memutuskan sampel penelitiannya harus mempunyai kategori- kategori heterogenitas, dan besarnya populasi dalam tiap-tiap kategori tersebut (Ghony dan Almansur, 2009).

2.      Teknik Sampel
Menurut Ghony dan Almansur (2009), terdapat dua macam teknik sampel, yaitu:
a.       Teknik Random Sampling
Teknik random sampling yaitu pengambilan sampel secara sembarang atau acak. Teknik ini bukanlah suatu cara sembarangan sebagaimana pendapat peneliti yang belum memahami dasar-dasar penelitian yang utuh. Sebab pengambilan sempel secara random bertitik tolak pada prinsip-prinsip matematik yang kokoh dikarenakan telah diuji dalam praktik. Hingga sekarang, teknik ini dianggap paling representatif dalam penelitian pendidikan. Dalam teknik random sampling semua individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel penelitian. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menganggap teknik random sampling sebagai sempel penelitian yang menyimpang. Adapun cara atau mekanisme yang digunakan untuk random sampling, yaitu:
1)      Cara Undian
Cara ini dilakukan ibarat halnya melaksanakan undian. Semua anggota populasi diberi nomor, nama, alamat, ditulis dalam kertas gulung kecil dan dimasukkan dalam kotak. Kertas yang digulung dalam kotak. Kertas yang digulung dalam kotak tersebut dikokcok-kocok kemudian diambil satu persatu sesuai dengan kebutuhan sampel yang telah ditetapkan besarannya. Setelah jumlah sampel tersebut terpenuhi, maka pengambilan gulungan kertas dalam kotak tersebut dihentikan. Siapa-siapapun yang tercantum namanya dalam gulungan kertas yang diambil dari kotak itu yaitu sebagai sempelnya.
2)      Cara Oridinal
Cara ini diselenggarakan dengan mengambil subyek dari atas kebawah sesudah subyek populasi tersebut disusun secara alfabetis. Ini dilakukan dengan cara alfabetis, yaitu dengan cara mengambil mereka-mereka yang telah disusun tersebut yang mempunyai nomor urut ganjil atau genap, atau yang mempunyai nomor kelipatan ganjil, ataupun genap dari suatu daftar subyek yang telah disusun tersebut.
3)       Cara Randomisasi dan Tabel Bilangan Random
Diantara kegiatan mekanisme itu, cara ketiga ini yang banyak digunakan oleh para peneliti, alasannya selain prosedurnya yang sederhana, juga kemungkinan penyimpangan juga sanggup diperkecil dan dihindari semaksimal mungkin. Tabel bilangan random umumnya terdapat pada buku-buku statistik.

b.      Teknik Non Random Sampling
Semua sampling yang dilakukan bukan dengan teknik random sampling disebut non random sampling. Dalam sampling ini tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel. Indisental sampling misalnya, hanya individu-individu atau kelompok-kelompok yang kebetulan dijumpai atau sanggup dijumpai ketika yang diteliti. Jenis penelitian dari non random sanggup dijelaskan sebagai berikut:
1)      Proposional Sampel, dalam hal ini sampel yang terdiri dari sub sampel yang perimbangannya mengikuti perimbangan sub populasi yang sedang diteliti. Proposional sampling mungkin memakai randomisasi, mungkin tidak. Jika proposional sampling memakai randomisasi, maka sampling ini disebut proportional random sampling. Dalam propotional random sampling ini besar kecilnya sub sampel mengikuti perbandingan (proporsi) besar kecilnya sub populasi, dan individu yang ditugaskan dalam tiap-tiap sub populasi diambil secara random dan sub populasi.
2)      Stratified Sampel, di mana sampel jenis ini bisa digunakan jikalau populasi terdiri dari kelompok yang mempunyai susunan bertingkat. Dalam banyak penelitian, peneliti tidak menghadapi suatu populasi yang membuktikan adanya strata (lapisan). Di forum sekolah sekolah misalnya, terdapat beberapa tingkat kelas, begitu juga dalam masyarakat terdapat bertingkat-bertingkat penghasilan. Sampling yang memperhatikan stratum dalam populasi disebut dengan stratified sampling. Jika stratified sampling itu memperhatikan pertimbangan atau proporsi dari pada individu dalam tiap-tiap stratum maka disebut proportional stratified sampling. Selanjutnya propotional stratified sampling yang memakai randomisasi dinamakan proportional stratified random sampling.
3)      Porposive Sampel, dalam sampel ini pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
4)      Quota Sampel, berbeda dengan sampel sebelumnya ibarat purposive sampling yang paling sering digunakan untuk menilik pendapat masyarakat atas dasar quota. Meskipun tidak semua purposive sampling yaitu quota sampling. Apabila dasar quota digunakan yang paling penting yaitu jumlah subyek yang akan diteliti haruslah ditetapkan terlebih dahulu besarannya sebagai sampel penelitian.
5)      Double Sampel, biasa juga disebut dengan sampel kembar. Sampel ini sangat baik dan tetap digunakan manakala untuk penelitian yang memakai angket sebagai alat pengempulan data dengan pengiriman lewat pos sekaligus sebagai perjuangan penampungan bagi mereka yang tidak mengembalikan daftar angket yang telah dikirimkan pada mereka sasaran penelitian. Mereka yang telah mengembalikan daftar angket dimasukkan dalam sampel pertama, dan mereka yang tidak mengembalikan daftar angket dimasukkan kedalam sampel kedua ini, karena tidak sanggup diperoleh dengan jalan angket, kemudian sanggup dicapai dengan jalan interview. Sampling kembar ini juga kerapkali digunakan untuk keperluan pengecekan (cross validation).
6)      Areaprobability Sampel, di mana sampel penelitian jenis ini membagi-bagi kawasan populasi kedalam sub-sub kawasan tersebut dibagi-bagi lagi kedalam daerah- kawasan yang lebih kecil, dan jikalau diharapkan daerah-daerah kecil lagi.
7)      Cluster Sampel, di mana dalam proporsi yang lebih kecil lagi dari kelompok sampling, mempunyai kesamaan hakikat dengan aeroprobality sampling tersebut di atas. Dalam cluster sampling satuan-satuan sampel tidak lagi terdiri atas kelompok-kelompok individu atau biasa disebut cluster. Dalam peneitian hemat karena observasi yang dilakukan dalam rangka pengumpulan data terhadap sampel tersebut yaitu lebih gampang dan lebih murah daripada observasi- observasi terhadap sejumlah individu yang sama, tetapi tempatnya terpencar-pencar.
8)      Petala Sampel, di mana peneliti memutuskan sampel jenis ini bila keadaan populasi penelitian heterogen, dan biasanya akan lebih baik dibentuk menjadi beberapa satrum atau petala atau lapisan. Pembuatan petala atau lapisan ditentukan berdasarkan karakteristik tertentu sedemikian sehingga petala atau lapisan menjadi homogen. Dari petala atau lapisan kemudian diambil sampelnya secara random terhadap anggota yang diperlukan, atau sanggup juga dengan cara lain yaitu dilakukan secara randomisasi di dalam setiap petala atau lapisan. Apabila pengambilan anggota sampel dari tiap petala atau lapisan tidak secara random, tetapi dilakuakan dengan cara lain, maka terjadilah sampling kuota. Disamping itu, sampling petala biasanya diperbaiki lagi dengan memakai cara proposional. Dengan cara ini dimaksudkan bahwa banyak anggota dari setiap petala atau lapisan secara sebanding dengan ukuran tiap petala atau lapisan.
9)      Sampling Sistematik, di mana dalam sampling sistematik ini anggota sampel diambil dari populasi pada jarak interval waktu, ruang, ataupun urutan yang uniform. Jika populasi penelitiannya berukuran N dan sampelnya beranggotakan n, maka jarak interval besarnya (N:n). Dengan demikian, diperoleh n buah interval dan dari tiap interval diambil sebuah anggota. Pengambilan anggota pertama yang ada di dalam interal pertama dilakukan secara random, sedangkan angota-anggota selanjutnya diambil pada jarak setiap (N:n).
10)  Sampling Multipel, merupakan ekspansi dari sampling ganda. Pengambilan  anggota sampelnya dilakukan lebih dari dua kali dan tiap kali digabungkan menjadi sebuah sampel. Pada tiap gabungan, analisis dilakukan kemudian kesimpulan diadakakan dan sampling berhenti dan apabila kesannya telah memenuhi kriteria yang telah direncanakan. Untuk menggunakan  sampling multipel, maka peneliti harus merencanakan sampling penelitian yang baik. Ini semua termasuk cara-cara sampling yang lainnya dalam penelitian terutama dalam statistik yang disebut teknik sampling.
11)  Sampling Sekwensial, di mana sampling ini sebenarnya juga merupakan sampling multipel. Perbedaannya ialah dalam sampling  sekwensial tiap anggota sampel diambil satu demi satu dan pada tiap kali selesai mengambil anggota sampel, analisis dilakukan kemudian berdasarkan  ini kesimpulan diadakan apakah sampling berhenti ataukah dilanjutkan. Tentu saja setiap anggota yang diambil disatukan dengan anggota-anggota yang diambil terlebih dahulu sebelum kesimpulan diadakan pada tingkatan ini.

L.     TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Menurut Sukmadinata (2012), ada beberapa teknik dalam pengumpulan data, yaitu:
1.      Wawancara (interview)
Wawancara merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif maupun deskriptif kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara verbal dalam pertemuan tatap muka secara individual. Namun, wawancara juga sanggup dilakukan secara berkelompok, apabila penelitian tersebut bertujuan untuk menghimpun data dari kelompok, ibarat wawancara dengan satu keluarga, pengurus yayasan, dan sebagainya.
2.      Angket (Kuesioner)
Angket merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung, atau dengan kata lain peneliti tidak secara eksklusif melaksanakan tanya jawab dengan responden. Instrumen atau alat pengumpulan datanya berupa angket yang berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh responden.
3.      Pengamatan (Observasi)
Pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan cara mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Kegiatan tersebut sanggup berupa cara guru mengajar, siswa belajar, dan sebagainya. Observasi sanggup dilakukan secara partisipatif ataupun nonpartisipatif. Dalam observasi parsitipatif, pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung, sedangkan dalam observasi non parsitipatif, pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, akan tetapi pengamat hanya mengamati kegiatan yang sedang berlangsung.
4.      Studi Dokumenter
Studi dokumenter merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik secara tertulis, gambar, maupun elektronik. Dokumen-dokumen yang dihimpun, dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Selain itu, dokumen-dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan sejarah kelahiran, kekuatan, dan kesesuaian isinya dengan tujuan pengkajian. Isinya dianalisis, dibandingkan, dan dipadukan membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu, dan utuh.

M.   INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
Menurut Sukmadinata (2012), instrumen pengumpulan data secara umum sanggup dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes dan skala.
1.      Tes
Pada umumnya tes bersifat mengukur, walaupun beberapa bentuk tes psikologis terutama tes kepribadian banyak yang bersifat deskriptif, akan tetapi deskripsinya mengarah kepada karakteristik atau kualifikasi tertentu, sehingga ibarat dengan interpretasi dari hasil pengukuran. Tes yang sering digunakan dalam pendidikan anatara lain: tes hasil berguru dan tes psikologis.
a.       Tes hasil belajar
Tes hasil berguru merupakan tes yang mengukur hasil berguru yang dicapai akseptor didik dalam kurun waktu tertentu. Menurut waktunya, dibedakan menjadi rentang satu pertemuan (tes selesai pertemuan), satu pokok bahasan (tes selesai pokok bahasan), satu ahad (tes mingguan), setengah semester, satu semester, dan satu jenjang pendidikan (ujian akhir).
Menurut materi yang diukur, tes hasil berguru dibedakan berdasarkan nama mata pelajaran yang dipelajari, yaitu matematika, kimia, biologi, dan sebagainya. Sedangkan berdasarkan tujuan atau fungsinya, tes hasil berguru dibedakan menjadi, tes diagostik, penempatan, formatif, dan sumatif.
b.      Tes psikologis
Tes psikologis digunakan untuk mengukur atau mengetahui kecakapan potensial dan karakteristik pribadi dari akseptor didik. Kecakapan potensial dan kecakapan hasil berguru akseptor didik sanggup diukur dengan memakai tes, akan tetapi tes yang digunakan berbeda. Di mana untuk mengukur kecakapan potensial digunakan tes standar, sedangkan untuk mengukur hasil berguru digunakan tes buatan atau tes yang tidak distandarisasikan.
Aspek-aspek kepribadian ada yang bersifat mengukur dan ada juga yang bersifat mendeskripsikan. Instrumen penilaian kepribadian yang bersifat mengukur biasanya disusun dalam bentuk skala, skala sikap, minat, motivasi, dan sebagainya, sedangkan yang tidak bersifat mengukur dikategorikan sebagai inventori.

2.      Skala
Skala merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat mengukur, karena diperoleh hasil ukur yang berbentuk angka. Skala berbeda dengan tes, jikalau tes terdiri dari tanggapan salah atau benar, skala tidak ada tanggapan salah atau benar, tetapi tanggapan atau respon dari responden terletak dalam suatu rentang (skala) tertentu. Titik pada rentang yang dipilih memperlihatkan posisi responden.
Menurut Sukmadinata (2012), Ada lima macam skala, yaitu:
a.       Skala deskriptif
Skala deskriptif merupakan skala yang mengikuti bentuk skala perilaku dari Likert, yaitu berupa pertanyaan atau pernyataan yang jawabannya berbentuk skala persetujuan atau penolakan terhadap pertanyaan atau pernyataan tersebut. Penerimaan atau penolakan dinyatak dalam persetujuan yang dimulai dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
b.      Skala garis
Skala garis merupakan skala yang hampir sama denga skala deskriptif, di mana respon dari responden tidak dalam bentuk persetujuan, akan tetapi respon tersebut sanggup bervariasi sesuai dengan rumusan pertanyaan atau pernyataan. Respon atau tanggapan dari responden tidak selalu seragam, akan tetapi berbeda-beda sesuai dengan rumusan pertanyaan atau pernyataan. Meskipun rumusan responnya berbeda-beda, tetapi jarak rentangnya sama.
c.       Skala pilihan wajib
Skala ini biasanya digunakan untuk mengukur minat. Skala ini berbentuk pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternatif tanggapan atau respon yang berkenaan dengan minat, minat bekerja, belajar, dan sebagainya. Alternatif tanggapan harus ganjil, biasanya tiga atau lima pilihan. Dalam skala ini, responden wajib menentukan satu tanggapan yang paling disukai dan satu tanggapan yang paling tidak disukai.
d.      Skala pembandingan pasangan
Skala ini biasanya digunakan untuk mengukur persepsi, penilaian atau minat terhadap sesuatu objek yang berbentuk kegiatan, institusi, organisasi, dan sebagainya. Pengukuran minat dilakukan dengan membandingkan dua atau lebih dari dua objek, di mana objek yang dibandingkan tersebut hendaknya seimbang.
e.       Daftar cek
Daftar cek merupakan bentuk skala yang berisi sejumlah pernyataan singkat yang harus direspon dengan memberi tanda cek. Penggunaan daftar cek sangat luas, yaitu untuk mengukur pendapat, persepsi, kegiatan, kebiasaan, pengalaman, dan pengidentifikasian sesuatu.

N.    CIRI-CIRI INSTRUMEN YANG BAIK
Menurut Uliana dalam artikel pendidikan disebutkan bahwa, sebuah instrumen penilaian hasil berguru hendaknya memenuhi syarat sebelum di gunakan untuk mengevaluasi atau mengadakan penilaian biar terhindar dari kesalahan dan hasil yang tidak valid (tidak sesuai kenyataan sebenarnya). Alat penilaian yang kurang baik sanggup menimbulkan hasil penilaian menjadi bias atau tidak sesuainya hasil penilaian dengan kenyataan yang sebenarnya, ibarat pola anak yang pandai dinilai tidak bisa atau sebaliknya (http://stahdnj.ac.id/?p=67).
Jika terjadi demikian perlu ditanyakan apakah persyaratan instrumen yang digunakan menilai sudah sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan instrumen.
Instrumen Evaluasi yang baik mempunyai ciri-ciri dan harus memenuhi beberapa kaidah antara lain :
  • Validitas
  • Reliabilitas
  • Objectivitas
  • Pratikabilitas
  • Ekomonis
  • Taraf  Kesukaran
  • Daya Pembeda
1.      Validitas
Sebuah Instrumen Evaluasi dikatakan baik manakala mempunyai validitas yang tinggi. Yang dimaksud Validitas disini yaitu kemampuan instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada tiga Aspek yang hendak dievaluasi dalam penilaian hasil berguru yaitu Aspek Kognitif, Psikomotor dan Afektif.Tinggi Rendah nya validitas instrumen sanggup di hitung dengan uji validitas dan di nyatakan dengan koefisien validitas.
2.      Reliabilitas
Instrumen dikatakan mempunyai reliabilitas yang tinggi manakala instrumen tersebut dapta menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg. Keajegan/ketetapn disini tidak diartikan selalu sama tetapi mengikuti perubahan secara ajeg. Jika keadaan seseorang si upik berada lebih rendah dibandingkan orang lain contohnya si Badu, maka jikalau dilakukan pengukuran ulang kesannya si upik juga berada lebih rendah terhadap si badu. Tinggi rendahnya reliabilitas ini sanggup di hitung dengan uji reliabilitias dan dinyatakan dengan koefisien reliabilitas.
3.      Objectivitas
Instrumen penilaian hendaknya terhindar dari pengaruh-pengaruh subyektifitas pribadi dari si evaluator dalam memutuskan hasilnya. Dalam menekan efek subyektifitas yang tidak bisa dihindari hendaknya penilaian dilakukan mengacu kepada pedoman tertama menyangkut perkara kontinuitas dan komprehensif.
Evaluasi harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus). Dengan penilaian yang berkali-kali dilakukan maka evaluator akan memperoleh citra yang lebih terperinci tentang  keadaan Audience yang dinilai. Evaluasi yang diadakan secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan sanggup memperlihatkan hasil yang obyektif perihal keadaan audience yang di evaluasi. Faktor kebetulan akan sangat mengganggu hasilnya.
4.      Praktikabilitas
Sebuah intrumen penilaian dikatakan mempunyai praktikabilitas yang tinggi apabila bersifat mudah gampang pengadministrasiannya dan mempunyai ciri : Praktis dilaksanakan, tidak menuntut peralatan  yang banyak dan memberi kebebasan kepada audience mengerjakan yang dianggap gampang terlebih dahulu. Praktis pemeriksaannya artinya dilengkapi pedoman skoring, kunci jawaban. Dilengkapi petunjuk yang terperinci sehingga sanggup di laksanakan oleh orang lain.
5.      Ekonomis
Pelaksanaan penilaian memakai instrumen tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal tenaga yang banyak dan waktu yang lama.
6.      Taraf Kesukaran
Instrumen yang baik terdiri dari butir-butir instrumen yang tidak terlalu gampang dan tidak terlalu sukar. Butir soal yang terlalu gampang tidak bisa merangsang audience mempertinggi perjuangan memecahkannya sebaliknya kalau terlalu sukar menciptakan audiece frustasi dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Di dalam isitlah penilaian index kesukaran ini diberi simbul p yang dinyatakan dengan “Proporsi”.
7.      Daya Pembeda
Daya pembeda sebuah instrumen yaitu kemampuan instrumen tersebut membedakan antara audience yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan audience yang tidak pandai (berkemampuan rendah). Indek daya pembeda ini disingkat dengan D dan dinyatakan dengan Index Diskriminasi.

O.    VALIDITAS INSTRUMEN
1.      Pengertian Validitas
Menurut Sudaryono (2012), validitas  atau keshahihan berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketetapan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melaksanakan fungsi ukurnya. Dengan kata lain, validitas yaitu suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur.

2.      Jenis Validitas
Menurut Arifin (2012), dalam penelitian eksperimen terdapat dua jenis validitas jikalau dilihat dari sumbernya, yaitu validitas internal dan validitas eksternal.
a.       Validitas Internal
Validitas internal berkaitan dengan ketepatan mengidentifikasi variabel eksperimen. Tujuan validitas ini yaitu untuk menentukan apakah faktor-faktor yang telah dimodifikasi benar-benar memperlihatkan efek pada latar eksperimen, dan apakah variabel yang diobservasi benar-benar tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar (faktor-faktor yang tidak dikontrol). Apabila tujuan tersebut tercapai, berarti validitas internal dalam penelitian eksperimental sudah terpenuhi. Dengan kata lain, suatu eksperimen mempunyai validitas internal apabila faktor-faktor yang dimanipulasi (variabel bebas) besar lengan berkuasa terhadap variabel terikat.
b.      Validitas Eksternal
Tujuan kedua dari metode eksperimental yaitu validitas eksternal. Validitas ini menanyakan apakah hasil temuan penelitian sudah sanggup dianggap representatif dan sanggup dipercaya? Dan apakah hasil temuan tersebut sanggup digeneralisasikan terhadap subjek atau kondisi yang sama dengan populasi yang lebih besar? Jika suatu perlakuan sanggup diterapkan pada kelas lain yang mempunyai subjek dan kondisi yang sama dengan hasil yang sama, berarti validitas eksternalnya tinggi. Oleh karena itu, peneliti harus memahami teknik sampling dan populasi yang baik. Kesalahan dalam menentukan populasi dan sampling akan menimbulkan kesalahan di dalam penarikan kesimpulan.

3.      Jenis pengujian validitas tes hasil belajar
Menurut Sudaryono (2012), Analisis terhadap tes hasil berguru sanggup dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis dengan memakai jalan berpikir secara rasional atau dengan memakai logika, dan analaisis yang dilakukan dengan mendasarkan diri kepada kenyataan empiris.
Tes hasil berguru yang telah diuji secara rasional dan mempunyai daya ketepatan mengukur disebut tes hasil berguru yang telah mempunyai validitas kecerdikan (logical validity). Validitas rasional merupakan validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, yaitu validitas yang diperoleh dengan pemikiran yang logis. Validitas suatu tes sanggup ditentukan melalui dua segi, yaitu dari segi isi (content) dan dari segi susunan atau konstruksinya (construct).
1)      Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi yaitu derajat di mana sebuah tes penilaian mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Dua aspek penting yang sangatt penting untuk memeperoleh validitas isi yaitu, valid isi dan valid teknik sampling. Valid isi meliputi hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan item-item penilaian menggambarkan pengukuran dalam cakupan yang diukur, sedangkan validitas teknik sampling berkaitan dengan kemampuan suatu sampel item tes mempresentasikan total cakupan isi (Sukardi, 2008).
2)      Validitas konstruk (Construct Validity)
Suatu tes penilaian sanggup dinyatakan sebagai tes yang telah mempunyai validitas konstruksi, apabila tes penilaian tersebut ditinjau dari segi susunan, kerangka atau rekaanya telah sanggup dengan secara tepat mencerminkan suatu konstruksi dalam teori psikologis. Konstruksi dalam teori psikologis ini menjelaskan bahwa jiwa seorang akseptor didik sanggup dirinci ke dalam beberapa aspek. Benjamin S Bloom misalnya, merincinya dalam tiga aspek kejiwaan, yaitu aspek kognitif (cognitive domain), aspek afektif (affective domain), dan aspek psikomotorik (psychomotoric domain) (Sudaryono, 2012).

b.      Pengujian Validitas Tes Secara Empirik
Menurut Mulyono dalam Sudaryono (2012), validitas empiris atau validitas karena suatu tes atau instrumen ditentukan berdasarkan data hasil ukur instrumen yang bersangkutan, baik melaalui uji coba maupun melalui tes atas pengukuran yang sesungguhnya. Validitas empiris diartikan sebagai validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria, baik kriteria internal maupun kriteria eksternal. Kriteria internal yaitu tes itu sendiri yang menjadi kriteria, sedangkan kriteria eksternal yaitu hasil ukur tes lain di luar tes itu sendiri. Dengan kata lain, validitas empiris yaitu validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan.
Validitas empiris berdasarkan Sukardi (2008), sanggup dilakukan melalui dua segi, yaitu segi daya ketepatan meramalnya (predictive validity) dan daya ketepatan bandingannya (concurrent validity).
1)      Validitas  Prediksi
Suatu tes dikatakan mempunyai predictive validity jika hasil hubungan tes itu sanggup meramalkan dengan tepat keberhasilan seseorang pada masa mendatang di dalam lapangan tertentu. Tepat tidaknya ramalan tersebut sanggup dilihat dari hubungan koefesien antara hasil tes itu dengan hasil alat ukur lain pada masa mendatang (Purwanto, 1984).
2)      Validitas Bandingan
Jika hasil suatu tes mempunyai hubungan yang tinggi dengan hasil suatu alat ukur lain terhadap bidang yang sama pada waktu yang sama pula, maka dikatakan tes itu mempunyai concurrent validity. Sementara itu, Sukardi menjelaskan bahwa tes dengan validitas konkuren biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau denga kriteria valid yang sudah ada (Purwanto, 1984).


c.       DAYA BEDA BUTIR SOAL
Menurut Arikunto (2009: 211) dalam artikel Muhammad Khotib daya beda soal yaitu kemampuan sesuatu soal yang sanggup membedakan antara akseptor didik yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan akseptor didik yang terbelakang (berkemampuan rendah). Sedangkan berdasarkan Surapranata (2004: 23) indeks daya beda yaitu kemampuan soal untuk membedakan antara akseptor tes yang berkemampuan tinggi dengan akseptor tes yang berkemampuan rendah. Dari dua pendapat di atas sanggup disimpulkan bahwa soal yang baik yaitu soal yang sanggup membedakan akseptor didik yang pandai dan akseptor didik yang tidak pintar. Soal digunakan oleh seorang evaluator untuk menguji kelompok yang diuji. Soal akan berfungsi dengan baik jikalau sanggup membedakan kemampuan orang-orang dalam kelompok tersebut (http://simpelpas.wordpress.com/2011/04/12/menentuka-daya-beda-soal/).
Rentang indeks daya beda  yaitu  sampai . Semakin tinggi nilai indeks daya beda semakin baik. Kelompok akseptor didik yang memperoleh nilai tinggi biasa disebut Kelompok Atas (KA) dan kelompok akseptor didik memperoleh nilai rendah disebut Kelompok Bawah (KB). Jika soal dijawab oleh sebagian besar kelompok atas maka soal tersebut dikatakan baik, sebaliknya jikalau soal banyak dijawab dengan benar oleh kelompok bawah maka soal tersebut dikatakan jelek. Artinya soal harus sanggup membedakan atau menguji dengan baik kelompok atas dan kelompok bawah .


Sebuah butir soal dikatakan baik yaitu butir soal yang mempunyai daya beda 0,40 hingga 1,00. Menurut Arikunto (2009: 213) dalam arikel Muhammdak Khotib perhitungan indeks daya beda butir soal sanggup memakai formula sebagai berikut (http://simpelpas.wordpress.com/2011/04/12/menentuka-daya-beda-soal/):

Makalah ini disusun guna memenuhi kiprah mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Penelitian Eksperimen
Keterangan
D   =   indeks diskriminasi butir,
BA =   jumlah kelompok atas yang menjawab benar,
BB =   jumlah kelompok bawah yang menjawab benar,
JA =   jumlah kelompok atas,
JB =   jumlah kelompok bawah ,
     T  =   jumlah responden seluruhnya.
Indeks daya beda soal digunakan dalam mengklasifikasi kualitas soal. Menurut  Crocker dan Algina dalam Depdiknas (2010: 13) dalam artikel Muhammad Khotib membedakan soal dalam empat katagori soal, yaitu: soal diterima, soal diterima tapi perlu diperbaiki, soal diperbaiki, dan soal ditolak. Klasifikasi ini diharapkan untuk menentukan soal mana pada tahap selanjutnya untuk dijadikan soal yang akan digunakan kembali dan dimasukkan dalam bank soal. Dan soal mana yang memerlukan perbaikan jikalau tetap ingin dimasukkan dalam bank soal (http://simpelpas.wordpress.com/2011/04/12/menentuka-daya-beda-soal/)
.
Sedangkan berdasarkan Ebel and Frisbie (1991: 232) dalam artikel Muhammad Khotib soal sanggup diklasifikan dalam empat katagori yaitu: sangat baik, baik, cukup dan kurang/ jelek.  Klasifikasi soal berdasarkan indeks daya beda soal selanjutnya ditampilkan dalam tabel di bawah ini(http://simpelpas.wordpress.com/2011/04/12/menentuka-daya-beda-soal/).
Tabel  Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal
Indeks Diskriminasi
Kategori Soal
Kurang dari 0,19
Jelek – Soal tidak dipakai/dibuang
0,20 – 0,29
Kurang – soal diperbaiki
0,30 – 0,39
Baik – soal diterima tetapi perlu diperbaiki
Lebih dari 0,40
Sangat Baik – soal diterima



d.      RELIABILITAS INSTRUMEN
1.      Pengertian
Menurut Sudaryono (2012), reliabilitas berasal dari kata reliability berarti sejauhmana hasil suatu pengukuran sanggup dipercaya. Suatu hasil pengukuran sanggup mengemban amanah apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama, diperoleh hasil pengukuran yang sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Salah satu syarat biar hasil ukur suatu tes sanggup mengemban amanah ialah tes tersebut harus mempunyai realibilitas yang memadai.

2.      Karakteristik Reliabilitas
Menurut Kusaeri dan Suprananto (2012), reliabilitas mempunyai beberapa karakteristik  sebagai berikut :
a.       Reliabilitas merujuk pada hasil yang didapat melalui instrumen tes, bukan merujuk pada hasil instrumennya sendiri. Suatu instrumen tertentu mungkin mempunyai reliabilitas berbeda, tergantung pada kelompok yang terlibat dan situasi dalam tes itu.
b.      Reliabilitas merupakan syarat perlu, tetapi belum cukup untuk syarat validitas, karena reliabilitas semata-mata memberikan  hasil yang konsisten sehingga memungkinkan terpenuhinya validitas.
c.       Reliabilitas utamanya berkaitan dengan statistik. Pada reliabilitas mempunyai hasil yang konsen biasanya dinyatakan dalam bentuk koefisien reliabilitas dan kesalahan pengukuran.

3.      Metode  untuk Mengestimilasi Reliabilitas.
Metode yang sering digunakan untuk mengestimasi reliabilitas (Kusaeri dan Suprananto, 2012), antara lain:
a.       Metode Tes-Retes
Metode tes-retes merupakan cara yang paling gampang untuk mengestimilasi reliabilitas karena hanya mengujikan tes yang sama pada kelompok yang sama, namun berbeda waktu. Koefisien reliabilitas tes diperoleh dengan menghitung hubungan antara skor yang didapatkan dari dua tes tersebut. Tingkat skor tes sanggup digeneralisasi dalam situasi atau waktu yang berbeda. Hal penting yang harus diperhatikan yaitu waktu jeda antardua tes untuk mencari waktu yang optimal.
b.      Metode Bentuk Ekuivalen
Mengestimasi reliabilitas dengan metode ini memakai dua tes yang berbeda, namun bentuknya ekuivalen (biasanya disebut bentuk paralel atau alternate form). Kedua bentuk tes dikenakan pada sekelompok akseptor didik yang sama dalam jeda waktu yang tidak usang dan kesannya dikorelasikan. Koefisien hubungan ini akan memperlihatkan suatu ukuran yang ekuivalen.  Kondisinya memperlihatkan kedua bentuk tes mengukur aspek yang sama. Bentuk ekuivalen ini disusun berdasarkan kisi-kisi yang sama untuk menghasilkan rerata tingkat kesulitan yang dekat.
c.       Metode Tes-Retes dengan Bentuk Ekuivalen
Bentuk ekuivalen sering memakai jeda waktu dalam penyelenggaraan kedua tes. Hasil koefisien reliabilitas akan memperlihatkan ukuran kemantapan dan ekuivalen. Metode ini paling baik digunakan karena memperlihatkan kemantapan karakteristik anak yang diukur dan bisa mempresentasikan sampeldari materi yang diujikan , semua sanggup dikontrol.
d.      Metode Belah Dua (Split Half)
Metode ini dilakukan dengan cara menguji seperangkat tes, tes dibagi atau dibelah menjadi dua ekuivalen dan masing-masing diskor secara terpisah. Hasil dari belahan pertama selanjutnya dikorelasikan dengan hasil belahan kedua, dihitung dengan memakai hubungan produk moment pearson.
e.       Metode Kuder Richardson atau Koefisien Alpha
Pendekatan ini untuk mengestimasi reliabilitas suatu tes yang diselenggarakan satu kali, estimasi reliabilitas yang dihasilkan dengan formula ini merupakan rerata dari semua kemungkinan koefisien split-half. Reliabilitas split-half, metode ini sensitive terhadap kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh kesalahan sampel isi. Metode ini juga sensitive terhadap heterogenitas isi tes. Mengestimilasi relibilitas dengan metode ini memperlihatkan informasi kepada kita seberapa jauh butir-butir tes itu mengukur karakteristik yang mirip.  
f.       Metode Inter-rater
Pada penskoran terhadap suatu instrumen atau non-objektif (melibatkan penyekor atau rater), perlu dihitung tingkat atau persentasi persetujuan (agreement) masing-masing rater. Metode ini menjadi proses penyekoran menjadi lebih adil. Pada metode tes ini dilaksanakan satu kali pada sejumlah akseptor tes dengan memakai dua orang rater. Agar tidak saling mempengaruhi, maka masing-masing rater bekerja secara terpisah.








































BAB III
KESIMPULAN





























DAFTAR PUSTAKA
Arief Furchan. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Arifin, Zainal. 2012. Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Emzir. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Ghony, Djunaidi dan Almansur, Fauzan. 2009. Metodologi Pendidikan Pendekata Kuantitatif. Malang: UIN-Malang.
Kusaeri dan Suprananto. 2012. Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Purwanto, Ngalim. 1984. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Malang: Prenada Media Group.
Sudaryono. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan, Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sukmadinata, N. Syaodih. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.




Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship