-->

Ikhlas Berinfak Menurut Konsep Matematika

<Ikhlas Bersedekah Berdasarkan Konsep Matematika>

Salah satu pedoman terpenting dalam Islam yaitu mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah. Bahkan kepedulian untuk membuatkan harta kepada sesama insan itu menjadi salah satu indikator orang bertakwa (muttaqin) menyerupai yang diisyaratkan dalam QS al-Baqarah: 2-3

ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين الذين يوءمنون بالغيب و يقيمون الصلوة و مما رزقناهم ينفقون

‘Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.’

Anjuran membuatkan baik melalui infak, sedekah maupun zakat bukan sekedar kewajiban melainkan mengandung nilai investasi baik di akherat maupun di dunia. Nilai investasi akherat tentu berupa pahala yang mengantarkan ke nirwana yang memperlihatkan kebahagiaan tak ternilai. Hal ini sanggup ditelaah dari QS al-Baqarah: 261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

‘Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah yaitu sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai tumbuh 100 biji. Allah melipat gandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.’

Menafkahkan sebagian harta di jalan Allah biasanya akan terasa berat dibandingkan dengan menafkahkan sebagian harta di jalan setan. Karena itu Allah menyediakan ganjaran pahala yang besar sebesar 700 kali lipat bahkan sampai jumlah yang tak terhingga. Jika kandungan ayat ini dicermati, maka sanggup diketahui bahwa nilai pahala atau akhir yang akan diterima si pemberi berbanding lurus dengan nilai keikhlasannya ketika membuatkan atau memberi kepada orang lain. Dengan kata lain berbanding terbalik dengan besar impian memperoleh imbalan/balasan dari pemberiannya itu.

Kandungan ayat ini sanggup dijelaskan dengan pendekatan matematika melalui pembagian. Dalam sistem pembagian terdapat tiga komponen, yakni:
• Penyebut melambangkan pinjaman (dengan simbol P)
• Pembagi melambangkan impian si pemberi (dengan simbol h)
• Hasil melambangkan jumlah akhir yang sanggup diterima dari si pemberi (H).
Rumusnya yaitu Pemberian / impian = Hasil

Misalnya: Seseorang memperlihatkan sedekah atau infak sebesar Rp. 1 juta kepada orang miskin dengan impian yang berbeda-beda. Orang tersebut akan memperoleh akhir yang berbeda-beda pula yang sanggup diilustrasikan sesuai dengan rumus di atas:
1 jt/100 jt = 0,01
1 jt/10 jt = 0,1
1 jt/500.000 = 2
1jt/100.000 = 10
1jt/50.000 = 20
1jt/10.000 = 100
1jt/1.000 = 1.000
1jt/0 = ∞ (tak terhingga)

Dari rujukan di atas sanggup diketahui bahwa semakin besar impian si pemberi akan menerima akhir dari selain Allah maka akan semakin kecil nilai akhir yang akan diperoleh secara riil. Sebaliknya, semakin kecil impian si pemberi akan menerima akhir dari selain Allah, maka akan semakin besar nilai akhir yang akan diperoleh secara riil. Besar kecilnya impian kepada selain Allah itu dalam pedoman Islam disebut IKHLAS. Jelasnya, semakin lapang dada dalam memberi maka akan semakin kecil pengharapannya kepada selain Allah. Bahkan dalam tataran tertentu kalau yang bersangkutan mengosongkan harapannya kepada selain Allah, maka Allah akan berkenan memperlihatkan akhir yang tak terhingga jumlahnya secara riil. Itulah IKHLAS yang sebenarnya.

Karena itu pula lapang dada tidak didasarkan kepada ucapan si pemberi, misalnya: "saya beri dengan ikhlas" karena yang tahu pinjaman itu lapang dada atau tidak, hanyalah Allah dan si pemberi. Yang menjadi tolok ukur keikhlasan dalam membuatkan kepada sesama yaitu niat, dan niat itu ada dalam hati sehingga tiidak sanggup direkayasa dengan ucapan seakan-akan ikhlas.

Bukankah dalam realitas banyak orang yang memberi karena mengharapkan sesuatu kepada manusia, baik berupa pujian, imbalan materi, kedudukan, status sosial dan sebagainya. Namun terkadang merasa kecewa karena harapannya tak terwujud. Membagi-bagi uang atau sembako kepada calon pemilih, memberi sumbangan kepada panitia pembangunan masjid, majelis ta’lim dengan impian biar mereka berkenan memilihnya dan kalau menang dalam pemilihan maka akan memperoleh honor plus tunjangan besar sehingga sanggup memperoleh uang atau harta yang banyak. Namun ternyata harapannya melesat sehingga mengalami kerugian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship