-->

Frank Lampard



Menyandang gelar pencetak gol kemenangan di Liga, piala FA dan final Liga Champions, tidak ragu dalam mengambil tendangan penalti, umpan-umpan yang gemilang dan memecahkan rekor sering tampil, Frank Lampard mempunyai semua kriteria tersebut sebagai pesepakbola, bahkan dalam minggu-minggu pertandingan dan diluar pertandingan dedikasinya merupakan prestasi dari talenta alami yang dimilikinya. Dia tidak diragukan lagi sebagai seorang pemain terbaik yang pernah menggunakan kostum Chelsea.
 Setelah awal ekspresi dominan yang biasa-biasa saja di Stamford Bridge, dengan koleksi 15 gol dalam dua ekspresi dominan diikuti transfer senilai 11 juta poundsterling dari West Ham, Frank berkembang menjadi menjadi salah satu pemain terbaik Eropa.
Tanda tanda kepiawaiannya dalam mengatur ritme pertandingan rekan-rekannya yaitu ketika berhadapan dengan Patrick Viera dari Arsenal di laga final Piala FA dengan mengalahkannya di final ekspresi dominan pertamanya.
Pada ekspresi dominan 2003/2004, ekspresi dominan pertama dibawah kepemilikan Roman Abramovich dan ekspresi dominan ketiga di klub bagi Frank, ia tetap mempertahankan posisinya walaupun banyak pendatang gres dan kepiawaiannya hanya sanggup dikalahkan oleh Thierry Henry ketika penghargaan bagi pesepakbola Inggris diumumkan.
Penampilan terbaiknya terus berlanjut hingga ekspresi dominan 2004/05, menyerupai halnya mencetak gol, tendangan kerasnya bisa melesatkan Chelsea menjadi  jawara liga Inggris ekspresi dominan itu, sekaligus sebagai pencetak gol terbanyak bagi seorang gelandang dengan menorehkan 13 gol di liga dan total 19 gol di semua ajang kompetisi. Tak ada satupun pemain yang lebih pantas membuat dua gol asing ke gawang Bolton selain dirinya yang memastikan kemenangan pada kompetisi tersebut.
Menjadi pemain terbaik versi majalah olahraga pada tahun itu sekaligus  runner up di ajang penghargaan pesepakbola Eropa dan penghargaan pemain terbaik Dunia  dalam pemungutan bunyi pada tahun 2005, Frank terus menandakan kemampuannya dalam sepakbola modern yang membuat timnya sanggup mengulangi sukses mempertahankan gelar liga Inggris ekspresi dominan 2005/2006.
Pada Desember 2005, ia tidak sanggup bermain sebab terjangkit virus,  hal ini mengakhiri rekor 164 kali pertandingan berturut-turut di liga Inggris, dikalahkan oleh rekor kiper Brad Friedel.
Musim 2006/07, 62 kali penampilannya yaitu jumlah tertinggi dari pemain Chelsea lainnya dalam satu ekspresi dominan dan walaupun ekspresi dominan berikutnya dihalangi oleh dua kali cedera dan masa berkabung, Frank terus menjaga konsistensi Chelsea melalui kelihaiannya dilapangan tengah pada setiap pertandingan dan berhasil mencetak 20 gol di final musim.
Cedera yang melanda memang patut disayangkan, namun bencana penting terjadi pada bulan April 2008 dengan meninggalnya Ibunda Frank. Dengan keteguhan hati dan kepercayaan diri Ia mencetak gol penting dari titik penalti pada laga semifinal Liga Champions melawan Liverpool sekembalinya dari cuti sedih cita, diikuti torehan gol dramatis untuk menyamaan kedudukan di Final, merupakan ekspresi dominan yang paling berkesan bagi Frank Lampard.
Sejak ketika itu Lampard telah menjadi gelandang  yang bisa mencetak gol terbanyak bagi Chelsea sekaligus sebagai pemain Chelsea yang meraih gelar penampilan terbanyak bersama timnas. Kontrak lima tahun telah ditanda tangani pada ekspresi dominan panas tahun 2008, dan ia cepat menyesuaikan diri untuk menemukan bentuk permainan dalam mencetak gol, menggetarkan jala lawan dengan keberanian menusuk dari sisi lapangan di Hull pada Oktober tahun ini, secara otomatis menjadi pesaing dalam gol terbaik Chelsea ekspresi dominan ini walaupun kesannya dimenangkan oleh Michael Essien dengan tendangan volinya ke gawang Barcelona di Liga Champion.Ketika performa permainan rekan-rekannya mulai menurun, performa Frank tetap tak berubah dibawah kala kepelatihan Luiz Felipe Scholari, mencetak beberapa gol penting selama natal 2008 untuk tetap menjaga jarak dengan pimpinan klasemen.
Kedatangan Guus Hiddink pada pertengahan ekspresi dominan memperlihatkan kebebasan bereksperimen di lapangan bagi lampard, dan Ia membayar kepercayaan sang instruktur dengan gol pada menit-menit final di ajang Liga Inggris untuk memastikan kemenangan atas Wigan dan skor 4-4 pada laga yang menegangkan melawan Liverpool di ajang liga Champion, sebelum kesannya tersingkir dari kancah Eropa dengan hasil kontroversial ketika melawan Barcelona. Namun ada kegembiraan ketika sepakannya ke gawang Everton di babak kedua membawanya memenangkan piala FA 2009, perayaan golnya tersebut ditujukan sebagai penghormatan bagi ayahnya yang bermain pada semi final piala FA 29 tahun lalu.
Dengan torehan 27 gol yang luar biasa dari lapangan tengah pada ekspresi dominan 2009/10 serta umpan-umpan gemilangnya Chelsea berhasil memenangkan Double Winner, performa Frank semakin tajam seiring usianya, khususnya pada faktor rentan cedera dan kelihaiannya dalam menghindari hukuman kartu kuning selama kompetisi berlangsung.
Musim 2009/10 yaitu ekspresi dominan yang sangat bersejarah buat Frank, di wembley ketika ia menyumbangkan Gol pada laga Community Shield, turut  mengatur permainan rekan setimnya dan memenangkan laga dengan tendangan penalti.
Di usia 31 tahun, dalam 10 pertandingan tanpa mencetak satu gol pun sebelum membuahkan 4 gol di 3 laga sangkar pada bulan Oktober.
Setelah gagal mengeksekusi penalti ke gawang Manchester City di awal laga sesudah Natal, Ia berhasil mengeksekusi dua penalti ke gawang Portsmouth dan West Ham yang berhasil mengangkat Timnya keluar dari keterpurukan.
Irama permainannya kembali bangun sesudah kecewa sebab disingkirkan Inter Milan pada babak pertama penyisihan grup Liga Champion dengan melesakkan 4 gol ke gawang Aston Villa dengan skor final untuk Chelsea 7-1
Prestasi, itulah kata yang sempurna diberikan padanya atas gol-golnya di setiap pertandingan, mengoleksi 150 gol bagi Chelsea dan melampaui rekor Roy Bentley untuk menjadi pencetak gol ketiga terbanyak sepanjang masa di Chelsea.
Kembali mencetak gol dari titik penalti ke gawang Aston Villa di wembley untuk memastikan satu tiket di putaran final piala FA, fokus pertandingan dialihkan pada  kompetisi tersebut, dan pada laga itulah Frank benar-benar di andalkan.
Terjadu perayaan besar di Anfield ketika Ia berhasil menaklukan tuan rumah mantan klub dari rekan setimnya Nicolas Anelka untuk memastikan kemenangan penting dari sisa pertandingan ekspresi dominan itu.
Pada pertandingan terakhir di kompetisi Liga Frank mendapat kesempatan mengeksekusi penalti untuk memperlihatkan dua gol bagi tim asuhan Carlo Ancelotti sebagai modal dalam perebutan daerah ketika melawan Wigan, dan merencanakan rotasi pemain dimana kami harus mengalahkan Portsmouth pada final piala FA.
Adalah tendangan bebas Drogba yang memecah kebuntuan ketika berlaga di Wembley, walaupun kontribusi  maksimal Frank yaitu hukuman penalti yang melebar di samping gawang, ia tetap naik ke podium untuk mengangkat Piala bersama John Terry.
Musim 2010/11 yaitu ekspresi dominan dimana Lampard didera cedera panjang. Pulih dari operasi hernia, Ia mengalami cedera Tendon di cuilan atas kakinya dalam sesi latihan yang membuatnya mangkir empat bulan lebih usang dari yang diperkirakan Tim.
La menorehkan gol keduanya pada pertandingan pertama ekspresi dominan 2011 dan terus mengoleksi 13 gol hingga final musim. Pada pertandingan Kandang Liga Champion tanggal 6 April kontra Manchester United, ia menjadi salah satu dari empat pemain yang berhasil tampil 500 kali bagi Chelsea.
Sebelum Di Chelsea
Ironisnya, Frank selalu mempunyai kebiasaan yang menjadi salah satu alasan mengapa ia tidak disukai oleh beberapa Klub yang pernah diperkuatnya.
Bersama Ayahnya yang melatih di Tim utama West Ham, ketika dewasa Frank bergabung di Klub tersebut, sebagian pendukung di Upton Park meneriakkan Nepotisme sebab hal itu. Ia selalu tampil untuk West Ham yang berada di urutan kelima pada final ekspresi dominan 98/99 dan dipanggil untuk memperkuat Timnas pada ekspresi dominan berikutnya.
Namun ketika Pelatih Harry redknapp dan Frank senior dipecat pada tahun 2001, sudah saatnya bagi Frank untuk pindah dan meskipun Leeds yang memungkinkan untuk menjadi tujuannya pada ketika itu, dan disekitar London para pesepakbola bergabung dengan klub yang bisa untuk meningkatkan karir sepabola mereka.
Gol Internasional
Setelah debutnya menghadapi Belgia pada tahun 1999, Frank harus menunggu hingga Juni 2003 untuk bermain 90 menit bersama Timnas Inggris, dan dia  berhasil mencetak gol pertamanya pada bulan Agustus ke gawang Kroasia.
Ialayak menjadi skuad inti Inggris di piala Eropa 2004 dan terpilih sebagai pemain terbaik tahun itu dengan torehan 3 gol di 4  pertandingan. Dan terpilih kembali pada tahun 2005.
Yang mengejutkan yaitu Frank gagal mencetak satu golpun pada ajang piala Dunia 2006 di Jerman, walaupun lebih sering melaksanakan tembakan ke gawang dari pemain manapun.
Hal tersebut mengakibatkan banyak kritik, tahun-tahun kejayaannya yang penuh gelar penghargaan mendadak terlupakan, namun dibawah isyarat instruktur Steve McClaren ia kembali mencetak gol, dan juga ketika dilatih oleh Fabio Capello, kritikan terhadap Frank mulai dipertanyakan dan mulai dihargai dalam sepak terjangnya di Timnas Inggris.
Tidak menyerupai pada tahun 2006, Frank tampil di piala dunia 2010 dengan performa terbaiknya, melebihi standardnya sendiri yang luar biasa.
Bagaimanapun Capelo meracik para pemain tengahnya, Gol-gol Frank kembali berkurang meskipun ia menjadi salah satu pemain terbaik ketika laga melawan Slovenia pada pertandingan ketiga di grup dan yang paling diingat yaitu ketika gol pertamanya di piala dunia tersebut dianulir oleh wasit sebab keputusan hakim garis yang merugikan sehingga Inggris harus berhadapan dengan jerman.
Operasi hernia mengakibatkan Ia harus mangkir pada awal pertandingan kualifikasi piala eropa 2012 di Inggris namun Ia kembali pada tahun 2011 dengan gol-gol dan kemenangan bagi The Three Lions. Tidak ada satupun pemain Chelsea yang melebihi jumlah penampilannya bagi Timnas.
Musim 2011/12 ini menjadi pertunjukkan bagaimana Lampard pelan tapi niscaya semakin mendekati rekor gol Bobby Tambling sebagai pencetak gol terbanyak bagi klub. Dan meski menginjak usia 34 tahun pada Juni kemarin, Lampard tetap membuat lebih dari 50 penampilan dalam semusim lagi di ekspresi dominan 2011/12 ini.

Menjelang berakhirnya ekspresi dominan ini, kemampuan Lampard dan mengalamannya kembali mencuat. Ia mencetak gol lewat tendangan bebas di semi-final Piala FA melawan Tottenham di Wembley dan memperlihatkan umpan bagi Didier Drogba untuk mencetak gol kemenangan di final kompetisi yang sama.

Ia mengakhiri ekspresi dominan dengan menjadi kapten di final Liga Champions di Munich, dan mengangkat trofi bersama kapten kami yang mangkir sebab hukuman sesudah mencetak gol penalti ketiga di babak laga penalti.

sumber: http://indo.chelseafc.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship