-->

Faktor-Faktor Yang Mensugesti Pertumbuhan Dan Perkembangan


Faktor lingkungan yang mendukung, ditambah dengan potensi dari dalam badan flora merupakan kombinasi yang mengoptimalkan produktivitas tumbuhan. Dengan demikian, ada dua hal yang kuat terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, yaitu:
1. faktor internal, misalnya hormon yang mengontrol pertumbuhan dan perkembangan;
2. faktor eksternal, misalnya kondisi fisik kimia lingkungan, menyerupai panjang pendeknya hari, temperatur, sumber nutrisi, dan pencahayaan.

Jadi, sanggup dikatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan yakni hasil dari interaksi antara faktor internal (potensi genetik) dengan faktor eksternal (kondisi lingkungannya). Hilangnya pertumbuhan suatu organ atau jaringan makhluk hidup sanggup disebabkan oleh salah satu faktor di atas saja atau sanggup disebabkan oleh kedua-duanya.

Secara genetis, flora mempunyai kloroplas. Akan tetapi, kalau tidak ada cahaya, kloroplas tersebut tidak akan terbentuk. Tidak terbentuknya kloroplas sanggup disebabkan oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Kloroplas pada flora sanggup tidak terbentuk lantaran tidak diproduksinya enzim yang diharapkan dalam pembentukan kloroplas atau lantaran lingkungan tidak menyediakan cahaya atau mineral yang penting dalam pembentukan kloroplas.

1. Faktor Internal
Faktor internal dipicu oleh serangkaian proses yang terjadi dalam sel, menyerupai pembelahan, pemanjangan, dan diferensiasi. Umumnya, faktor-faktor internal yang ada di dalam badan ini berupa senyawa biokimia, menyerupai hormon dan enzim. Hormon merupakan senyawa kimia yang diproduksi dalam konsentrasi yang kecil oleh badan yang akan memengaruhi sel atau organ target. Pada bahasan ini, kita akan mengenal beberapa hormon pada flora yang membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan (Moore, et al, 1995: 275).

a. Auksin
Pada 1800-an, Charles Darwin mengamati pertumbuhan rumput yang selalu menuju arah datangnya cahaya matahari. Seorang mahir pertanian, Ciesielski, juga mengamati perkembangan akar yang membelok menuju arah bumi. Kedua insiden ini menghasilkan pertumbuhan ujung-ujung flora yang berbelok. Hal ini gres dimengerti sehabis ditemukan hormon auksin yang bertanggung jawab dalam pemanjangan sel (batang) serta gerakan tropisme (gerakan sel penggalan flora sesuai dengan arah datangnya rangsangan) pada tumbuhan. Auksin sangat gampang terurai oleh cahaya sehingga menimbulkan gerakan fototropisme (gerakan yang disebabkan oleh rangsang cahaya). Auksin yang tidak terurai oleh cahaya sanggup menimbulkan pertumbuhan yang cepat di tempat gelap atau disebut etiolasi. Auksin didominasi oleh senyawa golongan IAA (Indol Asetic Acid). Dalam konsentrasi sangat sedikit (10-5 M), auksin sanggup memengaruhi tumbuhan, di antaranya:
1) sanggup memicu pembelahan sel dan pemanjangan sel;
2) memengaruhi dalam pembentukan pucuk atau tunas gres dan jaringan yang luka.



b. Giberelin
Giberelin ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang peneliti Jepang berjulukan Fujikuro di tahun 1930-an. Ketika itu, ia sedang mengamati penyakit Banane pada flora padi. Padi yang terjangkit oleh sejenis jamur mempunyai pertumbuhan yang cepat sehingga batangnya gampang patah. Jamur ini kemudian diberi nama Gibberella fujikuroi yang menyekresikan zat kimia berjulukan giberelin. Giberelin ini kemudian diteliti lebih lanjut dan diketahui banyak berperan dalam pembentukan bunga, buah, serta pemanjangan sel tumbuhan. Kubis yang diberi hormon giberelin dengan konsentrasi tinggi, akan mengalami pemanjangan batang yang mencolok. Beberapa fungsi dari hormon giberelin adalah:
1) berperan dalam dominansi apikal, pemanjangan sel, perkembangan buah, perbungaan, dan mobilisasi cadangan makanan dari dalam biji;
2) ikut kuat terhadap pembentukan akar flora lantaran giberelin umum terdapat di penggalan meristematik pada akar.

c. Sitokinin
Aktivitas sitokinin pertama kali teramati saat pembelahan sel oleh Folke Skoog dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Sitokinin, sesuai dengan namanya (sito= sel, kinin= pembelahan) berperan dalam pembelahan sel, pemanjangan sel, morfogenesis, dominansi apikal, dan dormansi.

d. Asam absisat
Asam absisat ditemukan oleh peneliti yang bekerja pada penelitian perihal dormansi pohon. Zat kimia yang diambil dari dedaunan sebuah pohon ternyata memengaruhi pertumbuhan pucuk dan menginduksi pembentukan tunas. Asam absisat berperan dalam penuaan, dormansi pucuk, perbungaan, memacu sintesis etilen, dan menghambat imbas giberelin.

e. Etilen
Fenomena gas etilen pertama kali diamati oleh ilmuwan mulai masa ke19. Pada masa itu, sumber penerangan lampu jalanan yang dipakai berasal dari pemanasan oleh batubara. Pepohonan yang berada di sekitar pembuangan gas pembakaran diketahui menggugurkan daunnya secara tidak wajar. Pada tahun 1901, gabungan peneliti dari Rusia menemukan adanya gas etilen pada pembakaran tersebut dan menimbulkan daun berguguran. Kini, etilen telah secara luas dipakai sebagai zat pengatur tumbuh pada tumbuhan. Pengaruh etilen ini yakni sebagai berikut.
1) Hormon ini akan menghambat pembelahan sel, menunda perbungaan, dan menimbulkan absisi atau aborsi daun.
2) Buah terlebih dahulu akan mengalami pematangan sebelum mengalami pengguguran. Jadi, etilen membantu dalam proses pematangan buah.

2. Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang kuat terhadap pertumbuhan flora di antaranya yakni cahaya, temperatur, kandungan air, dan kesuburan tanah.
a. Makanan (Nutrisi)
Semua makhluk hidup membutuhkan makanan (nutrisi) untuk sumber energi. Unsur yang diharapkan flora dalam jumlah besar yang disebut elemen makro atau unsur makro. Elemen makro terdiri atas karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, sulfur, fosfor, kalium, dan magnesium. Selain itu, ada elemen yang disebut elemen mikro atau unsur mikro menyerupai besi, klor, tembaga, seng, molibdenum, boron, dan nikel. Elemen mikro yakni unsur yang diharapkan flora dalam jumlah sedikit (Moore, et al, 1995: 470)

Keadaan fisiologis berupa kekurangan elemen makro atau mikro disebut defisiensi. Defisiensi yang terjadi pada flora akan kuat terhadap proses pertumbuhan. Contohnya, daun flora akan menguning kalau kekurangan besi (Fe), lantaran Fe berfungsi dalam pembentukan klorofil. Selain itu, besi merupakan salah satu unsur yang diharapkan pada pembentukan enzimenzim pernapasan yang mengoksidasi karbohidrat menjadi karbondioksida dan air. Contoh lainnya, kalau flora kekurangan unsur fosfor, tepi daunnya akan menggulung. Untuk mengetahui lebih terang mengenai unsur-unsur yang diharapkan tumbuhan.

Jadi, media tanam untuk flora harus memenuhi elemen-elemen yang dibutuhkan tumbuhan. Pemupukan merupakan salah satu cara penambahan nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan. Pengaruh nutrisi flora sanggup terlihat kalau bercocok tanam memakai hidroponik. Hidroponik yakni istilah yang dipakai untuk bercocok tanam tanpa memakai tanah sebagai media tanam. Media tanam sanggup berupa air, kerikil, pecahan genting, dan gabus putih. Media kultur yang sering dipakai yakni kultur air. Tumbuhan ditanam pada air yang telah dicampurkan aneka macam mineral untuk menyuplai kebutuhan tumbuhan. Jika flora yang ditanam pada kultur air kekurangan nutrisi, flora tidak akan tumbuh baik.

b. Cahaya
Cahaya merah, biru, hijau, dan biru violet berperan sebagai sumber energi dalam proses fotosintesis. Makanan hasil fotosintesis yang terdapat pada flora akan dipakai untuk pertumbuhan. Biji yang ditanam dan ditempatkan di tempat teduh akan tumbuh cepat, tetapi abnormal (tubuh lemah). Peristiwa dinamakan etiolasi.

Cahaya sanggup mengubah leukoplas menjadi kloroplas. Tersedianya cahaya yang memadai akan meningkatkan pembentukan kloroplas. Pada flora yang sama, tetapi hidup pada tempat yang berbeda pencahayaannya akan menimbulkan perbedaan ukuran daun. Daun dari flora yang berada di tempat yang cukup mendapatkan cahaya mempunyai ukuran yang lebih sempit, tetapi jaringan mesofilnya lebih tebal daripada daun dari flora yang berada di tempat yang kurang mendapatkan cahaya. Tinggi flora pada tempat yang kurang cahaya, lebih tinggi daripada flora yang hidup pada tempat cukup cahaya. Hal ini disebabkan pada flora yang hidup pada tempat yang kurang mendapatkan cahaya, transpirasinya rendah sehingga kandungan air lebih tinggi. Tingginya kandungan air memacu pembelahan sel dan pelebaran sel. Akan tetapi, berat flora menjadi lebih rendah lantaran kegiatan fotosintesis rendah. Stomata pada flora yang berada di tempat yang kurang mendapatkan cahaya mempunyai jumlah lebih sedikit, tetapi ukurannya besar. Tumbuhan yang berada pada tempat yang mendapatkan cahaya cukup, mempunyai jumlah stomata lebih banyak dengan ukuran yang kecil.

Sistem perakaran flora yang hidup pada tempat yang cukup mendapatkan cahaya lebih lebat dibandingkan dengan sistem perakaran flora yang berada pada tempat kurang mendapatkan cahaya. Adanya perbedaan letak geografis menimbulkan perbedaan lamanya pencahayaan yang diterima oleh tumbuhan. Pada tempat yang mempunyai empat musim, kadang kala waktu siang lebih usang daripada waktu malam atau waktu malam lebih usang daripada waktu siang. Respons flora terhadap usang pencahayaan dinamakan fotoperiodisme. Respons flora yang dimaksud yakni pertumbuhan, perkembangan, dan produksi.


Fotoperiodisme dikendalikan oleh fitokrom yang ditemukan oleh Sterling B. Hendrik. Fitokrom yakni suatu protein berwarna biru pucat yang terdistribusikan pada jaringan flora dengan konsentrasi rendah serta bisa mendapatkan cahaya merah (M = 660 nm) dan infra merah (M = 730 nm). Berdasarkan respon flora terhadap waktu terang atau waktu gelap, flora sanggup dibedakan menjadi flora hari pendek (short-day plant), flora hari panjang (long-day plant), dan flora hari netral (neutralday plant). Penggolongan ini bekerjsama bergantung waktu gelap.

Tumbuhan hari pendek yakni flora yang membentuk bunga kalau lamanya waktu malam lebih panjang daripada waktu siang. Tumbuhan yang tergolong hari pendek yakni kedelai, tembakau, stroberi dan Chrysanthemum indicum. Tumbuhan hari panjang yakni flora yang membentuk bunga kalau lamanya waktu malam lebih pendek daripada waktu siang. Tumbuhan yang termasuk long-day plant yakni gandum, bit, dan bayam. Tumbuhan hari netral yakni flora yang berbunga kalau lamanya waktu siang sama dengan waktu malam. Tumbuhan yang tergolong neutralday plant yakni jagung, kacang merah, mentimun, dan kapas.

c. Temperatur
Temperatur sangat kuat terhadap pertumbuhan tumbuhan. Hal ini lantaran berkaitan dengan kegiatan enzim dan kandungan air dalam badan tumbuhan. Semakin tinggi temperatur, semakin besar pula transpirasi. Akan tetapi, kandungan air dalam badan flora akan semakin rendah sehingga proses pertumbuhan akan semakin lambat. Temperatur yang rendah sanggup memecahkan masa istirahat pucuk atau biji. Perlakuan temperatur yang rendah akan memacu pembentukan ruas yang lebih panjang daripada ruas dari flora yang tumbuh di tempat bertemperatur tinggi. Perlakuan dengan temperatur sanggup merangsang perkecambahan biji, insiden ini dinamakan vernalisasi. Termoperiodis yakni perbedaan temperatur antara siang dan malam, yang sanggup kuat terhadap pertumbuhan suatu jenis tumbuhan. Tumbuhan tomat akan tumbuh baik kalau temperatur siang mencapai 26°C dan temperatur malam mencapai 20°C. Pembentukan buah terjadi kalau temperatur malam mencapai 15°C. Akan tetapi, buah tidak terbentuk kalau temperatur malam mencapai 25°C.

d. Air
Air merupakan senyawa yang sangat penting bagi tumbuhan. Air berfungsi membantu reaksi kimia dalam sel. Selain itu, air menunjang proses fotosintesis dan menjaga kelembapan. Kandungan air yang terdapat dalam tanah berfungsi sebagai pelarut unsur hara sehingga unsur hara tersebut gampang diserap oleh tumbuhan. Selain itu, air memelihara temperatur tanah yang berperan dalam proses pertumbuhan. Pertumbuhan akan berlangsung lebih aktif pada malam hari daripada siang hari lantaran pada malam hari kandungan air dalam badan flora lebih tinggi daripada siang hari.

e. pH
Derajat keasaman tanah (pH tanah) sangat kuat terhadap ketersediaan unsur hara yang diharapkan oleh tumbuhan. Pada kondisi pH tanah netral unsur-unsur yang diperlukan, menyerupai Ca, Mg, P, K cukup tersedia. Adapun pada pH asam, unsur yang tersedia yakni Al, Mo, Zn, yang sanggup meracuni badan tumbuhan.

f. Oksigen
Keadaan kadar oksigen yang terdapat dalam tanah selalu berlawanan dengan kadar air dalam tanah. Jika kandungan air tinggi, kandungan udara akan rendah. Kandungan oksigen dalam tanah sangat penting untuk respirasi sel-sel akar yang akan kuat terhadap absorpsi unsur hara.



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship