-->

Dampak Resiko Akhir Ijab Kabul Sedarah

Mungkin belum banyak yang tahu perihal dampak dan resiko tanggapan perkawinan sedarah. Dari seluruh penduduk dunia, kemungkinan sekitar 20-50 persen melaksanakan ijab kabul antar kerabat dengan pasangan hidup berasal dari leluhur yang sama atau singkat disebut ijab kabul sedarah. Benarkah ijab kabul sedarah (garis keturunan yang dekat) berisiko mendatangkan keturunan yang cacat?

Pernikahan sedarah yang dimaksud disini yaitu antar sepupu, satu marga atau yang garis keluarganya dekat, tapi bukan sedarah kandung atau incest. Pernikahan sedarah banyak terjadi biasanya si pasangan gres sadar sesudah merunut garis keluarganya. Pernikahan sedarah juga terjadi pada Charles Darwin yang menikah dengan sepupu pertamanya Emma.


“Salah satu ancaman yang sanggup timbul dari ijab kabul sedarah yaitu sulit untuk mencegah terjadinya penyakit yang terkait dengan gen jelek orangtua pada anak-anaknya kelak,” ujar Debra Lieberman dari University of Hawaii, ibarat dikutip dari LiveScience. Lieberman menuturkan ijab kabul dengan saudara kandung atau saudara yang sangat bersahabat sanggup meningkatkan secara drastis kemungkinan mendapat dua salinan gen yang merugikan, dibandingkan bila menikah dengan orang yang berasal dari luar keluarga.
Hal ini disebabkan masing-masing orang membawa salinan gen yang jelek dan tidak ada gen normal yang sanggup menggantikannya, sehingga niscaya ada beberapa duduk masalah yang nantinya sanggup menjadikan anak mempunyai waktu hidup pendek. Profesor Alan Bittles, eksekutif dari sentra genetik insan di Perth, Australia telah mengumpulkan data mengenai selesai hidup anak yang dilahirkan dari ijab kabul antara sepupu dari seluruh dunia.

Diketahui bahwa adanya peningkatan risiko pemanis selesai hidup sekitar 1,2 persen dibandingkan ijab kabul bukan saudara dekat. Sementara itu untuk cacat lahir terdapat peningkatan risiko sekitar 2 persen pada populasi umum dan 4 persen pada ijab kabul yang orangtuanya mempunyai kekerabatan dekat.

Kondisi genetik yang lebih umum terjadi pada ijab kabul kerabat yaitu gangguan resesif langka yang sanggup menjadikan banyak sekali macam masalah, ibarat kebutaan, ketulian, penyakit kulit dan kondisi neurodegeneratif.

“Hampir semua orang membawa mutasi genetik, tapi saat suatu populasi mempunyai ruang lingkup yang kecil maka mutasi gen akan menjadi lebih sering terjadi,” ungkap Prof Bittles, ibarat dikutip dari BBC.

Jika dua orang yang membawa gen resesif mereproduksi, maka anak-anaknya mempunyai satu dari empat kesempatan untuk mempunyai kelainan tersebut dan satu dari dua anak mempunyai kesempatan menjadi pembawa sifat (carrier). Hal inilah yang membahayakan ijab kabul sedarah atau mempunyai kekerabatan kekeluargaan yang dekat, lantaran risiko penyakit atau kondisi genetik tertentu menjadi lebih besar.

Prof Bittles menjelaskan sangat penting bagi orang yang akan menikah untuk melaksanakan investigasi genetik terlebih dahulu biar sanggup mencegah dampak yang mungkin terjadi pada anak-anaknya. Cara ini merupakan penyaringan selektif yang jauh lebih efektif.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship