-->

PROPOSAL PKM K (KEWIRAUSAHAAN) / PENGGEMUKAN KAMBING DENGAN BIOTEKNOLOGI BAKTERIA

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

PROPOSAL PKM K (KEWIRAUSAHAAN) / PENGGEMUKAN KAMBING

PEKA KELES: PEMBESARAN KAMBING KONSEP LEISA
MELALUI PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGI PROBIOTIK
Good Bacteria #1 PADA KOMODITAS PAKAN LOKAL

BIDANG KEGIATAN

PKM KEWIRAUSAHAAN


Diusulkan oleh: 


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO



RINGKASAN
Usulan program kreativitas mahasiswa kami berjudul “PEKA KELES: Pembesaran Kambing Konsep LEISA Melalui Pemanfaatan Bioteknologi Probiotik Good Bacteria #1 Pada Komoditas Pakan Lokal”. Usaha pembesaran kambing ini merupakan penerapan bioteknologi probiotik pada pakan lokal sehingga memiliki beberapa keunggulan kompetitif. Beberapa keunggulan yakni: 1) Kambing serta kotoranya juga tidak bau prengus; 2) Tekstur daging lebih empuk dibandingkan daging kambing dengan pakan konvensional; 3) Jika kambing digunakan sebagai indukan maka mempunyai palatabilitas serta daya serap nutrisi pakan yang lebih baik dari kambing pakan konvensional; 4) Tidak pilah pilih pakan, biasanya kambing dengan pakan konvensional diberi rambanan maka tidak mau makan rumput. Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan ini memiliki beberapa tujuan yakni: 1) Meningkatkan minat mahasiswa dalam menangkap peluang bisnis melalui usaha pembesaran kambing dengan menerapkan konsep LEISA yang ramah lingkungan; 2) Mengembangkan peluang wirausaha inovatif yang memiliki prospek bagus di bidang peternakan. 3) Memanfaatkan sumber daya alam yang kurang produktif yakni pakan lokal yang dapat ditingkatkan kualitasnya dengan aplikasi bioteknologi probiotik Dalam pelaksanaan program ini kami menggunakan metode yang terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama yakni persiapan kandang kandang tipe panggung dengan atap gable roof, ukuran kandang 5 x 3 Selanjutnya yakni persiapan bank pakan kambing dengan mentimpan pakan dalam jembung dengan kondisi kedap udara. Untuk pengadaan kambing bakalan dilakukan pembelian kambing sekitar umur 6-7 bulan, betina sebanyak 5 ekor dan jantan sebanyak 3 ekor. Pada proses pemeliharaan pemeliharaan kambing dilakukan dengan memberikan hijauan sebanyak 4 kg per hari dan ampas tahu sebanyak 2 kg per hari pemberian pakan dilakukan pada sore hari. Proses pemasaran dilakukan dengan cara membawa kambing ke pasar hewan, menawarkan kambing ke pedagang sate, serta promosi dengan menawarkan pada teman atau sodara yang membutuhkan kambing. Disisi lain untuk menjamin kualitas produk yang berkesinambungan diterapkanya sistem pengawasan mutu dan evaluasi 4 bulanan. Secara umum pada usaha pembesaran kambing ini diberlakukannya SOP (standar operational procedur) saat produksi pemeliharaan kambing. Evaluasi bertujuan untuk meningkatkan kinerja produksi dan memberikan pelayanan kepada pelanggan sehingga mampu berkesinambungan menghasilkan keuntungan usaha.

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kebutuhan gizi protein hewani yang tinggi serta meningkat setiap tahunnya. Salah satu kebutuhan gizi protein hewani masyarakat Indonesia adalah konsumsi daging kambing maupun domba. Hal ini berdasarkan pada keadaan alam yang baik dan keadaan sosial budaya yang mendukung terutama terkait dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Di Indonesia mayoritas masyarakat beragama Islam dan terdapat berbagai ritual ibadah seperti berkurban, serta aqiqah yang dilaksanakan dengan menyembelih domba atau kambing. Kedua ritual ibadah tersebut potensial bagi terbentuknya pasar domba dan kambing yang sangat besar. Selain itu, pada masyarakat juga terdapat berbagai ragam budaya yang memberikan kontribusi terhadap pangsa pasar domba dan kambing, misalnya menyembelih domba dan kambing untuk acara hajatan baik pernikahan atau khitanan, kebutuhan warung nasi/restoran mulai dari olahan tradisional hingga semi modern.
Mildatul (2010), menyatakan bahwa kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang relatif mudah dipelihara dan dapat memakan berbagai hijauan terutama terhadap daun-daun muda. Ternak pembesaran kambing akhir-akhir mulai dikenal oleh masyarakat yang dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan tambahan dalam usaha tani terutama didaerah pedesaan. Namun disisi lain peranan kambing di Indonesia sebagai penghasil daging dalam menunjang penyediaan kebutuhan daging nasional masih rendah, tidak lebih dari 5 % dari komponen kebutuhan daging yang ada (Haryanto, B, 1997). Kondisi ini menjadikan peluang besar yang harus dimanfaatkan bagi usaha pembesaran kambing.
Dalam usaha Pembesaran kambing ini perlu diperhatikan mutu pakan yang dilakukan dengan menambah bahan pakan lain yang tinggi kandungan proteinnya ke dalam ransum. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaplikasikan bioteknologi probiotik good bacteria #1 untuk meningkatkan kandungan protein dan kecernaan pakan diiringi dengan perkandangan yang baik. Selain itu penerapan konsep LEISA dengan meminimalisir input luar serta memanfaatkan kembali output sampingan seperti limbah kotoran dalam pengelolaan kandangnya akan menjadikan usaha pembesaran kambing tetap menguntungkan dan ramah lingkungan.
1.1  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari proposal usaha ini adalah:
1.        Membangun usaha di bidang peternakan khususnya usaha pembesaran kambing dengan menerapkan bioteknologi probiotik pada pakan kambing
2.        Memanfaatkan komoditas pakan lokal melalui usaha pembesaran kambing
3.        Menerapkan konsep LEISA (Low External Input for Sustainable Agriculture) pada usaha pembesaran kambing sehingga ramah lingkungan serta tetap menguntungkan
1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai antara lain : 
1.        Meningkatkan minat mahasiswa dalam menangkap peluang bisnis melalui usaha pembesaran kambing dengan menerapkan konsep LEISA yang ramah lingkungan
2.  Mengembangkan peluang wirausaha inovatif yang memiliki prospek bagus di bidang peternakan.
3.    Memanfaatkan sumber daya alam yang kurang produktif yakni pakan lokal yang dapat ditingkatkan kualitasnya dengan aplikasi bioteknologi probiotik
1.4  Luaran 
 Luaran yang diharapkan dari adanya usaha ini adalah terciptanya usaha pembesaran kambing dengan memanfaatkan bioteknologi probiotik yang diterapkan pada pembuatan pakan berbasis potensi komoditas lokal. Dengan adanya pemanfaatan komoditas lokal sebagai pakan, dan aplikasi probiotik pada pakan akan berdampak pada limbah ternak yang tidak bau, serta dapat digunakan sebagai pupuk pertanian yang aman. Konsep ini sejalan dengan penerapan LEISA (Low External Input for Sustainable Agriculture) yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan lingkungan dari peternakan. Sehingga usaha akan berjalan ramah lingkungan, berkah, serta menguntungkan.
1.5  Kegunaan
  Berbagai kegunaan dari adanya usaha pembesaran kambing ini antara lain:
1.        Bidang Ekonomi dan Sosial
Usaha ini secara ekonomi akan meningkatkan pendapatan serta membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar karena dengan memanfaatkan pakan lokal yang ditingkatkan kandungan proteinnya menggukanan probiotik.
2.        Bidang Lingkungan
    Usaha ini mengunakan sistem LEISA yang meminimalisir input eksternal dengan memanfaatkan pakan ternak lokal serta penanggulangan llmbah ternak sehingga ramah lingkungan.
3.        Bidang Pendidikan
Wirausaha berbasis penerapan teknologi serta konsep ramah lingkungan dengan pemanfaatan SDA lokal ini akan memberikan inspirasi, wawasan, motivasi dan edukasi kepada masyarakat umum sekitar dalam mengembangkan usaha khususnya di bidang peternakan.
4.        Bidang Pemerintahan
Adanya usaha ini dapat menjadikan rujukan dalam rangka pengembangan ekonomi sektor agribisnis di pedesaan dengan mengadopsi konsep ramah lingkungan serta pemanfaatan SDA lokal.
BAB 2. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1  Deskripsi Usaha
PEKA KELES (Pembesaran Kambing Konsep LEISA) merupakan usaha pembesaran kambing dengan memanfaatkan bioteknologi probiotik Good Bacteria #1 pada komoditas pakan lokal yang ada di lingkungan sekitar. Jenis kambing yang dibesarkan adalah jenis jawa randu.kambing jawa randu merupakan palasma nutfah indonesia yang berasal dari perkawinan silang antara kambing etawa dengan kambing kacang. Kambing etawa yang memiliki postur badan besar diambil genetiknya serta kambing kacang yang mempunyai daya adaptasi sangat baik sehingga dihasilkanlah kambing jawa randu yang mempunyai postur tubuh besar dan adaptasi yang baik.
Pembesaran menggunakan rumput pakan lokal serta limbah hasil panen dari perkebunan dan pertanian seperti pohon pisang, kulit nanas, kulit singkong, jermi padi, rendeng kacang tanah, rendeng kacang kedelai, serta rambanan dari tanaman pagar. Pakan menggunakan limbah perkebunan dan pertanian yang tersedia melimpah namun mempunyai kecernaan rendah makadipadukan dengan teknologi probiotik Good Bacteria #1 yang berfungsi meningkatkan kecernaan serta  kandungan protein mikrobial pada pakan. Selain limbah perkebunan dan pertanian limbah industri tahu dan tempe juga berperan untuk mendongkrak kadarprotein kasar  pada  pakan.
Proses pemeliharaan dapat dimulai setelah pembuatan bank  pakan selesai, maka selanjutnya  menjaga ketersediaan pakan merupakan prioritas utama. Selain itu dalam proses pemeliharaan juga perlu intensif dilakukan promosi supaya ternak cepat laku.

2.2  Analisis Peluang Pasar
Kekuatan
Kelemahan
1.      Postur kambing yang relatif besar
2.      Ketersediaan limbah industri tahu sangat melimpah.
1.      Proporsi  kebutuhan pakan lebih  banyak dibanding kambing  yang mempunyai badan yang lebih kecil
2.      Isu kambing majir diberi pakan ampas tahu.
Peluang
Ancaman
1.      Banyak permintaan kebutuhan kambing  untuk aqiqah, daging sate serta pemeliharaan untuk indukan atau pejantan pemacek.
1.      Maling ternak kambing


Analisis persaingan pasar bisnis ini dapat dilihat dari kombinasi empat kekuatan :


a.       Keunggulan Kompetitif Produk
Keunggulan kambing dengan pakan fermentasi menggunakan probiotik yaitu:
1)      Kambing tidak bau prengus serta kotoranya juga tidak bau prengus
2)      Tekstur daging lebih empuk dibandingkan daging kambing dengan pakan konvensional.
3)      Jika kambing digunakan sebagai indukan atau pejantan maka mempunyai palatabilitas yang baik serta daya serap nutrisi pakan yang lebih baik dari kambing pakan konvensional..
4)      Tidak pilah pilih pakan, biasanya kambing dengan pakan konvensional diberi rambannan maka tidak mau makan rumput.
b.      Persaingan antar produsen
Strategi yang dijalankan oleh suatu produsen dapat berhasil hanya jika mereka memberikan keunggulan kompetitif yang dimiliki  dibanding strategi yang dijalankan produsen pesaing. Untuk mengatasi persaingan dalam bisnis yang sejenis, kami memiliki strategi menciptakan berbagai inovasi dengan penawaran harga yang bersaing yakni berkisar Rp. 1700.000,- hingga Rp. 1800.000,- untuk satu ekor kambing pejantan dengan umur 1 tahun. Selain itu strategi lain adalah dengan melakukan promosi dan iklan yang lebih variatif agar masyarakat tidak mengalami kejenuhan. Keunggulan kompetitif usaha kambing ini yang tidak dimiliki oleh produsen lain menjadikan suatu kekuatan untuk dapat bersaing dalam bisnis.
c.       Kekuatan posisi pemasok
     Dalam hal ini kekuatan pemasok kami menjalin kerjasama dengan beberapa pemilik kebun dan sawah supaya kami boleh merumput di ladang mereka dan sebagai gantinya kami memberikan pupuk kandang untuk meningkatkan hasil kebun dan sawah (pertanian terintegrasi). Selain itu untuk memasok kebutuhan bibit kami menjalin mitra dengan peternak breeding kambing jawa randu.
d.      Kekuatan posisi penjual
Berasal dari daerah dengan peminat sate kambing yang cukup ramai yaitu diwilayah Randudongkal setidaknya untuk satu minggu seorang pedagang sate kambing bisa membeli seekor kambing umuran 8 bulan 13 bulan untuk memasok kebutuhan daging sate kambing. Permintaan daging kambing yang tinggi menjadi peluang usaha dengan promosi yang baik pada para pedagang sehingga pasar untuk menjual kambing sudah jelas prospeknya serta harga yang stabil

2.1 Analisis Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam menjalankan sebuah usaha. Dalam pengembangan dan pemasaran produk ternak berupa kambing konsep pemasaran yang akan kami lakukan yaitu:
a. Survey pasar
Survey pasar dilakukan gsetiap hari minggu di pasar randudongkal untuk mengetahui selera pembeli yang tujuanya untuk pembibitan (breeding). Survey npasar yang dilakukan setiap mminggu juga membuka
b. Promosi.
Promosi ini kami lakukan untuk memperkenalkan produk kami kepada konsumen. Promosi akan dilakukan secara konsisten, terus-menerus, dan dengan cara-cara kreatif sehingga para pelanggan tidak merasa bosan. Misalnya dengan membagikan brosur, pamflet, atau leaflet kepada masyarakat.
c. Customer Relationship Management
Pengelolaan hubungan dengan pelanggan yang tepat menjadi salah satu hal penting untuk menciptakan konsumen yang loyal dan konsisten. Hal tersebut akan kami wujudkan dengan membuat kartu membership dan memberikan potongan harga tertentu bagi para member. 

2.2 Rencana Operasi dan Manajemen
Rencana produksi usaha pembesaran kambing yang dirintis oleh tim kami dengan menjalin mitra melalui investor warga daerah desa karangmoncol, kecamatan randudongkal melalui system bagi hasil dari keuntungan bersih dibagi dua (50% : 50%). Kapasitas kandang dengan ukuran 5 x 3 meter mampu menampung hingga 20 ekor maka 8 ekor dari tim dan 12 ekor dari investor.
a. Pengelola (Tenaga Kerja)
Pengelola usaha peternakan kambing kami secara umum adalah tim yang terdiri dari ketiga mahasiswa yang tergabung dalam 1 tim PKM. Inilah yang nantinya bertugas mengelola usaha pembesaran kambing ini.
b. Sistem Gaji (Upah)
Usaha peternakan kambing menerapkan sistem gaji (upah) bagi hasil pada anggota tim. Sistem bagi hasil ini dilakukan dengan cari membagi keuntungan bersih dari setiap penjualan bulanan yang telah dipotong sebagian keuntungannya untuk tambahan kas usaha serta zakat profesi sebesar 2,5%. Pembagian kerja ini tidaklah serta merta dibagi sama rata pada setiap anggota, akan tetapi didasarkan atas job description dari usaha yang telah dilakukan. Presentase yang dipakai dalam sistem ini adalah pimpinan usaha (30%), manajer pemasaran (25%), manajer keuangan dan administrasi (25%), penambahan modal atau kas (27,5%) serta zakat profesi (2,5%). 
2.5 Analisis Ekonomi dan Kelayakan Usaha  
Tabel 1. Uraian Keuangan Produksi 
Uraian
Jumlah
Biaya Peralatan (Fix Cost)
Rp 3.705.000
Bahan Habis Pakai 4 Bulan (Variabel Cost)
Rp 5.910.000
Harga jual kambing betina
Rp 1.000.000
Harga jual kambing jantan
Rp 1.500.000
Biaya produksi per periode per ekor
Rp.   754.187
Keuntungan per ekor jantan
Rp.   745.813
Keuntungan per ekor betina
Rp.   245.813
Jumlah produksi per periode (4 bulan)
5 ekor betina, 3 ekor jantan

a. Penerimaan per periode (4 bulan)
        = (keuntungan per ekor x jumlah ekor)  
= (Rp 1.500.000 x 3) + (Rp 1.000.000 x 5)
= Rp 9.500.000 

b. Analisis R/C Ratio
       R/C = Penerimaan / Cost 
  = 9.500.000 / 5.910.000
  = 1.60
Perhitungan diatas menunjukkan bahwa R/C sebesar 1,60 atau lebih besar dari 1, maka usaha ini dapat dikatakan layak untuk dijalankan.

c. Analisis BEP (Break Even Point)
= 3.705.000 / 0,49
= Rp. 7.561.224,- 
Perhitungan diatas menunjukkan bahwa usaha ini akan mengalami impas jika tingkat penjualan sebesar Rp. 7.561.224,-

d. Analisis PP (Payback Period)
PP = (Jumlah investasi / keuntungan) x periode
= ( Rp. 9.615.000,- / Rp. 3.466.504,-) x periode
= 2.77 periode

Perhitungan diatas menunjukkan bahwa usaha ini akan mencapai titik balik modal di periode ke tiga usaha dijalankan.



baca juga: PROPOSAL WIRAUSAHA PENGGEMUKAN DOMBA BERBASIS TEKNOLOGI


BAB 3. METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan bisnis pembesaran kambing konsep LEISA adalah dengan menerapkan tahapan-tahapan sebagai berikut:
3.1  Persiapan Kandang
Kandang yang didiapkan yaitu tipe panggung dengan atap gble roof, ukuran kandang 5 x 3 meter memiliki kapasitas tampung 15- 20 ekor kambing dewasa. Alas kandang terbuat dari bamboo krapyakan sehingga kotoran kambing bisa jatuh ke bawah kandang, tinggi panggung 60 cm. tempat pakan berada di sisi luar kandang sehingga kapasitas kandang lebih banyak. Tipe atap gable roof karena lebih tahan terhadap tiupan angina.
3.2  Persiapan Bank Pakan Kambing
Alat yang digunakan untuk membuat bank pakan yaitu jembung dengan kapasitas tampung 120 liter sebanyak 3 unit. Setiap jembung mampu menampung pakan sebanyak 100 kg maka dengan adanya 3 jembung mampu menampung 300 kg pakan. Langkah pembuatan bank pakan yaitu bahan hijauan (rumput dan rambanan serta leguminosa) di cacah menggunakan bendo kemudian hijauan yang sudah di cacah di timbang sebanyak 100 kg. Selanjutnya siapkan probiotik sebanyak 10 ml dan larutkan kedalam air sebanyak 10 liter tambahkan molasses sebanyak 10 ml aduk hingga homogen, dan disiramkan ke hijauan sampai merata kemudian masukan ke dalam jembung dan tutup rapat pakan difermentasi selama 3 minggu sebelum pengadaan kambing. Ampas tahu juga difermentasi dengan probiotik, caranya ampas tahu ditimbang 100 kg dan ditambah molasses serta probiotik masing masing 10 ml aduk hingga rata dan tutup rapat.
3.3  Pengadaan Kambing Bakalan
Kambing bakalan dilaksanakan setelah bank pakan dan kandang siap, kambing didatangkan dari pasar ataupun peternak kambing tradisional. Kambing bakalan yang dibeli yaitu umur 6-7 bulan betina sebanyak 5 ekor dan jantan sebanyak 3 ekor. Pemilihan kambingbakalan dibawah umur 1 tahun karena harganya relatif lebih murah dibanding kambing umur lebih dari satu tahun.
3.4  Proses Pemeliharaan
Pemeliharaan kambing dilakukan dengan memberikan hijauan sebanyak 4 kg per hari dan ampas tahu sebanyak 2 kg per hari pemberian pakan dilakukan pada sore hari. Pemberian suplemen tambahan juga dilakukan dengan memberikan air kemanyu fermentasi (limbah cair tahu) dilakukan pada siang hari. Dengan pemberian pakan dan suplemen tambahan diharapkan bobot kambing dapat naik 200 gram per hari.
3.5  Pemasaran dan Kerjasama Mitra
Pemasaran dilakukan dengan cara membawa kambing ke pasar hewan , menawarkan kambing ke pedagang sate, serta promosi dengan menawarkan pada teman atau sodara yang membutuhkan kambing 
3.6  Pengawasan Mutu dan Evaluasi
Pengawasan mutu dilakukan dengan menilai ternak selama proses pemeliharaan dan menjelang dijual. Cara menilai yaitu  dengan meraba bagian pantat kambing untuk mengetahui tingkat perlemakan. Mengukur lingkar dada serta tinggi kambing. Setelah kambing dinilai maka selanjutnya yaitu evaluasi pakan dan manajemen perkandangan. Evaluasi pakan dilakukan untuk mengetahui efisiensi pakan terhadap bobot badan dan biaya produksi, jika pertambahan bobot badan kambing kurang dari 100 gram per hari dan biaya pakan lebih dari 1000 rupiah per hari maka ransum pakan akan diubah. Evaluasi manajemen perkandangan juga dilakukan untuk mengetahui manajemen kandang yang nyaman bagi kambing sehingga produksi bobot badan optimal.

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1  Anggaran biaya
Anggaran biaya yang diperlukan dalam usaha pembesaran kambing PEKA KELES dengan aplikasi bioteknologi probiotik dan konsep LEISA terdiri dari:
Tabel 2. Ringkasan anggaran biaya usaha pembesaran kambing PEKA KELES
No
Uraian
Harga
1
Biaya Peralatan (Fix Cost)
Rp 3.705.000
2
Bahan Habis Pakai 1 Bulan (Variabel Cost)
Rp 5.910.000
3
Akomodasi dan Transportasi
Rp    500.000
4
Promosi dan administrasi
Rp    550.000

Jumlah
Rp 10.665.000
    
4.2  Jadwal Kegiatan
Jadwal pelaksanaan kegiatan usaha ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 4 bulan dapat dirincikan sebagai berikut:
Tabel 2. Pelaksanaan Kegiatan Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan
No
Uraian Kegiatan
Waktu
Bulan 1
Bulan 2
Bulan 3
Bulan 4
1.
Persiapan Kandang




2.
Persiapan Bank Pakan Kambing




3.
Pengadaan Kambing Bakalan




4.
Proses Pemeliharaan




5.
Pemasaran dan Kerjasama Mitra




6.
Pengawasan Mutu dan Evaluasi






DAFTAR PUSTAKA

Haryanto, B, Ismeth Inounu, I. Ketut Sutema. 1997. Ketersediaan dan Kebutuhan Teknologi Produksi Kambing dan Domba. Proseding Seminar nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan BPPP. Departemen Pertanian. Bogor
Middatul, S. 2010. Performans Reproduksi Ternak Kambing PE (Peranakan Ettawa) di PT. Reanindo Perkasa Kenagarian Barulak Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanah Datar.


Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Kegiatan
1.      Biaya Peralatan (Fix Cost)
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah Harga (Rp)
Bambu
Kandang
100 buah
15.000
1.500.000
Genting
Kandang
1000 buah
600
600.000
Kayu Usuk
Kandang
3 buah
20.000
60.000
Saka 2 m
Kandang
8 buah
80.000
640.000
Saka 2.5 m
Kandang
4 buah
85.000
340.000
Paku
Kandang
5 kg
10.000
50.000
Jembung
Bank Pakan
3 buah
150.000
450.000
Sabit
Alat Potong
2 buah
20.000
40.000
Karung
Tempat rumput
5 buah
5.000
25.000
Sub total
3.705.000

2.      Bahan Habis Pakai 4 Bulan (Variabel Cost)
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga/Satuan (Rp)
Jumlah Harga (Rp)
Cempe Betina

Bibitan
5 ekor
600.000
3.000.000
Cempe Jantan

Bibitan
3 ekor
900.000
2.700.000
Probiotik
Fermentasi Pakan
1 botol

31.000

31.000
Molases
Fermentasi Pakan
1 kg

7.500

7.500
Ampas tahu
Pakan
50 kg
200
10.000
Obat
Pengobatan
2 pack
25.000
50.000
Vitamin
Vitamin
1 pack
120.000
120.000
Sub Total
5.910.000



3.    Akomodasi dan Transportasi
Material
Justifikasi perjalanan
Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Keterangan
Perjalanan untuk keperluan penjualan
Melakukan penjualan di pasar hewan, menyebarkan pamflet, termasuk sewa  kendaraan untuk tempat yang jauh.
Waktu tentatif
500.000
500.000

Sub total (Rp)

500.000

4. Promosi dan administrasi
Material
Justifikasi perjalanan
Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Keterangan
ATK (Buku, Bolpoin, Nota, Kertas, dll)
Administrasi


1 paket
100.000
    100.000
Pembuatan banner dan famphlet
Sebagai sarana promosi
Famphlet sebanyak  1000 lembar dan 1 banner ukuran sedang
450.000
    450.000

Sub total (Rp)

     550.000

Total (keseluruhan)

10.665.000

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship