-->

CONTOH PROPOSAL PKM AI (ARTIKEL ILMIAH) PENGEMBANGAN WILAYAH KOMODITAS


PROPOSAL PKM AI (ARTIKEL ILMIAH) POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM

POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS KOMODITAS TANAMAN BUAH DI KABUPATEN BANYUMAS

BIDANG KEGIATAN:
PKM-ARTIKEL ILMIAH



Diusulkan oleh:
                                Arifin Budi Purnomo               (A1C012025) (2012)
                                Amin Murtofiq                         (A1C012041) (2012)
                                Ahmad Ihlas Nurkarim             (C0A014036) (2014)






UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016


Potensi Pengembangan Wilayah Berbasis Komoditas Tanaman Buah di Kabupaten Banyumas

Arifin Budi Purnomo 1), Amin Murtofiq 2), Ahmad Ihlas N3)
Dibimbing oleh Ir. S.H. Suseno. S.U 4)
1), 2) Jurusan Sosek. Pertanian, Fak. Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman
3) Jur. DIII Adm. Keuangan, Fak. Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman
4) Dosen Jurusan Sosek. Pertanian, Fak. Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman

Abstrak
Kabupaten Banyumas sebagai daerah otonom memiliki kewenangan menentukan kebijakan pembangunan wilayahnya. Sektor pertanian yang memegang peran bagi kontribusi PDRB memerlukan kebijakan strategis pembangunan berkelanjutan. Sub sektor tanaman buah di Kabupaten Banyumas memiliki potensi produksi, serta permintaan pasar potensial baik konsumsi maupun bahan baku industri. Saat ini produksi buah masih tersebar di berbagai kecamatan dan diperlukan upaya penentuan prioritas pengembangan buah berdasarkan potensi wilayah. Berdasarkan uraian tersebut diperlukan penelitian mengenai buah basis di Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis: 1) Potensi wilayah basis komoditas buah (pisang, rambutan, durian, salak dan nangka); 2) Pertumbuhan komoditas buah; dan 3) Prioritas pengembangan komoditas buah di Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan data sekunder yakni data produksi buah 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas tahun 2010 sampai 2015. Analisis data yang digunakan yaitu analisis SLQ, DLQ, Koefisien Lokalita, Koefisien Spesialisasi, Net Shift, Shift and Share, Super Impose, gabungan DLQ-SLQ, gabungan SLQ-PP-PPW, serta Overlay. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Wilayah basis komoditas buah (pisang, rambutan, durian, salak dan nangka) di Kabupaten Banyumas terletak di berbagai kecamatan, memiliki kecenderungan menyebar, dan tidak ada kecamatan yang melakukan spesialisasi; 2) Pertumbuhan kelima jenis buah di Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa buah pisang, rambutan, dan durian mengalami kemajuan berarti sedangkan buah salak dan nangka secara regional mengalami penurunan; 3) Prioritas pengembangan wilayah berbagai kecamatan di Kabupaten Banyumas adalah buah durian dan rambutan sebagai unggulan pertama, serta buah pisang, salak, dan nangka sebagai unggulan kedua.

Kata Kunci: Potensi Wilayah, Pengembangan Wilayah, Buah

Potential Fruit Commodity Based Development Areas in Banyumas
Abstract
Banyumas is an autonomous region the authority to set policy development. The agricultural sector that contribute in the GDP of sustainable development requires a strategic policy. Fruit commodity in Banyumas have production and potential market demand for consumer and industrial materials. Currently, the fruit production was dispersed in various districts and the efforts are needed in order to determine the priority development on the region. On the case of these descriptions that have required study of fruit base in Banyumas. The aim of this study was to analyze: 1) the ability of the base area of ​​commodity fruits (banana, rambutan, durian, jackfruit and bark); 2) The growth of fruit products; and 3) Priority development of fruit products in Banyumas. The method used is descriptive analysis of secondary data that fruit production data 27 districts in Banyumas in 2010 to 2015. The data analysis is the analysis of SLQ, DLQ, coefficient of location, coefficient of specialization, Net Shift, Shift Share, Super Impose, combined DLQ-SLQ, combined SLQ-PP PPW, and Overlay. The results showed that: 1) the regional raw material base of fruit (bananas, rambutan, durian, jackfruit and bark) in Banyumas Regency is located in various districts, has a tendency to spread, and no areas of specialization; 2) The growth of the five kinds of fruits in Banyumas shows that bananas, rambutan and durian made significant progress, while the fruits and jackfruit regional decreased; 3) Determining the priorities for regional development of the various districts in Banyumas is durian and rambutan as the first seed, as well as banana bark, and jackfruit as the second seed.
Keywords: Potential Areas, Regional Development, Fruit

I.     PENDAHULUAN

Pelaksanaan pembangunan daerah berdasarkan UU RI No. 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah menegaskan bahwa pemerintah daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan menurut asas dan prinsip otonomi dalam sistem dan prinsip NKRI. Kondisi ini menitikberatkan pada tanggung jawab pemerintah daerah akan kebijakan strategis dalam pembangunan wilayahnya. Kebijakan yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut diantaranya ialah dengan peningkatan ekonomi melalui pembangunan pertanian.
Kabupaten Banyumas sebagai daerah otonom memiliki kewenangan menentukan kebijakan strategis pembangunan wilayahnya. Sektor pertanian yang masih memegang peranan penting bagi PDRB memerlukan kebijakan strategis demi keberlanjutan pembangunan. Salah satu sub sektor potensial yang dimiliki Kabupaten Banyumas adalah sub sektor hortikultura tanaman buah. Produksi buah yang melimpah di berbagai kecamatan menjadikan potensi besar baik untuk keperluan konsumsi buah maupun bahan baku industri. Sejauh ini salah satu buah yakni buah pisang memegang pangsa pasar besar dengan dikirimnya hasil panen ke berbagai wilayah lain seperti di Solo, Bandung, serta kawasan Jabodetabek.
II.  TUJUAN
Berdasarkan latar belakang yang ada tujuan dari penelitian ini adalah:
1.    Menganalisis potensi wilayah basis komoditas buah khususnya lima terbesar (pisang, rambutan, durian, salak dan nangka) di Kabupaten Banyumas
2.      Mengetahui pertumbuhan komoditas buah di Kabupaten Banyumas
3.      Merumuskan prioritas pengembangan buah di Kabupaten Banyumas
III.   METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah metode deskriptif dengan data sekunder 27 kecamatan dari Dinpertanbunhut, dan BPS Kabupaten Banyumas. Penelitan ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Maret 2016. Variabel penelitian ini adalah besar produksi buah dari tahun 2010 sampai 2015. Analisis data adalah:
1.      Analisis Location Quotient (LQ)
a.     Static Location Quotient (SLQ)
Supratama dan Erli (2013) menjelaskan rumus SLQ sebagai berikut:

..................................  (1)
b.    Dynamic Location Quotient (DLQ)
Supratama dan Erli (2013) menjelaskan rumus DLQ sebagai berikut:
................  (2)
2.      Koefisien Lokalita (a)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui penyebaran kegiatan komoditas di daerah, sehingga diketahui tingkat aglomerasi (Siregar, 2003).
.............................  (3)
3.      Koefisien Spesialisasi (β)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui spesialisasi suatu daerah terhadap komoditas tertentu. Siregar (2003) rumus b dapat dihitung:
.............................  (4)







4.      Analisis Pergeseran Netto (Net Shift Analysis)
Analisis ini digunakan untuk mengukur perkembangan relatif suatu komoditas. Menurut Soedjito (1976) merumuskan sebagai berikut:
..........  (5)
5.      Analisis Shift dan Share
          Analisis ini dibagi menjadi empat komponen (Budiharsono, 2001).
a.       Pertumbuhan Regional (PR)
.....................................  (6)
b.      Pertumbuhan Proporsional (PP)
.........................  (7)
c.       Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW)
.....................  (8)
d.      Pertumbuhan Bersih (PB)
PBij = (PPij + PPWij)............................ (9)

6.      Analisis Super Impose (SI)
Analisis ini digunakan untuk menentukan komoditas andal di suatu daerah (Ma’mun dan Karyani, 2000).

Tabel 1.  Modifikasi analisis Super Impose
Super Impose
Nilai
Keterangan 
Romawi
SLQ
Net Shift
2+
Sangat Andal (SA)
I
SLQ
Net Shift
1+
Kurang Andal (KA)
II
SLQ
Net Shift
0
Bukan Andalan (BA)
III

7.      Analisis Gabungan SLQ dan DLQ
Analisis ini digunakan untuk mengetahui sektor basis masa sekarang dan prediksi basis masa mendatang (Sanjaya, 2009).

Tabel 2.  Analisis gabungan SLQ dan DLQ
Analisis Gabungan
Kriteria
Keterangan
Romawi
SLQ>1
DLQ>1
Unggulan
Basis di masa sekarang maupun masa yang akan datang
I
SLQ>1
DLQ≤1
Andalan
Perubahan dari basis menjadi non basis di masa mendatang
II
SLQ≤1
DLQ>1
Prospektif
Perubahan dari non basis menjadi basis di masa mendatang
III
SLQ≤1
DLQ≤1
Tertinggal
Non basis baik masa sekarang maupun masa yang akan datang
IV

8.      Analisis Gabungan SLQ, PP, dan PPW
Warpani (1984) mengelompokkan menjadi kriteria berikut.

Tabel 3.  Modifikasi analisis Gabungan SLQ, PP, dan PPW
Analisis Gabungan
Keterangan
Romawi
SLQ>1
PP>0
PPW>0
Prioritas Pertama
I

SLQ>1
PP<0
PPW>0
Prioritas Kedua
II

SLQ>1
PP>0
PPW<0

SLQ>1
PP<0
PPW<0
Alternatif
III

 Kriteria lain
Bukan Priotitas
IV


9.      Analisis Overlay
Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi sektor unggul baik dari segi kontribusi maupun petumbuhannya (Putra, 2013).

Tabel 4. Analis Overlay
Analisis Overlay
Nilai
Keterangan
Super Impose
(SLQ-DLQ)
(SLQ-PP-PPW)
***
Unggulan Pertama    (I)
Super Impose
(SLQ-DLQ)
(SLQ-PP-PPW)
**
Unggulan Kedua      (II)
Super Impose
(SLQ-DLQ)
(SLQ-PP-PPW)
*
Unggulan Alternatif (III)
Super Impose
(SLQ-DLQ)
(SLQ-PP-PPW)
-
 Bukan Unggulan     (IV)


baca juga: CONTOH PKM AI (ARTIKEL ILMIAH) / EKOLOGI GULMA PERKEBUNAN KUBIS (Brassica oleracea L.) DI DESA BUNTU, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   
Potensi Hortikultura Tanaman Buah di Kabupaten Banyumas



Rata-rata SLQ menunjukkan bahwa terdapat banyak kecamatan yang memiliki nilai SLQ lebih besar dari satu. Akan tetapi untuk komoditas yang memiliki nilai SLQ tertinggi adalah buah salak yakni sebesar 6,97 di Kecamatan Gumelar, durian sebesar 3,65 di Kecamatan Kemranjen, nangka sebesar 3,20 di Kecamatan Purwokerto Utara, pisang sebesar 2,78 di Kecamatan Purwojati, serta rambutan sebesar 2,62 di Kecamatan Kalibagor. Nilai SLQ lebih dari satu menunjukkan bahwa komoditas tersebut dikatakan sebagai komoditas basis di wilayah (kecamatan) pada masa sekarang. Hasil analisis tersaji pada gambar berikut.

Gambar 1. Hasil rata-rata analisis SLQ


Hasil analisis DLQ menunjukkan bahwa komoditas buah yang memiliki nilai DLQ tertinggi adalah buah durian sebesar 4,49 di Kecamatan Kemranjen, buah salak sebesar 3,95 di Kecamatan Gumelar, buah nangka sebesar 3,92 di Kecamatan Purwokerto Utara, buah rambutan sebesar 2,50 di Kecamatan Purwokerto Barat, dan buah pisang sebesar 2,33 di Kecamatan Rawalo. Nilai DLQ lebih dari satu menunjukkan bahwa komoditas tersebut diprediksi akan menjadi sektor basis di kecamatan pada masa yang akan datang. Hasil analisis tersaji pada gambar berikut.


Gambar 2. Hasil analisis DLQ


Hasil analisis Koefisien Lokalita menunjukkan kelima komoditas buah berkecenderungan menyebar, karena nilai koefisien lokalita tidak ada yang bernilai 1. Komoditas buah yang mempunyai koefisien tertinggi adalah nangka (0,493), salak (0,444), durian (0,387), pisang (0,362), dan rambutan (0,293). Sedangkan hasil analisis Koefisien Spesialisasi menunjukkan semua kecamatan bercenderungan tidak melakukan spesialisasi dalam komoditas tertentu karena nilai koefisien tidak ada yang bernilai 1. Koefisien yang rendah menunjukkan kecamatan bersangkutan tidak memiliki keunggulan komparatif komoditas buah.


B.     Pertumbuhan Hortikultura Tanaman Buah di Kabupaten Banyumas
Pertumbuhan buah berdasarkan analisis Net Shift menunjukan nilai pergeseran netto terbesar yakni buah rambutan di Kecamatan Kembaran, pisang di Kecamatan Rawalo, nangka di Kecamatan Baturaden, durian di Kecamatan Kemranjen, dan salak di Kecamatan Lumbir. Hal ini mengindikasikan bahwa komoditas tesebut di tingkat kecamatan bersangkutan berkembang relatif cepat dibandingkan kecamatan lain atau kabupaten secara keseluruhan.
Gambar 3. Hasil analisis Net Shift
Hasil analisis Shift and Share menunjukan, bahwa:
1.    Angka Pertumbuhan Regional (PR) menunjukkan bahwa buah pisang, rambutan dan durian bernilai positif, artinya komoditas tersebut di tingkat regional Kabupaten Banyumas sedang mengalami kenaikan.
Tabel 5. Pertumbuhan Regional komoditas buah tahun 2010 – 2015
No
Jenis Komoditas
Nilai Pertumbuhan Regional
1
Pisang
0,243
2
Rambutan
1,059
3
Durian
3,730
4
Salak
-0,039
5
Nangka
-0,309
Sumber: Dinpertanbunhut Kab. Banyumas 2016 (diolah)

2.  Nilai Pertumbuhan Proporsional (PP) terbesar untuk lima komoditas buah terletak di Kecamatan Purwokerto Selatan. Nilai PP tertinggi masing-masing komoditas adalah buah durian (4,730), rambutan (2,059), pisang (1,447), salak (0,961), serta nangka (0,691). Hasil analisis menunjukkan Kecamatan Purwokerto Selatan dapat diartikan bahwa komoditas buah di kecamatan tersebut memiliki pertumbuhan yang pesat dibanding kecamatan yang lain.
3.    Nilai Pertumbuhan Pangwa Wilayah (PPW) tertinggi terdapat pada komoditas buah rambutan (57,014), salak (49,809), nangka (44,104), durian (26,767), dan pisang (11,489). Nilai PPW yang positif dapat diartikan bahwa komoditas yang dihasilkan oleh kecamatan bersangkutan memiliki dasa saing yang tinggi dibanding komoditas yang sama di wilayah lain.
4.    Nilai Pertumbuhan Bersih (PB) dipengaruhi oleh nilai PP dan PPW. Nilai PB positif tertinggi terdapat pada komoditas rambutan (54,479), salak (49,179), durian (28,171), nangka (24,744), dan pisang (11,166). Nilai PB positif berarti suatu komoditas di suatu kecamatan mengalami pertumbuhan yang progresif.
C.    Prioritas Pengembangan Tanaman Buah di Kabupaten Banyumas
Hasil analisis Super Impose untuk kategori Sangat Andal ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel 6. Hasil Analisis Super Impose kategori Sangat Andal (SA)
No
Komoditas
Kecamatan
1
Pisang
Rawalo, Sumpiuh, Ajibarang, Karanglewas, Baturaden, dan Purwokerto Barat
2
Rambutan
Rawalo, Sumpiuh, Kalibagor, Banyumas, Ajibarang, Kedungbanteng, Purwokerto Barat, Purwokerto Timur
3
Durian
Kemranjen, Sumpiuh, Kalibagor, Banyumas, Patikraja, dan Kedungbanteng
4
Salak
Lumbir, Ajibarang, dan Pekuncen
5
Nangka
Jatilawang, Patikraja, Ajibarang, Pekuncen, Kembaran, Purwokerto Timur, Purwokerto Utara
Sumber: Data diolah dari Lampiran 2

Hasil analisis Super Impose menunjukkan bahwa buah pisang sangat andal di 6 kecamatan, rambutan di 8 kecamatan, durian di 6 kecamatan, salak di 3 kecamatan, dan nangka di 7 kecamatan.

Secara lengkap hasil analisis SLQ-DLQ kategori Unggulan ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel 7. Hasil Analisis SLQ-DLQ kategori Unggulan
No
Komoditas
Kecamatan
1
Pisang
Lumbir, Wangon, Jatilawang, Rawalo, Sumpiuh, Tambak, Purwojati, Ajibarang, Karanglewas, dan Banturaden
2
Rambutan
Rawalo, Sumpiuh, Kalibagor, Kedungbanteng, Sokaraja, Purwokerto Barat, Purwokerto Timur
3
Durian
Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Banyumas
4
Salak
Lumbir, Wangon, Banyumas,  Ajibarang, Gumelar, Pekuncen, Baturaden, Sumbang, dan Purwokerto Selatan
5
Nangka
Wangon, Jatilawang, Kebasen, Patikraja, Purwojati, Ajibarang, Pekuncen, Cilongok, Kembaran, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, dan Purwokerto Utara
Sumber: Data diolah dari Lampiran 3

Penggabungan SLQ-DLQ menunjukkan bahwa buah pisang menjadi basis  di masa sekarang dan mendatang terletak di 10 kecamatan, rambutan di 7 kecamatan, durian di 6 kecamatan, salak di 9 kecamatan, dan nangka di 12 kecamatan.

Secara lengkap hasil analisis LQ-PP-PPW kategori Prioritas Pertama ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel 8. Hasil Analisis LQ-PP-PPW kategori Prioritas Pertama
No
Komoditas
Kecamatan
1
Pisang
Wangon, Purwojati, dan Sumbang
2
Rambutan
Banyumas, dan Kedungbanteng
3
Durian
Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Banyumas, Kedungbanteng
4
Salak
Gumelar
5
Nangka
Kebasen
Sumber: Data diolah dari Lampiran 4

Hasil analisis pengabungan SLQ-PP-PPW menunjukkan bahwa buah pisang menjadi prioritas pertama di 3 kecamatan, rambutan di 2 kecamatan, durian di 6 kecamatan, salak di 1 kecamatan, dan nangka di 1 kecamatan.
Analisis Overlay dalam penelitian ini adalah menggabungkan tiga analisis gabungan sebelumnya yakni Super Impose, analisis SLQ-DLQ, dan analilis SLQ-PP-PPW. Hasil analisis Super Impose ditunjukkan dalam gambar berikut.



V. KESIMPULAN


1.      Wilayah basis komoditas buah (pisang, rambutan, durian, salak dan nangka) di Kabupaten Banyumas terletak di berbagai kecamatan dan memiliki kecenderungan menyebar serta tidak terjadi spesialisasi
2.      Pertumbuhan komoditas buah di Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa buah pisang, rambutan, dan durian mengalami kemajuan berarti sedangkan buah salak dan nangka secara regional kabupaten mengalami penurunan.
3.      Prioritas pengembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Banyumas adalah buah durian dan rambutan sebagai buah unggulan pertama, sedangkan buah pisang, salak, dan nangka sebagai buah unggulan kedua.

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan ucapan banyak terima kasih kepada pihak - pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. Ir. S.H. Suseno, S.U. selaku dosen pembimbing, segenap civitas akademika Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, serta teman-teman yang telah memberi banyak dukungan demi lancarnya proses penelitian ini dari awal hingga akhir.

DAFTAR PUSTAKA

Budiharsono, S. 2001, Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Jakarta: PT. Pradnya Paramita
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Banyumas. 2015. Produksi tanaman buah-buahan. Dinas Perkebunan dan Pertanian. Purwokerto
Ma’mun, D. dan T. Karyani. 2000. Pemahaman Potensi, Analisis dan Perencanaan Wilayah. Makalah ini Disampaikan dalam Pelatihan “Pemahaman Aspek Sosial Budaya Masyarakat dalam Perencanaan dan Penerapan Teknologi” Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung.
Putra, A. N., 2013. Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten dan Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sanjaya, M. N. R., 2009. Aplikasi Location Quotient Dan Shift Share Analysis Terhadap Peranan Sektor Pertanian Di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Siregar, M. 2003. Analisis Daya Saing Usahatani Kedelai di DAS Brantas. Jurnal Agro Ekonomi 21(1):50-71.
Soedjito, B. 1976. Perencanaan Pengembangan Desa. Direktur Jendral Departemen Dalam Negeri-Departemen Planologi. Bandung: ITB Press
Supratama dan Erli. 2013. Penentuan Kawasan Agroindustri Berdasarkan Komoditas Unggulan di Kabupaten Bondowoso. Jurnal Teknik POMITS. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya
Warpani, S. 1984. Analisis Kota dan Daerah. Bandung: Institut Teknologi Bandung Press
UU RI No. 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah


Lampiran 1. Daftar Simbol

Vik        : Nilai produksi komoditas i pada daerah studi k (kecamatan)
Vk         : Nilai produksi total semua komoditas di daerah k (kecamatan)
Vip        : Nilai produksi komoditas i pada daerah referensi p (kabupaten)
Vp         : Nilai produksi total semua komoditas daerah referensi p (kabupaten)
SLQ>1  : Komoditas tersebut termasuk komoditas basis
SLQ<1 : Komoditas tersebut termasuk komoditas non basis
SLQ=1 : Komoditas tersebut hanya dapat mencukupi wilayah itu sendiri
g ik        : Nilai produksi komoditas i daerah studi k (kecamatan)
g k         : Rata-rata produksi total semua komoditas di daerah k (kecamatan)
G ip       : Nilai produksi komoditas i daerah referensi p (kabupaten)
G p        : Rata-rata produksi total semua komoditas daerah referensi (kabupaten)
t             : Selisih tahun akhir dan tahun awal
DLQ>1  : Komoditas i laju pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan komoditas yang sama di kabupaten
DLQ<1  : Potensi komoditas i laju pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan komoditas yang sama di kabupaten
a            : Koefisien Lokalisasi
Si           : Jumlah produksi komoditas i pada tiap kecamatan
S            : Jumlah produksi total tanaman buah tingkat kecamatan
Ni          : Jumlah produksi komoditas i pada tingkat kabupaten
N           : Jumlah produksi total komoditas tanaman buah tingkat kabupaten
a = 1      : Lokalisasi kegiatan tanaman buah memusat.
a < 1      : Lokalisasi kegiatan tanaman buah menyebar.
b            : Koefisien Spesialisasi
Si           : Jumlah produksi  komoditas i pada tiap kecamatan
S            : Jumlah produksi total tanaman buah tingkat kecamatan
Ni          : Jumlah produksi komoditas i pada tingkat kabupaten
N           : Jumlah produksi total komoditas tanaman buah tingkat kabupaten
b = 1      : Terdapat kegiatan berspesialisasi komoditas i di suatu daerah
b < 1      : Tidak terdapat kegiatan berspesialisasi komoditas i di suatu daerah
SD         : Pergeseran netto
Vijt        : Volume aspek komoditas i  di kecamatan j pada tahun terakhir
Vijp       : Volume aspek komoditas i di kecamatan j pada tahun permulaan
Vit         : Volume aspek komoditas i di kabupaten pada tahun terakhir
Vip        : Volume aspek komoditas i di kabupaten pada tahun permulaan
Nt          : Total produksi komoditas i di kabupaten pada tahun t (terakhir)
Np         : Total produksi komoditas i di kabupaten pada tahun p (permulaan)
Nij         : Produksi komoditas i di kabupaten pada tahun t (terakhir)
Nip        : Produksi komoditas i di kabupaten pada tahun p (permulaan)
Nt          : Total produksi komoditas buah di kecamatan pada tahun t (terakhir)
Np         : Total produksi komoditas buah di kecamatan tahun p (permulaan)
Sit          : Produksi komoditas i di kecamatan basis pada tahun t (terakhir)
Sip         : Produksi komoditas i di kecamatan basis pada tahun p (permulaan)
Nit         : Produksi komoditas lain di kecamatan basis pada tahun t (terakhir)
Nip        : Produksi komoditas lain di kecamatan basis tahun p (permulaan)


Lampiran 2. Analisis Super Impose
No
Kecamatan
Super Impose 2010-2015
Pisang
Rambutan
Durian
Salak
Nangka
1
Lumbir
II
II
II
I
II
2
Wangon
II
II
III
II
II
3
Jatilawang
II
II
II
III
I
4
Rawalo
I
I
II
III
III
5
Kebasen
II
III
III
III
II
6
Kemranjen
III
II
I
II
II
7
Sumpiuh
I
I
I
III
III
8
Tambak
II
III
II
II
III
9
Somagede
II
III
II
II
III
10
Kalibagor
III
I
I
II
II
11
Banyumas
III
I
I
II
III
12
Patikraja
III
II
I
II
I
13
Purwojati
II
II
III
III
II
14
Ajibarang
I
I
III
I
I
15
Gumelar
III
III
III
II
III
16
Pekuncen
II
III
III
I
I
17
Cilongok
III
II
II
II
II
18
Karanglewas
I
II
II
II
III
19
Kedungbanteng
III
I
I
II
III
20
Baturaden
I
II
II
II
II
21
Sumbang
II
II
III
II
III
22
Kembaran
II
II
II
II
I
23
Sokaraja
III
II
III
II
II
24
Pwt. Selatan
II
II
II
II
II
25
Pwt. Barat
I
I
III
III
II
26
Pwt. Timur
II
I
II
III
I
27
Pwt. Utara
III
II
II
II
I

Keterangan:
I           : Sangat Andal (SA)
II         : Kurang Andal (KA)
III        :Bukan Andalan (BA)

Lampiran 3. Analisis Gabungan (SLQ-DLQ) Tahun 2010-2015
No
Kecamatan
Gabungan (SLQ-DLQ) Tahun 2010-2015
Pisang
Rambutan
Durian
Salak
Nangka
1
Lumbir
I
IV
IV
I
II
2
Wangon
I
III
IV
I
I
3
Jatilawang
I
IV
IV
IV
I
4
Rawalo
I
I
IV
IV
IV
5
Kebasen
II
III
IV
IV
I
6
Kemranjen
IV
IV
I
IV
IV
7
Sumpiuh
I
I
I
IV
IV
8
Tambak
I
IV
I
IV
IV
9
Somagede
IV
IV
I
II
IV
10
Kalibagor
IV
I
I
IV
IV
11
Banyumas
IV
II
I
I
IV
12
Patikraja
IV
III
II
IV
I
13
Purwojati
I
IV
IV
IV
I
14
Ajibarang
I
II
IV
I
I
15
Gumelar
IV
III
IV
I
IV
16
Pekuncen
IV
IV
IV
I
I
17
Cilongok
IV
IV
IV
IV
I
18
Karanglewas
I
IV
IV
IV
IV
19
Kedungbanteng
IV
I
II
II
IV
20
Baturaden
I
IV
IV
I
III
21
Sumbang
II
IV
II
I
IV
22
Kembaran
IV
IV
IV
IV
I
23
Sokaraja
IV
I
IV
IV
IV
24
Pwt. Selatan
IV
IV
II
I
I
25
Pwt. Barat
II
I
IV
IV
IV
26
Pwt. Timur
II
I
IV
IV
I
27
Pwt. Utara
IV
IV
IV
IV
I

Keterangan:
I           : Unggulan
II         : Andalan
III        : Prospektif
IV        : Tertinggal

Lampiran 4. Analisis Gabungan (LQ-PP-PPW) tahun 2010-2015
No
Kecamatan
Gabungan (LQ-PP-PPW) tahun 2010-2015


Pisang
Rambutan
Durian
Salak
Nangka
1
Lumbir
III
IV
IV
II
II
2
Wangon
I
IV
IV
II
II
3
Jatilawang
II
IV
IV
IV
II
4
Rawalo
II
III
IV
IV
IV
5
Kebasen
II
IV
IV
IV
I
6
Kemranjen
IV
IV
I
IV
IV
7
Sumpiuh
III
III
I
IV
IV
8
Tambak
II
IV
I
IV
IV
9
Somagede
IV
IV
I
III
IV
10
Kalibagor
IV
III
II
IV
IV
11
Banyumas
IV
I
I
II
IV
12
Patikraja
IV
IV
III
IV
II
13
Purwojati
I
IV
IV
IV
III
14
Ajibarang
II
II
IV
III
III
15
Gumelar
IV
IV
IV
I
IV
16
Pekuncen
IV
IV
IV
II
III
17
Cilongok
IV
IV
IV
IV
III
18
Karanglewas
II
IV
IV
IV
IV
19
Kedungbanteng
IV
I
I
III
IV
20
Baturaden
III
IV
IV
III
IV
21
Sumbang
I
IV
II
II
IV
22
Kembaran
IV
IV
IV
IV
II
23
Sokaraja
IV
II
IV
IV
IV
24
Pwt. Selatan
IV
IV
II
III
III
25
Pwt. Barat
III
II
IV
IV
IV
26
Pwt. Timur
III
III
IV
IV
II
27
Pwt. Utara
IV
IV
IV
IV
II

Keterangan:
I           : Prioritas Pertama
II         : Prioritas Kedua
III        : Prioritas Alternatif
IV        : Bukan Prioritas

Lampiran 5. Analisis Overlay
No
Kecamatan
Analisis Overlay
Pisang
Rambutan
Durian
Salak
Nangka
1
Lumbir
III
IV
IV
II
IV
2
Wangon
II
IV
IV
III
III
3
Jatilawang
III
IV
IV
IV
II
4
Rawalo
II
II
IV
IV
IV
5
Kebasen
IV
IV
IV
IV
II
6
Kemranjen
IV
IV
I
IV
IV
7
Sumpiuh
II
II
I
IV
IV
8
Tambak
III
IV
II
IV
IV
9
Somagede
IV
IV
II
IV
IV
10
Kalibagor
IV
II
II
IV
IV
11
Banyumas
IV
II
I
III
IV
12
Patikraja
IV
IV
III
IV
II
13
Purwojati
II
IV
IV
IV
IV
14
Ajibarang
II
III
IV
II
II
15
Gumelar
IV
IV
IV
II
IV
16
Pekuncen
IV
IV
IV
II
II
17
Cilongok
IV
IV
IV
IV
III
18
Karanglewas
II
IV
IV
IV
IV
19
Kedungbanteng
IV
I
II
IV
IV
20
Baturaden
II
IV
IV
III
IV
21
Sumbang
III
IV
IV
III
IV
22
Kembaran
IV
IV
IV
IV
II
23
Sokaraja
IV
III
IV
IV
IV
24
Pwt. Selatan
IV
IV
IV
III
III
25
Pwt. Barat
III
II
IV
IV
IV
26
Pwt. Timur
IV
II
IV
IV
II
27
Pwt. Utara
IV
IV
IV
IV
II

Keterangan:
I           : Unggulan Pertama
II         : Unggulan Kedua
III        : Unggulan Alternatif
IV        : Bukan Unggulan

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship