-->

PROPOSAL PKM GT (GAGASAN TERTULIS) / EVALUASI LAHAN PERTANIAN DENGAN METODE PENGAWETAN TANAH DAN AIR YANG EFEKTIF SERTA EKONOMIS DI DATARAN TINGGI DIENG





USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM:

EVALUASI LAHAN PERTANIAN DENGAN METODE PENGAWETAN TANAH DAN AIR YANG EFEKTIF SERTA EKONOMIS DI DATARAN TINGGI DIENG
                                                                 
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GAGASAN ILMIAH




Diusulkan oleh:
                               Tri Irawan                               (A1H012048)   (2012)
                               Arifin Budi P.                         (A1C012025)   (2012)
                               Ashiff Abd                              (A1L012014)   (2012)
                               Mugi Mustakim                      (A1C013030)   (2013)
                    
                           








UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO


RINGKASAN
Dataran Tinggi Dieng (DTD) terletak di enam wilayah kabupaten, yaitu  Banjarnegara, Wonosobo, Pemalang, Tegal, Batang dan Pekalongan dengan komoditas utama kentang. Usahatani kentang di DTD merupakan usaha pokok sebagian besar masyarakat petani di DTD bagian timur. Namun tanaman kentang menjadi permasalahan pokok usahatani tanaman sayuran DTD, karena menjadi sebab  rentannya gangguan keseimbangan lingkungan. Gangguan tersebut diantaranya adalah terjadinya erosi, menurunnya tingkat kesuburan tanah, menurunnya produktivitas lahan, pendangkalan sungai oleh sedimentasi serta banjir. Tujuan yang dicapai dari tulisan ini adalah: (1) Mengetahui kondisi lahan pertanian Dataran Tinggi Dieng. (2) Mengetahui solusi-solusi yang pernah ditawarkan terhadap permasalahan pengolahan lahan pertanian di DTD. (3) Mengetahui dan memanfaatkan potensi gagasan yang dapat memperbaiki keadaan terkini di DTD. (4) Mengetahui pihak-pihak yang dapat membantu mengimplementasikan gagasan. (5) Mengetahui langkah-langkah pengimplementasian program gagasan. Kawasan Dieng yang bertopografi berbukit sampai bergunung dengan kemiringan lahan yang relatif besar berpotensi erosi tinggi, sehingga aktivitas usahatani tanaman hortikultura yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip konservasi sumberdaya lahan akan mempercepat laju erosi. Permasalahan pokok usahatani tanaman sayuran DTD adalah sangat rentan terjadinya gangguan keseimbangan lingkungan. Erosi selain menyebabkan terjadinya degradasi lahan di DTD juga mengakibatkan tingginya laju erosi dan sedimentasi di DAS Serayu yang bermuara di Waduk Panglima Besar Jenderal Sudirman Kabupaten Banjarnegara.  Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonosobo tingkat laju erosi (tingkat bahaya erosi) DAS Serayu rata-rata adalah 4,27 mm/th. Sedangkan sedimentasi di Waduk Panglima Besar Jenderal Sudirman rata-rata adalah 4.206.688 m3/th. Meskipun Sungai Serayu bukan satu-satunya sungai yang bermuara di Waduk Pangsar Sudirman (ada Sungai Merawu dan Sungai Lumajang), namun dilihat dari tingkat laju erosinya yang masuk dalam kategori tinggi maka Sungai Serayu menjadi penyumbang sedimen yang tinggi pula yang berakibat pada pendangkalan waduk.
Metode penulisan dilakukan dengan analisis deskriptif, menghasilkan tulisan dengan menerangkan keadaan dan solusi pembenahan kondisi lahan pertanian dengan kegiatan pola tanam ekonomis dan metode pengawetan tanah dan air yang efektif. Kemudian pihak-pihak yang dapat membantu mengimplementasikan gagasan adalah: Pemilik lahan, petani, kelompok tani, pemerintah daerah, akademisi, wisatawan dan perusahaan. Gagasan tersebut berupa pengetahuan dan penerapan teknologi pengawetan tanah dan air serta menggunakan langkah-langkah sosial untuk membantu gagasan agar dapat diimplementasikan. Hasil yang diperoleh dari pengaplikasian gagasan dapat memengaruhi keberadaan lingkungan dengan mengurangi efek buruk, hasil pertanian yang diperoleh bermacam-macam, dalam jangka panjang pengaruh pengawetan tanah dan air akan menstimulasi keadaan ekonomi, keberadaan ternak dan keanekaragaman hayati lainnya. Selama penerapan berlangsung diharapkan pihak-pihak mampu menemukan inovasi-inovasi yang dapat memberikan solusi dan menjaga keadaan lingkungan.




I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dataran Tinggi Dieng (DTD) terletak di enam wilayah kabupaten, yaitu  Banjarnegara, Wonosobo, Pemalang, Tegal, Batang dan Pekalongan. Luas keseluruhan Dieng mencapai 55.000 ha dan sekitar 20.000 ha berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Ketinggian DTD mencapai 2.000 meter di atas permukaan air laut (dpal), yang banyak dibudidayakan untuk tanaman sayuran, khususnya kentang (Solanum tuberosum L.).
Usahatani kentang di DTD merupakan usaha pokok sebagian besar masyarakat petani di DTD bagian timur. Budidaya tanaman kentang diperkenalkan sejak tahun 1970 dan memberikan hasil yang  sangat menguntungkan (Wildan, 2004). Kenyataan ini mengakibatkan luas areal tanam kentang di kawasan DTD sejak tahun  1975  sampai tahun 1990 mengalami kenaikan sangat tinggi. Pada saat itu produktivitas kentang mencapai 20 – 25 ton per hektar. Pada tahun 2007, produktivitas tanaman kentang telah mengalami penurunan, yaitu hanya 16 ton per  hektar (Sularso, 2009).
Kawasan Dieng yang bertopografi berbukit sampai bergunung dengan kemiringan lahan yang relatif besar berpotensi erosi tinggi, sehingga aktivitas usahatani tanaman hortikultura yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip konservasi sumberdaya lahan akan mempercepat laju erosi. Lahan yang tererosi menyebabkan lapisan topsoil akan hilang, sehingga zonasi perakaran, unsur hara dan bahan organik tanah semakin berkurang (Arsyad, 1989). Kondisi demikian apabila berlanjut akan menyebabkan tanah menjadi rusak dan lahan menjadi kritis, sehingga produktivitas lahan semakin menurun dan menyebabkan pendapatan petani juga semakin menurun (Pakpahan dan Syafa’at 1991). Sebagian besar usahatani kentang dilakukan di atas 30% bahkan ada yang lebih dari 100% dan petani tidak mau membuat guludan searah garis kontur dengan alasan bahwa air larian (run off) dari lereng tidak lancar dan menyebabkan lengas tanah atau kelembaban tanahnya tinggi, sehingga mengakibatkan umbi busuk.  
            Permasalahan pokok usahatani tanaman sayuran DTD adalah sangat rentan terjadinya gangguan keseimbangan lingkungan. Gangguan tersebut diantaranya adalah terjadinya erosi, menurunnya tingkat kesuburan tanah, menurunnya produktivitas lahan, pendangkalan sungai serta banjir.
Erosi selain menyebabkan terjadinya degradasi lahan di DTD juga mengakibatkan tingginya laju erosi dan sedimentasi di DAS Serayu yang bermuara di Waduk Panglima Besar Jenderal Sudirman Kabupaten Banjarnegara.  Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonosobo tingkat laju erosi (tingkat bahaya erosi) DAS Serayu rata-rata adalah 4,27 mm/th. Sedangkan sedimentasi di Waduk Panglima Besar Jenderal Sudirman rata-rata adalah 4.206.688 m3/th. Meskipun Sungai Serayu bukan satu-satunya sungai yang bermuara di Waduk Pangsar Sudirman (ada Sungai Merawu dan Sungai Lumajang), namun dilihat dari tingkat laju erosinya yang masuk dalam kategori tinggi maka Sungai Serayu menjadi penyumbang sedimen yang tinggi pula yang berakibat pada pendangkalan waduk. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap fungsi waduk sebagai sumber pembangkit listrik, baik dari kapasitas daya yang dihasilkan maupun dari jangka waktu operasi waduk itu karena semakin berkurangnya debit air waduk.
            Berangkat dari permasalahan yang ada tersebut, timbul gagasan untuk menerapkan pengelolaan lingkungan pertanian, dengan cara yang efektif dan ekonomis pada lahan pertanian. Pengelolaan dapat dilakukan dengan memanfaatkan metode pengawetan tanah dan air yang telah dikembangkan dari disiplin ilmu pertanian. Seperti yang diketahui, sudah banyak ahli di bidang pertanian yang telah mengembangkan teknologi ramah lingkungan dan ekonomis dengan tujuan menyeimbangkan kegiatan pertanian dengan lingkungan.
B. Tujuan
     Tujuan yang dicapai dari tulisan ini:
1.  Mengetahui kondisi lahan pertanian Dataran Tinggi Dieng
2.  Mengetahui solusi-solusi yang pernah ditawarkan terhadap permasalahan pengolahan lahan pertanian di DTD
3. Mengetahui dan memanfaatkan potensi gagasan yang dapat memperbaiki
keadaan terkini di DTD
4. Mengetahui pihak-pihak yang dapat membantu mengimplementasikan gagasan
5. Mengetahui langkah-langkah pengimplementasian program gagasan

C. Manfaat
     Manfaat yang dicapai dari tulisan ini:
1. Secara teoritis, sebagai kontribusi ilmiah bagi dinamisasi ilmu dan teknologi pertanian, yang berkaitan dengan pengembangan pertanian dan pengelolaan lingkungan, yang aman dan tidak destruktif.
2. Secara praktis, sebagai input strategis bagi petani, pelajar, ilmuan dan pemerintah yang bergerak di bidang ilmu pertanian, guna mengembangkan potensi pertanian dan ekowisata, yang berbasis ekologi guna mempertahankan keanekaragaman hayati.
3. Secara ekonomi, sebagai gambaran strategis untuk mengembangkan pertanian berbasis lingkungan, menyejahterakan petani dan mengoptimalkan potensi lingkungan pertanian untuk kesejahteraan Indonesia.
4. Secara sosial, memberikan pengetahuan serta pandangan kepada petani, pelajar, ilmuan dan pemerintah pentingnya pengelolaan pertanian sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi lingkungan tanah dan air, tanpa melakukan aktivitas yang dapat mengurangi dan menurunkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian dan keanekaragaman hayati.


II. GAGASAN
A. Kondisi Aktual
            Pegunungan Dieng merupakan kawasan di wilayah perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang dan Kabupaten Temanggung dengan luas hutan kurang lebih 20.161 hektar hutan Negara yang dikelola Perhutani dan 19.472 hektar hutan rakyat. Wilayah ini berada pada ketinggian antar 1.500 sampai dengan 2.095 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lebih dari 15% - 40% dan dibeberapa wilayah > 40% kemiringan. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah bertani. Secara administratif DTD terletak di dua kabupaten yaitu Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo (Suara Merdeka, 30 Agustus 2005).
            Luas Hutan Negara yang ada di DTD 7.000 hektar di antara nya adalah kawasan lindung, namun lebih dari 90% dari sekitar 7.000 hektar kawasan lindung di DTD tersebut telah rusak karena beralih fungsi menjadi ladang tanaman semusim. Dan khususnya untuk wilayah Wonosobo kerusakan telah mencapai 50% - 60%. Alih fungsi hutan menjadi lahan tanaman semusim terutama kentang, telah merusak kawasan fungsi lindung (Kompas, 18 Maret 2006).
            Tanaman kentang telah menjadi primadona bagi masyarakat di DTD. Namun karena dalam teknik budidayanya tidak memperhatikan kaidah konservasi maka pembudidayaan komoditas kentang telah mengubah wajah DTD. Selain itu pola bertanam dengan system guludan membujur ke bawah dan tidak melingkar bukit adalah tindakan yang dapat mempercepat erosi. Eksploitasi lahan yang kurang memperhatikan upaya konservasi itu jelas akan merusak ekologi (Suara Merdeka, 19 Juni 2006).
            Menanam kentang sekarang tidak menjanjikan bagi petani karena produksinya lambat laun semakin menurun. Contohnya pada era 1980-an, tanaman kentang mengalami masa kejayaan, karena bibit 1 kilogram kentang bisa menghasilkan panen 20 kilogram kentang. Sementara itu, dalam kondisi saat ini, menanam 1 kilogram bibit hanya menghasilkan 6-7 kilogram kentang.
            Penanaman kentang secara besar-besaran selama puluhan tahun telah merusak lingkungan. Kentang membutuhkan pupuk kimia dengan jumlah takaran yang lebih banyak ketimbang pupuk kandang. Dapat dicontohkan 1 kuintal kentang setidakmya membutuhkan 50 kilogram pupuk kimia dan 30 kilogram pupuk kandang.
Petani tidak menyadari ternyata menanam kentang secara berlebihan dapat merusak kondisi lahan DTD. Sifat kentang yang tidak biasa hidup di bawah tanaman lain atau naungan, membuat petani rela menebang pepohonan lain demi membuka lahan kentang (Kompas, 7 Juni 2013).
B. Solusi yang Pernah Ditawarkan dan Diterapkan
            Sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi Dieng yang ada saat ini, Pemerintah Kabupaten Wonosobo pada tahun 2006 telah membentuk Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD) yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis dengan Penasehat Bupati Wonosobo. Tim ini mempunyai tugas untuk melaksanakan Program Pemulihan Dieng yang mengembangkan konsep pengelolaan DAS yang terintegrasi dan partisipatif untuk mencapai tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan kualitas SDA dan lingkungan melalui sistem pengelolaan DAS yang berkelanjutan. Namun sejauh ini belum ada kegiatan konkrit yang dilakukan oleh TKPD di wilayah Dieng.
            Solusi lain juga dilakukan oleh pihak Perhutani sejak tahun 2006 yang lalu, telah disepakati bersama bahwa antara masyarakat dengan pihak Perhutani untuk tidak lagi melakukan budidaya di wilayah Perhutani. Hal ini didasarkan pada Undang- Undang Kehutanan No. 41 Th. 1999. Berdasarkan UU tersebut maka disepakati bahwa bagi siapa yang melanggar akan berurusan dengan yang berwajib. Dari hasil pengamatan di lapangan terlihat bahwa di wilayah Perhutani sudah tidak lagi ditanami kentang, tetapi upaya reboisasi baru saja dimulai sehingga kondisi lahan yang selama ini di manfaatkan oleh petani untuk menanam kentang masih nampak gundul.  Kondisi lahan kosong di wilayah hutan negara berdasarkan data dari Perhutani KPH Kedu Utara BKPH Wonosobo menyebutkan bahwa saat ini ada 287,60 ha lahan kosong baik yang merupakan bekas lahan yang ditanami petani maupun lahan yang memang belum dikonservasi. Dari lahan tersebut diantaranya 60 ha ada di Desa Dieng, 45,5 di Desa Sikunang, 22 ha di Desa Jojogan dan sisanya di beberapa Desa lain. 
Kemudian pada perlakuan teknis, solusi yang pernah ditawarkan dan diterapkan adalah dengan adanya penyuluhan dan penerapan pengawetan tanah dan air dengan metode mekanis, vegetasi dan kimiawi, yaitu sebagai berikut:
1. Vegetasi
a. Reboisasi
            Reforestation diterapkan dalam memperbaiki lingkungan di Dieng. Reforestation adalah penanaman kembali hutan yang telah ditebang (tandus, gundul). Reboisasi dilakukan dengan kelompok pecinta alam, dan bersamaan dengan lomba wisata alam, serta kegiatan-kegiatan ceremonial lainnya, banyak dari pengunjung yang melakukan studi lapangan melakukan kegiatan reboisasi terutama dari pelajar yang melakukan kunjungan wisata. Reboisasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan ekosistem. Tanaman reboisasi merupakan tanaman yang mudah tumbuh seperti pohon puspa, bintami, suren serta bibit lain yang mudah tumbuh di Dieng.
2. Mekanis
a. Pembuatan Terasering
            Terasering adalah bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang. Namun biaya operasional yang digunakan untuk pembuatan teras-teras di lereng Pegunungan Dieng sangat besar, maka dari itu mayoritas petani tidak mengaplikasikannya. Petani melakukan penanaman secara langsung di lereng pegunungan > 15% dari 45o siku-siku tanpa membuat teras. hal ini yang perlu diperbaiki dengan beberapa solusi mikro biosistem dengan metode mekanis yang murah dan mempunyai efek yang hampir mendekati fungsi mekanis dari terasering.
b. Countur village
            Pengelolaan tanah sejajar garis kontur. Fungsinya untuk menghambat aliran air dan memperbesar daya resapan air. Tetapi aplikasi ini membuat tanah menjadi tergenang dan lembab, countur village yang seharusnya mengurangi erodibilitas bentang lahan, namun mengakibatkan tanaman kentang busuk karena kelembaban yang tinggi.
3. Kimiawi
a. Pemupukkan dan Pestisida
            Pemupukkan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik urea, SP36 dan KCl. Namun penggunaan pupuk anorganik lebih besar daripada pupuk organik, hal ini menyebabkan pemanfaatan yang tidak sesuai dengan tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu dan tepat guna. Pemberian pestisida anorganik yang dilakukan tidak sesuai dengan waktu yang tepat dan dengan dosis yang berlebihan.
C. Potensi Gagasan untuk Evaluasi Lahan di DTD
Menurut Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan SK Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/Um/11/1980 dan 683/KPTS/Um/8/198, yaitu kriteria kelas lereng, jenis tanah dan curah hujan. Nilai kriteria tersebut dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 1. Klasifikasi lereng

No
Kelas
Interval (%)
Deskripsi
Skor
1
I
0-8
Datar
20
2
II
8-15
Landai
40
3
III
15-25
Agak Curam
60
4
IV
25-40
Curam
80
5
V
>40
Sangat Curam
100

Tabel 2. Jenis tanah

No
Jenis Tanah
Tingkat Kepekaan Terhadap Erosi
Skor
1
Aluvial, Tanah Glei, Planosol, Hydromorf kelabu
Tidak Peka
15
2
Latosol
Agak Peka
30
3
Brown forestsoil, non calcic brown, mediteran
Kurang Peka
45
4
Andosol, Laterrite, Gamosol, Pedosol, Podsolik
Peka
60
5
Regosol, Litosol, Organosol, Renzina
Sangat Peka
75
Tabel 3. Curah hujan

No
Intensitas Hujan (mm/th)
Deskripsi
Skor
1
0 – 1.500
Sangat Rendah
10
2
1.500 – 2.000
Rendah
20
3
2.000 – 2.500
Sedang
30
4
2.500 – 3.000
Tinggi
40
5
Ø  3.000
Sangat Tinggi
50
            Dataran Tinggi Dieng merupakan wilayah dengan kemiringan 15%-40% dengan curah hujan rata-rata > 3000mm/th dan jenis tanah andosol yang tergolong sangat tinggi. Maka dalam melakukan pengolahan lahan pertanian dibutuhkan pendekatan teknis yang efektif yaitu dengan:
1. Perbaikan pola tanam
Evaluasi pola tanam di Dieng adalah dengan memanfaatkan vegetasi yang ekonomis dan mampu memberikan efek baik, terhadap lingkungan serta kemudahan untuk dijangkau oleh petani, pola tanam yang diajukan adalah sebagai berikut:
a.                  Tumpang sari; kentang-pepaya, kentang-rumput gajah atau teki, kentang akar wangi, kentang-cabai, kentang-katuk, kentang-jahe, atau gabungan dari tanaman dataran tinggi yang tersedia.
b.                  Agroforestry; pohon puspa, bintami, suren serta bibit lain yang  mudah tumbuh di Dieng.
2. Perbaikan  metode pengawetan tanah dan air
Metode pengawetan tanah dan air dapat dilakukan dengan metode vegetasi, mekanis dan kimiawi:
a.              Vegetasi; Reboisasi kawasan wisata melalui pengunjung wisata, countur farming, mulsa organic yang ekonomis dan ramah lingkungan, cover crop limbah pascapanen, agroforestry, tumpang sari dan pergiliran tanaman, penambahan arang, grass cropping dan tanaman pagar.
b.             Mekanis; pembuatan teras searah lereng dengan panjang 4.5 meter searah lereng dan pada ujungnya dipotong teras gulud (ridge terrace) searah kontur,  kemudian pembuatan guludan mengikuti arah kontur dengan ukuran tertentu dan terpotong dengan parit, kemudian parit ditanami rumput pakan ternak/rumput teki.
c.              Kimiawi; memberikan pupuk tepat dosis, tepat guna, tepat waktu dan tepat jenis. pemberian pupuk organik untuk pemulihan homogenitas tanah. Kemudian pemberian pestisida organik yang dikembangkan baru-baru ini.
d.             Biologi; Penambahan cacing tanah pada tanah guna membantu struktur infiltrasi tanah, penambahan arang untuk menyerap air dan me-release-nya ke tanaman.
3. Perbaikan penyuluhan
            Penyuluhan ini perlu adanya pemberian materi yang bertahap yaitu:
            a. Perumusan masalah
            b. Penetapan tujuan
            c. Analisis kondisi
            d. Identifikasi alternatif kebijakan
            e. Pilihan kebijakan
            f. Kajian dampak
            g. Pengambilan keputusan
            Hal ini sangat perlu dilakukan, kegiatan penyuluhan yang dilakukan harus berkelanjutan. Bahkan intensitas pertemuan tersebut berujung pada tingkat pendampingan hingga petani perorangan atau kelompok tani mampu mandiri dan mengeluarkan potensinya terhadap pertanian dan lingkungan di DTD.
D. Pihak-Pihak Terkait yang Dapat Membantu Mengimplementasikan Gagasan
            Pihak-pihak/stake holder yang terkait dalam pengimplementasian gagasan adalah:
            1. Pemilik Lahan
            pemilik lahan merupakan individu yang memiliki investasi sarana berupa lahan pertanian, pemilik lahan mengolah lahan secara pasif karena pemilik lahan cenderung menyewakannya kepada buruh tani, pemilik lahan tedapat di luar kawasan dan di dalam kawasan, pemilik lahan juga menganggap pemanfaatan lahan di DTD hanya sebagai sampingan saja .
2. Petani
Petani merupakan individu atau kelompok yang melakukan kegiatan di lahan, petani di bagi menjadi tiga yaitu: petani pemilik, petani penggarap dan petani pemilik sekaligus penggarap.
            3. Kelompok Tani atau Gapoktan
            Gabungan Kelompok Tani maupun Koperasi Desa memegang peranan penting dalam perkembangan pertanian berkelanjutan. Koperasi mampu memberikan setidaknya pinjaman modal kepada petani. Begitu pula dengan keberadaan kelompok tani. Kelompok tani dapat membentuk kesatuan para petani untuk melakukan kerja secara bersama atau terkoordinir dari lembaga yang bekerjasama dengan pihak luar baik swasta atau pemerintahan. Kedua lembaga non pemerintah dan pemerintah sangat diperlukan dalam pelaksanaan evaluasi lahan pertanian di DTD, mengingat lembaga ini mempunyai potensi yang dekat dengan petani di kawasan tersebut, sehingga mampu mengetahui dan mengatasi permasalahan yang ada di lahan pertanian DTD.
            4. Pemerintah Daerah
            Peran Pemda merupakan elemen yang sangat penting, mengingat Pemda merupakan lembaga yang bersinggungan langsung dengan kajian dan pelaksanaan, sebab regulasi perizinan, dukungan dan posisi pemerintah mampu menarik hati dan menggerakkan kegiatan pembangunan pertanian di masyarakat secara bersama-sama disegala elemen.
            5. Akademisi
            Akademisi sebagai jembatan penghubung antara pemerintah dan petani, sebab dalam relasinya akademisi banyak melakukan kajian, penelitian serta sebagai pelaksana. Di mana akademisi dipandang sebagai objek yang mampu mengatasi masalah dan mencari solusi.
            6. Wisatawan
            Wisatawan merupakan pihak yang mengikuti kegiatan dengan arah dan aturan tertentu, wisatawan mampu meningkatkan pendapatan para petani maupun pelaku usaha sampingan di DTD dengan adanya kunjungan. Wisatawan dapat belajar dan berperan dalam melakukan kegiatan berbasis lingkungan, seperti kegiatan sosial dengan melakukan reboisasi dan penghijauan yang diarahkan.
            7. Perusahaan
            Perusahaan merupakan lembaga yang bertujuan komersil, untuk mengolah dan mengembangkan hasil olahannya sehingga dapat dipasarkan, namun peran perusahaan yang membutuhkan hasil pertanian di DTD harus turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan di DTD, dengan membantu melaksanakan kegiatan konservasi tanah dan air melalui metode pengawetan tanah dan air.
Bagaimana keadaan produksi dapat berjalan dengan baik, merupakan permasalahan yang harus dipecahkan oleh perusahaan agar produksi hasil olahan pertanian tetap stabil, sebab dampak yang terjadi adalah jika tanah yang diolah menyebabkan penurunan produksi, maka pengolahan hasil pertanian di industri juga ikut menurun, hal ini berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh dengan hasil yang diproduksi.
E. Langkah-Langkah Strategis

Sebagai upaya untuk mengembalikan kondisi lahan pertanian di DTD maka perlu dilakukan suatu pengelolaan yang multi pihak dan terencana. Rencana pengelolaan yang sudah ada, yang termuat dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah perlu untuk diperbaiki. Agar pola penataan, pemanfaatan dan pengendalian ruang di kawasan lindung dapat lebih optimal, maka perlu disusun suatu konsep perencanaan tata ruang wilayah yang lebih difokuskan pada kawasan pertanian. Perencanaan tata ruang wilayah kawasan pertanian khususnya kawasan di DTD, diharapkan dapat menghasilkan suatu pola pengelolaan yang mencakup semua aspek sumberdaya. Tim penyusun yang merupakan tim teknis harus beranggotakan semua instansi terkait, di bantu oleh LSM (lingkungan, pemberdayaan masyarakat) dan masyarakat (tokoh masyarakat, tokoh agama, swasta) serta bila perlu konsultan perencana. Adapun proses penyusunan rencana pengelolaan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.   Perumusan Masalah
Tim teknis bersama-sama masyarakat dan LSM merumuskan permasalahan yang timbul di kawasan pertanian di DTD.  Pada dasarnya inti permasalahan yang timbul di kawasan pertanian DTD saat ini adalah kerusakan lahan pertanian yang berakibat pada degradasi lahan dan lingkungan yang diantaranya adalah erosi dan sedimentasi yang tinggi. Adapun penyebab dari kondisi tersebut diantaranya adalah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap lahan, dalam hal ini adalah pertanian lahan kering namun tidak diimbangi dengan kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan, kebijakan lokal maupun nasional yang kurang responsif terhadap degradasi lahan dan lingkungan, kurangnya koordinasi dan integrasi antar sektor dalam kegiatan pembangunan khususnya di kawasan pertanian, kesiapan masyarakat dan lembaga (pemerintah dan non pemerintah) dalam merespon produk hukum yang berkaitan dengan upaya pelestarian lingkungan di kawasan lindung, struktur kepranataan yang masih menjadi bagian dari masalah, belum adanya pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan, implementasi sampai dengan pengendalian.
b.  Penetapan Tujuan
Berdasarkan permasalahan yang timbul, maka tim teknis bersama- sama masyarakat dan LSM menetapkan tujuan untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi di DTD. Tujuan penyusunan tidak hanya sebagai pedoman bagi pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan saja, tetapi juga sebagai pedoman bagi upaya pengelolaan ruang beserta semua sumberdaya yang ada di dalamnya. Sehingga kegiatan yang dilakukan meliputi upaya antisipasi terhadap resiko kerusakan lingkungan.  Penyusunan Rencana Tata Ruang khusus kawasan pertanian DTD juga diharapkan dapat menghasilkan suatu pola pengelolaan sebagai upaya untuk mengembalikan fungsi DTD melalui suatu pengelolaan yang terintegrasi, partisipatif dan berkelanjutan dalam rangka rehabilitasi lahan dan pemulihan kondisi lingkungan di kawasan ini, melalui pelibatan para pihak yang lebih luas seperti institusi pemerintah lain, Pemerintah Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, masyarakat sendiri, lembaga donor (dalam maupun luar negeri), maupun institusi lainnya. Upaya pengelolaan diarahkan pada peningkatan luas tutupan lahan hingga mencapai 70 % dari luas lahan untuk mengurangi resiko erosi yang terjadi.
c.  Analisis Kondisi
Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan, selanjutnya dilakukan analisis kondisi terhadap kondisi internal maupun eksternal yang meliputi  kondisi fisik, sosial, ekonomi, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpengaruh terhadap upaya pengelolaan lahan DTD. Analisis kondisi ini bisa diserahkan kepada konsultan perencana namun tetap melibatkan masyarakat sebagai narasumber dan subyek analisis. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran kondisi, sehingga hasil yang diperoleh benar- benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan.  
b.      Identifikasi Alternatif Kebijakan
Setelah diperoleh gambaran tentang kondisi fisik, sosial, ekonomi, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpengaruh terhadap upaya pengelolaan lahan DTD, serta permasalahan, potensi dan harapan  masyarakat terhadap kondisi yang ada saat ini, maka selanjutnya konsultan melakukan identifikasi alternatif kebijakan. Identifikasi ini juga didasarkan pada peraturan  perundangan yang berlaku, yang berkaitan dengan penataan ruang dan pengelolaan lahan sehingga konsep kebijakan mempunyai dasar hukum yang kuat.    
c.       Pilihan Kebijakan
Bersama-sama dengan Tim teknis, masyarakat dan LSM, konsultan perencana menyusun pilihan kebijakan yang sesuai dan dapat diterapkan, berdasarkan  kondisi dan potensi alam, kondisi dan potensi sosial ekonomi masyarakat, kondisi politk, hukum dan pertahanan keamanan, serta kondisi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah berkembang saat ini. Selain itu harus sesuai pula dengan kehendak dan kemampuan masyarakat di masing-masing  wilayah DTD. Yang tidak kalah penting harus dipertimbangkan pula kesiapan lembaga pemerintah maupun non pemerintah baik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Wonosobo maupun di luar Kabupaten Wonosobo yang terkait dengan segala aktivitas yang akan dilakukan di dalam pengolahan lahan pertanian DTD.
d.      Kajian Dampak
Sebagai upaya untuk menghindari terjadinya dampak buruk pada lingkungan, sosial dan ekonomi, maka pilihan kebijakan pengelolaan harus melalui kajian dampak. Kajian dampak harus dilakukan secara komprehensif berkaitan dengan bentuk kegiatan yang akan dilakukan, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam AMDAL. Kajian dampak ini harus dilakukan oleh tim penyusun AMDAL agar menghasilkan dokumen AMDAL yang dapat memberikan gambaran tentang dampak besar dan penting, baik itu dampak sosial, ekonomi maupun lingkungan yang mungkin terjadi dan upaya untuk pengelolaannya.
e.       Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan dilakukan bersama-sama anatara pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh tim teknis, masyarakat yang diwakili oleh kelompok-kelompok tertentu, serta LSM (lingkungan, pemberdayaan). Tentunya pengambilan keputusan dilakukan setelah kajian dampak terhadap pilihan kebijakan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut layak dan memenuhi syarat untuk dilaksankan baik dari segi teknis, ekonomi, sosial maupun lingkungan.
Berdasarkan permasalahan, tujuan, analisis kondisi internal dan eksternal, identifikasi alternatif kebijakan, pilihan kebijakan dan kajian dampak yang telah dilakukan maka pengelolaan lahan DTD sebaiknya diarahkan pada upaya peningkatan angka tutupan lahan dengan tanaman keras disertai pula dengan pengembangan tanaman alternatif yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan sesuai dengan kondisi wilayah seperti tanaman hias, tanaman buah, tanaman obat dan tanaman khas DTD (Carica, Purwaceng, Terong Belanda, Kacang Dieng) yang dilakukan dengan teknik budidaya yang tepat.
Pengembangan usaha peternakan yang sesuai dan dapat dikembangkan di DTD, seperti misalnya domba ”Dombos” yaitu Domba Asli Wonosobo yang merupakan domba keturunan jenis Texel  (dari Amerika) tetapi sudah berkembang di wilayah tersebut sejak  tahun  1950  an  dan  hanya  dapat  hidup  di daerah dengan ketinggian >1.500.
 Untuk mendukung usaha peternakan ini dilakukan budidaya rumput pakan ternak yang dapat dilakukan bersama-sama dengan usaha budidaya tanaman lainnya. Rumput ini juga dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi karena dapat di tanam sebagai pengaman teras atau ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lainnya. Pengembangan tanaman kehutanan sebagai upaya rehabilitasi lahan, disertai dengan pengembangan tanaman hortikultura, yang dapat mendukung pariwisata di wilayah tersebut sebagai wisata agroforestry. Apabila hal ini dapat dikembangkan maka dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap tanaman kentang.
Penjaminan pasar bagi hasil budidaya, dengan melakukan koordinasi antar sektor. Peran lembaga yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan off farm harus benar-benar dilakukan, sehingga antara permintaan dan penawaran minimal dalam titik keseimbangan, sehingga  mekanisme pasar dapat dikendalikan bagi keberlanjutan usaha.
Pelibatan masyarakat untuk menentukan jenis tanaman, lokasi dan bentuk kegiatan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi, potensi, permasalahan, kemampuan dan kemauan serta karakteristik sosial ekonomi budaya masyarakat.  Karena pelaku utama pengelolaan adalah masyarakat sehingga peran serta masyarakat dari mulai perencanaan, implementasi dan evaluasi mutlak harus ada, sehingga benar-benar merupakan upaya pengelolaan lahan DTD yang terintegrasi dan partisipatif. Kemudian penegakan hukum bagi pelaku pelanggaran.
Diharapkan langkah-langkah tersebut bisa membuat tujuan tercapai dan mampu dilaksanakan dengan baik secara intensif dan berkelanjutan, guna memperbaiki keadaan lingkungan pertanian di DTD. Penerapan metode pengawetan tanah dan air mampu memberikan manfaat dalam jangka waktu dekat dan panjang. Sebab dilihat dari potensi-potensinya, efek yang diberikan dapat meluas ke dalam bidang peternakan.




III. KESIMPULAN

            Kondisi terkini Dataran Tinggi Dieng, mengalami penurunan tingkat kualitas lahan, kondisi tersebut semakin diperparah karena pelaku-pelaku yang bersinggungan langsung dengan kawasan DTD tidak mengindahkan kaedah konservasi lingkungan serta kurangnya pengawasan, selain itu pengolahan lingkungan di DTD masih sangat minim dan mahal. Karena kondisi tersebut menyebabkan para pelaku tidak bisa menjangkau akses atau alat bantu pengolahan, maka diperlukan gagasan yang memiliki potensi untuk memperbaiki keadaan saat ini.
Gagasan tersebut berupa pengetahuan dan penerapan teknologi serta menggunakan langkah-langkah sosial untuk membantu gagasan agar dapat diimplementasikan. Dengan memanfaatkan pola tanam yang ekonomis diharapkan petani dapat memperolehnya dengan baik, sebab keberadaan sumberdaya tersebut nyatanya mudah diperoleh. Gagasan berikutnya menggunakan metode pengawetan tanah dan air yang efektif ternyata dapat memperbaiki keadaan lingkungan dalam waktu dekat seperti mengurangi erosi, mengurangi run off, meminimalisir volume sedimen dan mempertahankan kesuburan tanah.
            Teknik pengimplementasian yang diberikan tidak luput dari aspek sosial yang diberikan, sebab salah satu sifat dari aspek sosial adalah bersifat persuasif, ajakan tersebut dapat membawa para stake holder agar melakukan kegiatan dan menerapkan gagasan dengan memberikan langkah-langkah pencapaian seperti: Perumusan masalah, penetapan tujuan, analisis kondisi, identifikasi alternatif kebijakan, pilihan kebijakan, kajian dampak dan pengambilan keputusan.
            Hasil yang diperoleh dari pengaplikasian gagasan dapat memengaruhi keberadaan lingkungan dengan mengurangi efek buruk berupa penekanan laju erosi, hasil pertanian yang diperoleh bermacam-macam, dalam jangka panjang pengaruh pengawetan tanah dan air akan menstimulasi keadaan ekonomi, keberadaan ternak dan keanekaragaman hayati lainnya.



DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi V.
Rhineka Cipta. Jakarta.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.

Haryati, U,. dan Undang Kurnia. 2001. Pengaruh teknik Konservasi terhadap erosi dan hasil kentang (Solenum tuberosum) pada lahan budidaya sayuran di Dataran Tinggi Dieng. Hlm. 439-460 dalam Prosiding Seminar Nasional Reorientasi Pendayagunaan Sumberdaya Tanah, Iklim, dan Pupuk. Cipayung-Bogor, 31 Oktober-2 November 2000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Buku II.

Khadiyanto, P. 2005. Tata Ruang Berbasis Pada Kesesuaian Lahan. Edisi
            Pertama. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Kompas. 18 Maret 2006. Kawasan Lindung Dieng Rusak. www.kompas.com.

Kompas. 7 Juni 2013. Buah Simalakama Dieng Bernama Kentang. www.kompas.com.


Moleong. LJ. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi 16. Remaja Rosdakarya.
Bandung.

Nurlambang, T. 2006. Pendekatan Tinjauan Sosial Ekonomi Dalam Kajian
Kerusakan lahan/Tanah. www. geografianan.com.

Pakpahan, A., dan N. Syafaat, 1991. Hubungan Konservasi Tanah dan Air dengan Komoditas Yang diusahakan, Struktur Pendapatan Serta karakteristik Rumah Tangga (Kasus DAS Cimanuk dan Citanduy). Jurnal Agro Ekonomi. 1(1): 1-15

Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Wonosobo nomor 1 tahun 2004 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Rahim, SE. 2003. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian
Lingkungan Hidup. Edisi ke dua. Bumi Aksara. Jakarta.

Soleh, M. dkk. Pengembangan Model Usaha Tani Konservasi Kentang dan Kobis
Secara Partisipatif di Lahan Kering Dataran Tinggi. www.worldoforestry.com

Suara Merdeka. 30 Agustus 2005. Sebuah Pelajaran Berharga dari Dieng.
www.suaramerdeka.com.

Suara Merdeka.19 Juni 2006. Dilema Menanam Kentang. www.suaramerdeka.com.

Subarsono, AG. 2006. Analisis Kebijakan Publik. Edisi ke dua. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.

Sularso, K.E.,2009. Produktivitas Pendapatan Dan Risiko Usahatani Kentang Pada Berbagai Teknologi Konservasi Tipe Teras Di Dataran Tinggi Dieng Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Makalah Seminar Disertasi. Program Pasca Sarjana, UGM, Jogjakarta. Unpublish.

Suripin. 2002. Pelestarian Sumber daya Tanah dan Air. Andi. Yogyakarta.

Sutapraja, H,. dan Ashandi. 1998. Pengaruh arah guludan, mulsa, dan tumpang sari terhadap pertumbuhan dan hasil kentang serta erosi di Dataran Tinggi Batur. Jurnal Hortikultura 8 (1): 1.006-1.013.

Verbist, B., Putra, AE., Budidarsono, S. 2004. Penyebab Alih Guna Lahan dan Akibatnya Terhadap Fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) Pada Lansekap Agroforestri Berbasis Kopi di Sumatera. www.agroforestry.org.

Wildan. 2004. Harga Rendah Jadi Ancaman. Suara Merdeka (On-line), http://www.suaramerdeka.com/harian/nas21.htm. (Diakses 27 Februari 2005).







Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship