-->

PROPOSAL PKM AI (ARTIKEL ILMIAH) / Strategi Penanggulangan Hama Tikus Sawah dengan Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba) Menggunakan Simulasi Model Predator-Mangsa (Lotka- Volterra)



USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
Strategi Penanggulangan Hama Tikus Sawah dengan Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba) Menggunakan Simulasi Model Predator-Mangsa (Lotka- Volterra)
BIDANG KEGIATAN:
PKM ARTIKEL ILMIAH
Diusulkan Oleh:
Reza Kusuma N.
A1H010029
2010
Putri Rieski Imanda
A1H010043
2010
Rizky Kurniawan
A1L013115
2013

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014






Strategi Penanggulangan Hama Tikus Sawah dengan Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba) Menggunakan Simulasi Model Predator-Mangsa (LotkaVolterra)
Reza Kusuma Putri Rieski Imanda1), Rizky Kurniawan2)
Dibimbing oleh Dr. Ardiansyah, S.TP.,M.Si.1)
Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Dr. Soeparno Kampus Karangwangkal Purwokerto 53123 Telp. (0281) 638791
Abstrak
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hewan pengerat yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Hewan ini menyerang tanaman padi dari tahap vegetatif hingga generatif. Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas menggunakan musuh alami dari hama tikus yaitu Burung Hantu Serak Jawa ( Tyto alba ) yang diletakkan di area persawahan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi yang tepat dalam penggunaan burung hantu Serak Jawa. Model Lotka-Volterra dan Competitive Lotka-Volterra digunakan untuk memprediksi dinamika populasi burung hantu (predator) dan tikus sawah (mangsa). Koefisien-koefisien dari model ini diperoleh dengan pertimbangan laju pertambahan mangsa, dan laju kematian predator yang diperoleh dari observasi (wawancara) dan studi pustaka. Penyelesaian model ini dilakukan dengan metode numerik Runge-Kutta, dengan pemrograman Visual Basic dalam Microsoft Excel. Hasil simulasi menggunakan persamaan Lotka-Volterra dan Competitive Lotka-Volterra di dua tempat masing-masing data grafik menunjukkan bahwa populasi tikus mampu ditekan secara maksimal. Hasil simulasi menggunakan persamaan Lotka-Volterra menunjukkan pada lahan Dinas Pertanian, jumlah tikus dapat ditekan dari 74 ekor tikus menjadi 3  ekor tikus. Simulasi untuk  Kabupaten Banyumas menunjukkan penurunan jumlah tikus dari 276.223 ekor menjadi 6.486 ekor. Hasil simulasi menggunakan persamaan Competitive Lotka-Volterra di lahan Dinas dan Kabupaten Banyumas masing-masing menunjukkan jumlah populasi tikus sebanyak 125 ekor dan 8.764 ekor tikus.  Penggunaan metode Burung Hantu Serak Jawa mampu menurunkan populasi tikus, namun untuk memperoleh hasil yang lebih baik dapat digunakan dua metode secara bersamaan, misalnya metode Burung Hantu dan Trap Barrier System.
Kata Kunci : Tikus Sawah, Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba), Model Lotka-Volterra , Algoritma RungeKutta
Strategy for Controling Rice-field Rat by Using Serak Jawa Owl (Tyto alba) through Simulation of Predator-Prey (Lotka-Volterra) Model
Abstract
Rice-field rat (Rattus argentiventer) is a rodent that has a high level of productivity. These animals attacking rice plants from the vegetative to the generative phase. Department of Agriculture in Banyumas Regency uses natural enemies of pests, namely Serak Jawa Owl (Tyto alba), that are placed in paddy fields. This study aims to formulate appropriate strategies in the use of Serak Jawa Owl. Lotka - Volterra Model and Competitive Lotka-Volterra Model of population dynamics is used to predict the Owl (predator) and rice-field rats (prey). The coefficients of this model is obtained by considering the rate of prey, and the predator mortality rate obtained from field observation (interview) and literature study. Completion of the model is done with the Runge - Kutta numerical method, which resolved with Visual Basic in Microsoft Excel. The results of calculations using the Lotka - Volterra equations and Competitive Lotka - Volterra in two places each graph data show that the rat population is able to maximally suppressed. Simulation using the Lotka - Volterra equations in the rice field of the Department of Agriculture shows that 74 rats reduce into 3 rats, whereas simulation in Banyumas district shows reduction from 276,223 rats into 6,486 rats. In addition, the results of simulation using the Competitive Lotka - Volterra equations in the rice-field of Department of Agriculture and Banyumas Regency shows reduction of the rat population into 125 and 8,764 rats, respectively. It is concluded that the use of Serak Jawa Owl methods able to reduce the rat population. However, better results is achieved by using two methods simultaneously, for example, Serak Jawa Owl Method and  Trap Barrier System Method.
Keywords : Rice Rat, Serak Jawa Owl (Tyto alba , Lotka - Volterra model, Runge - Kutta Algorithm


I.   PENDAHULUAN

Tikus sawah (Rattus argentiventer) banyak dijumpai merusak tanaman pangan khususnya padi sawah. Tikus sawah dapat berkembang biak mulai umur 1,5-5 bulan, dan seekor tikus betina melahirkan rata-rata 8 ekor anak setiap kali melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan serta mampu hamil sambil menyusui dalam waktu yang bersamaan. Selama satu tahun seekor betina dapat melahirkan 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat dilahirkan 32  ekor anak (Dinas Pertanian,  2013).
Dengan populasi yang tinggi, tikus sawah dapat mengakibatkan kerusakan tanaman padi yang cukup besar sehingga mengakibatkan penurunan produksi padi dan kerugian bagi petani. Hal ini  terjadi di Sleman D.I Yogyakarta, 7.200 Ha lahan padi diserang oleh hama tikus dan mengakibatkan kerugian produksi hingga 1.000 ton tepatnya mengalami penurunan 0,98% dari 109.724 ton di tahun 2012 dan pada tahun 2013 menjadi 108.363 ton (Bernas Jogja, 4 Desember 2013).
Ada beberapa metode untuk menanggulangi serangan hama tikus, antara lain: a) Tanam padi serempak; b) Sanitasi habitat; c) Gerakan bersama (Gropyok masal); d) Fumugasi atau Pengasapan; e) Rodentisida; dan f) Trap Barrier System ( TBS ). Namun beberapa metode tersebut memiliki beberapa kekurangan antara lain tidak semua petani atau kelompok tani bersedia untuk menanam padi serempak. Metode sanitasi dan gropyok masal membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak, fumugasi biasanya dilakukan setelah terjadi serangan. Penggunaan rodentisida cukup efektif ketika populasi tikus besar namun jika area persawahan dekat dengan pemukiman warga, maka tikus kemungkinan besar akan mati di rumah-rumah penduduk dan menimbulkan bau yang tidak enak karena racun rodentisida bekerja secara lamban yaitu 48 jam, selain itu juga dapat membahayakan lingkungan sekitar termasuk manusia (Pardosi, 2005). Sedangkan pada metode Trap Barrier System membutuhkan jebakan yang secara rutin dipasang di lahan sawah.
Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas sedang mengembangkan metode penanggulangan hama tikus dengan menggunakan musuh alami yaitu Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba) karena dinilai potensial dan memiliki kelebihan dibanding menggunakan metode lainnya. Penggunaan burung hantu sebagai upaya pengendalian hama tikus membutuhkan waktu sekitar satu musim tanam padi dan biaya yang lebih besar pada awalnya saja (untuk pembuatan kandang) dibanding menggunakan metode lain, sehingga metode ini lebih ekonomis dan ergonomis karena tidak membutuhkan campur tangan manusia. Burung Serak Jawa dapat mengendalikan hama tikus secara efektif karena makanan pokoknya spesifik tikus (99%) dan serangga (1%) (Morris 1979; Duckett 1991). Daya konsumsi mencapai 2-4 ekor tikus/hari/burung hantu (Lenton 1980; Sipayung dkk 1990). Selain itu, Burung hantu Serak Jawa melakukan aktivitasnya pada malam hari mulai pukul 19.00 - 06.00  WIB dimana bersamaan dengan aktivitas tikus.
Penggunaan metode burung hantu banyak memiliki keuntungan dan sudah lama diterapkan, namun belum diketahui secara spesifik bagaimana strategi penggunaan burung hantu sebagai metode penanggulangan hama tikus. Strategi tersebut misalnya mencakup; berapa jumlah burung hantu yang diperlukan untuk luasan lahan tertentu atau jumlah populasi tikus tertentu, bagaimana menstabilkan populasi tikus agar tetap rendah, sehingga berdaya rusak minimal tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem.
II.   TUJUAN
Tujuan penulisan artikel ilmiah ini adalah mengkaji strategi menanggulangi hama tikus pada tanaman padi dengan menggunakan Burung Hantu Serak Jawa dengan perhitungan simulasi model Predator-Mangsa (Predator-Prey) yaitu model Lotka Volterra.

III.  METODE PELAKSANAAN
Kegiatan ini telah telah dilaksanakan selama 3 bulan (90 hari) dengan dua jenis kegiatan yaitu kegiatan di lapangan selama 30 hari di Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas, dan analisis data selama 60 hari.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode observasi dan partisipasi, yaitu melakukan pengamatan dan terlibat dalam kegiatan secara langsung, wawancara, studi pustaka, dan simulasi komputer. Data yang diperoleh yaitu berupa luasan lahan, populasi burung hantu, populasi tikus, nilai dari koefisien-koefisien model Lotka-Volterra, dan jumlah produksi padi.
Model yang digunakan yaitu Model Predator-Mangsa (Predator-Prey) Lotka – Volterra dan Model Predator-Mangsa Kompetitif (Competitive Lotka-Volterra). Model Predator-Prey dikenalkan pertama kali oleh Lotka dan Volterra pada tahun 1925, dengan persamaan sebagai berikut:
Dimana N1 adalah populasi dari Predator, N2 adalah populasi dari Mangsa, a adalah koefesien laju kelahiran dari populasi Mangsa, b adalah koefesien tingkat predasi, c adalah laju kematian dari populasi Predator, dan d adalah reproduksi Predator.
Model kompetitif Lotka – Volterra pada dasarnya sama dengan model Predator – Mangsa Lotka – Volterra seperti persamaan (1) dan (2), namun pada model kompetitif, ditambahkan dua koefisien yaitu (tingkat reproduksi mangsa dalam wilayahnya) dan (tingkat konsumsi predator terhadap aksi reproduksi mangsa) (Willson, 2010). Berikut bentuk persamaan Competitive Lotka – Volterra.
Sistem persamaan (1), (2), (3) dan (4) dapat diselesaikan dengan metode numerik Runge-Kutta.
Metode Runge-Kutta yaitu suatu metode yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial secara numerik atau pendekatan sehingga mendapatkan penyelesaian yang mewakili penyelesaian secara eksak atau analitik ( Chitode, 2010).
Untuk memperoleh dinamika populasi Burung Hantu Serak Jawa dan Tikus sawah maka model Lotka-Volterra diselesaikan menggunakan metode numerik Runge-Kutta, sehingga akan diperoleh dua persamaan diferensial sebagai berikut ( Butcher,  2008).
Kemudian dilakukan penyelesaian metode Runge-Kutta untuk tiap orde (Nurgroho, 2009). Untuk mendapatkan jumlah populasi Predator dan Mangsa pada langkah waktu berikutnya, digunakan persamaan Runge-Kutta orde n, seperti pada persamaan 5 dan 6 berikut.
Dengan menggunakan model Predator-Mangsa persamaan Lotka-Volterra maka akan diketahui dinamika populasi burung hantu dan tikus pada tiap waktu, sehingga bisa diperkirakan jumlah burung hantu yang diperlukan untuk membasmi tikus


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Koefesien Persamaan Model Predator-Mangsa (Lotka-Volterra)
Koefesien persamaan model Lotka-Voltera yaitu terdiri dari a, b, c, dan d. Nilai koefisien berbeda-beda tergantung dari tingkat kelahiran mangsa ( a), kematian predator (b), laju kematian dari populasi predator (c), dan reproduksi predator setelah memangsa (d).
Tabel 1. Nilai Koefisien Predator-Mangsa dengan model Lotka-Voltera

Kasus
a
b
c
d
Referensi
Canadian Lynx – Snowshoe Hare
1
0,03
0,4
0,01
( Ondum, 1953)
Wolf – Rabbit
1
0,21
0,5
0,04
(Kumar,2006)
Fox – Rabbit
0,4
0,001
0,001
0,9
( Lundin, 2011)

B.       Analisis Jumlah Populasi Burung Hantu Serak Jawa (Tyto alba)  dan Tikus
Sawah di Lahan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas
Populasi tikus di Kabupaten Banyumas mencapai 900  ekor/105 Ha lahan padi ( Ciputranews, 2013), dan tikus memiliki tingkat kelahiran pertahun 32 ekor per tahun (Dinas Pertanian, 2013). Sedangkan lahan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas memiliki luas 8,7 Ha (di UPTD Balai Benih Padi dan Palawija Bojongsari), sehingga populasi tikus dalam lahan seluas 8,7 Ha adalah 74,5 74  ekor tikus. Sebagai upaya menanggulangi hama tikus, di lahan dinas sudah menggunakan burung hantu berjumlah dua ekor, karena sepasang burung hantu Serak Jawa mampu mencakup lahan seluas 25 Ha (Simangungsong, 2011).
Hewan yang digunakan sebagai predator adalah burung hantu Serak Jawa (Ruyyschaert et al, 2011) yang memiliki rentang hidup terlama mencapai 37 tahun dan memiliki tingkat reproduksi setahun sekali namun dapat dua sampai tiga kali dalam setahun tergantung suplai makanan dan biasanya bertelur 2 – 18  butir (Marti, 1992) . Seluruh koefisien diseragamkan dalam satuan waktu per bulan, sehingga diperoleh nilai koefisien seperti pada tabel 2 berikut.
Tabel 2. Nilai Koefisien Predator-Mangsa di Lahan Dinas Pertanian

Nilai koefisien a = 2,7 (32 ekor tikus per tahun dibagi 12) ; d = 0,25 ( dianggap per tahun 6 butir telur). Nilai b dan c menggunakan koefisien menurut (Kumar, 2006)  yaitu dengan nilai b= 0,21; dan c= 0,5. Pemilihan nilai koefisien tersebut karena kemiripan laju predasi dengan burung hantu yaitu burung hantu memangsa 2 – 4 ekor tikus per hari, kemudian serigala memangsa 1 – 2  ekor kelinci per hari, dan burung hantu dengan serigala sama-sama memangsa pada malam hari karena serigala memiliki retina reflektif (Tapetum) yang membantu mempertajam penglihatan serigala pada malam hari (Sandra, 2010). Sehingga diperoleh nilai=2; N2= 74; a= 2,7; b= 0,21; c= 0,5; dan d = 0,25 dan ∆t menggunakan nilai= 0.45.
Dinamika populasi burung hantu Serak Jawa dan tikus sawah di lahan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada Gambar 1 dan Tabel 3 (Lampiran 2).
Pada grafik dapat dilihat bahwa burung hantu mampu menurunkan populasi tikus secara signifikan. Nilai awal populasi burung hantu dan tikus masing-masing 2 dan 74. Burung hantu sempat mencapai populasi tertinggi yaitu 73 ekor dan populasi tikus terendah mencapai 3 ekor, namun burung hantu juga sempat mencapai populasi terendah yaitu 1 ekor. Penurunan ini dimungkinkan karena menurunnya populasi mangsa, tidak adanya pasangan untuk bereproduksi atau bahkan terkena penyakit.
Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas, mencatat peningkatan produksi benih padi setelah metode ini diterapkan, yaitu mulai bulan Maret 2013 di UPTD Balai Benih Padi dan Palawija di Bojongsari dapat dilihat pada Gambar 2 dan Tabel 4 2014 (Lampiran 2).
Model Competitive Lotka-Volterra digunakan untuk menstabilkan dinamika populasi tikus. Model ini di lapangan berarti menggunakan metode tambahan selain burung hantu, sehingga populasi tikus memiliki daya rusak yang terendah.
Penggunaan nilai koefisien pada Model Competitive Lotka-Volterra sama dengan Model Lotka-Volterra namun memiliki koefisien tambahan yaitu dan seperti yang tertera pada Tabel 2. Nilai dan diperoleh dari nilai a dan b yang diubah sesuai dengan waktu koefisien yang digunakan yaitu sebelumnya satu bulan diubah menjadi 3 hari sekali, sehingga diperoleh nilai a= 0,27; b= 0,025; N1=2; N2 = 74; a= 2,7; b= 0,21;c= 0,5; dan d= 0,25 dan menggunakan nilai ∆t=0.1.
Setelah dihitung dengan metode Runge-Kutta, Dinamika populasi burung hantu Serak Jawa dan tikus sawah yang diperoleh dari model Competitive LotkaVolterra dapat dilihat pada Gambar 3 dan Tabel 5 (Lampiran 2).

Grafik tersebut menunjukkan bahwa populasi tikus mampu ditekan semaksimal mungkin  hingga 100 ekor tikus dan stabil pada jumlah 125 ekor. Pertumbuhan burung hantu mengikuti dinamika populasi tikus, sehingga terjadi kestabilan populasi antara burung hantu dan tikus sawah.
Nilai tersebut merupakan dari sisi matematis atau teoritis. Upaya menurunkan populasi tikus di lapangan, disarankan menggunakan metode tambahan bersamaan dengan metode burung hantu dapat digunakan metode lain yang tidak mengganggu populasi burung hantu misal dengan metode Trap Barrier System ( TBS ).

   C. Analisis Jumlah Populasi Serak Jawa (Tyto alba) dan Tikus Sawah di Lahan Pertanian Kabupaten Banyumas

Kabupaten Banyumas memiliki luasan wilayah pertanian seluas 32.226 Ha (Diperta, 2013). Populasi tikus 900 ekor dalam 105 Ha (Ciputranews, 2013) , sehingga diperoleh populasi tikus kurang lebih sekitar 276.223 ekor. Satu pasang burung hantu dapat digunakan dalam luasan 10 Ha, sehingga kebutuhan burung hantu Serak Jawa  di Kabupaten Banyumas sebagai upaya penanggulangan tikus sebanyak 6.445 ekor.
Perhitungan menggunakan model Lotka-Volttera dengan koefisien yang sama dengan perhitungan di lahan Dinas, seperti pada tabel berikut.
Kemudian persamaan tersebut diselesaikan menggunakan metode Runge- Kutta dengan nilai koefisien N1= 6.445; N2= 276.223; a= 2,7; b= 0,21; c= 0,5; d= 0,25namun pada perhitungan menggunakan nilai ∆ = 0,00007 yang memiliki arti tujuh bulan, sehingga hasil simulasi tersebut mencatat data dinamika populasi selama 14 tahun yang diperoleh dari 24 kali ∆t(7  bulan ).
Dinamika populasi burung hantu Serak Jawa dan tikus sawah di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada Gambar 4 dan Tabel 7 (Lampiran 2).

Data tersebut menjelaskan bahwa populasi tikus mampu ditekan oleh burung hantu Serak Jawa. Burung hantu tersebut mampu menstabilkan populasi tikus dan menjaga tetap pada batas rata-rata populasi pada jumlah ± 152.310  ekor, bahkan mampu menekan hingga populasi terendah pada 40.958 ekor.
Kemudian dengan data tersebut dihitung kembali menggunakan Model Competitive Lotka-Volterra. Koefisien yang digunakan seperti pada Tabel 6, sehingga nilai = 2,7; = 0,25; 1 = 6.445; 2 = 276.223; = 2,7; = 0,21; = 0,5; = 0,25 dan menggunakan nilai Δ = 0.00002. Kemudian persamaan tersebut dihitung menggunakan metode Runge-Kutta,
dan diperoleh hasil yang ditunjukkan pada Gambar 5 dan Tabel 8 (Lampiran 2).


Pada grafik tersebut ditunjukkan bahwa populasi tikus berhasil ditekan secara maksimal, jumlah terendah hingga 8.715 ekor, namun populasi burung hantu juga ikut menurun hingga 1.315 ekor. Hal ini dapat terjadi dikarenakan perpaduan dua metode penanganan hama tikus yang kurang tepat, misalnya dengan racun tikus (Rodentisida).
Sebaiknya penggunaan metode tambahan selain metode burung hantu digunakan metode yang tidak mengganggu populasi burung hantu dimana sebagai predator tikus sawah. Metode yang dapat digunakan yaitu misalnya dengan pengasapan lubang-lubang tikus, gropyok masal, dengan Trap Barrier System. Dengan penggunaan dua metode secara bersamaan dalam upaya menurunkan populasi tikus sawah dapat lebih efektif daripada satu metode yang digunakan.

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari kajian ini antara lain:
1.      Penggunaan sepasang burung hantu Serak Jawa dalam lahan kurang dari 10 Ha terbukti mampu menurunkan populasi tikus apabila populasi awal burung hantu diatur sesuai dengan jumlah populasi tikus. Dalam kasus lahan dinas, lebih baik menggunakan metode tambahan agar kestabilan populasi tikus dapat lebih rendah.
2.      Penggunaan metode burung hantu Serak Jawa dapat lebih maksimal lagi apabila digabungkan dengan metode penanggulangan hama tikus lainnya, namun yang tidak mengganggu populasi burung hantu secara langsung.


DAFTAR PUSTAKA

Bernas Jogja. 2013. 7.200 Ha Lahan Diserang Tikus. Koran Bernas Jogja Sabtu pon 4 Desember 2013: Halaman 3.
Butcher J. C. 2008. Numerical Method for Ordinary Differential Equation ( Second edition). British Library Cataloguing in Publication Data. Page 93 – 103 . ISBN  : 978-0-470-72335-7.
Chitode J. S. 2010. Numerical Methods. Technical Publication Pune; Amit Residency India. Page 4-42.
Ciputranews. 2013. Bupati Banyumas Canangkan Gerakan Pengendalian Hama Tikus. News website http://www.ciputranews.com/ibu-kota-daerah/bupati-banyumascanangkan-gerakan-pengendalian-hama-tikus. Posted on 22  October  2013.
Ducket, J.E. 1981. Barn Owls (Tyto alba) - a proven natural predator of rats in oil palm. In: Pushparajah, E & Chew Poh Soon (eds). the oil palm in Agriculture in the Eighties.Vol. 2: pp. 461 - 473 . Kuala lumpur: Incorporated Society Plant.
Ondum E. P.. 1953. Fundamentals of Ecology. Philadelphia : W. B. Saunders.
Katharina S. Siefken C. 2010. Seasonal Changes in The Tapetum Lucidum as and Adaption to Winter Darkness in Reindeer. University of Tromso : Faculty of Biosciences, Fisheries and Economics, Department of Arctic and Marine Biology.
Kumar A. K., Ray A. 2006. Analysis of Adaptive Volterra Filters Alt LMS and RLS Algoritm. Department of Electronics and Communications Engineering. Thapar University, Patiala 147004 Punjab.
Lenton, G.M. 1980. Biological Control of Rats by Owl in Palm and Oter Plantation. Proceeding Symposium Small Mammals; Problem and Control Biotrap Special Publication. No. 12. 87 - 94  pp.
Lotka, A. J. 1925. Elements of physical biology. Baltimore: Williams & Wilkins Co.
Lundin, J. Petter O, and Vagberg D. 2011. Modelling and Simulation. Computational Science and Engineering. Umea University
Morris, P. (1979). Rats in the diet of the Barn owl (Tyto alba). Journal of Zoology, 189: 540–545. doi: 10.1111/j.1469-7998.1979.tb03983 .x
Nugroho B. D. 2009. Diktat Kuliah Mx 211: Metode Numerik. Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Matematika. Universitas  Kristen Satya Wacana.
Pardosi J. F.,  Bambang S. 2005. Dosis Efektif dan Waktu Kontak Rodentisida Contrac 0,005 Terhadap Tikus Putih (Mus sp.) di Laboratorium Entomologi Poltekes
Jakarta II.
Sipayung A., et al. 1989. Natural enemies of leaf-eating Lepidoptera in Oil Palm Plantations, North Sumatra. Biotrop Spec. Publ. 36: 99 – 121.
Pemerintah Kabupaten Banyumas. 2013. Rencana Strategis Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehuntan. Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas, Purwokerto.
Ruysschaert, D., et al. 2011. Budidaya Kelapa Sawit di Lahan Tidur. Implikasinya terhadap aspek teknis, ekonomi, keanekaragaman hayati, iklim, hukum dan kebijakan. Diterbitkan oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL).
Simangungsong, Z. 2011. Konservasi Tanah dan Air pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) PT Sari Lembah Subur, Pelalawan, Riau. Skripsi: Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor.
Volterra, V. 1926. Variazioni e fluttuazioni del numero d'individui in specie animali conviventi. Mem. R. Accad. Naz. dei Lincei. Ser. VI, vol. 2.
Willson W. 2010. Simulating Ecological and Evolutionary System in C.Duke University: Department of Zoology. Published by Cambridge University Press.



Lampiran 1. Tabel Data Analisis
Tabel 3. Dinamika Populasi Burung Hantu Serak Jawa dan Tikus Sawah di Lahan Dinas I
t
Burung Hantu
Tikus Sawah
0
2
74
0.45
44
46
0.9
64
39
1.35
42
46
1.8
73
36
2.25
46
43
2.7
63
37
3.15
47
39
3.6
54
34
4.05
33
37
4.5
27
33
4.95
10
32
5.85
1
23
6.3
1
19
6.75
1
15
7.2
1
12
7.65
1
10
8.1
1
8
8.55
1
6
9
1
5
9.45
2
4
9.9
6
3
10.35
15
4
10.8
32
5
11.25
50
12


Tabel 4. Data Produksi Balai Benih Padi Palawija 2012-2014
1
Oktober – Maret
Inpari 13
8,7
6.635
2
April – September
Inpari 13, Willis
8,7
7.390
3
Oktober – Maret
Sintanur, Situbagendit
8,7
10.530






No. MT Varietas Luas (Ha) Berat Benih (kg)
Tabel 5. Dinamika Populasi Burung Hantu Serak Jawa dan Tikus Sawah di Lahan Dinas  II

t
Burung Hantu
Tikus Sawah
0
2
74
0.1
6
71
0.2
19
71
0.3
46
80
0.4
66
103

0.5
51
135
0.6
26
155
0.7
12
161
0.8
5
159
0.9
3
153
1
1
146
1.1
1
139
1.2
1
132
1.3
1
125
1.4
1
119
1.5
1
113
1.6
2
108
1.7
3
104
1.8
6
101
1.9
11
100
2
17
101
2.1
25
107
2.2
28
117
2.3
26
128
2.4
19
137
2.5
13
141
2.6
9
141
2.7
7
139
2.8
5
136
2.9
4
131
3
4
127
3.1
4
123
3.2
5
119
3.3
6
116
3.4
8
113
3.5
10
112
3.6
13
113
3.7
16
115
3.8
17
119
3.9
18
123
4
16
128
4.1
14
131
4.2
12
132
4.3
10
133
4.4
8
131
4.5
7
129
4.6
7
127
4.7
7
125
4.8
7
122
4.9
8
120
5
9
119
5.1
10
118
5.2
11
119
5.3
13
120
5.4
13
121
5.5
14
123
5.6
13
125
5.7
13
127
5.8
12
128
5.9
11
128
6
10
128
6.1
9
127
6.2
9
126
6.3
9
125
6.4
9
124
6.5
9
123
6.6
10
122
6.7
10
121
6.8
11
121
6.9
11
122
7
12
123
7.1
12
124
7.2
12
125
7.3
12
125
7.4
11
126
7.5
11
126
7.6
10
126
7.7
10
126
7.8
10
125
7.9
10
125
8
10
124
8.1
10
124
8.2
10
123
8.3
10
123
8.4
11
123
8.5
11
123
8.6
11
123
8.7
11
124
8.8
11
124
8.9
11
125
9
11
125
9.1
11
125
9.2
10
125
9.3
10
125
9.4
10
125
9.5
10
125
9.6
10
124
9.7
10
124
9.8
10
124
9.9
10
124
10
11
124
10.1
11
124
10.2
11
124
10.3
11
124
10.4
11
124
10.5
11
124
10.6
11
125
10.7
11
125
10.8
10
125
10.9
10
125
11
10
125
Tabel 7. Dinamika Populasi Burung Hantu Serak Jawa dan Tikus Sawah di
Kabupaten  Banyumas I
t
Burung Hantu
Tikus Sawah
0
6445
276223
0.00007
38048
268309
0.00014
277499
208421
0.00021
996068
28799
0.00028
339012
193333
0.00035
891192
55329
0.00042
112939
250088
0.00049
849008
66040
0.00056
88713
256287
0.00063
695167
104642
0.0007
308620
201387
0.00077
950461
40958
0.00084
213805
225352
0.00091
1089264
6484
0.00098
585462
132869
0.00105
568984
137072
0.00112
598652
129737
0.00119
546526
142854
0.00126
635242
120754
0.00133
471043
161896
0.0014
727693
97804

0.00147
247521
217965
0.00154
1074381
11260
0.00161
480128
160207
0.00168
723340
99475
0.00175
264857
214212
Tabel 8. Dinamika Populasi Burung Hantu Serak Jawa dan Tikus Sawah di
Kabupaten B anyumas II
t
Burung Hantu
Tikus Sawah
0
6445
276223
0.000001
4435
110792
0.000002
3670
74443
0.000003
3205
56055
0.000004
2884
4495
0.000005
2646
37520
0.000006
2459
32197
0.000007
2308
28197
0.000008
2182
25081
0.000009
2076
22586
0.00001
1984
20542
0.000011
1903
18837
0.000012
1832
17394
0.000013
1768
16156
0.000014
1711
15083
0.000015
1659
14143
0.000016
1612
13314
0.000017
1568
12577
0.000018
1528
11917
0.000019
1491
11322
0.00002
1457
10785
0.000021
1425
10296
0.000022
1395
9849
0.000023
1367
9440
0.000024
1340
9063
0.000025
1315
8715



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship