-->

ESAI POTRET ANAK JALANAN DI INDONESIA


POTRET ANAK JALANAN DI INDONESIA



Arifin Budi Purnomo

Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, INDONESIA.
(E-mail: arifinb92@yahoo.co.id)


1.             PENDAHULUAN

Pasal 9 ayat (1) Undang-Udang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan bahwa; “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”. Pasal diatas mengandung arti luas bahwa pendidikan merupakan hak yang seharusnya diperoleh bagi setiap anak. Tidak ada kata khusus yang menyebutkan bahwa pendidikan adalah hak dari anak pejabat, anak pengusaha, anak konglomerat dan sebagainya. Dalam arti lain pendidikan dan pengajaran merupakan hak bagi semua anak Indoensia dari semua golongan tanpa terkecuali termasuk pendidikan bagi anak jalanan.
Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah anak jalanan yang meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, menyebutkan terdapat sekitar 154.861 jiwa anak jalanan di Indonesia. Kemudian pada tahun 2009 jumlah anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan menjadi 230.000 anak jalanan (Tommy, 2010)
Sumber lain menyebutkan bahwa pada tahun 2010 jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai sekitar 200.000 anak dan tahun 2012 meningkat lagi menjadi 230.000 anak. Itu artinya jumlah anak jalanan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setiap saat anak jalanan akan berhadapan dengan situasi yang mengancam ketenangan, keselamatan dan harga diri sebagai manusia. Mereka praktis tidak mendapat kesempatan untuk bisa tumbuh dan berkembang, serta memperoleh pendidikan sebagaimana anak Indonesia lainya. (Abu Laka, 2006)
Anak jalanan akan cenderung melakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang tuanya dalam segala proses tumbuh kembangnya. Mereka akan ikut turun ke jalan untuk mengemis dan mengamen dengan memegang prinsip bahwa hidupnya memang hanya untuk melakukan hal tersebut saja. Kemampuan skill serta mental yang dimiliki oleh anak jalanan tidak akan berkembang dari waktu ke waktu jikalau tidak disentuh dengan adanya pendidikan. Sebuah potret yang menyedihkan tatkala dikembalikan kembali pada UU No.23 tahun 2002 mengingat bahwa anak jalanan juga merupakan bagian dari generasi muda yang nantinya turut andil menanggung nasib bangsa Indonesia dikemudian kelak.

2.             ISI

2.1.       REALITA PENDIDIKAN ANAK JALANAN INDONESIA

Realita pendidikan di Indonesia nampaknya sudah cukup menggambarkan kasus dimana pendidikan masih berpihak pada kaum-kaum yang memiliki tingkatan ekonomi atas. Beberapa upaya mungkin mulai dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk menyetarakan hak pendidikan bagi setiap anak bangsa. Banyak beasiswa-beasiswa yang ditawarkan diberbagai tingkatan pendidikan di Indonesia. Mulai dari adanya dana BOS di tingkat sekolah, Beasiswa Bidik Misi di tingkat pendidikan tinggi adalah contoh kecil upaya pemerintah Indonesia dalam menyetarakan hak pendidikan bagi setiap anak Indonesia.
Sudah menjadi hal wajar di berbagai negara termasuk Indonesia akan upaya-upaya untuk memajukan pendidikan dengan banyak program bantuan maupun beasiswa. Namun satu hal yang terkadang menjadi pertanyaan akan pendidikan di Indonesia adalah “Apakah pendidikan juga merupakan hak bagi anak jalanan?” “Apakah pendidikan juga menjadi hak bagi anak-anak pengemis, pengamen, gelandangan serta golongan yang setara denganya?”
Sejauh ini bantuan maupun beasiswa pendidikan di Indonesia seolah hanya merupakan hak bagi anak-anak sekolah saja. Nampaknya belum pernah terdengar adanya tawaran bantuan ataupun program pendidikan yang dialokasikan bagi anak-anak jalanan, pengemis, pengamen, gelandangan atau yang lainya.
  
2.2.       PERAN MAHASISWA TERHADAP MASALAH PENDIDIKAN ANAK JALANAN INDONESIA

Kondisi pendidikan anak jalanan di Indonesia bisa dikatakan belum banyak tersentuh baik oleh pihak pemerintah atau para pemangku kepentingan lainya. Sebuah problema yang seharunya ditangkap lalu dipecahkan oleh para mahasiswa Indonesia yang notabene dinobatkan sebagai agen perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Mahasiswa seharusnya turut ambil bagian dalam mengatasi permasalahan bangsa tatkala belum banyak pihak yang terjun untuk mengatasinya.
Peran mahasiswa sangatlah diperlukan dalam upaya mengatasi pendidikan anak jalanan di Indonesia. Sebuah konsep sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk sebuah komunitas pembinaan bagi anak jalanan. Komunitas dapat dimulai dengan melakukan perkumpulan beberapa mahasiswa yang mempunyai komitmen untuk terjun ke lapangan, membaur dan bergaul dengan para anak jalanan. Perkumpulan mahasiswa itulah yang menjadi pionir terbentuknya sebuah komunitas anak jalanan. Kontribusi waktu, biaya dan tenaga dari para mahasiswa menjadi hal yang penting terbentuk dan berlangsungnya komunitas pendidikan anak jalanan.


Gambar 1.  Potret anak jalanan di Kota Purwokerto Jawa Tengah (Sumber: Purnomo, 2014)


Gambar 2.  Komunitas pendidikan anak jalanan “Kids Preneur UNSOED” yang dibentuk oleh para mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah (Sumber: Purnomo, 2014)

Beberapa permasalahan mungkin akan timbul seiring bertambahnya jumlah anak jalanan berbagai kota di Indonesia adalah jumlah pendidik yang ada pada suatu komunitas anak jalanan. Setiap kota di Indonesia pastinya dapat ditemui berbagai universitas, atau Institusi Pendidikan Tinggi berdiri didalamnya. Ketika di setiap universitas atau pendidikan tinggi kota tersebut mengirimkan satu komunitas saja yang secara konsisten membina dan mendidik anak jalanan, maka masalah pendidikan anak jalanan di Indonesia sedikit demi sedikita akan dapat terangkat dan teratasi.



Bagan 1. Bagan Mekanisme Pendanaan Program Komunitas Anak Jalanan
(Sumber: Purnomo, 2014)

Pendidikan anak jalanan bukan hanya sebatas pada pendidikan formal seperti halnya di sekolah-sekolah umum. Akan tetapi pendidikan anak jalanan lebih ditekankan pada pendidikan kepribadian, kepemimpinan, sikap kerjasama tim serta pelatihan atau pembinaan ketrampilan yang diperlukan bagi keberlangsungan kehidupanya. Pendidikan sosial serta keagamaan menjadi hal penting untuk bekal dalam memasuki suatu sistem kemasyarakatan yang telah tertata. Dengan adanya hal yang demikian program pendidikan anak jalanan melalui komunitas anak jalanan dapat berkontribusi bagi perbaikan kondisi sosial kemasyarakatan. Kondisi sosial kemasyarakatan yang awalnya berasal dari kebiasaan orang jalanan lambat laun dengan diharapkan berubah ke tatanan sosial yang lebih memiliki adat tata krama yang berbudaya seperti ciri bangsa Indonesia.

3.             PENUTUP

Peran pemerintah menjadi sangat diharapkan dalam mengatasi pendidikan anak jalanan. Mahasiswa tidak serta merta dapat menjalankan komunitas pembinaan anak jalanan mengingat berbagia kendala yang dimiliki. Kendala utama yang biasa ditemui adalah anggaran pembiayaan yang terbatas. Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah dengan adanya kerjasama program DIKTI seperti Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat, PNMP Mandiri ataupun dana CSR (Corporate System Responsibility) dari berbagai perusahaan swasta. Anggaran dana tersebut dapat dialokasikan kedalam program pelatihan serta pembinaan ketrampilan kerja atau wirausaha bagi gelandangan dan anak jalanan seusai dewasa. Sebuah pekerjaan rumah bagi para mahasiswa, pihak pemerintah Indonesia dan juga pihak swasta dalam berkolaborasi menyusun sistem pendidikan anak jalanan. Sistem pendidikan yang berawal dari konsep sederhana komunitas anak jalanan yang siap membawa masa depan Indonesia kearah yang lebih baik.



DAFTAR PUSTAKA

Abu Laka. (2006) Fenomena Anak Jalanan http://www.suarakarya-online.com/news.html? id=307326.html [accessed 02/07/2014].
Purnomo, A. B. (2014) Laporan Kemajuan PKM-M DIKTI Kids Preneur (Kp), Solusi Pendidikan dalam Pembentukan Karakter Mandiri dan Kreatif untuk Anak Jalanan Dikampung Sri Rahayu (Kampung Dayak), Karangklesem, Purwokerto Selatan. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Tommy. (2010) Kekerasan terhadap Anak Jalanan http://sdc.depsos.go.id/modules.php? name=News&file=article&sid=20.html [accessed 02/07/2014].
Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship