-->

CONTOH PROPOSAL PKM PENGABDIAN MASYARAKAT / GUPARIS (GULA KELAPA KRISTAL), DIVERSIFIKASI GULA KELAPA DI DESA BABAKAN, KARANGLEWAS, KABUPATEN BANYUMAS SEBAGAI UPAYA MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015





CONTOH PROPOSAL PKM PENGABDIAN MASYARAKAT / GUPARIS (GULA KELAPA KRISTAL),  DIVERSIFIKASI GULA KELAPA DI DESA BABAKAN, KARANGLEWAS, KABUPATEN BANYUMAS SEBAGAI UPAYA MENGHADAPI  ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015



PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM

GUPARIS (GULA KELAPA KRISTAL),DIVERSIFIKASI GULA KELAPA DI DESA BABAKAN, KARANGLEWAS, KABUPATEN BANYUMAS SEBAGAI UPAYA MENGHADAPI
ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015


BIDANG KEGIATAN:
PKM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT


Diusulkan oleh:
                   Arifin Budi Purnomo                   A1C012025    (2012)
                   Halim Zulfakar                             A1M012018    (2012)
                   Fitriyatun Amiyah                        A1M012045    (2012)
                   Muhammad Imaduddin Siddiq   G1F013042     (2013)
                   Nabila Faradina Iskandar             A1M013031    (2013)



UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO





RINGKASAN


Isu strategis yang saat ini berkembang dalam wacana persiapan menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 adalah upaya memperkuat kegiatan ekonomi, industri, serta perdagangan melalui usaha menghasilkan produk berdaya saing tinggi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pengoptimalan potensi sumber daya pedesaan melalui pengembangan agroindustri produk lokal. Wilayah Banyumas memiliki potensi lokal sebagai sentra agroindustri gula kelapa kristal tingkat Jawa Tengah dan Nasional dengan permintaan pasar mencapai ekspor. Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas merupakan salah satu desa yang memiliki potensi pengembangan gula kelapa kristal. Usaha pembuatan gula kelapa di Desa Babakan sebenarnya sudah dilakukan puluhan tahun lamanya, akan tetapi masih kurang memberikan kesejahteraan bagi para pengrajin. Hal tersebut dikarenakan produksi yang dijalankan masih dalam bentuk cetak atau disebut gula jawa. Padahal saat ini sudah mulai dilakukan diversifikasi gula kelapa cetak menjadi bentuk kristal yang harganya lebih menguntungkan. Selain itu permintaan pasar gula kelapa kristal juga telah menembus ekspor dengan harga relatif stabil dibanding dengan pasar gula kelapa cetak yang harganya seringkali dikuasai oleh tengkulak. Oleh karena itu targetan khusus dalam program pengabdian ini adalah penerapan diversifikasi produk gula kelapa kristal oleh pengrajin gula kelapa di Desa Babakan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Dengan adanya upaya diversifikasi tersebut tujuan jangka panjang program pengabdian yang berupa peningkatan kesejahteraan pengrajin gula dan penguatan sektor ekonomi pedesaan dalam rangka menghadapi AEC 2015 dapat dicapai. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program ini adalah metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dimana masyarakat diajak bersama untuk mengetahui situasi, kondisi, permasalahan, dan potensi yang dimiliki. Metode ini dirinci dalam beberapa tahap. Tahapan yang pertama yaitu sosialisasi program kepada warga Desa Babakan. Sosialisasi ini bertujuan untuk mengetahui respon masyarakat terkait program yang ditawarkan. Pada sosialisai ini juga dijelaskan potensi ekspor gula kelapa kristal dengan penambahan rempah, pentingnya penjaminan mutu, serta persiapan menghadapi AEC 2015. Tahapan kedua yaitu demo praktik produksi gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak rempah-rempah. Selanjutnya yakni tahap produksi gula kelapa kristal yang diiringi monitoring program setiap bulannya. Monitoring ini terkait sejauh mana kemampuan pengrajin dalam memproduksi, serta pengujian mutu gula kelapa kristal secara berkala. Tahapan selanjutnya dari program ini adalah pemasaran produk dimana dalam hal ini bekerjasama dengan Koperasi Nira Satria Banyumas dan tahap yang terakhir adalah tahap evaluasi program. Tahap evaluasi program bertujuan untuk mengetahui keberhasilan penerapan inovasi menciptakan produk gula kelapa kristal yang mampu memenuhi permintaan pasar eskpor guna persiapan menghadapi AEC 2015.

Kata Kunci : AEC 2015, Desa Babakan, Gula Kelapa Kristal.




BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Isu strategis yang saat ini berkembang dalam wacana persiapan menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 adalah bagaimana upaya memperkuat kegiatan ekonomi, industri, serta perdagangan melalui usaha-usaha menghasilkan produk yang memiliki daya saing tinggi. Salah satu konsep yang digunakan dalam rangka memperkuat sektor perekonomian tersebut adalah mengoptimalkan potensi sumber daya pedesaan melalui pengembangan usaha agroindustri produk pangan lokal. Wilayah Banyumas memiliki potensi lokal sebagai sentra agroindustri gula kelapa kristal memerlukan persiapan dalam memperkuat sektor agroindustri untuk persiapan menghadapi persaingan AEC di tahun 2015.
Banyumas merupakan wilayah yang memiliki potensi menjadi sentra agroindustri gula kelapa kristal/semut di tingkat Jawa Tengah bahkan Nasional dengan permintaan ekspor yang tinggi. Berdasarkan data perkembangan komoditas agroindustri pengolahan pangan Kabupaten Banyumas tahun 2009–2013 teridentifikasi bahwa agroindustri gula kelapa menempati posisi pertama dalam aspek produksi dan unit usahanya dibandingkan jenis agroindustri lainnya.




            Gula kelapa kristal atau disebut gula semut merupakan produk olahan nira kelapa yang berbentuk serbuk (Dewan Standarisasi Nasional, 1995). Menurut Mustaufik dan Dwiyanti, (2007) Kelebihan gula kelapa kristal dibandingkan dengan gula merah (cetak) antara lain lebih mudah larut, daya simpan lebih lama, bentuknya lebih menarik, pengemasan dan pengangkutan lebih mudah, rasa dan aromanya lebih khas, dapat diperkaya dengan bahan lain seperti rempah-rempah, vitamin dan iodium serta harganya lebih mahal daripada gula kelapa cetak biasa.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan yang ada di masyarakat menyebabkan pola konsumsi terhadap suatu produk juga bergeser kearah perubahan. Masyarakat di era sekarang mulai menyadari dan memiliki kecenderungan untuk memilih produk herbal. Hal inilah yang menjadikan peluang tersendiri dari adanya diversifikasi produk gula kelapa dengan penambahan ekstrak rempah. Kondisi ini selaras dengan pernyataan Pragita (2010) yang menyebutkan bahwa permintaan ekspor gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak rempah dari negara-negara seperti; Singapura, Jepang, Hongkong, USA dan Jerman totalnya mencapai sekitar 400 ton/tahun dan memiliki tren peningkatan di tiap tahunnya. Namun dari total permintaan tersebut produsen baru dapat memenuhi sekitar 50% dari total permintaan. Hal tersebut dikarenakan belum optimalnya upaya diversifikasi gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal dengan tambahan ekstrak rempah di wilayah Banyumas.
Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas merupakan salah satu desa yang memiliki potensi di bidang pengembangan agroindustri pangan gula kelapa. Hal ini didasarkan atas kondisi geografis desa yang jika dilihat dari jumlah tanaman kelapa deres di desa tersebut masih tersimpan potensi yang besar. Data dari Badan Pusat Statistika Kabupaten Banyumas tahun 2013 menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 2418 pohon kelapa deres di Desa Babakan. Semua pohon kelapa tersebut merupakan jenis kelapa deres dan mulai dimanfaatkan oleh sekitar 133 pengrajin gula untuk memproduksi gula kelapa dalam bentuk cetak.

Dilihat dari sisi lain, usaha pengolahan pangan gula kelapa di Desa Babakan masih belum mampu memberikan kesejahteraan bagi pengrajin. Hal tersebut dikarenakan usaha pembuatan gula kelapa yang dijalankan masih dalam bentuk gula kelapa cetak atau disebut dengan gula jawa. Padahal saat ini sudah mulai dilakukan upaya diversifikasi gula kelapa menjadi bentuk kristal yang harganya jauh lebih menguntungkan dibanding dengan gula kelapa cetak.
Selain itu permintaan pasar gula kelapa kristal juga telah menembus pasar ekspor dimana memiliki harga relatif stabil dibanding dengan pasar gula kelapa cetak yang seringkali tergantung pada tengkulak. Oleh karena itu dibutuhkan suatu upaya penerapan diversifikasi produk gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Upaya diversifikasi gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal dilakukan sebagai tindakan untuk mempersiapkan persaingan AEC di tahun 2015. Sehingga dengan adanya upaya penerapan diversifikasi gula kelapa, para pengrajin lebih mampu memenuhi pasar ekspor sekaligus mempersiapkan upaya penguatan ekonomi pedesaan yang nantinya akan memicu kesejahteraan masyarakat di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas

1.2  Perumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.    Bagaimana penerapan diversifikasi produk gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak rempah-rempah?
2.    Bagaimana upaya menciptakan produk gula kelapa kristal berdaya saing dan mampu memenuhi permintaan pasar ekspor?
3.    Bagaimana upaya penguatan perekonomian pedesaan yang didasarkan potensi lokal dalam rangka persiapan menghadapi AEC 2015?

1.3  Tujuan Program

            Tujuan dari adanya program pengabdian masyarakat ini adalah:
1.    Menerapkan diversifikasi produk gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak rempah-rempah.
2.    Menciptakan produk gula kelapa kristal berdaya saing dan mampu memenuhi permintaan pasar ekspor.
3.    Penguatan perekonomian pedesaan yang didasarkan potensi lokal dalam rangka persiapan menghadapi AEC 2015

1.4  Manfaat Program

            Manfaat yang dapat diambil dari pelaksanaan progam pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi Mahasiswa dan Akademisi
Sebagai bentuk kontribusi ilmiah bagi dinamisasi teknologi pertanian yang berkaitan dengan pengembangan agroindustri kelapa dengan pemanfaatan kearifan lokal pedesaan.
2.    Bagi Pengrajin Gula
Meningkatkan kemampuan pengrajin dalam memproduksi gula kelapa kristal sehingga mampu memberikan kontribusi peningkatan pendapatan dan kesejahteraannya.
3.    Bagi Sektor Perekonomian dan Pemerintahan
Memberikan gambaran strategis rencana pengembangan pembangunan ekonomi pedesaan dengan pengoptimalan potensi daerah demi terwujudnya kesejahteraan Indonesia.

1.5  Luaran yang Diharapkan

            Adapun harapan besar dari program pengabdian ini agar para pengrajin gula kelapa memiliki kemampuan memproduksi gula kelapa bentuk kristal dengan penambahan ekstrak rampah. Dimana produk ini lebih memiliki nilai jual tinggi dan permintaan pasar ekspor yang meningkat tiap tahunya. Dengan adanya kemampuan itu diharapkan tumbuhnya kesadaran pengrajin akan persaingan pasar global terutama ASEAN Economic Community tahun 2015 sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui usaha yang digelutinya.

1.6  Kegunanan Program

Adapun kegunaan dari adanya program pengabdian ini adalah:
1.      Menerapkan diversifikasi produk khususnya pengolahan pangan lokal
2.      Meningkatkan skill dan kemampuan petani dalam mengolah hasil pertanian
3.      Meningkatkan nilai jual produk pengolahan hasil pertanian
4.      Upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pengrajin gula kelapa
5.      Upaya pemenuhan permintaan pasar ekspor akan gula kelapa kristal
6.      Upaya mempersiapkan persaingan AEC 2015
7.      Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan yang berkearifan lokal


BAB 2. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN


Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas merupakan sebuah desa yang dapat digolongkan sebagai salah satu desa tertinggal di Kabupaten Banyumas. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas tahun 2013 menunjukkan setidaknya masih terdapat sejumlah 912 rumah bangunan semi permanen, bahkan 183 diantaranya masih terbuat dari bambu. Di sisi lain bila ditinjau dari segi kependudukannya maka masih ada sekitar 174 orang di Desa Babakan yang belum bekerja, 201 orang pernah bekerja dan sejumlah 1397 orang menjadi ibu rumah tangga. Hal tersebut justru menjadikan beban sendiri bagi kondisi perekonomian masyarakat yang notabene mayoritas penduduknya hanya berprofesi sebagai petani bahkan buruh tani.
Dilihat dari segi potensi pertanian, sebenarnya Desa Babakan merupakan salah satu desa yang memiliki potensi di bidang pengembangan agroindustri pangan gula kelapa. Hal ini didasarkan atas kondisi geografis desa yang jika dilihat dari jumlah tanaman kelapa deres di desa tersebut masih tergolong banyak dan produktif. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas tahun 2013 menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 2418 pohon kelapa deres di Desa Babakan. Kesemua pohon sudah dapat dideres dan biasa dimanfaatkan oleh sekitar 133 pengrajin gula untuk memproduksi gula kelapa dalam bentuk cetak.
Sebagian besar hasil dari usaha gula kelapa di Desa Babakan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa usaha gula kelapa merupakan sumber penting pendapatan rumah tangga. Sehingga pengrajin seringkali berharap dapat memperoleh pendapatan yang besar. Akan tetapi, usaha ini sebenarnya masih kurang memberikan kesejahteraan bagi pengrajin. Hal tersebut dikarenakan usaha pembuatan gula kelapa yang dijalankan masih dalam bentuk gula kelapa cetak atau disebut dengan gula jawa. Padahal saat ini sudah mulai dilakukan upaya diversifikasi gula kelapa menjadi bentuk kristal yang harganya jauh lebih menguntungkan dibanding dengan gula kelapa cetak.
Permasalahan lain yang juga terjadi pada pengrajin gula kelapa di Desa Babakan adalah ketergantungan pemasaran hasil produksi gula kelapa kepada tengkulak. Menurut Awang (1994) pemasaran gula kelapa hanya terpusat pada pedagang pengumpul yang sudah menjadi langganan sebagai akibat adanya ikatan hutang. Adanya hubungan hutang piutang tersebut menyebabkan penentuan harga jual produk sepenuhnya berada dipihak tengkulak. Sehingga harga yang diterima oleh pengrajin relatif rendah dan kurang memberikan kesejahteraan bagi para pengrajin gula di Desa Babakan.
Berbagai permasalahan yang terjadi di Desa Babakan terutama para pengrajin gula kelapa menjadikan landasan dibutuhkannya upaya penerapan diversifikasi produk gula kelapa cetak menjadi gula kelapa kristal di desa tersebut. Upaya diversifikasi gula kelapa dilakukan sebagai tindakan untuk menciptakan produk berdaya saing yang mampu memenuhi permintaan ekpor gula kelapa serta mempersiapkan persaingan AEC 2015. Sehingga dengan adanya upaya diversifikasi ini, para pengrajin mampu memenuhi pasar ekspor sekaligus mempersiapkan upaya penguatan ekonomi pedesaan yang nantinya akan memicu kesejahteraan masyarakat di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas.


BAB 3. METODE PELAKSANAAN


Metode pelaksanaan dari program penagabdian ini adalah dengan mengadopsi metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dimana metode ini merupakan metode pembelajaran, pemberdayaan bersama masyarakat mengenai situasi, kondisi, permasalahan, dan potensi yang dimiliki. Selanjutnya dalam program penagabdian ini bekerja sama dengan mitra, yakni Koperasi Nira Satria Banyumas. Tim PKM-M dan Koperasi Nira Satria Banyumas bersama-sama menjalin kesepakatan pelaksanaan program pelatihan kepada pengrajin gula kelapa di desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas untuk memproduksi gula kelapa kristal dan berbagai tambahan ekstrak rempah-rempah. Kemudian untuk masalah perijinan kami akan bekerja sama dengan perangkat desa setempat. Adapun langkah – langkah yang dilakukan dapat ditampilkan dalam bagan berikut:




Gambar 3. Skema Pelaksanaan Program Pengabdian

3.1    Sosialisasi Program

Sosialisasi dilakukan untuk mengetahui respon msyarakat terkait program yang ditawarkan yakni meliputi beberapa tahap:
a)      Sosialisasi diversifikasi gula kelapa.
Sosialisasi yang pertama adalah sosialisasi mengenai diversifikasi gula kelapa menjadi gula kelapa kristal dengan tambahan ekstrak rempah-rempah. Tujuan dari adanya kegiatan ini adalah menumbuhkan minat dari para pengrajin gula supaya tertarik untuk melakukan inovasi membuat gula kelapa kristal bahkan dengan penambahan ekstrak rempah-rempah.
b)      Sosialisasi pentingnya penjaminan mutu.
Tahapan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pengrajin akan pentingnya menjaga higiene dalam proses produksi sehingga kualitas gula kelapa kristal dapat terjaga. Penjaminan mutu menjadi syarat wajib dalam menciptakan produk inovasi berdaya saing tinggi untuk memenuhi permentaan ekspor akan produk gula kelapa kristal. Maka dari itu dengan adanya sosialisasi ini pengrajin gula diharapkan mampu menjaga higiene proses produksi, lingkungan hingga produk yang dihasilkan.
c)      Sosialisasi tentang ASEAN Economic Community 2015.
Tahapan ini bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada pengrajin akan persaingan pasar gula kelapa kristal yang tidak hanya berasal dari dalam negeri saja. Permintaan ekpor gula kelapa kristal Banyumas yang telah mencapai beberapa negara seperti Jepang, Canada, Amerika, Jerman dan lainya memerlukan upaya persiapan menghadapi AEC 2015.

3.2    Demo Praktik Produksi Gula Kelapa Kristal

Setelah tahap sosialisasi selesai, tahapan selanjutnya adalah melaksanakan demo atau training produksi gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak rempah. Kegiatan ini bukan sebatas training saja, melainkan harus dilakukan pendampingan lanjut kepada para pengrajin. Dalam kegiatan ini juga dilakukan pengujian dan evaluasi terkait informasi dan materi yang telah diberikan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman terhadap pelatihan yang telah diberikan.

3.3    Produksi Gula Kelapa Kristal

Tahap selanjutnya setelah tahap demo praktik produksi adalah tahap produksi gula kelapa kristal oleh masing-masing pengrajin. Para pengrajin yang telah dibekali pelatihan saat demo praktik produksi di tahap sebelumnya, dilepas untuk mempraktekkan cara berproduksi di rumah produksi masing-masing. Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pengrajin dalam memproduksi gula kelapa kristal beserta penambahan ekstrak rempah.
Proses produksi gula kelapa kristal dapat dilakukan dua cara yaitu gula kelapa kristal yang dibuat dari nira kelapa dan yang dibuat dari gula kelapa cetak yang sudah jadi. Pembuatan gula kelapa kristal yang dibuat dari gula kelapa cetak dikarenakan banyaknya permintaan dari konsumen, sehingga produsen menarik atau bahkan membeli gula kelapa cetak yang ada dipasaran untuk diolah menjadi gula kelapa kristal karena keuntungan yang nantinya didapat lebih tinggi, disamping itu juga untuk memanfaatkan (rekondisi) produk gula kelapa cetak. Pada prinsipnya proses produksi gula kelapa kristal meliputi: proses pengaturan pH dan penyaringan nira atau pemilihan gula cetak, pemanasan dan pemasakan nira atau larutan gula, proses solidifikasi, proses granulasi/kristalisasi, pengayakan, pengeringan dan pengemasan (Mustaufik dan Haryanti, 2006).

3.4    Monitoring Program

Pengawasan atau monitoring dilakukan sebagai tindakan aplikatif yang berkesinambungan sampai tercapainya produk berstandar ekspor bagi para pengrajin gula kelapa kristal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melihat kenampakan fisik, serta uji laboratorium untuk mengetahui kualitas dari produk yang dihasilkan. Hasil analisis harus mengacu pada standarisasi produk gula kelapa kristal baik SNI dan standar kesepakatan negara pengimpor seperti EU (Eropa), USDA (Amerika), Halal (Timur Tengah) dan JAS (Jepang). Pelaksanaan monitoring program bekerjasama dengan Dinkes Kabupaten Banyumas dan Koperasi Nira Satria dalam bentuk inspeksi secara berkala kepada para pengrajin gula. Inspeksi ini dilakukan dalam rangka tahapan memperoleh sertifikat sesuai standar ekspor dan selanjutnya mampu mempertahankan di tahap produksi lanjut.

3.5    Pemasaran Produk

Tiada berarti ketika suatu produk berkualitas dihasilkan jikalau tidak mampu untuk dijual sampai ketangan konsumen. Maka dari itu sangatlah menjadi perlu dibentuknya suatu jalur pemasaran produk gula kelapa kristal Banyumas. Jalur pemasaran dapat terwujud dengan dilakukanya kerjasama pada pihak luar yakni buyyer dan eksportir gula kelapa kristal. Dalam hal ini Tim PKM melakukan kerjasama dengan Koperasi Nira Satria Banyumas untuk memfasilitasi pemasaran produk gula kelapa kristal yang dihasilkan. Pemasaran produk gula kelapa ke pasaran ekspor biasanya bekerjasama dengan perusahaan eksportir asal Jakarta dan Surabaya. Koperasi Nira Satria yang selama ini memegang peranan penting dalam pemasaran gula kelapa kristal di daerah Banyumas seringkali masih kekurangan stok produk. Hal ini dikarenakan masih sebagian kecil pengrajin saja yang bisa memproduksi gula kelapa kristal. Melihat kondisi ini, program PKM-M Guparis berinisiasi untuk menjalin mitra dalam hal pemasaran produk gula.




3.6    Evaluasi Program

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan program pengabdian diterapkan di masyarakat. Dalam hal ini parameter yang digunakan adalah seberapa besar pengrajin gula yang mampu menghasilkan produk sesuai standar ekspor. Selain itu acuan lain yang digunakan adalah tercapainya pemasaran produk gula kelapa kristal baik dari pasar dalam negeri maupun luar negeri (ekspor). Sehingga dengan adanya evaluasi diharapkan progam yang dilaksanakan lebih sesuai target yang direncanakan.

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN


4.1  Anggaran Biaya

Biaya yang dibutuhkan dalam program pengabdian ini dapat dirinci:
No
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp)
1
Peralatan penunjang
Rp    3.125.000
2
Bahan habis pakai
Rp.   4.967.500,-
3
Perjalanan
Rp.   3.100.000,-
4
Lain-lain: administrasi, sosialisasi, laporan, dokumentasi, pengujian mutu, dan konsumsi
Rp.   1.238.000,-
Jumlah
Rp 12.430.500,-
Keterangan: justifikasi anggaran dana terlampir.

4.2  Jadwal Pengabdian

Jadwal program pengabdian dapat dirinci sebagai berikut:
No
Kegiatan
Bulan
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Sosialisasi Program

















a) Produksi Gula

















b) Potensi Pasar

















c) Penjaminan Mutu Produk

















d) Tantangan AEC 2015
















2
Demo Praktik Produksi

















a) Demo Produksi Ekstrak

















b) Demo Produksi Gula
















3
Produksi Gula Kelapa Kristal
















4
Monitoring Program
















5
Pemasaran Produk
















6
Evaluasi Program
























DAFTAR PUSTAKA


Ahmad dan Priyono 2013. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Melalui Penguatan Agroindustri Di Kabupaten Banyumas. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman: Purwokerto.
Awang, S. A. 1994. Kelapa Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media: Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas. 2012. Data Rekapitulasi Penderes Gula Kelapa di Desa Babakan Kec. Karanglewas Kab. Banyumas tahun 2011.
Dewan Standarisasi Nasional. 1995. SNI: Gula Kelapa Krital SII 0268-85. Dewan Standarisasi Nasional: Jakarta.
Iqbal, M. 2014. Kajian Pengaruh Penambahan Ekstrak Jahe, Kencur dan Temulawak Terhadap Sifat Sensori dan Kimia Gula Kelapa Kristal. Skripsi. Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Jenderal Soedirman: Purwokerto.
Mustaufik dan H. Dwiyanti. 2007. Rekayasa Pembuatan Gula Kelapa Kristal yang Diperkaya dengan Vitamin A dan Uji Preferensinya kepada Konsumen. Laporan Penelitian. Peneliti Muda Dikti Jakarta. Jurusan Teknologi Pertanian Unsoed: Purwokerto (tidak dipublikasikan).
Mustaufik dan P. Haryanti. 2006. Evaluasi Mutu Gula Kelapa Kristal yang Dibuat dari Bahan Baku Nira dan Gula Kelapa Cetak. Laporan Penelitian. Peneliti Muda Dikti Jakarta. Jurusan Teknologi Pertanian Unsoed: Purwokerto (tidak dipublikasikan).
Pragita, T.E. 2010. Evaluasi Keragaman dan Penyimpangan Mutu Gula Kelapa Kristal (Gula Semut) Di Kawasan Home Industri Gula Kelapa Kabupaten Banyumas. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman: Purwokerto. (tidak dipublikasikan).






Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Biaya

1.      Peralatan Menunjang
No
Material
Justifikasi Pemakaian
(15 pengrajin gula)
Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Wajan Besar
Proses produksi
15 unit
Rp. 75.000,- /unit
Rp.1.125.000,-
2
Tungku semen
Proses produksi
15 unit
Rp. 30.000,-/unit
Rp.   450.000,-
3
Pengayak
Proses produksi
15 unit
Rp. 11.000,-/unit
Rp.   165.000,-
4
Batok penggerus
Proses produksi
1 Kg
Rp. 10.000,-/Kg
Rp.    10.000,-
5
Pengaduk
Proses produksi
15 unit
Rp. 10.000,-/unit
Rp.   150.000,-
6
Pongkor Bambu
Proses produksi
30 unit
Rp.  5.000,-/unit
Rp.   150.000,-
7
Pisau Sadap
Proses produksi
15 unit
Rp. 20.000,-/unit
Rp.   300.000,-
8
Tali Rafia 1/2kg
Proses produksi
7 rol
Rp. 5.000,-/rol
Rp.     35.000,-
9
Tutup Wajan
Proses produksi
15 unit
Rp. 15.000,-/unit
Rp.   225.000,-
10
Timbangan
Proses produksi
1 unit
Rp. 350.000,-/unit
Rp.   350.000,-
11
Ciduk Laru
Proses produksi
15 unit
Rp. 5.000,-/unit
Rp.     75.000,-
12
Kain saring 1,2 m
Proses produksi
15 unit
Rp. 6.000/unit
Rp.     90.000,-
SUB TOTAL (Rp)
Rp 3.125.000



2.      Bahan Habis Pakai
No
Bahan
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan
(Rp)
Jumlah (Rp)
1
Serbuk gergaji
Proses produksi(15 orang)
45 karung
Rp. 5.000,-/karung
Rp.    225.000,-
2
Jahe
Substitusi pada gula
(15 orang)
75 Kg
Rp. 15.000,-/Kg
Rp. 1.125.000,-
3
Temulawak
Substitusi pada gula
(15 orang)
75 Kg
Rp. 10.000,-/Kg
Rp.    750.000,-
4
Kunyit
Substitusi pada gula
(15 orang)
75 Kg
Rp. 12.000,-/Kg
Rp.    900.000,-
5
Serbuk Manggis
Substitusi pada gula
(15 orang)
75 Kg
Rp. 16.000,-/Kg
Rp. 1.200.000,-
6
Kayu Bakar
Proses produksi
(15 orang)
75 ikat
Rp. 3.000,-/ikat
Rp.    225.000,-
7
Laru
Bahan produksi
15 bungkus
Rp. 5.000,-/bungkus
Rp.      75.000,-
8
Minyak Kelapa
Bahan  produksi
7 Kg
Rp. 7.500,-/Kg
Rp.      52.500,-
9
Korek Gas
Proses produksi
15 unit
Rp. 1.000,-/unit
Rp.      15.000,-
10
Minyak Tanah
Proses produksi
5 liter
Rp. 10.000,-/liter
Rp.      50.000,-
11
Plastik Pengemas
Pengemasan
14 pcs
Rp. 25.000,-/50 pcs
Rp.    350.000
SUB TOTAL (Rp)
Rp. 4.967.500,-




3.      Perjalanan
No
Material
Justifikasi Perjalanan
Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Perjalanan ke lokasi pengabdian
Untuk semua kegiatan (5 orang)
20 kali
Rp. 20.000,-/kali
Rp. 2.000.000,-
2
Perjalanan di purwokerto
Untuk membeli alat dan bahan
20 kali
Rp. 15.000,-/kali
Rp.    300.000,-
3
Perjalanan barang
Mengantar barang berat
5 kali
Rp. 100.000,-/kali
Rp.    500.000,-
4
Perjalanan produk
Pemasaran produk
3 kali
Rp. 100.000,-/kali
Rp.    300.000,-
SUB TOTAL (Rp)
Rp. 3.100.000,-



4.      Lain-lain
No
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Administrasi
Keperluan rapat
5 kali
Rp. 30.000,-/kali
Rp.    150.000,-
2
Sosialisasi
Cetak banner
4 kali
Rp. 45.000,-/kali
Rp.    180.000,-
3
Laporan
Laporan/monev
2 kali
Rp. 30.000,-/kali
Rp.      60.000,-
4
Dokumentasi
Dokumentasi kegiatan
16 kali
Rp. 3.000,-/kali
Rp.      48.000,-
5
Pengujian Mutu
Pengujian kualitas produk gula
3 kali
Rp. 100.000,-/kali
Rp.    300.000,-
6
Konsumsi
Sosialisasi dan rapat
10 kali
Rp. 50.000,-/kali
Rp.    500.000,-
SUB TOTAL (Rp)
Rp. 1.238.000,-
Total (Keseluruhan)
Rp 12.430.500,-






Lampiran diagram alir proses pembuatan gula kelapa kristal dengan penambahan ekstrak rempah (Iqbal, 2014)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship