-->

CONTOH PKM AI (ARTIKEL ILMIAH) / EKOLOGI GULMA PERKEBUNAN KUBIS (Brassica oleracea L.) DI DESA BUNTU, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH

CONTOH PKM AI (ARTIKEL ILMIAH) / EKOLOGI GULMA PERKEBUNAN KUBIS (Brassica oleracea L.) DI DESA BUNTU, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM

EKOLOGI GULMA PERKEBUNAN KUBIS (Brassica oleracea L.) DI DESA BUNTU, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH


BIDANG KEGIATAN: PKM-AI
Diusulkan oleh :

Betta Ady Gunawan            B1J009023 / 2009

Asti Fitriani                          B1J009009 / 2009

Faisal Anggi Pradita           B1J010012 / 2010

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO




EKOLOGI GULMA PERKEBUNAN KUBIS (Brassica oleracea L.) DI
DESA BUNTU, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH
Betta Ady Gunawan, Asti Fitriani, Faisal Anggi Pradita
Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto 53122, Jawa Tengah, Indonesia

ABSTRAK

Gulma merupakan tumbuhan liar yang tumbuh secara alami dan menjadi pesaing bagi tanaman utama, sehingga keberadaannya tidak dikehendaki karena merugikan pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya. Perkebunan kubis (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu tanaman budidaya yang ditanam oleh masyarakat Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo yang memiliki daya jual tinggi di daerah tersebut. Gulma tanaman kubis tak jarang menggangu perkebunan kubis disaat masa tanam. Kemampuan kompetisi dari gulma kubis ini membuat hasil dan kualitas perkebunan kubis menjadi menurun. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan lanjut untuk menekan pertumbuhan gulma perkebunan kubis ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekologi gulma perkebunan kubis di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung di lokasi perkebunan kubis dan dengan menggunakan teknik wawancara openended. Jenis gulma yang ditemukan adalah Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides, dan Cynodon dactylon. Jenis gulma yang dominan adalah Ageratum conyzoides. Permasalahan dalam pengelolaan gulma adalah jumlah gulma terlalu banyak sehingga seringkali penggunaan herbisida kurang efektif. Oleh karena itu, pemberantasan gulma dengan cara dicabut secara berkala serta menggunakan herbisida.
Kata kunci: gulma, perkebunan kubis, Wonosobo.

ABSTRACT

Weeds are plants that grow naturally and a contender for the main crop, so its existence is not required because it is detrimental to the growth and cultivation of crop production. Plantations of cabbage (Brassica oleracea L.) is one of the cultivation of crops planted by villagers of Buntu, District Kejajar, Wonosobo Regency who have high selling power in the area. Weed of cabbage plant often disturb the cabbage plantation during the time of planting. The ability of this cabbage weed competition makes the results and quality of cabbage plantation into a decline. Therefore, the need for further actions to suppress the growth of weeds cabbage plantation. The purpose of this research is to know the ecology of weeds in a Buntu’s Village cabbage plantation, District Kejajar, Wonosobo Regency. The method of data collection is done by direct observation in cabbage plantations and by using open-ended interview techniques. Types of weeds that are found is Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides, and Cynodon dactylon. A kind of weeds dominant is Ageratum conyzoides. Problems in the management of weeds is the sum of weeds too much so often the use of a herbicide less effective.
Therefore, eradication weed in an inalienable manner periodically and using herbicides.
Keywords: weed, cabbage plantation, Wonosobo.

PENDAHULUAN

Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada suatu tempat dan keberadaannya tidak diinginkan karena mengganggu tanaman budidaya atau dapat mengganggu aktifitas manusia. Dalam konteks ekologi gulma tanaman budidaya (weedcrop ecology), gulma adalah tumbuhan yang berasal dari lingkungan alami dan secara kontinyu mengganggu tanaman dan aktifitas manusia dalam mengusahakan tanaman budidaya (Aldrich, 1984). Masalah gulma sebenarnya merupakan masalah penting dalam usaha pertanian, namun tidak mendapat perhatian seperti hama atau penyakit tanaman yang lainnya. Hal tersebut disebabkan karena kerugian yang ditimbulkan oleh gulma sedikit demi sedikit tidak langsung bisa dilihat, tetapi sebenarnya sangat menurunkan hasil panen. (Moenandir et al., 1993 dalam Utami 2004). Keberadaan gulma yang dibiarkan tumbuh pada tanaman budidaya akan menurunkan 20 – 80% hasil panen. Penurunan hasil tanaman sangat bervareasi tergantung dari berbagai faktor, antara lain kemampuan tanaman berkompetisi, jenis-jenis gulma, umur tanaman dan umur gulma, tehnik budidaya dan durasi mereka berkompetisi (Utami, 2004).
Buntu merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Luas desa ini 3,34 km² dengan suhu udara ± 25ºC, pH tanah 6,8, suhu tanah ± 21ºC. Desa Buntu berada di ketinggian ± 600 m dpl. Pencaharian utama masyarakat buntu adalah sebagai petani sayuran. Sayuran yang banyak dibudidayakan yaitu kubis (Anonim, 2010). Kubis (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu komoditi perekonomian masyarakat Wonosobo. Tanaman kubis merupakan tanaman sayur-sayuran yang telah banyak diusahakan para petani di pedesaan Indonesia, karena banyak mengandung vitamin A 200 IU, B 20 IU dan C 120 IU mgr (LIPTAN, 1993). Sebagian kubis tumbuh baik pada ketinggian 100-200  m dpl, tetapi jumlah varietasnya tidak banyak dan tidak dapat menghasilkan biji. Pada daerah dengan ketinggian di bawah 100 m, tanaman kubis tumbuh kurang baik (Permadi dan Sastrosiswojo, 1993).
Tanaman kubis tumbuh baik pada lahan pertanian yang gembur, mudah menahan air dan tanah tersebut banyak mengandung humus. Tanaman kubis menghendaki iklim dengan suhu relatif rendah, kelembaban tinggi dan tumbuh baik pada ketinggian 1000 - 2000  dpl. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara pencangkulan tanah sebanyak 2 kali, pencangkulan pertama sedalam 30-40  cm, kemudian dibiarkan dahulu untuk mendapat sinar matahari selama 7 - 10  hari. Setelah itu, dicangkul untuk kedua kalinya sekaligus diberi pupuk kandang sebanyak 10 - 15  ton /ha dan dibuatkan bedengan selebar 100 cm. Pada waktu berumur 2 dan 4 minggu setelah tanam diberikan pupuk buatan ZA 400 kg/ha, DS 200  kg/ha (Arif,  1990).
Sebagai komoditas pertanian andalan di Kabupaten Wonosobo Propinsi Jawa Tengah yang bernilai ekonomi tinggi, maka peningkatan produksi kentang dan kubis adalah satu-satunya pertimbangan utama dalam usaha tani. Usaha peningkatan produksi kentang dan kubis dipengaruhi adanya faktor pembatas penting di lapangan antara lain adanya serangan hama dan penyakit tumbuhan (Rukmana, 1997 dalam Purwantisari dan Hastuti, 2009). Selain itu faktor pengganggu seperti tumbuhnya gulma, jenis tanah, pemberian obat kimia, cuaca dan musim di sekitar perkebunan kubis membuat hasil dan kualitas panen menurun.
Kemampuan gulma menekan pertumbuhan tanaman budidaya sangat ditentukan oleh jenisnya, kepadatan, dan lamanya gulma tumbuh di pertanaman. Ketiga faktor tersebut menentukan derajat persaingan gulma dalam memperoleh sumberdaya yang tersedia. Pengendalian gulma dilakukan dengan tujuan untuk membatasi investasi gulma sedemikian rupa sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien atau merupakan prinsip mempertahankan kerugian minimum yaitu menekan populasi gulma sampai pada tingkat populasi yang tidak merugikan secara ekonomi atau tidak melampaui ambang ekonomi, namun dalam pengendaliannya diperlukan pengetahuan yang cukup tentang gulma yang bersangkutan dan teknik penanggulangannya dan salah satu perbaikan teknik budidaya adalah usaha pengelolaan gulma dengan tidak merusak lingkungan (Froud-Williams, 2002 dalam Hidayati, 2009).

BAHAN DAN METODE

Lokasi penelitian dalam pengamatan ekologi gulma ini dilakukan di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo  pada bulan Desember 2012 di salah satu perkebunan kubis masyarakat Desa Buntu dan mengamati tumbuhan gulma yang tumbuh di perkebunan kubis. Alat dan bahan yang digunakan antara lain gunting tanaman, cetok, kantong plastik, meteran, tali rafia, kamera digital dan alat tulis.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan langsung di lapangan dengan cara :
1.    Metode survey dengan membuat petak transek kuadran berukuran 1 x 1 meter yang diletakkan secara acak.
2.    Mengetahui komposisi jenis dan kerapatan jenis gulma, menggunakan rumus :


Indeks Nilai Penting = Frekuensi Relatif (FR) + Kerapatan Relatif (KR)
3.    Metode wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik open-ended dimana teknik ini dilakukan dengan tanya jawab secara rinci untuk mengetahui permasalahan yang dialami oleh petani dan perkebunan kubis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dimulai dengan melakukan pembuatan transek diperkebunan kubis. Transek berukuran 1x1 meter diletakkan secara random dan dilakukan pengamatan jenis-jenis gulma yang termasuk didalam transek tersebut. Kelengkapan data juga diperoleh dengan melakukan wawancara kepada petani kubis yaitu Ibu Hariyanti. Data hasil wawancara ditabulasikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 1.    Data hasil wawancara dan inventarisir permasalahan areal perkebunan kubis.
No.
Uraian Kegiatan
Jenis Tanaman Budidaya Kubis
1.
Sistem budidaya
Monokultur
2.
Jarak tanam
20-30  cm
3
Jenis gulma
Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides,
Cynodon dactylon,
Dymaria stylosa, Ageratum houstorianum, Dymaria cordata, Oxalis corniculata, Eleusine indica, Paspalum paspaloides, Amaranthus lividus, Capsella burva pastolris, Borreria alata, Amaranthus spinosus, Polygonum sp., Portulaca aleracea, dan Artemisia vulgaris
4
Dominansi gulma
Ageratum conyzoides
5
Permasalahan gulma
Jumlah gulma terlalu banyak sehingga terkadang penggunaan herbisida kurang efektif
6
Kondisi lingkungan
Di sekitar tanaman kubis masih sering terdapat gulma.
7
Pemberantasan gulma
Pemberantasan gulma dengan cara pencabutan secara berkala atau terkadang juga disiangi serta menggunakan herbisida jika diperlukan
8
Jenis obat yang digunakan untuk memberantas gulma
bahan aktif 1,1′-dimetil-4,4′-bipiridin (paraquat) ( Anonim,  2012)

Tabel 2. Data Penambahan jenis gulma pada berbagai ukuran kuadrat
No.
Ukuran kuadrat
Jumlah jenis
Jenis Gulma
1.
25 x 25 cm
4
Cyperus rotundus, Cynodon dactylon, Dymaria stylosa, Ageratum houstorianum
2.
25 x 50 cm
2
Dymaria cordata, Oxalis corniculata
3.
50 x 50 cm
2
Ageratum conyzoides
Eleusine indica
4.
50 x 100 cm
3
Paspalum paspaloides
Amaranthus lividus
Capsella burva pastolris
5.
100 x 100 cm
1
Borreria alata

Gulma - gulma yang tumbuh di perkebunan kubis

Tabel 1. merupakan hasil wawancara dengan petani perkebunan yaitu Ibu Hariyanti yang dilakukan pada saat pengamatan di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Perkebunan kubis ini berada pada ketinggian 600 m dpl dan memiliki temperatur antara 22-250C dengan suhu tanah 210C. Luas daerah Desa Buntu adalah 3,34 Km2. Areal perkebunan ini ditanami dengan tanaman kubis. Jenis-jenis gulma yang ada ditanaman kubis ini adalah Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides, Cynodon dactylon, Dymaria stylosa, Ageratum houstorianum, Dymaria cordata, Oxalis corniculata, Eleusine indica, Paspalum paspaloides, Amaranthus lividus, Capsella burva pastolris, Borreria alata, Amaranthus spinosus, Polygonum sp., Portulaca aleracea, dan Artemisia vulgaris Tetapi jenis gulma yang paling dominan di perkebunan ini menurut petani di perkebunan kubis adalah Ageratum conyzoides yaitu jenis gulma berdaun lebar.


Gambar 1. Gulma Ageratum conyzoides
Bandotan (Ageratum conyzoides) merupakan gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Bandotan disebut juga sebagai babandotan (babadotan), wedusan, dan dus-bedusan. Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Tumbuhan tersebut didatangkan ke Jawa sebelum tahun 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia ( Soerjani,  1987).
Luas minimum didapatkan setelah persentase penambahan jenis baru kurang dari ≥10%, jika presentase penambahan kurang dari 10% maka pembuatan petak dihentikan. Dari data hasil praktikum dan perhitungan luas minimum dapat dtentukan setelah pembuatan petak kelima dengan luas petak 1,00 x 1,00 m2 =1,00 m2 dengan jumlah jenis 12 sehingga didapatkan presentase 1/11 x 100% = 9,09%. Nilai kisaran luas minimum yang dihasilkan sebesar 0.25 m2. Luas daerah vegetasi yang telah diambil diatasnya sangat bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 0,25 m2 sampai 1m2. Indeks nilai penting (INP) terbesar yaitu pada Oxalis corniculata sebesar 72,91 %, sedangkan yang terendah yaitu Polygonum sp. dengan nilai indeks penting sebesar 4,92 %. Frekuensi total sebesar 4,6, kerapatan total sebesar 34, KR tertinggi sebesar 51,17% dan FR tertinggi sebesar 21,74%.
Tanaman kubis atau kol merupakan salah satu jenis sayuran dari genera Brassica yang tergolong kedalam familia Cruciferae (Brassicaeae) (Sastrosiswojo, 1993). Tanaman kubis ini berasal dari daerah subtropis dan telah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Produksi kubis di negara kita, selain untuk memenuhi keperluan dalam negeri, juga merupakan komoditas ekspor. Kubis termasuk kelompok enam besar sayur segar yang diekspor Indonesia, yakni bersama-sama dengan tomat, lombok dan bawang merah (Rukmana, 1994). Daun-daun berbentuk bulat telur sampai lonjong, lebar dan berwarna hijau. Daun-daun atas pada fase generatif akan saling menutupi satu sama lain membentuk krop. Bentuk krop bervariasi, bulat telur, gepeng dan kerucut. Tanaman kubis yang dibudidayakan umumnya berhabitus perdu dan tumbuh semusim (annual) ataupun dwi musim (biennual). Sistem perakaran relatif dangkal (20-30 cm). Batang tanaman kubis pendek dan banyak mengadung air (herbaceous). Disekeliling batang hingga titik tumbuh, terdapat helaian daun yang bertangkai ( Rukmana, 1994).

Pengendalian Gulma

Gulma merupakan tumbuhan liar yang tumbuh secara alami dan menjadi pesaing bagi tanaman utama, sehingga keberadaannya tidak dikehendaki karena merugikan pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut. Kemudian untuk mengatasi gulma yang ada pada perkebunan kubis, gulma disiangi dengan cara mencabut rumput-rumput atau dengan menggunakan herbisida. Herbisida yang digunakan untuk mengatasi gulma-gulma yang tumbuh adalah 1,1′-dimetil-4,4′bipiridin (paraquat) (Anonim, 2012). Bahan aktif ini digunakan oleh petani-petani yang ada di Desa Buntu. Tanaman pokok yaitu kubis jika masih berumur sangat muda maka pengendalian gulma dilakukan secara manual tetapi jika umur tanaman sudah dewasa maka pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida kontak atau sistemik (Bhaktibina, 2011). Menurut Ramli (2010), Upaya yang perlu dilakukan ialah dengan mengembangkan varietas kubis dataran rendah yang saat ini mulai dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia Untuk mendapatkan varietas tersebut perlu kiranya memodifikasi iklim mikro sekitar tanaman, karena diketahui bahwa dataran rendah umumnya memiliki suhu cukup tinggi dibandingkan pada dataran tinggi. Modifikasi iklim mikro diantaranya dengan menggunakan mulsa jerami dan mulsa plastik, bertujuan menjaga kelembaban sekitar perakaran tanaman dengan mengurangi evapotranspirasi yang tinggi.


Gambar 2. Penggunaan penutup plastik pada tanaman kubis di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Wonosobo.
Pengendalian gulma pada tanaman budidaya menurut hasil penelitian Hidayati (2009) dapat dilakukan dengan menggunakan bokashi. Nilai rata-rata efisiensi pengendalian gulma dan pengaruh antar perlakuan tidak menunjukkan pengaruh interaksi antara perlakuan pengendalian gulma dengan perlakuan bokashi, akan tetapi masing-masing perlakuan pengendalian berpengaruh signifikan terhadap efisiensi pengendalian gulma. Nilai rata-rata tertinggi dicapai oleh perlakuan pengendalian secara kimia (p3). Selanjutnya, pengaruh perlakuan (p3) sama dengan perlakuan mulsa (p2) dan berbeda dengan perlakuan pengendalian secara manual (p1) dan tanpa pengendalian (p0).
Perlakuan pengendalian secara kimia dan pengendalian secara kultur tehnik (penggunaan mulsa) memberi pengaruh yang sama terhadap EPG (Efisiensi Pengendalian Gulma) sehingga dapat dipastikan bahwa untuk menghemat tenaga biaya dan waktu serta tidak merusak lingkungan maka pengendalian gulma secara kultur tehnik (penggunaan mulsa) dapat menggantikan pengendalian gulma secara kimia dan lebih layak/efektif diterapkan pada areal yang tidak terlalu luas (areal tanaman pangan) (Hidayati, 2009). Menurut Syamsudin (2006) bahwa dengan pemberian mulsa yang dihamparkan diatas permukaan tanah dapat mengurangi laju pertumbuhan gulma dan efektif dibanding dengan penggunaan herbisida pratumbuh.
Menurut hasil penelitian Nasikhun, et al. (2011) pemeliharaan dan pengendalian tanaman kubis untuk terhindar dari gangguan gulma dapat dilakukan dengan cara pengairan atau penyiraman, pemupukan, penyiangan dan pendangiran serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiangan dan pendangiran dilakukan pada tanaman berumur 20 hari dengan cara mencabut gulma disekitar tanaman, kemudian dicangkul untuk membuat alur.

Penyakit pada Tanaman Pokok

Tanaman kubis biasanya diserang oleh hama ulat kubis (Plutella maculipennis), dikendalikan dengan Diazinon atau Bayrusil 1-2  cc/1 air dengan frekuensi penyemprotan 1 minggu. Sedangkan ulat kubis (Crocidolonia binotalis) dikendalikan dengan  Bayrusil 13 cc/1 air.  Salah satu masalah dalam budidaya tanaman kubis adalah hama ulat krop (Crocidolomia binotalis). Stadium larva C. binotalis merupakan hama potensial pada tanaman keluarga Brassicaceae, salah satunya adalah tanaman kubis ini (Pracaya, 2009 dalam Widiana dan Zeswita, 2012). Selain itu kubis terkadang juga diserang oleh patogen yang menyebab penyakit pada tanaman kubis ini misalnya penyakit busuk akar yang disebabkan Rhizoktonia sp dapat dikendalikan dengan bubur Bordeaux atau fungisida yang dianjurkan. Busuk hitam (Xanthomonas campestris) dan busuk lunak bakteri Erwinia carotovora dan penyakit pekung Phomalincran, penyakit kaki gajah (Plasmodiophora rassicae) belum dapat diatasi. Bila ada tanaman yang terserang segera dicabut lalu dibakar (Cahyono, 1995). Menurut hasil penelitian Roesmiyanto, et al. (1996) pencelupan akar bibit kobis sampai sebatas batang bawah, sebelum ditanam, dalam larutan Benomil 0,5% dapat mengendalikan penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris) yang sering menyerang tanaman kobis di daerah Gemutri dan Singolangu.

BACA JUGA: PROPOSAL PKM GT (GAGASAN TERTULIS) / EVALUASI LAHAN PERTANIAN DENGAN METODE PENGAWETAN TANAH DAN AIR YANG EFEKTIF SERTA EKONOMIS DI DATARAN TINGGI DIENG

KESIMPULAN

Berdasarkan data dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkebunan kubis Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Wonosobo menggunakan sistem budidaya monokultur dengan jenis gulma yang tumbuh antara lain Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides, Cynodon dactylon, Dymaria stylosa, Ageratum houstorianum, Dymaria cordata, Oxalis corniculata, Eleusine indica, Paspalum paspaloides, Amaranthus lividus, Capsella burva pastolris, Borreria alata, Amaranthus spinosus, Polygonum sp., Portulaca aleracea, dan Artemisia vulgaris Jenis gulma yang dominan adalah Ageratum conyzoide. Banyaknya gulma yang tumbuh membuat beberapa gulma susah diberantas dengan menggunakan herbisida 1,1′-dimetil-4,4′-bipiridin (paraquat). Oleh karena itu, cara pencabutan, disiangi dan diberi herbisida adalah cara yang paling efektif untuk memberantas gulma tersebut. Nilai kisaran luas minimum yang dihasilkan sebesar 0.25 m2. Indeks nilai penting (INP) terbesar yaitu pada Oxalis corniculata sebesar 72,91 %, sedangkan yang terendah yaitu Polygonum sp. dengan nilai indeks penting sebesar 4,92 %. Frekuensi total sebesar 4,6, kerapatan total sebesar 34, Kerapatan Relatif tertinggi sebesar 51,17% dan Frekuensi Relatif tertinggi sebesar 21,74%.

DAFTAR PUSTAKA

Aldrich, R.J. 1984. Weed-crop Ecology. Principles in Weed Management. Nort Scituate, Massachussets: Breton Publisher.
Anonim. 2010. www.wikipedia.com/desa-buntu-kejajar-wonosobo/ diakses 12 maret 2013
______. 2012. kliniktaniorganik.com/herbisida (pengendali gulma), hubungannya dengan konsep pertanian berbasis organik/ diakses 12 Maret 2013 Arief, A. 1990. Hortikultura. Andy Offset. Yogyakarta.
Bhaktibina. 2011. http://bha.ktibina.blogspot.com/2011/01/gulma-dan-pengenda liannya.html. Diakses Tanggal 13 Desember 2012 Pukul 11.21 WIB
Cahyono, B. 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis.     Pustaka. Nusatama. Yogyakarta.
Froud-Williams, R.J. 2002. Weed Competition in Robert. E.L. Naylor (Ed) Weed Management Hand Book. Ninth Edition. Published for The British Crop Protection Council by Blackwell Science.
Hidayati, M. 2009. Komposisi dan Efisiensi Pengendalian Gulma pada Pertanaman Kedelai dengan Penggunaan Bokashi. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako.  Sulawesi Tengah
LIPTAN. 1993. Budidaya Tanaman Kubis. dalam Ringkasan bercocok tanam, tanaman perkebunan dan industri, buah-buahan dan sayuran. Balai Informasi Pertanian Irian Jaya. Jayapura.
Nasikhun, T. Supriyadi, dan Mahananto. 2011. Uji Efektifitas Pupuk Daun terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Kubis (Brassica           oleracea          L.).      Fakultas           Pertanian.           Universitas      Tunas Pembangunan. Surakarta.
Permadi, A. H. dan S. Sastrosiswojo.1993. Kubis. Kejasama antara Badan Penellitian dan Perkembangan Pertanian. Lembang: Balai Penelitian Holtikultura. Bandung
Purwantisari, S., R.S. Ferniah, B. Raharjo. 2008. Pengendalian Hayati Penyakit Lodoh (Busuk Umbi Kentang) dengan Agens Hayati Jamur-jamur Antagonis Isolat Lokal. Vol. 10 (2) : 13-19.
Ramli. 2010. Respon Varietas Kubis (Brassica oleraceae) Dataran Rendah Terhadap Pemberian Berbagai Jenis Mulsa. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako. Sulawesi Tengah.
Roesmiyanto, Suliyanto, H. Sutanto dan Sukadi. 1996. Uji Rakitan Teknologi Pengendalian Terpadu Penyakit Akar Gada pada Tanaman Kobis di Jawa Timur. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.  Karangploso.
Rukmana, R. 1994. KubisKanisius. Yogyakarta.
Sastrosiswojo, S. 1993. Kubis. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Holtikultura. Bandung.
Soerjani, M., A. Kostermans dan Tjitrosoepomo. (Eds.). 1987. Weeds of Rice in Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.
Syamsudin, M. dan D. Baco, 2006. Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kedelai di Nimbokrang Jayapura. Agriss – FAO of the United Nations. p. 31-35. Centre for Agricultural Library and Technology Dissemination Bogor 16122 . Indonesia.
Utami, S. 2004. Kemelimpahan Jenis Gulma Tanaman Wortel pada Sistem Pertanian Organik. Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Jurusan Biologi FMIPA Undip. Semarang
Widiana, R. dan A.L. Zeswita. 2012. Kepadatan Populasi Ulat Krop (Crocidolomia binotalis Zell.) pada Tanaman Kubis (Brassica oleracea L.) di Kenagarian Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok. Prodi Pendidikan Biologi STKIP PGRI . Padang

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship