-->

LAPORAN PKL MANAJEMEN PRODUKSI BENIH PADI PADA PT. SANG HYANG SERI (PERSERO) KECAMATAN SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS

I.  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Peningkatan jumlah penduduk dunia di tiap tahunnya terjadi pula pada negara berkembang seperti Indonesia yang diikuti dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan pangan. Hal tersebut menjadikan kemampuan sumber daya alam sebagai penghasil pangan sangat terbatas. Adanya pengembangan sumberdaya alam yang ditujukan bagi peningkatan produksi pangan sangat dibutuhkan saat ini. Salah satu caranya yaitu dengan meningkatkan produktivitas tanaman pangan secara intensif.
Tanaman pangan merupakan salah satu tanaman yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat di Indonesia. Tak heran jika mayoritas petani di Indonesia berusahatani tanaman pangan karena hasil olahan tanaman pangan memang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Tanaman pangan yang menjadi primadona di Indonesia yaitu padi, sempat membawa Indonesia menjadi negara berswasembada beras yang mampu meningkatkan produksi padi nasional hampir tiga kali lipat pada tahun 1990-an (Las, 2009). Namun saat ini Indonesia berusaha mencapai titik ketahanan pangannya. Rendahnya produktivitas hasil pertanian menjadi salah satu kendala tercapainya ketahanan pangan nasional. Belum lagi tingginya alih fungsi lahan pertanian serta masih banyaknya petani yang kehilangan hasil pertanian saat melakukan panen. Program pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan yang salah satunya ditempuh dengan cara diversifikasi pangan belum membuahkan hasil yang berarti karena masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi beras yang tetap menjadi pilihan bahan makanan pokok mereka. Oleh sebab itu, beras saat ini masih menjadi bahan pangan pokok yang harus tetap diproduksi dan impor pun menjadi pilihan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras.
Ketergantungan negara agraris seperti Indonesia terhadap impor bahan pangan terutama beras semakin besar di tiap tahunnya. Beras menjadi bahan makanan pokok yang memegang peranan penting dalam perekonomian nasional dan beras secara tidak langsung dapat mempengaruhi situasi bahan konsumsi lainnya yakni saat harga beras di pasaran meningkat, maka harga barang konsumsi lainnya juga cenderung meningkat. Kemampuan Indonesia meningkatkan produksi pertanian untuk swasembada dalam penyediaan pangan sangat ditentukan oleh banyak faktor eksternal maupun internal. Satu-satunya faktor eksternal yang tidak dapat dipengaruhi oleh manusia adalah iklim, walaupun dengan kemajuan teknologi saat ini pengaruh negatif dari cuaca buruk terhadap produksi pertanian dapat diminimalisir. Faktor-faktor internal yang dapat dipengaruhi oleh manusia di antaranya adalah luas lahan, benih, pupuk, ketersediaan dan kualitas infrastruktur, dan jumlah serta kualitas tenaga kerja. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dalam keterkaitannya yang optimal, akan menentukan tingkat produktivitas lahan. Saat ini Indonesia, terutama pada bahan pangan beras belum mencukupi kebutuhan permintaan dalam negeri yang berarti bahwa Indonesia harus meningkatkan daya saing dan kapasitas produksi untuk meningkatkan produktivitas pertanian khususnya padi.
Produksi bahan pangan tidak akan mencukupi kebutuhan manusia jika hanya mengandalkan cara berproduksi yang sama tanpa adanya suatu perubahan. Pemilihan dan penggunaan benih yang unggul mampu meningkatkan produktivitas padi secara optimal. Pengelolaan benih padi yang baik berdampak baik pula pada produksi padi secara continue. Padi merupakan tanaman yang hidupnya mengehendaki iklim tropik atau sub-tropik seperti Indonesia sehingga padi tumbuh subur di wilayah Indonesia. Di Indonesia dengan iklim tropiknya yang lembab membuat bahan pangan sulit untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama, namun padi dapat bertahan lama jika disimpan dalam bentuk bulir atau gabah dengan cara penyimpanan yang baik pula.
Benih bermutu tinggi yang berasal dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya hasil per satuan luas pertanaman. Dalam rangka usaha memelihara dan meningkatkan produksi tanaman padi, pengadaan benih bermutu secara mantap dan teratur sangat penting untuk dilaksanakan. Dalam mendapatkan mutu benih yang baik diperlukan adanya suatu manajemen yang baik agar kualitas benih padi tetap terjaga. Tanpa manajeman yang efektif, suatu organisasi tidak akan mampu menjawab setiap tantangan yang timbul sebagai akibat dari perubahan teknologi, perubahan organisasi dan lingkungan dalam aspek kegiatan industri.
Manajemen merupakan suatu seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan, sedangkan manajemen produksi menurut Handoko, 1991 merupakan usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumberdaya, tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah, dan sebagainya dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa. Oleh karena itu dengan adanya manajemen produksi dalam suatu perusahaan khususnya perusahaan benih akan membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan yang matang, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, dan pengendalian produksi agar benih yang dihasilkan dapat memenuhi permintaan petani atau masyarakat dan stock benih pun selalu tersedia untuk kebutuhan pasar.
Pemilihan tempat praktik kerja lapangan di PT Sang Hyang Seri (Persero) Sumpiuh dikarenakan benih yang diproduksi telah disertifikasi sehingga mendapat respon pasar yang positif. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis terdorong untuk dapat mengetahui tentang manajemen produksi benih padi pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.

B. Tujuan Praktik Kerja Lapangan
Tujuan praktik kerja lapangan adalah sebagai berikut :
1.    Mempelajari dan mengikuti kegiatan produksi benih padi pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
2.    Mempelajari manajemen produksi benih padi yang dilakukan pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan  Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
3.    Mengenali permasalahan yang ada dalam manajemen produksi benih padi pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
4.    Mendapatkan pengalaman kerja dengan membandingkan teori yang diperoleh dalam perkuliahan dan kenyataan yang ada di lapangan khususnya pada manajemen produksi.

C. Sasaran Praktik Kerja Lapangan
Sasaran Praktik Kerja Lapangan adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan produksi pengolahan benih padi yang dilaksanakan pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
2. Kegiatan manajemen produksi benih padi pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.

D. Manfaat Praktik Kerja Lapangan
Praktik kerja lapangan yang dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :
1. Menambah pengetahuan tentang kegiatan produksi benih padi termasuk di dalamnya prinsip manajemen produksi yang diterapkan pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
2. Mengetahui pelaksanaan manajemen suatu perusahaan.
3. Hasil Praktik Kerja Lapangan ini dapat digunakan sebagai bahan pengembangan bagi PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas dan informasi bagi pembaca khususnya mengenai manajemen produksi benih padi.
4. Sumber informasi untuk penelitian dan penulisan ilmiah.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Benih
Indonesia tergolong salah satu negara berpenduduk paling besar ke-4 di dunia berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2012, dengan populasi diatas 245 juta jiwa. Berdasarkan hal tersebut beras merupakan komoditas yang memiliki potensi penting dengan tingkat konsumsi penduduk yang masih belum stabil (Nurainal, 2012). Dari sekian banyak jumlah penduduk yang ada mayoritas mengkonsumsi beras untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Melihat hal tersebut, produksi akan beras masih terus ditingkatkan terlebih lagi dalam memproduksi dan menjaga kualitas benih padi yang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan tumbuhnya tanaman padi.
Benih merupakan faktor penting pada suatu pertanaman karena benih merupakan awal kehidupan dari tanaman yang bersangkutan. Benih adalah biji tanaman yang sengaja diproduksi dengan teknik-teknik tertentu, sehingga memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai bahan pertanaman selanjutnya (Kartasapoetra, 2003). Benih adalah simbol dari suatu permulaan. Benih merupakan inti dari kehidupan di alam karena kegunaannya sebagai penerus dari generasi tanaman.
Biji merupakan bagian terbesar dari benih dan di dalam biji mengandung tanaman mini, yang dilengkapi dengan struktur dan fisiologi yang sesuai dengan perannya sebagai unit penyebaran atau perbanyakan. Di samping itu telah dilengkapi secara sempurna dengan cadangan makanan, untuk mendukung tanaman muda sampai dia mampu memenuhi kebutuhan sendiri sebagai organisme autotrophic. Dalam konteks agronomi, benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju, karenanya benih dituntut agar memiliki mutu yang tinggi. Mutu atau kualitas benih yang baik, adalah kemampuan benih untuk memperlihatkan persentase perkecambahan yang tinggi, persentase biji rumput-rumputan yang rendah, kekuatan tumbuh yang tinggi, bebas dari hama dan penyakit serta kontaminan - kontaminan lainnya (Kuswanto, 1996).
Kegagalan benih untuk memenuhi satu atau lebih faktor-faktor di atas, dapat dipandang bahwa benih tersebut berkualitas kurang baik. Kebenaran varietas (benih yang benar), adalah benih yang mempunyai sifat-sifat genetis yang sesuai dengan hasil sertifikasi yang dilakukan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).
Menurut Wirawan dan Sri Wahyuni (2002) kelas benih dikelompokkan menjadi empat yaitu :
1. Benih Penjenis (BS)
Adalah benih yang diproduksi dan dibawah pengawasan langsung pemulia tanaman dan merupakan sumber untuk perbanyakan Benih Dasar (FS), Benih Pokok (SS), dan Benih Sebar (ES).
2. Benih Dasar (FS)
Adalah keturunan pertama dari benih penjenis yang diproduksi dibawah bimbingan yang intensif dan pengawasan yang kuat sehingga kemurnian varietas yang tinggi dapat dipelihara. Benih Dasar (FS) diproduksi oleh intansi atau badan yang ditetapkan oleh Badan Benih Nasional (BBN) dan yang merupakan sumber kelas Benih Pokok (SS) atau Benih Sebar (ES). Benih dasar diberi label sertifikasi berwarna putih.
3. Benih Pokok  (SS)
Adalah keturunan dari Benih Penjenis (BS) atau Benih Dasar (FS) yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas maupun tingkat kemurnian varietas memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan serta telah disertifikasi sebagai benih pokok oleh team pengawas mutu benih. Benih pokok diberi label sertifikasi berwarna ungu.
4. Benih Sebar ( ES )
Adalah keturunan dari benih pokok yang diproduksi oleh instansi atau penangkar benih yang dipandang mampu sesuai ketetapan Badan Benih Nasional ( BBN ). Benih sebar diberi label sertifikasi berwarna biru.

B.       Deskripsi dan Karaktersitik Tanaman Padi
Padi merupakan tanaman yang masih banyak diminati masyarakat untuk diproduksi mengingat beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Pada umumnya tanaman padi menghendaki iklim tropik atau sub tropik dalam hidupnya serta tempat dan lingkungan yang terbuka dengan banyak mendapatkan sinar matahari. Padi dapat tumbuh baik di daerah yang panas dan udaranya banyak mengandung uap air. Padi ditanam dari dataran rendah sampai dengan 1.300mdpl. Padi dapat diusahakan di tanah kering maupun tanah sawah (Ismunadji, 1990).
Tanaman yang memiliki nama latin Oryza sativa menurut Soemartono et al 1984 ini memiliki akar tunggang yang terjadi dari akar lembaga terus masuk ke dalam tanah. Namun 5-6 hari sesudah lembaga tumbuh, pangkal batang muda mengeluarkan akar serabut yang berangsur-angsur bertambah banyak. Akar-akarnya masuk ke dalam tanah hanya sedalam lapisan tanah yang dikerjakan, jadi umumnya tidak lebih dalam dari 25cm.
Batang tanaman ini beruas-ruas yang sebagian besar kosong hanya bagian atas dekat dengan buku berisi empulur yang lunak dan berwarna putih. Tinggi tanaman dari berbagai jenis tidak sama. Tinggi tanaman padi maksimum ±1,5 meter sedangkan tinggi rata-rata adalah 80-120cm.
Daun padi terdiri dari pelepah yang membalut batang dan helai daun. Pada perbatasan antara kedua bagian ini di tengahnya terdapat lidah dan di sisinya telinga daun. Sambungan antara pelepah dan helai daun berupa sendi. Adanya lidah pada daun padi membuat air hujan yang mengalir dari helai daun tidak dapat masuk di sela antara batang dan pelepah. Permukaan helai daun sebelah atas berbulu sedangkan yang bawah tidak.
Padi memiliki bunga yang biasa disebut malai. Bunga malai adalah bulir majemuk yakni ibu tangkai bunga bercabang-cabang dan masing-masing cabang mendukung bunga dengan susunan seperti bulir. Tangkai bunga malai sebagian terbalut oleh daun. Jumlah cabang dan jumlah bunga tergantung dari varietas yang ditanam. Jumlah cabang rata-rata 15-20, minimum 7 dan maksimum 30. Beras adalah putih lembaga (endosperm) dari sebutir buah yang erat terbalut oleh kulit ari. Kulit ari sebenarnya terdiri dari kulit biji dan dinding buah yang berpadu menjadi satu.
Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, taksonomi padi dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Nurainal, 2012) :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Monocotiledonae
Ordo                : Poales
Famili              : Poaceae
Genus              : Oryza
Spesies : Oryza sativa L.
Tanaman padi memiliki banyak varietas, namun secara umum padi dibedakan menjadi 3 varietas yaitu (Purnomo, 2012) :
1.        Varietas Padi Hibrida. Varietas padi ini memiliki hasil yang maksimal apabila sekali ditanam, tetapi apabila keturunannya ditanam kembali maka hasilnya akan berkurang jauh. Varietas ini memang dibuat atau direkayasa oleh pemiliknya untuk sekali tanam saja. Contoh Padi Hibrida antara lain Intani 1 dan 2, PP1, H1, Bernas Prima, Rokan, SL 8 dan 11 SHS, Segera Anak, Sembada B3, B5, B8 dan B9,  Hipa4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Hipa 7, Hipa 8, Hipa 9, Hipa 10, Hipa 11, Long Ping (Pusaka 1 dan 2), Adirasa-1, Adirasa-64,  Hibrindo R-1, Hibrindo R-2, Manis-4 dan 5, MIKI-1,2,3, SL 8 SHS, SL 11 HSS.
2.        Varietas Padi Unggul. Varietas ini adalah varietas yang mampu berkali-kali ditanam dengan perlakuan yang baik. Hasil panen varietas ini dapat dijadikan benih kembali. Contoh dari varietas ini antara lain Ciherang (bisa mencapai 47 % dari total varietas yang ditanam), IR-64, Mekongga, Cimelati, Cibogo, Cisadane, Situ Patenggang, Cigeulis, Ciliwung, Membramo, Sintanur, Jati luhur, Fatmawati, dan Situbagendit.
3.        Varietas Padi Lokal. Varietas padi lokal adalah varietas padi yang sudah lama beradaptasi di daerah tertentu, sehingga varietas ini mempunyai karakteristik spesifik lokasi di daerah tersebut. Contoh varietas padi lokal antara lain varietas Kebo, Dharma Ayu, Pemuda Idaman (Indramayu), Gropak, Ketan Tawon, Gundelan (Malang), Merong (Pasuruan), Simenep, Srimulih, Andel Jaran, Ketan Lusi, Ekor Kuda, hingga Gropak (Kulon Progo-Jogja), Angkong, Bengawan dan Engseng.
Pada pengolahan tanaman padi, banyak tidaknya hasil padi sebagian bergantung pada varietas yang ditanam dan sudah pasti diimbangi pula dengan kegiatan pengelolaan yang baik dalam pengolahan.

C.Manajemen Produksi
Proses produksi yang baik dan lancar tidak terlepas dari sistem manajemen yang baik, sehingga dalam hal ini untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan yang diharapkan maka dibutuhkan suatu manajemen yang bisa mengelola keseluruhan kegiatan produksi tersebut.
Manajemen atau yang sering disebut dengan pengelolaan atau tata laksana merupakan suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian serta pengendalian. Dengan demikian unsur-unsur yang terkandung di dalam manajemen terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian serta pengendalian.
a.              Perencanaan
Perencanaan adalah serangkaian keputusan yang diambil sekarang, untuk dikerjakan pada waktu yang akan datang. Perencanaan ini mempunyai arti yang sangat penting bagi seluruh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan. Titik berat dari penyusunan perencanaan ini terdapat pada pembuatan keputusan, dimana keputusan-keputusan tersebut akan dilaksanakan oleh perusahaan pada waktu yang akan datang, yaitu pada periode pelaksanaan perencanaan tersebut.
b.             Pengorganisasian
Organisasi seringkali diartikan sebagai kerjasama dari dua orang atau lebih, dengan atau tanpa peralatan lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam sebuah perusahaan, kerjasama sangat mutlak diperlukan, karena kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada suatu perusahaan tersebut merupakan kegiatan yang sangat komplek. Faktor yang paling penting dalam masalah pengorganisasian ini adalah bagaimana kerjasama yang baik dapat diciptakan dalam lingkungan perusahaan.
c.              Pengarahan
Dalam suatu perusahaan, pengarahan ini sangat diperlukan agar pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. Tanpa adanya pengarahan yang baik, maka pelaksanaan kerja dalam suatu organisasi perusahaan akan mengikuti aspirasinya sendiri-sendiri, atau paling tidak akan mengikuti aspirasi dari bagiannya masing-masing, sehingga tujuan kerja tidak dapat tercapai.
d.             Pengkoordinasian
Pelaksanaan kegiatan di dalam perusahaan tidaklah berjalan dengan baik tanpa adanya koordinasi antar bagian yang baik pula. Kegiatan-kegiatan dalam suatu perusahaan akan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, sehingga keberhasilan dari suatu kegiatan akan berpengaruh pula pada kegiatan yang lain.
e.              Pengawasan atau pengendalian
Semua kegiatan dalam sebuah perusahaan memerlukan adanya pengendalian. Pengendalian diartikan sebagai pengawasan, dan sekaligus dapat mengambil beberapa tindakan untuk melakukan perbaikan apabila terjadi penyimpangan dalam proses produksi (Ahyari 1999).
Adanya manajemen yang diterapkan dalam kegiatan produksi suatu perusahaan, maka dapat menghasilkan output yang baik pula. Manajemen yang digunakan tersebut disebut manajemen produksi. Menurut Fahmi 2012, manajemen produksi merupakan suatu ilmu yang membahas secara komprehensif bagaimana pihak produksi perusahaan mempergunakan ilmu dan seni yang dimilikinya dengan mengarahkan dan mengatur orang-orang untuk mencapai suatu hasil produksi yang diinginkan. Assauri (1999) menyatakan bahwa manajemen produksi merupakan suatu proses manajemen yang meliputi beberapa keputusan dalam bidang-bidang persiapan produksi termasuk diantaranya adalah perencanaan sistem produksi, sistem pengendalian produksi, serta sistem informasi produksi. Ketiga hal tersebut diatas merupakan ruang lingkup dari suatu manajemen produksi, yaitu :
1.            Perencanaan sistem produksi
Sistem produksi merupakan pelaksanaan kegiatan produksi dalam suatu perusahaan dimana diperlukan serangkaian unit ataupun elemen-elemen terpadu dan saling menunjang untuk pelaksanaan proses produksi. Setiap kegiatan proses produksi akan selalu berhubungan satu sama lain, oleh karena itu untuk memperoleh hasil sebaik-baiknya, perlu untuk diadakan perencanaan. Hal-hal yang perlu dibahas dalam perencanaan sistem produksi adalah perencanaan produk, perencanaan lokasi pabrik, perencanaan letak dan fasilitas produksi, perencanaan lingkungan kerja dan perencanaan standar produksi.
2.            Sistem pengendalian produksi
Hal-hal yang perlu dibicarakan dalam sistem pengendalian produksi adalah masalah pengendalian proses produksi, pengendalian bahan baku, pengendalian tenaga kerja, pengendalian biaya produksi, pengendalian kualitas serta pemeliharaan. Sistem pengendalian yang baik sangat diperlukan dalam kegiatan-kegiatan operasi perusahaan, dengan tujuan agar proses produksi dalam perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik.
3.            Sistem informasi produksi
Pelaksanaan kegiatan produksi dalam suatu perusahaan pada dasarnya merupakan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu sistem informasi yang memadai sangat diperlukan dalam mencari penyelesaian atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan.
Pada dasarnya fungsi dasar yang harus dipenuhi oleh aktivitas perencanaan dan pengendalian produksi adalah (Kusuma, 2009) :
1.        Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu.
2.        Menetapkan jumlah dan saat pemesanan bahan baku serta komponen secara ekonomis dan terpadu.
3.        Menetapkan keseimbangan antara tingkat kebutuhan produksi, teknik pemenuhan pesanan, serta memonitor tingkat persediaan produk jadi setiap saat, membandingkannya dengan rencana persediaan dan melakukan revisi atas rencana produksi pada saat yang ditentukan.
4.        Membuat jadwal produksi, penugasan, pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci sesuai dengan ketersediaan kapasitas dan fluktuasi permintaan pada suatu periode.
Manajemen produksi dan operasi berusaha mengkombinasikan dan mengolah faktor-faktor produksi dengan teknik pengelolaan yang sedemikian rupa, sehingga dapat dihasilkan barang dan jasa secara efektif dan efisien baik dalam jumlah, kualitas atau mutu, waktu dan biaya yang diharapkan. Teknik manajemen produksi dan operasi yang tepat diharapkan dapat mencapai tujuan perusahaan yaitu dapat tetap terjamin kelangsungan hidupnya dan berkembang melalui keuntungan usaha yang diperoleh.


III.             METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN
A.   Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan


1.             Tempat


Praktik kerja lapangan ini dilaksanakan di PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.


2.             Waktu

Praktik kerja lapangan telah dilaksanakan selama 25 hari kerja, dimulai pada 20 Januari 2014 sampai dengan 18 Februari 2014.

B.  Materi Praktik Kerja Lapangan
Materi yang dikaji dalam pelaksanaan praktik kerja lapangan di PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas meliputi aspek manajemen produksi benih padi serta permasalahan yang dihadapi dalam manajemen produksi.

C.  Metode Pelaksanaan
1.      Metode pelaksanaan praktik kerja lapangan
Metode yang digunakan dalam praktik kerja lapangan ini adalah metode observasi partisipasi, yaitu suatu metode pelaksanaan praktik kerja lapangan dengan mengikuti kegiatan secara aktif yang dilakukan di PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
2.      Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang dilakukan dalam praktik kerja lapangan ini adalah:
a.         Pengambilan data primer yaitu data diperoleh dengan cara mengadakan wawancara dengan karyawan dan observasi langsung di PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.
b.        Mencari informasi data sekunder yaitu data diperoleh dari catatan-catatan dan dokumen perusahaan atau literatur yang berkaitan dengan aspek manajemen produksi pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas.




IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Gambaran Umum PT. Sang Hyang Seri (Persero)

1.    Sejarah Perusahaan

   Pada tahun 1940 perusahaan ini berbentuk perkebunan besar milik swasta asing (Inggris) dengan nama Pamanukan & Tjiasem Lands (P & T Lands). Adanya “Nasionalisasi” pada tahun 1958 P & T Lands dikelola oleh Yayasan Pembangunan Daerah Jawa Barat (YPDB) yang diubah pada tahun 1966 menjadi “Proyek Produksi Pangan Sukamandi Jaya”, di samping itu dibentuk pula “Proyek Penelitian dan Mekanisasi serta Proyek Perhewani”. Ketiga lembaga tersebut pada tahun 1968 dilebur menjadi “Lembaga Sang Hyang Seri”. Melalui Peraturan Pemerintah No.22 tahun 1971 dibentuklah Perum Sang Hyang Seri, sebagai salah satu sub sistem perbenihan nasional yang dengan bantuan pinjaman dana dari Bank Dunia telah menjadikannya perusahaan perbenihan yang modern dan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Sejak tahun 1995 status Perum diubah menjadi Persero melalui PP 18/1995 tanggal 28 Juni 1995 yang bersamaan dengan di bentuknya Institusi Pembenihan Nasional yaitu Badan Benih Nasional (BBN), Lembaga Pusat Penelitian Sukamandi yang sekarang menjadi Badan Penelitian Padi (BALITPA) Sukamandi, Dinas Pengawasan dan Sertifikasi Benih di Jakarta yang kini menjadi BPSB.
   PT Sang Hyang Seri mengembangkan wilayah pelayanannya yakni pada tahun 1973 mendirikan Distrik Benih di Klaten Jawa Tengah, tahun 1977 mendirikan Distrik Benih di Malang dengan 7 Unit Produksi Benih (UPB) dan pada tahun 1982 mendirikan cabang di luar Jawa (Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat). Pada tahun 1997 PT SHS memasuki bisnis benih hortikultura dan pada tahun 2001 mulai mengembangkan bisnis agroinput yang berupa sarana produksi dan agrooutput yang berupa hasil pertanian. Pada tahun 2003 core business dikembangkan dari benih tanaman pangan menjadi benih pertanian dalam arti luas, yaitu meliputi benih tanaman pangan, hortikultura (sayur, buah, bunga, dan obat-obatan), perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.
PT Sang Hyang Seri Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas didirikan pada bulan November 1984 yang merupakan areal cabang dari kantor regional II (Cabang Klaten). Didirikannya PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas ditujukan agar dapat meningkatkan produksi padi dan palawija melalui penggunaan benih unggul dan untuk memenuhi kebutuhan benih padi dan palawija yang bermutu bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya. PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas memiliki cakupan areal kerja yaitu Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Wonosabo. PT Sang Hyang Seri (Persero) sampai saat ini menjadi perusahaan yang bergerak di bidang perbenihan dan sarana produksi pertanian.

2.  Struktur Organisasi PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas

PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas merupakan salah satu cabang Regional II yang berpusat di Klaten. PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas dipimpin oleh seorang manajer yang mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan pengelolaan KUP/KCP (Kantor Unit Produksi dan Kantor Cabang Pemasaran) dengan cara menyusun, merencanakan, mengawasi dan mengendalikan kegiatan produksi dan pemasaran. Struktur organisasi perusahaan dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Struktur Organisasi Perusahaan
Manajer Sang Hyang Seri cabang Banyumas bertanggungjawab kepada Kepala Wilayah Regional II. Manajer cabang dibantu oleh Asisten Manajer Produksi yang membawahi pengelola wilayah, penyelia pertama pengolahan benih, simpan kemas, kendali mutu, dan pemeliharaan mesin. Manajer cabang juga dibantu oleh Asisten Manajer Pemasaran yang bertanggungjawab atas  pasar ritel dan pasar korporat.
a.       Asisten Manajer Produksi
Asisten Manajer Produksi bertugas untuk membantu manajer dalam hal produksi benih. Kegiatan yang diawasi oleh asisten manajer produksi dimulai dari kegiataan perencanaan produksi di lapang dan pengolahan, pengadaan bahan baku produksi, kegiatan produksi, hingga pengawasan terhadap kegiatan produksi. Asisten manajer produksi dibantu oleh beberapa petugas yaitu petugas pengelola wilayah, penyelia pertama pengolahan benih, simpan kemas, kendali mutu, dan pemeliharaan mesin.
Petugas pengelola wilayah bertugas untuk melaksanakan kegiatan kerjasama (mitra) areal pertanaman benih dengan cara merencanakan, mengatur, membina, dan membagi tugas kepada pembina wilayah agar menghasilkan calon benih hasil kerjasama yang dapat dibeli sesuai dengan standar yang berlaku.
Penyelia pertama pengolahan benih bertanggung jawab terhadap proses calon benih menjadi benih lulus uji. Tugas tersebut meliputi pengeringan, sortasi atau pembersihan, penyimpanan, hingga menghasilkan benih lulus uji atau tidak. Dalam pelaksanaannya penyelian pertama pengolahan benih dibantu oleh Petugas Mesin dan Listrik serta Petugas Mekanik (pemeliharaan mesin).
Petugas simpan kemas benih bertanggung jawab terhadap jalannya pengelolaan stok benih di gudang, tata letak penyimpanan benih, pemeliharaan benih di gudang, pengemasan benih, dan bertanggung jawab atas keluarnya benih dari gudang dengan melakukan koordinasi pengangkutan benih dengan bagian pemasaran untuk selanjutnya di distribusikan.
Kendali mutu benih bertanggung jawab terhadap jalannya pengadaan benih berkualitas, mengawasi kualitas benih yang diproduksi dengan melaksanakan uji lab intern yang meliputi pengujian daya tumbuh, butir apung, kemurnian benih, kadar air, dan campuran varietas lain agar dapat lulus uji benih bersertifikat oleh BPSB.
b.      Asisten Manajer Pemasaran
Asisten Manajer Pemasaran bertugas melaksanakan kegiatan pembinaan pasar dengan cara memberikan bimbingan kepada penyalur dan kios-kios dalam menyimpan dan menjual benih agar pembinaan pasar di daerahnya berjalan lancar dan juga merencanakan varietas-varietas apa saja yang akan diproduksi sesuai dengan permintaan pasar, mempromosikan dan memasarkan benih yang telah selesai diproses. Asisten Manajer Pemasaran dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh supervisor penjualan serta Marketing Development Organization (MDO) dalam memasarkan benih.

c.       Supervisor Keuangan dan Sumber Daya Manusia
Bertanggungjawab dalam menyelenggarakan kegiatan yang bersangkutan dengan administrasi dan keuangan perusahaan serta masalah-masalah personalia, pengadaan transportasi, pengadaan peralatan kerja, pengurusan pemasukan dan pengeluaran, melayani pembayaran gaji karyawan dan pengolahan data serta pengaturan kas rumah tangga perusahaan. Selain itu, supervisor keuangan dan SDM bertanggung jawab terhadap karyawan yang bekerja di PT Sang Hyang Seri. Dalam pelaksanaannya dibantu oleh Petugas Kesekertariatan, Administrasi dan Keuangan.

1.      Fungsi dan Tugas Pokok PT Sang Hyang Seri

   PT Sang Hyang Seri mempunyai fungsi dan tugas pokok yang semakin meningkat dan dikembangkan dalam wawasan yang lebih luas antara lain:
a.         PT Sang Hyang Seri dalam rangka penerbitan arus benih (seed stream) telah mulai memproduksi selain benih sebar (ES), juga kelas benih pokok (SS) dan benih dasar (FS) agar pengadaan dan penyaluran benih-benih dasar dan benih pokok berasal dari satu sumber, serta mudah dikendalikan dan diawasi.
b.        Benih dasar dan benih pokok hasil produksi PT Sang Hyang Seri terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan PT Sang Hyang Seri.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.18 tahun 1995 PT Sang Hyang Seri mempunyai tugas pokok :
1)      Memproduksi, memasarkan dan memperdagangkan benih pertanian.
2)      Melaksanakan penelitian, sertifikasi, pendidikan, penyuluhan dan jasa dalam bidang perbenihan.
3)      Melaksanakan kegiatan lain yang langsung menunjang usaha perbenihan.

2.    Lokasi dan Wilayah Kerja PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas

   PT Sang Hyang Seri, Sumpiuh, Banyumas terletak di desa Kebokura Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas, sekitar 1,5 km dari pusat pemerintahaan kecamatan dengan batas-batas:
a.     Sebelah Utara        : Desa Lebeng
b.    Sebelah Timur       : Kelurahan Sumpiuh
c.     Sebelah Selatan     : Desa Pandak
d.    Sebelah Barat        : Desa Selanegara
Terletak pada ketinggian tempat kurang lebih 150 meter dpl dengan suhu rerata 24oC sampai dengan 34oC. Wilayah kerja PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas meliputi Wonosobo, Banjarnegara, Kebumen, Cilacap, Purbalingga, dan Banyumas dimana sampai bulan Januari 2014 luas areal penangkaran yang sudah ditanam seluas 340 ha yang terdiri dari Cilacap 124 ha, Kebumen 184 ha, Banjarnegara 12 ha, dan Purbalingga 20 ha. PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas memiliki areal baku pertanaman seluas 550 ha yang terbagi di wilayah kerjanya yaitu Cilacap 150 ha, Banyumas 50 ha, Purbalingga 100 ha, Banjarnegara 50 ha dan Kebumen 200 ha, namun untuk Wonosobo tidak terdapat areal baku pertanaman karena Wonosobo hanya sebagai wilayah pemasaran benih.
PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas memiliki aset tanah seluas 2 Ha. Penggunaan sumberdaya tanah oleh perusahaan dapat dilihat pada Tabel 1 dan denah perusahaan dapat dilihat pada Gambar 2.
Tabel 1. Penggunaan Sumberdaya Tanah PT Sang Hyang Seri Cabang Banyumas.

No.
Penggunaan
Luas Bangunan (m2)
Panjang (m)
1.
Gudang Pengolahan
1.254,50

2.
Gudang Pengemasan
1.012,02

3.
Gudang Penyimpanan
1.012,02

4.
Kantor
   224,40

5.
Lantai Jemur
1.021,28

6.
Drainase

674,40
7.
Pagar

345,05
Jumlah
4.524,22
          1019,45
Sumber: PT Sang Hyang seri (Persero), 2013

Penggunaan tanah pada PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas yang telah terdata yaitu seluas 4.524,22 m2 dan sisanya merupakan tanah yang belum terdata atau diarsipkan penggunaannya oleh perusahaan. Adapun tanah yang belum terdata antara lain digunakan untuk tempat parkir, sawah, lapangan voli, pos keamanan, gudang penyimpanan saprotan, bangunan mushola, rumah dinas, dan ruang terbuka lainnya.

1.  Visi – Misi, Kebijakan Operasional dan Arah Pengembangan Perusahaan

Untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan dimasa yang akan datang PT Sang Hyang Seri menetapkan visi dan misi sebagai pegangan dalam pengembangan perusahaan untuk mengantisipasi tantangan globalisasi. Visi PT Sang Hyang Seri yaitu Menjadi Perusahaan Agroindustri Benih Nasional Kelas Dunia. Misinya adalah menghasilkan produk agroindustri bermutu melalui pemanfaatan sumberdaya perusahaan  secara efisien dan efektif untuk memberikan manfaat optimal bagi stakeholders.
Kebijakan operasional dalam pengolahan benih yaitu dengan menetapkan design produk, peningkatan rendemen dan mutu benih serta meningkatkan efisiensi biaya produksi dan pengawasan dini. Operasional produksi benih dilaksanakan melalui dua sistem yaitu :
1)        Sistem Swakelola dimana seluruh kegiatan produksi dari mulai tanam sampai dengan pengolahan seluruhnya dilaksanakan oleh dan di lahan milik PT Sang Hyang Seri.
2)        Sistem kerjasama dimana proses pengadaan calon benih dilaksanakan dengan cara kerjasama dengan para petani penangkar sekitar wilayah kerja.
Pengadaan benih dan penyaluran benih kepada petani PT Sang Hyang Seri selalu berpegang pada Sapta Usaha Benih yaitu:
1.        Tepat Jumlah yaitu benih tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai dengan perkiraan volume permintaan pasar.
2.        Tepat Varietas yaitu benih tersebut dalam komposisi jenis dan varietas sesuai dengan anjuran pemerintah serta sesuai dengan kebutuhan konsumen.
3.        Tepat Mutu yaitu benih tersebut sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan pemerintah berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku.
4.        Tepat Waktu yaitu benih tersebut tersedia tepat pada saat dibutuhkan oleh petani.
5.        Tepat Harga yaitu benih tersebut tersedia dengan harga layak sesuai dengan mutunya dan dapat terjangkau oleh petani.
6.        Tepat Tempat yaitu benih tersebut tersedia di tempat terdekat dan mudah dijangkau oleh petani.
7.        Tepat Pelayanan yaitu memberikan pelayanan penjualan dan penyaluran yang sebaik-baiknya kepada petani termasuk pelayanan purna jual dimana senantiasa tanggap dan cepat bertindak dalam melayani keluhan atau klaim mutu benih.
   Grand strategy PT Sang Hyang Seri adalah tetap mempertahankan pertumbuhan perusahaan secara konsentrik yang didasarkan atas keunggulan teknologi. Strategi tersebut didukung dengan konsep perusahaan yaitu pengembangan PT Sang Hyang Seri dari bagus (good) ke hebat (great). Konsep pengembangan yang dilaksanakan oleh perusahaan dilakukan dilihat dari beberapa aspek, yaitu aspek perusahaan, aspek produksi dan pasar. Aspek perusahaan dilakukan dengan cara pendekatan program mempersiapkan perusahaan induk yang lebih baik, mengembangkan perusahaan dengan membentuk cabang atau anak perusahaan. Konsep pengembangan perusahaan melalui aspek produksi dan pasar dilakukan dengan peningkatan kapasitas produksi, pengembangan produk, peningkatan pasar, dan pengembangan budaya perusahaan.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan memiliki kebijakan berkomitmen dalam kinerja. Komitmen sangat diperlukan demi terwujudnya perusahaan yang memiliki kinerja baik dan memiliki karyawan berdedikasi tinggi. Komitmen tersebut yaitu :
1.        Keuangan dan SDM mampu menciptakan cash flow sehat, laporan keuangan dan administrasi sehat dan accountable, SDM yang berintegritas berdedikasi dan professional, serta efisien dan efektif.
2.        Produksi menghasilkan benih berkualitas prima, kuantitas benih tersedia setiap saat dibutuhkan, memiliki produktivitas optimal, efisien dan efektif.
3.        Pemasaran memiliki market share yang optimal, network prima dan loyal, menjual seluruh produk yang tersedia, turn over cepat, efisien dan efektif.
4.        Litbang mampu menciptakan produk unggulan bernilai tinggi, fanatisme dan image terhadap perusahaan meningkat, efisien dan efektif.
Komitmen tersebut dapat terlaksana dengan didukung oleh super tim dalam perusahaan, keunggulan teknologi, leverage professional services organization, franchise dan outsourcing.

A. Prosedur Operasional  Produksi Benih pada PT Sang Hyang Seri, Banyumas


PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas menggunakan sistem kerjasama untuk operasional benih yang dihasilkan. Sistem ini digunakan melalui cara bermitra dengan petani di daerah cakupan kerja PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas. Sistem kerjasama ini dilakukan agar ketersediaan benih padi tetap ada guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan menguntungkan pula bagi para petani mitra dimana PT Sang Hyang Seri memberikan pinjaman benih kelas FS (BD) kepada petani yang pembayarannya dapat dilakukan saat panen atau dapat secara tunai langsung dan hasil panen dibeli oleh PT Sang Hyang Seri dengan harga yang telah disepakati bersama. Sistem kerjasama ini meliputi kerjasama areal penangkaran, kerjasama mitra binaan, serta penerapan teknologi.
Prosedur kerjasama penangkaran bertujuan untuk mendapatkan kepastian dan menjamin bahwa benih hasil kerjasama telah melalui proses sesuai sistem jaminan mutu. Prosedur dalam kerjasama penangkaran ini yaitu :
1.        Musyawarah dan koordinasi dengan petani atau kelompok tani untuk dapat menyamakan persepsi dengan petani dan koordinasi pelaksanaan kegiatan dapat berjlan lancar.
2.        Inventarisasi areal dan petani meliputi penentuan luas areal, batas areal, status kepemilikan lahan, pola tanam, waktu tanam, penggunaan varietas, pendataan jumlah petani, dan kondisi umum petani yang berpengaruh terhadap kerjasama.
3.        Akad perjanjian kerjasama dengan petani atau kelompok tani.
Penguatan ikatan kerjasama antara PT Sang Hyang Seri dengan kelompok tani dibuat dalam bentuk surat perjanjian. Kelompok tani berkewajiban untuk melaksanakan semua petunjuk dari pembinaan lapangan sedangkan PT Sang Hyang Seri berkewajiban untuk menyediakan pinjaman benih sumber, pembinaan, serta menguasai calon benih dalam bentuk gabah kering panen (GKP).
4.        Penyusunan jadwal kegiatan.
Penyusunan jadwal dilakukan agar kegiatan penangkaran dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan prosedur yang ada guna mendapatkan benih unggul.
5.        Penyediaan dan Distribusi Benih Sumber.
Benih sumber atau benih pokok sudah harus tersedia sesuai dengan varietas dan kebutuhan dalam rencana penangkaran dan 1 minggu sebelum sebar, benih sumber sudah diterima oleh kelompok tani penangkar.
Selain kerjasama penangkaran, kerjasama mitra binaan juga dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dengan tujuan mendapatkan calon benih (GKP) atau benih lulus dari penangkar diluar areal kerjasama yang sesuai standar mutu dan telah dinyatakan lulus sertifikasi oleh Badan Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB) setempat. Prosedur dalam kerjasama mitra binaan yaitu :
1.        Mengidentifikasi penangkaran yang akan dikuasai.
2.        Menginvestigasi dan mengamati calon benih yang akan dikuasai terkait dengan penerapan prosedur sertifikasi sampai dengan panen dan untuk benih lulus mulai dari pengolahan sampai dinyatakan lulus yang dibuktikan dengan catatan dan rekaman dokumen dari BPSB setempat.
3.        Setiap penguasaan baik calon benih maupun benih lulus harus dibuat surat pelimpahan hak kepemilikan atau berita acara.

B.     Proses Produksi Benih Padi Non Hibrida pada PT Sang Hyang Seri,  Banyumas


PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dalam memproduksi benih menggunakan sistem kerjasama dengan kelompok-kelompok tani penangkar benih disekitar wilayah kerja. PT Sang Hyang Seri bertindak sebagai penyedia benih dan penangkar dimana varietas padi yang akan ditanam oleh petani penangkar ditentukan oleh perusahaan. Proses tanam hingga pemeliharaan tanaman dilakukan oleh petani penangkar namun perusahaan tetap memberikan pengarahan, pengawasan dan pembinaan.
Benih yang dapat dihasilkan oleh PT Sang Syang Seri harus melewati berbagai tahapan agar terciptanya benih unggul yang lulus uji dan mendapatkan sertifikasi. Adapun proses produksi benih unggul sebagai berikut :
1.           Proses Pra Panen
Benih yang digunakan sebagai benih induk dalam produksi benih yang diberikan kepada petani penangkar adalah kelas benih pokok atau kelas benih Stock Seed yang berlabel ungu. Kebutuhan benih dalam 1 ha yaitu 25 kg. Budidaya tanaman yang diterapkan secara keseluruhan diserahkan kepada petani penangkar dibawah pengawasan dan pembinaan perusahaan. Kegiatan pra panen meliputi:
a.       Persiapan lahan dan fase pendahuluan
Hal yang dilakukan PT Sang Hyang Seri dalam memproduksi benih unggul bersertifikat, yaitu mempersiapkan dan mengecek areal tanam serta mengajukan permohonan sertifikasi kepada Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih sebelum dilakukannya produksi benih. Lahan yang akan digunakan mendapat pemerikasaan pendahuluan oleh BPSB yang meliputi letak areal, sejarah lapangan, batas areal, benih yang digunakan, dan rencana penanaman guna mengetahui apakah kondisi lahan yang akan digunakan sebagai wilayah penangkaran layak untuk ditanami.
b.      Pengolahan tanah
Pengolahan tanah yang dilakukan dengan baik akan sangat menentukan produktifitas tanaman untuk menghasilkan calon benih yang baik.
c.       Pembuatan pesemaian
Luas pesemaian yakni 5% dari tiap luas areal tanam, bedengan dibuat selebar 1-1,2 m dan panjang sesuai kebutuhan dimana tiap bedengan berjarak 40 cm dan ketinggian bedengan tersebut yaitu 20-25 cm, lalu tabur kompos granul di atas bedengan 150 gr per m2 atau 75 kg per 500 m2. Perlakuan benih pertama yaitu benih direndam selama 24 jam dan pisahkan benih yang terapung lalu inkubasi selama 36 jam serta tabur benih diatas bedengan dengan kerapatan 60-65 gr/m2 secara merata dan setelah terbentuk daun 3 helai pupuk dengan urea 5-7,5 kg per 500 m2.
d.      Penanaman
Bibit dipindahkan dari pesemaian pada umur 17 hari dan tanam 2-3 batang per lubang dengan kedalaman tanam 2-3 cm.
e.       Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila ditemukan tanaman mati dan tanaman tersebut disulam paling lambat 1 minggu setelah tanam.
f.       Pemeliharaan
Kegitaan pemeliharaan meliputi pemupukan, penyiangan, pengendalian OPT, dan pengairan. Dosis dan jenis pupuk yang digunakan dalam kegiatan pemupukan berbeda beda. Pupuk dasar diberikan 3-4 hari sebelum tanam. Pupuk susulan pertama ditebar merata pada areal pertanaman dan pupuk susulan kedua yaitu pupuk cair disemprotkan merata pada tanaman (dibawah permukaan daun). Kegiatan penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung pertumbuahn gulma. Kegitan pengendalian OPT dilaksanakan pula dengan prinsip pengendalian hama dan penyakit terpadu. Pengairan dilakukan dengan cara air dimasukkan kedalam petakan 7-10 hari setelah tanam, selanjutnya sekitar 3 minggu setelah tanam ketinggian air ditingkatkan menjadi 3-4 cm dan seterusnya dipertahankan saat berbunga sampai pengisian gabah.


g.      Fase vegetatif
Fase vegetatif terjadi saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Pada fase ini terlihat apakah tanaman terserang hama penyakit atau tidak dan apakah terlihat adanya campuran varietas lain dalam areal tanam. Dalam fase ini, perusahaan melakukan pemerikasaan dan mengajukan permohonan pemeriksaan lapangan fase vegetatif ke BPSB dan pemerikasaan yang dilakukan yaitu mengambil sampel lapangan (areal tanam) secara diagonal untuk melihat apakah tanaman terserang hama penyakit dan terdapat campuran varietas lain atau tidak.
h.      Fase Berbunga
Fase berbunga yaitu fase dimana tanaman berumur 60 hari setelah tanam. Dalam fase ini perusahaanpun melakukan pemeriksaan dan mengajukan permohonan kembali kepada BPSB untuk dilakukan pemeriksaan lapangan kembali untuk melihat apakah keadaan tanaman sifatnya sesuai dengan varietasnya, populasi pertanamannya dalam sampel pemeriksaan, serta keadaan hama penyakit dan campuran varietas lainnya dalam suatu areal tanam. 
i.        Fase Menjelang Panen
Fase menjelang panen yaitu fase dimana tanaman berumur 25-30 hari setelah fase berbunga. Saat tanaman sudah memasuki fase ini, perusahaan segera melakukan pemerikasaan lapangan dan mengajukan permohonan pemeriksaan lapang kepada BPSB agar BPSB juga meninjau areal tanam dan memeriksa alat panen serta alat processing. Pemeriksaan lapang yang dilakukan sama seperti pemeriksaan saat fase berbunga.
2.                Panen
Panen dilaksanakan setelah lulus pemeriksaan lapangan fase menjelang panen oleh BPSB. Kondisi calon benih sebelum diangkut untuk diolah harus memiliki standar kadar air 23-30%, kotoran ≤ 7%, butir hijau ≤ 5 % dan campuran varietas lain 0,5%. Calon benih dikemas dengan kantong baru atau kantong yang diyakini bukan bekas varietas lain. Setelah calon benih dipanen sampai dengan diangkut tidak lebih dari 2 x 24 jam dan dalam kondisi terlindung dari hujan serta lamanya pengangkutan sampai dibongkar di pabrik tidak boleh lebih dari 24 jam. Selama proses produksi calon benih, pertanaman dilapangan mendapat pengawasan yang ketat dari petugas BPSB Jawa Tengah.
3.           Proses Pasca Panen
Setelah keempat fase dalam proses pra panen dilakukan, maka selanjutnya proses pasca panen (pengolahan) dilakukan dengan mengolah GKP hingga menjadi benih kantong yang siap dipasarkan. Adapun proses pengolahan calon benih menjadi benih unggul terlihat pada Gambar 3.
Proses pengolahan benih padi non hibrida dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.              Penerimaan calon benih
Penerimaan calon benih di pabrik yang dilakukan dengan pengecekan dan penimbangan sesuai dengan label yang tercantum dalam Surat Pengantar Hasil (SPH) dari kebun. Gabah yang diterima merupakan Gabah Kering Panen (GKP) bermutu baik dan penerimaan calon benih disesuaikan dengan kapasitas mesin pengolah.
b.             Pengujian 1
Pengujian laboratorium pertama dilakukan terhadap calon benih sebelum diolah lebih lanjut. Pengujian ini dilakukan saat GKP tiba di pabrik untuk mengetahui kadar air, campuran varietas lain, butir hijau, benih murni, butir tumbuh dan butir kusam. Sampel untuk pengujian diambil dari gabah kering panen (GKP) seberat 1 kg, kemudian dicampur secara homogen dengan menggunakan mechanical devider sebanyak tiga ulangan.
Pengujian kadar air digunakan dengan menggunakan dole moisture tester. Pengujian terhadap kemurnian benih, butir hijau, butir tumbuh dan butir kusam dilakukan dengan mengambil sampel kerja seberat 100 gram kemudian dilakukan pengujian terhadap variabel-variabel tersebut. Apabila pengujian laboratorium pertama memenuhi persyaratan untuk dijadikan benih bersertifikat maka gabah kering panen (GKP) tersebut dapat diproses lebih lanjut untuk dijadikan benih. Standar penampilan benih di laboratorium PT Sang Hyang Seri pada berbagai kelas benih tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Standar penampilan benih di laboratorium PT Sang Hyang Seri
Kelas  Benih
Butir Apung Maksimal*
Butir Tumbuh Maksimal*
Butir Hijau Maksimal*
Butir Kusam Maksimal*
Butir Bekas Serangan Hama Maksimal**
Benih Dasar
50 butir
1%
5%
3%
Tidak Ada
Benih Pokok
50 butir
1%
5%
3%
Tidak Ada
Benih Sebar
50 butir
1%
5%
3%
Tidak Ada
Ket :   *) Diukur pada saat penerimaan GKP
   **) Diukur pada saat benih akan dikemas
Sumber : PT Sang Hyang Seri (Persero) UBD Banyumas


c.              Pengeringan
Proses pengeringan dimaksudkan untuk menurunkan kadar air calon benih yang masih tinggi. Layout areal pengeringan dan sortasi dapat dilihat pada Gambar 4.



Proses pengeringan benih di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dilakukan dengan menggunakan Box Dryer dan lantai jemur. Apabila cuaca memungkinkan maka pengeringan dilakukan di lantai jemur dimana lantai jemur dibersihkan dahulu dari bekas bulir padi sebelumnya terutama dari varietas lain sebelum digunakan, GKP tidak lebih dari 7 cm dan tiap ½ jam sekali harus dibolak balik sampai kadar air 11-12%. Apabila cuaca tidak memungkinkan untuk menggunakan lantai jemur, maka pengeringan dilakukan dengan menggunakan Box Dryer. Box Dryer terdiri dari beberapa bagian yaitu oil burner dan blower yang berfungsi sebagai sumber panas dan penghembus udara panas sampai ketempat pengeringan. Sumber panas berasal dari katoda sumber tenaga listrik maupun solar dan dilengkapi dengan alat pengatur suhu yang apabila suhu sudah mencapai 43o C maka pemanas tersebut secara otomatis akan mati dan dilakukan proses pembalikan untuk menjamin keringnya benih yang merata. Lama pengeringan ini juga sangat tergantung pada kadar air awal dan tebal tipisnya lapisan benih dalam Box Dryer.
Proses pengeringan dilakukan dengan mengalirkan udara yang kering dan panas dari oil burner yang dihembuskan melalui blower. Kecepatan pengeringan benih ini sangat dipengaruhi kadar air awal dan tingginya tumpukan benih dalam Box Dryer, sehingga apabila tumpukan gabah terlalu tinggi dilakukan pembalikan secara teratur untuk memperoleh pengeringan yang merata. Kadar air yang ditetapkan pada calon benih adalah 11-12%. Kadar air rendah ditetapkan untuk menjaga kadar air benih selama proses lebih lanjut dan penyimpanan tidak melewati 13%, mengingat bahwa gabah bersifat higroskopis sehingga selama proses dan penyimpanan, benih dapat menyerap air sehingga kadar airnya meningkat. Pada kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan benih tidak tahan lama untuk disimpan.
a.              Pembersihan dan Sortasi
Proses pembersihan dan sortasi calon benih PT Sang Hyang Seri  cabang Banyumas dilakukan secara mekanis melalui mesin Pre Cleaner dan Air Screen Cleaner. Pre Cleaner merupakan mesin yang berfungsi untuk menghasilkan calon benih setengah bersih dan Air Screen Cleaner merupakan mesin pembersih dan pemilah yang memiliki dua macam ayakan yaitu ayakan atas (top screen) yang berfungsi sebagai scalper (pembersih kotoran yang lebih besar dari benih) dan ayakan bawah yang berfungsi grader (pemilah dan pembersih kotoran yang lebih kecil dari benih). Proses pembersihan dan pemilahan dilakukan melalui dua tahap yaitu pembersihan pertama melalui pre cleaner yang menghasilkan benih setengah bersih yang telah terpisah dari jerami kasar dan jerami halus. Benih setengah bersih kemudian diproses dalam pembersihan tahap kedua melalui air screen cleaner yang menghasilkan benih bersih yang telah terpisah dari jerami kasar, jerami halus, gabah hampa, gabah setengah isi, debu dan batuan. Kotoran benih yang sulit terpisah dari benih sebelum jatuh bersama benih terlebih dahulu disedot dan disalurkan ke cyclone yang berada diluar ruang pengolahan. Benih bersih yang dihasilkan harus memiliki kriteria mengandung kotoran maksimum 1% dan memiliki butir apung maksimum 100-150 butir per 50 gram sampel agar dapat masuk ke proses selanjutnya. Benih bersih (BB) hasil pengolahan kemudian dikemas menggunakan karung 70 kg dan disimpan untuk menunggu patahnya masa dormasi dan dilakukan pengujian benih untuk sertifikasi. Benih dinyatakan baik apabila memiliki rendemen 76% yang dihitung dari GKP hingga menjadi benih bersih.
b.             Pengujian 2
Pemeriksaan laboratorium kedua merupakan pengujian yang dilakukan secara rutin untuk pengawasan mutu dan untuk menghindari tidak lolosnya benih dalam pengujian oleh laboratorium BPSB. Pengujian laboratorium kedua ditujukan untuk mengetahui kadar air benih, daya tumbuh, kemurnian benih, campuran varietas lain, benih murni dan kotoran lain. Tahap pengujiannya meliputi kegiatan-kegiatan:
1.             Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel benih merupakan langkah pertama dalam pengujian benih sebelum dilakukan pengujian terhadap variabel-variabel yang lain. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan diusahakan dapat mewakili seluruh bagian benih dalam satu lot benih dan pengambilan sampel sesuai dengan peraturan dari BPSB yaitu, Jumlah Sampel = 10% dari jumlah karung + 5 karung. Misalnya dalam 1 lot benih terdapat 60 karung benih maka,
Jumlah sampel = (10% x 60) + 5
        = 11 karung
Berdasarkan perhitungan tersebut jumlah sampel yang diambil sebanyak 11 karung dalam satu lot benih dimana total sampel primer yang diambil seberat satu kilogram.
Pengambilan sampel dari satu lot benih maksimal sebanyak 30 karung. Sampel primer diambil dari lot-lot benih dengan menggunakan alat yang berupa stick trier dengan cara menusukkan alat tersebut ke dalam karung benih sesuai dengan panjang alat tersebut dan dalam pengambilan diusahakan seluruh bagian dalam satu lot dapat terambil, sehingga sampel yang diambil dapat mewakili dari benih dalam satu lot tersebut.
Sampel primer yang telah diambil kemudian dilakukan pencampuran sampai homogen dengan menggunakan mechanical devider  dan diulang sebanyak tiga kali. Sampel benih terakhir diambil sebanyak 70 gram sebagai sampel kerja yang akan diuji.
2.             Pengujian Kadar Air
Pengujian kadar air dilakukan dengan menggunakan Dole Moisture Tester. Sampel benih yang akan diukur terlebih dahulu ditimbang sampai didapatkan kondisi yang seimbang kemudian benih dimasukkan ke dalam Dole Moisture Tester dan dapat diketahui kadar air benih melalui skala yang ada pada alat tersebut.
Penentuan kadar air dengan alat ini didasarkan atas sifat konduktivitas dan dielektrik benih yang keduanya tergantung dari kadar air dan temperatur benih sehingga pengukuran dapat berlangsung sangat cepat. Kadar air benih padi untuk sertifikasi maksimal 13 %.  

3.             Pengujian Kemurnian Benih
Pengujian kemurnian benih di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dilakukan dengan menguji sampel kerja yang sudah homogen seberat 70 gram. Sampel kerja tersebut kemudian dibagi menjadi benih murni, benih varietas lain dan kotoran benih. Setiap komponen benih tersebut kemudian ditimbang kemudian dibagi 70 gram kali 100%. Kemurnian benih merupakan persentase berdasarkan berat benih murni yang terdapat dalam satu contoh benih. Hasil pengujian kemurnian benih dapat digunakan untuk menentukan komposisi berdasarkan berat sampel benih yang akan diuji atau komposisi dari kelompok benih dan identitas berbagai spesies benih serta partikel-partikel lain yang terdapat dalam sampel (Sutopo, 1998). Hasil analisa kemurnian untuk kelas benih sebar berdasarkan BPSB komponen benih murni minimal 99%, kotoran benih maksimal 0,1%, campuran varietas lain maksimal 0,2%, dan biji tanaman lain dan gulma 0,0%. Standar laboratorium untuk pengujian benih pada berbagai kelas benih dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Standar pengujian benih di laboratorium PT Sang Hyang Seri
Kelas Benih
K A
Benih Murni
Kotoran Benih
CVL
Biji Lain
Daya Tumbuh
Benih Dasar
12%
99%
1,00
0
0,0
85%
Benih Pokok
12%
99%
1,00
0,1
0,0
85%
Benih Sebar
12%
99%
1,00
0,2
0,0
85%
Sumber            : PT Sang Hyang Seri (Persero) UBD Banyumas
Ket                  : CVL : Campuran varietas lain
                 KA   : Kadar Air

4.             Daya Tumbuh
Daya tumbuh benih merupakan suatu hal yang sangat berkaitan dengan kualitas benih unggul. Pelaksanaan pengujian daya kecambah dilakukan dari sampel seberat 70 gram yang telah homogen, kemudian diambil 100 butir untuk digunakan dalam pengujian dengan ulangan 4 kali. Media perkecambahan yang digunakan adalah media kertas dengan metode uji antar kertas yang digulung.
Cara pengujian dengan metode ini yaitu dengan mengambil kertas rangkap dan dibasahi, kemudian benih diatur dalam kertas. Benih diatur berselingan sehingga apabila akar telah tumbuh tidak saling mengait, dan akar tumbuh dengan optimal lalu kemudian kertas digulung.
Pengujian daya tumbuh benih pada media kertas dianggap sebagai metode yang cukup baik dan dalam pengujian ini, faktor lingkungan sangat berpengaruh sehingga untuk mengurangi pengaruh faktor lingkungan yang kurang menguntungkan bagi daya tumbuh benih dilakukan pengujian dalam kondisi lingkungan yang dibuat seoptimal mungkin untuk pertumbuhan benih dan diharapkan hasil pengujian dapat menggambarkan kondisi benih yang sesungguhnya.
Analisa pengujian daya tumbuh dilakukan setelah 7-10 hari setelah calon benih diletakkan dalam kertas. Analisa pengujian daya tumbuh dilakukan terhadap 100 butir benih yang telah diletakkan dan dilakukan pengamatan terhadap benih tumbuh baik mengalami pertumbuhan normal, abnormal dan benih yang tidak tumbuh. Hasil pengujian memenuhi standar apabila daya tumbuh benih minimal 80%.
Setelah pengujian laboratorium intern selesai dan benih memenuhi persyaratan untuk benih bersertifikat, maka perusahaan segera mengajukan pemeriksaan laboratorium ke BPSB untuk mendapatkan sertifikasi dan label. Pengujian di laboratorium BPSB sebenarnya sama dengan pengujian intern hanya dalam pelaksanaannya lebih teliti. Apabila sampel benih dari perusahaan telah dinyatakan lulus oleh BPSB dan telah mendapatkan label maka benih bersih berubah status menjadi benih lulus dan benih dapat dikemas dan dipasarkan sebagai benih bersertifikat. Apabila benih tidak dinyatakan lulus oleh BPSB maka benih dapat dijual sebagai bahan konsumsi.

c.              Pengemasan
Proses pengemasan dilakukan dengan menggunakan mesin pengemas yang terdiri dari bucket elevator dengan dum hopper yang berfungsi untuk menaikkan benih, surge hopper untuk menampung benih. Weighing unit berfungsi untuk mengontrol berat benih yang akan dikemas, continous band sealer untuk menjahit kantong pengemas benih. Layout areal pengemasan dapat dilihat pada Gambar 5.
Flat belt conveyor berfungsi untuk membawa kantong-kantong kemasan benih yang telah diisi ketempat sealer. Mesin pengemas ini dilengkapi dengan blower yang berfungsi untuk menghilangkan debu yang masih melekat pada benih yang akan dikemas.
Proses pengemasan yaitu benih lulus yang akan dikemas dimasukkan ke dalam surge hopper melalui bucket elevator, setelah penuh maka dengan mengatur Weighing unit sesuai dengan berat yang ditentukan maka benih akan keluar dan ditampung dalam plastik pengemas, kemudian melalui belt conveyor dibawa ke continous band sealer untuk dijahit kemudian benih dimasukan dalam karung seberat 60 kg. Berat bersih benih dalam kemasan seberat 5 kg. Kemasan benih 5 kg terbuat dari bahan plastik yang tidak mudah rusak sehingga saat dipasarkan mampu melindungi kondisi fisik benih.
a.              Penyimpanan
Penyimpanan benih dilakukan pada gudang penyimpanan yang terpisah dari tempat pengolahan. Penyimpanan dalam gudang benih menggunakan alas balok dan papan kayu sehingga kantong benih tidak kontak langsung dengan lantai gudang penyimpanan. Kapasitas penyimpanan dalam satu lot benih sekitar 20 – 22 ton dan kapasitas gudang 600-700 ton benih. Cara penataan kantong dalam penyimpanan ditata secara berselang-seling sehingga terdapat rongga udara dan kedudukan kantong tidak goyah. Dalam penyimpanan benih harus diperhatikan faktor yang mempengaruhi penyimpanan seperti jumlah kantong benih yang akan disimpan, suhu dan kelembaban udara ruang penyimpanan, kemasan benih dan lama penyimpanan. Faktor lingkungan gudang penyimpanan benih sangat berpengaruh terhadap kondisi benih dalam penyimpanan.
Faktor lingkungan yang diduga sangat berpengaruh terhadap kualitas benih dalam penyimpanan adalah suhu ruang penyimpanan yang mampu membuat perubahan kadar air awal benih. Adanya gangguan hama gudang juga mengancam kualitas benih. Hama yang ditemukan dalam penyimpanan benih diantaranya yaitu Sitophylus oryzae, tikus, dan burung. Pengendalian hama dilakukan apabila sudah mulai terlihat tanda-tanda terserang dan dikendalikan dengan cara bumigasi ruangan penyimpanan menggunakan phostoxin.

A.     Pelaksanaan Manajemen Produksi

1.        Perencanaan produksi
a.         Perencanaan produksi
Perencanaan produksi tentunya harus dilaksanakan dengan baik, karena PT. Sang Hyang Seri merupakan suatu perusahaan BUMN yang bergerak dibidang perbenihan yang harus dapat memenuhi kebutuhan benih nasional secara mayoritas dan untuk tahun ini PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas ditunjuk oleh pemerintah sebagai satu satunya perusahaan yang produk benih padi non hibridanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan subsidi benih untuk wilayah kerja Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, Banjarnegara, dan Wonosobo. 
Produk yang dihasilkan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas merupakan produk benih padi unggul bersertifikat dan siap untuk dipasarkan baik retail ataupun coorporate. Perencanaan produksi benih padi ditiap tahunnya selalu disusun dalam RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) sebagai acuan penetapan target produksi perusahaan agar dapat memenuhi permintaan pasar akan benih. Namun untuk pasar retail perusahaan merencanakan dan menentukan produk dengan memperhatikan pangsa pasar atau kondisi kebutuhan benih di pasar berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh bagian pemasaran. Selain itu juga PT. Sang Hyang Seri memproduksi benih padi berdasarkan pemesanan varietas tertentu. Rencana dan realisasi produksi benih padi selama 3 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 4 sedangkan persentase realisasi produksi benih padi non hibrida pada 3 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 4. Rencana dan Realisasi Produksi Benih Padi Non Hibrida
Tahun
Rencana (Ton)
Realisasi (Ton)
GKP
GKK
BB
BL
BK
GKP
GKK
BB
BL
BK
2011

4.357
3.703,7
3.312
3.687
3.687
4.030,889
3.426,339
2885,480
4.104,430
4.105,830
2012

4.568
3.882,800
4.180
4.180
4,180
5.815,282
4.943,022
4.908,595
5.131,870
5.016,550
2013

3.662
3.113
2.887
2.891
2.907
912,629
766,756
735,380
935,265
768,175


Tabel 5. Persentase Realisasi Produksi Benih Padi Non Hibrida
Tahun
% Realisasi
GKP
GKK
BB
BL
BK
2011
93
93
87
111
111
2012
127
127
117
123
120
2013
25
25
25
32
26

Keterangan :
GKP    : Gabah Kering Panen
GKK   : Gabah Kering Kotor
BB       : Benih Bersih
BL       : Benih Lulus
BK      : Benih Kantong

Pada Tabel 4 terlihat suatu perencanaan produksi perusahaan selama 3 tahun terakhir. Pada tahun 2011 realisasi GKP tidak sesuai dengan GKP yang direncanakan, hal itu dikarenakan adanya cuaca yang tidak mendukung serta dijumpai adanya serangan hama dan penyakit. Realisasi GKP yang tidak sesuai dengan rencana berakibat bagi ketidaksesuaian GKK, BB, BL dan BK terhadap perencanaannya. Namun justru BL dan BK pada tahun 2011 sesuai dan bahkan melebihi rencana produksinya. Hal itu terjadi karena perusahaan ingin dapat menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya untuk dapat memproduksi sesuai dengan rencana sehingga pembelian benih lulus bersertifikat kepada pihak luar ataupun sesama PT Sang Hyang Seri cabang lainnya dilakukan. Pada Tabel 5 terlihat persentase realisasi yang baik.
Pada tahun 2012, seluruh rencana produksi yang dimulai dari GKP hingga BK terealisasi dengan baik dan sesuai. Persentase realisasi pada Tabel 5 pun menunjukkan angka >100% dan dapat dikatakan perusahaan berhasil dalam melakukan kegiatan produksinya.
Hal yang berbeda terjadi ditahun 2013 dimana realisai produksi sangat jauh berbeda dengan perencanannya. Hal ini terjadi karena perusahaan cabang Banyumas mengalami miss communication dengan perusahaan pusat mengenai keuangan yang mengakibatkan PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas tidak dapat membeli seluruh hasil panen petani penangkar dan hanya mampu untuk membeli GKP sebesar 912,629 ton dan benih yang terkemas hanya sebesar 768,175 ton. Terlihat pula pada Tabel 5 bahwa persentase realisasi jauh dari angka 100% yang menunjukkan adanya kegagalan perusahaan dalam mencapai target produksinya.
b.        Perencanaan lokasi
Pabrik merupakan tempat dimana suatu kegiatan teknis dari  perusahaan dilaksanakan. Lokasi pabrik harus direncanakan dengan tepat, agar keberadaannya dapat menunjang kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan. PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas telah melakukan perencanaan lokasi dengan baik, yaitu dengan menempatkan lokasi kantor dan pabrik produksi pada daerah yang strategis diantara wilayah kerja sehingga memudahkan pengangkutan GKP dari berbagai daerah di wilayah kerja untuk dapat diolah.
Lokasi pemilihan kantor dan pabrik PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas di Sumpiuh melalui banyak pertimbangan antara lain :
1.    Banyumas merupakan lumbung padi dan palawija Jawa Tengah.
2.    Kecamatan Sumpiuh, Banyumas merupakan daerah yang berada tepat ditengah antara 6 wilayah kerja yang terkait sehingga memudahkan dalam pengangkutan dan transportasi calon benih yang akan diolah maupun pemasaran benih.
Adapun bangunan pendukung proses manajemen dalam proses produksi seperti, kantor cabang yang berada di depan pabrik dilakukan untuk mempermudah pengkoordinasian kegiatan produksi dan koordinasi antar tenaga kerja.
c.         Perencanaan letak fasilitas produksi
Letak fasilitas produksi atau yang sering disebut dengan layout pabrik, merupakan suatu hal yang berpengaruh langsung terhadap produktivitas perusahaan. Penyusunan letak fasilitas yang teratur serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditentukan akan menunjang pelaksanaan kegiatan dalam perusahaan yang bersangkutan.
Fasilitas di dalam pabrik PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas memiliki tata letak yang tepat dan berurutan sesuai dengan alur produksi, keselamatan kerja dan kelancaran proses produksi. Letak fasilitas yang berurutan digunakan agar tidak terjadi adanya benturan dalam alur produksi antara satu dengan yang lain.
Adanya suatu proses produksi yang baik didukung dengan adanya mesin-mesin pengolahan yang baik pula. Adapun alat-alat yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Perlengkapan dan mesin pengolahan PT Sang Hyang Seri Cabang Banyumas
NO
PERLENGKPAN/MESIN
JUMLAH
FUNGSI
1.
Box Dryer
2
Mengeringkan calon benih

2.
Kompor, Blower dan Pipa
2
Menghasilkan api dan meniupkan udara panas ke box
dryer

3.
Elefator
2
Menaikan benih yang telah kering

4.
Pre-cleaner
2
Menyaring kotoran-kotoran yang terbawa dalam benih

5.
Air Screen Cleaner
2
Menyaring kotoran dan grading






d.      Perencanaan lingkungan kerja
Lingkungan kerja di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dapat dikatakan baik. Menjunjung tinggi adanya rasa akrab dan kekeluargaan dalam perusahaan merupakan strategi penciptaan lingkungan kerja yang nyaman. Lingkungan kerja yang baik tidak hanya diciptakan bagi para pegawai kantor namun kepada para pekerja borongan (buruh) juga diciptakan lingkungan kerja yang baik pula. Lingkungan kerja yang baik akan mendukung adanya produktivitas kerja tinggi yang dapat melancarkan segala aktivitas perusahaan.
Strategi perusahaan untuk meningkatkan keeratan hubungan antar pegawai dan terciptanya lingkungan kerja yang harmonis yaitu setiap hari Sabtu diadakan olahraga bersama yang memang terbukti dapat menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.
e.       Perencanaan standar produksi
Standar Produksi ditetapkan pada PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas karena perusahaan ini memproduksi benih unggul dan bersertifikat dimana kualitas adalah nomor satu. Adanya standar produksi di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas membuat karyawan berpegang pada standarisasi mutu yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan proses produksi perusahaan dan manajemen perusahaan juga mempunyai beberapa kemudahan untuk mengadakan pengendalian dari kegiatan produksi dalam perusahaan. Standardisasi mutu yang ada di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas mengacu pada standar yang dimiliki oleh BPSB.
Adanya standardisasi dalam perusahaan tersebut memberikan banyak keuntungan yang dapat diperoleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas yang salah satunya adalah mendapat kepercayaan dari masyarakat bahwa benih yang dihasilkan memang benar-benar benih unggul sehingga masyarakat khususnya petani akan menggunakan kembali benih hasil produksi PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dan mendatangkan profit bagi perusahaan.
2.        Pengorganisasian produksi
Pengorganisasian dalam sistem produksi di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas telah dilaksanakan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing pekerja dari atasan hingga bawahan secara vertikal sehingga terciptanya kelancaran dalam produksi antar satu bagian ke bagian lainnya. Adanya struktur organisasi yang diterapkan, maka kekuasaan dan tanggungjawab berjalan dari atasan hingga bawahan. Sikap loyalitas kepada perusahaan yang dimiliki oleh karyawan membuat mereka selalu mengorganisir kegiatan produksi dengan baik dan menyelesaikan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.
PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dalam kegiatan produksinya memiliki beberapa unit atau departemen sehinga tercipta kelancaran produksi. Bagian produksi dipimpin oleh seorang assisten manajer produksi yang bertanggungjawab atas seluruh kegiatan produksi benih padi dari penanaman di lapang menjadi benih kantong yang siap dipasarkan. Seorang assisten manajer produksi dibantu oleh pekerja lapang dan pekerja pengolahan. Pekerja lapang merupakan orang-orang yang terjun langsung ke lapang dimulai saat melakukan proses kerjasama dengan petani penangkar, pengelolaan wilayah, penanaman, pengawasan lapang tiap bulan, dan panen. Pekerja pengolahan terdiri dari petugas pengolahan, simpan kemas, kendali mutu, dan pemelihara mesin. Petugas pengolahan bertanggungjawab atas pengolahan calon benih padi dimulai saat penerimaan calon benih di pabrik (GKP) hingga benih dinyatakan lulus.
Petugas simpan kemas bertanggungjawab atas pengemasan benih lulus menjadi benih kantong dan mengawasi jalannya keluarnya benih kantong dari pabrik serta bertanggungjawab pula dalam penyimpanan benih lulus atau benih kantong di dalam gudang sebelum dipasarkan. Petugas mutu bertugas untuk menguji dan mengontrol standar mutu benih dari penerimaan benih di pabrik hingga benih siap dipasarkan, namun tidak hanya standar mutu benih saja yang dikontrol tetapi segala kebersihan alat produksi juga dikontrol. Pemelihara mesin bertanggungjawab untuk memelihara mesin pengolahan agar tetap dapat berfungsi optimal. Seluruh bagian dalam produksi bertanggungjawab kepada manajer cabang atas segala kegiatan yang dilaksanakan.
Status tenaga kerja yang ada pada PT Sang Hyang Seri antara lain yaitu karyawan tetap, tenaga kerja harian, dan tenaga kerja borongan. Karyawan tetap ialah tenaga kerja yang secara resmi telah diangkat oleh perusahaan melaui surat keputusan yang dikeluarkan oleh jajaran direksi perusahaan dan mendapatkan gaji tetap. Tenaga kerja harian ialah tenaga kerja yang bekerja untuk perusahaan dan mendapatkan upah kerja sesuai hari kerja yang dicapai oleh tenaga kerja tersebut, dan tidak tercatat sebagai tenaga kerja tetap sedangkan tenaga kerja borongan ialah tenaga kerja yang bekerja untuk perusahaan untuk menyelesaikan satu paket pekerjaan untuk mendapatkan upah sesuai dengan capaian atau perolehan tonase pekerjaan pada satu waktu tertentu.
Adapun jumlah tenaga kerja yang ada pada PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas yaitu 29 orang yang terdiri atas:
a.       1 orang manajer cabang,
b.      6 orang karyawan di bagian pemasaran,
c.       10 orang karyawan di bagian produksi,
d.      4 orang honorer kontrak,
e.       8 orang pegawai harian lepas.
Selain tenaga kerja di atas, pada waktu-waktu tertentu seperti masa panen atau pengolahan calon benih, akan membutuhkan tenaga kerja tambahan yang bersifat borongan sekitar 25 orang. Jumlah tersebut tidak baku, akan tetapi kebutuhan tenaga kerja borongan akan disesuaikan dengan volume pekerjaan.
Tenaga kerja pada PT Sang Hyang Seri (Persero) tidak hanya mendapatkan gaji atau upah pokok yang sebagaimana mestinya mereka dapatkan. Akan tetapi terdapat beberapa hak yang diberikan perusahaan bagi para karyawan. Hak cuti merupakan salah satu hak yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya. Banyaknya masa cuti yang diberikan adalah 12 hari/ tahun dipotong cuti bersama.
Bentuk perhatian lain dari perusahaan terhadap tenaga kerjanya yaitu adanya tunjangan kesehatan bagi karyawan. Tunjangan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya mengikuti besarnya plafon asuransi sebagai batasan tunjangan yang diberikan. Selain tunjangan kesehatan, perusahaan memberikan tunjangan lain bagi karyawannya salah satunya yaitu tunjangan perumahan.
Berbagai bentuk tunjangan atau insentif yang diberikan perusahaan, menunjukkan upaya perusahaan dalam memberikan perhatiannya terhadap kesejahteraan karyawan. Merupakan bukti bahwa tenaga kerja adalah bagian yang penting dalam perusahaan, oleh karena itu hal-hal yang diperkirakan dapat mendorong produktivitas tenaga kerja akan senantiasa diberikan oleh perusahaan bagi tenaga kerja.
3.        Pengarahan dan pengkoordinasian produksi
Pelaksanaan kegiatan pengarahan dalam perusahaan ini yaitu diadakannya kegiatan brefing dan evaluasi kepada seluruh pegawai serta pengarahan terhadap assisten manajer produksi dari manajer cabang mengenai wilayah penangkaran dari tanam hingga panen dan berjalannya kegiatan pengolahanpun juga diarahkan dengan baik. Pengarahan juga dilakukan oleh assisten manajer produksi kepada para petugas lapang dan pengolahan agar mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan dalam produksi benih padi unggul. Pengarahan tidak saja dilakukan apabila terdapat kesulitan atau masalah dalam produksi namun pengarahan dilakukan kapanpun agar kegiatan yang belum dilakukan dapat dilakukan.
Pengkoordinasian produksi merupakan sesuatu yang penting dalam pelaksanaan proses produksi pada perusahaan. Pengkoordinasian di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas dilakukan oleh seluruh elemen perusahaan baik dari bagian pemasaran kepada bagian produksi ataupun antar bagian dalam produksi. Koordinasi awal dilakukan dari bagian pemasaran untuk menginformasikan kepada bagian produksi mengenai permintaan benih unggul padi non hibrida pada pasar retail dan coorporate sehingga bagian produksi dapat menyediakan benih sesuai kebutuhan pasar. Koordinasi lainnya dilakukan antar bagian dalam kegiatan pengolahan agar benih unggul bersertifikat dapat tercipta dan tak hanya itu, koordinasi dari pimpinan kepada bawahan juga terus terjadi dalam kegiatan produksi. Koordinasi memudahkan bagian pengolahan untuk mempersiapkan tenaga kerja.
4.        Pelaksanaan Proses Produksi
a.       Proses pra panen
1)      Fase pendahuluan
Dalam fase ini, perusahaan telah mengajukan permohonan areal baru kepada BPSB dan sekaligus melakukan pemeriksaan pada areal tangkar. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi kesesuaian administratif areal dengan kenyataan. Pemeriksaan dilakukan oleh perusahaan bersama BPSB.
2)      Kegiatan budidaya
Kegiatan budidaya tanaman padi dimulai dari pengolahan tanah hingga pemeliharaan tanaman diserahkan sepenuhnya kepada petani, dan petani dalam melakukan teknik budidaya sesuai dengan peraturan perusahaan sehingga perusahaan yakin bahwa teknologi diterapkan dengan baik dan benar sesuai dengan rencana kerja dan mampu meningkatkan mutu serta produktivitas. Walaupun kebebasan budidaya diserahkan kepada petani, perusahaan tetap mendampingi dan mengawasi petani dalam budidaya dan mengamati areal pertanaman ditiap fasenya.
3)      Fase Vegetatif
Fase vegetative merupakan fase pemeriksaan lapangan pertama yang dilaksanakan 30 hari setelah tanam atau 47-50 hari setelah tebar benih. Apabila hasil pemeriksaan dinyatakan tidak memenuhi standar mutu, maka dapat dilakukan pemeriksaan ulangan sebanyak satu kali dan paling lambat satu minggu setelah pemeriksaan sebelumnya. Dalam fase ini pemeriksaan yang diamati meliputi pemeriksaan fisik dari tanaman padi.
4)      Fase Berbunga
Fase berbunga merupakan pemeriksaan lapang kedua pada tanaman padi yang dilaksanakan pada waktu tanaman berbunga lebih dari 5% atau sampai malai keluar 80%. Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi standar mutu, maka dapat dilakukan pemeriksaan ulangan satu kali.
5)      Fase menjelang panen
Fase ini merupakan fase pemeriksaan lapangan ketiga yang dilaksanakan pada fase masak saat gabah mulai menguning, dan paling lambat dilakukan 1 minggu sebelum panen. Panen dilaksanakan setelah tercapainya masak fisiologis. Kriteria panen yaitu apabila 90% gabah tiap malai telah masak kuning dan meminimalkan terjadinya kehilangan hasil dan kerusakan calon benih.
b.      Proses Pasca Panen
1)        Penerimaan GKP
GKP diterima untuk diolah apabila sesuai dengan standar. Apabila kondisi calon benih telah rusak, sebaiknya benih ditolak untuk diproses. Pengecekan calon benih dilakukan terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Pengecekan mutu secara visual dilakukan mengenai butir tumbuh dan keadaan calon benih apakah bekas terkena hujan atau tidak. Apabila mutu calon benih padi tidak sesuai dengan standar lapang yaitu kadar air maksimal 25% dan kotoran maksimal 7% dilakukan rafaksi benih dimana apabila kadar air < standar maka muatan GKP ditambahkan dan apabila kadar air > standar maka muatan GKP dikurangi dari sandar mutu. 
2)        Pengujian calon benih
Analisis calon benih dilakukan mulai dari tanaman di lapangan hingga menjadi benih kantong. Standar lapangan yang ditetapkan perusahaan dapat dilihat pada Tabel 7.

      Tabel 7. Standar Lapangan Mutu Benih Padi
Kelas benih
Isolasi jarak
Varietas lain dan tipe simpang (max)
Rerumputan berbahaya
Benih dasar
3 meter
0,0 %
-
 Benih pokok
3 meter
0,2 %
-
Benih sebar
3 meter
0,2 %
-

Pengujian lainnya dilakukan secara intensif demi terciptanya benih unggul bersertifikat. Standar mutu lapangan, laboratorium, dan penampilan benih yang telah ditetapkan perusahaan dicermati dengan baik. Pengujian kadar air, daya tumbuh, dan kemurnian benih diperlukan adanya suatu sampel. Sampel yang diambil diyakini mampu mewakili semua calon benih yang ada. Sampel yang akan diuji diambil secara acak dimana jumlah sampel yang diambil adalah 10% dari jumlah karung + 5 karung dan pengambilan sampel (calon benih) dilakukan untuk memenuhi kebutuhan 3 kantong dan isi tiap kantong 1kg agar mudah dilakukan pengujian baik oleh perusahaan ataupun oleh BPSB.
3)        Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan kadar air pada calon benih sehingga benih menjadi tahan lama ketika disimpan. Tersedia 2 jenis alat pengeringan calon benih yaitu lantai jemur dan box dryer. Proses pengeringan yang dilakukan apabila cuaca baik yaitu dengan menggunakan lantai jemur yang membutuhkan waktu kurang lebih selama 2 hari dan setelah itu calon benih padi dapat dicleaning. Proses pengeringan manggunakan lantai jemur dengan memanfaatkan sinar matahari merupakan salah satu cara yang baik karena laju penurunan  kadar air 1,42% per jam dimana laju ini lebih cepat dari media lainnya seperti kayu bakar, arang kayu, sekam, dan sebagainya dan biasanya lama pengeringan selama 9 jam. Apabila menggunakan boxdryer diperlukan waktu selama ≤ 6-8 jam agar calon benih memiliki kadar air minimum.
4)        Pembersihan dan sortasi
Proses pembersihan dan pemilahan dilakukan melalui dua tahap yaitu pembersihan pertama melalui pre cleaner yang menghasilkan benih setengah bersih yang telah terpisah dari jerami kasar dan jerami halus. Benih setengah bersih kemudian diproses dalam pembersihan tahap kedua melalui air screan cleaner yang menghasilkan benih bersih yang telah terpisah dari jerami kasar, jerami halus, gabah hampa, gabah setengah isi, debu dan batuan.
5)        Pengemasan
Proses ini meliputi benih lulus yang akan dikemas dimasukkan kedalam surge hopper melalui bucket elevator, setelah penuh maka dengan mengatur Weighing unit sesuai dengan berat yang ditentukan maka benih akan keluar dan ditampung dalam plastik pengemas, kemudian melalui belt conveyor dibawa ke continous band sealer untuk dijahit kemudian benih dimasukkan dalam karung seberat 60 kg. Berat bersih benih dalam kemasan seberat 5 kg. Dalam pengemasan tidak lupa dilampirkan label sertifikasi dari BPSB agar masyarakat semakin yakin bahwa benih padi yang dihasilkan benar-benar unggul.
6)        Penyimpanan
Penyimpanan dalam gudang benih menggunakan alas balok dan papan kayu sehingga kantong benih tidak kontak langsung dengan lantai gudang penyimpanan. Cara penataan kantong dalam penyimpanan ditata secara berselang-seling sehingga terdapat rongga udara dan kedudukan kantong tidak goyah. Dalam penyimpanan benih diperhatikan faktor yang mempengaruhi penyimpanan seperti jumlah kantong benih yang akan disimpan, suhu dan kelembaban udara ruang penyimpanan, kemasan benih dan lama penyimpanan.
Terdapat prinsip penyimpanan pada perusahaan yaitu simpan benih kantong baru yang mutunya lebih tinggi dan segera salurkan benih kantong yang sudah tersimpan lebih lama.
5.        Pengawasan  Proses Produksi
a.       Pengawasan calon benih di lapangan
Pengawasan calon benih di lapangan dilakukan melalui 4 fase yaitu fase pendahuluan, fase vegetatif, fase berbunga, dan fase menjelang panen. Pada fase pendahuluan sejarah penggunaan tanah sebelumnya, letak dan situasi areal yang akan digunakan sebagai areal sertifikasi, kebenaran batas-batas areal yang akan digunakan, kebenaran benih sumber termasuk varietas, asal, volume serta kelas benih yang akan ditanam dan dihasilkan, lalu pengawasan terhadap hasil pemeriksaan dan rekomendasi memenuhi syarat atau memenuhi syarat dengan catatan anjuran serta tidak memenuhi syarat dilakukan pada perusahaan ini.
Pengawasan pada fase vegetatif, berbunga, dan menjelang panen dilakukan melalui persiapan pemeriksaan yang dilaksanakan dengan memeriksa berkas-berkas persyaratan pemeriksaan; pemeriksaan global yaitu memeriksa isolasi jarak, isolasi waktu, populasi tanaman per m2; pemeriksaan areal contoh yaitu dengan memeriksa tanaman (padi) di lahan secara fisik; perhitungan campuran varietas lain; dan waktu pemeriksaan lapang.
b.      Pengawasan terhadap alat panen dan alat pengolahan
Alat panen yang akan digunakan harus benar-benar bersih dan bebas dari kemungkinan terjadinya pencampuran fisik maupun kontaminan lainnya. Peralatan pengolahan dan pengemasan yang akan dipergunakan dipastikan juga bersih dan bebas dari gabah dan kotoran lain sisa penggunaan sebelumnya sehingga kemungkinan pencampuran fisik dan kontaminan lain dapat dihindari. Mengecek dan memastikan pula bahwa areal yang akan dipanen benar-benar telah lulus pemeriksaan lapang dan memenuhi syarat untuk dipanen baik dari tampilan fisik kemasakan, maupun kadar airnya.
c.       Pengawasan Mutu Selama Proses Pengolahan
Pengawasan mutu selama proses pengolahan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat mutu produk. Pengawasan mutu dilakukan mulai dari penerimaan calon benih di pabrik, pengeringan, pembersihan dan sortasi, serta simpan kemas. Adanya standar lapangan, standar uji laboratorium, dan standar penampilan yang dibuat oleh perusahaan merupakan suatu upaya agar pengawasan mutu benih mudah untuk dilakukan sehingga benih unggul bersertifikat dapat diproduksi. Standar yang ditetapkan oleh perusahaan juga tidak jauh berbeda dengan standar BPSB sehingga apabila calon benih akan diajukan untuk diperiksa oleh BPSB, perusahaan percaya bahwa calon benih yang akan diuji dinyatakan lulus dan mendapatkan label dari BPSB.
d.   Pengawasan Mutu Produk Jadi
Pemeriksaan mutu produk jadi perlu dilakukan sebelum produk dipasarkan dengan tujuan untuk mendapatkan mutu produk akhir yang baik dan konstan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Pengawasan terhadap produk yang telah jadi (benih kantong) dilakukan dengan pemeriksaan kemasan dan tanggal kadaluarsa yang tertera pada label kemasan. Pemeriksaan kemasan dilakukan untuk memastikan bahwa benih kantong yang akan dipasarkan berada dalam kemasan yang baik dan pemeriksaan kadaluarsa benih harus dilakukan agar masyarakat tidak ragu untuk menggunakan benih PT Sanng Hyang Seri. Masa kadaluarsa benih padi non hibrida yaitu 6 bulan dari tanggal diajukannya pemeriksaan akhir kepada BPSB.

6.        Pengendalian produksi
Semua kegiatan di dalam sebuah perusahaan memerlukan adanya pengendalian. Pengendalian dalam hal ini diartikan sebagai pengawasan dan dapat mengambil tindakan untuk perbaikan yang diperlukan. Pengendalian produksi yang dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas yaitu :
a.              Pengendalian proses produksi
Pengendalian proses produksi menyangkut beberapa masalah tentang perencanaan dan pengawasan dari proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan. Tujuan dari pengendalian proses adalah agar jalannya proses produksi sesuai dengan Standar Operation Procedure (SOP) yang telah ditentukan oleh perusahaan.
Kegiatan pengendalian proses produksi di lapang dilakukan apabila realisasi produksi tidak sesuai dengan rencana produksi yang telah ditetapkan. Banyaknya dijumpai gagal panen akibat serangan hama dan penyakit membuat perusahaan kehilangan sumber benih yang akan diolah. Namun untuk mengatasi hal tersebut perusahaan menambah areal tanam diluar areal tanam yang direncanakan. Penambahan areal tersebut total sebesar ≤50 ha yang tersebar di beberapa wilayah kerjanya dimana areal tersebut didapat dari mitra dengan petani dan sewa sehingga meminimalkan terjadinya kekurangan benih.
Kegiatan pengendalian lainnya yaitu saat dilakukannya kegiatan penyimpanan benih bersih ataupun benih lulus di gudang sebelum dipacking dan dipasarkan. Benih merupakan hal yang rentan terhadap serangan hama gudang, sehingga untuk mengendalikan hal tersebut agar kualitas benih tetap terjaga dilakukan fumigasi gudang yaitu dengan dilakukan penyemprotan obat setiap 1 bulan sekali dan pembersihan gudang yang dilakukan setiap hari.
b.             Pengendalian bahan baku
Pengendalian bahan baku dilakukan pada proses budidayanya. Perencanaannya dilakukan dengan metode historical data (pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya). Sistem perencanaan ini didasarkan pada data order tahun sebelumnya, kemudian dilakukan perkiraan kebutuhan bahan baku untuk tahun mendatang dan hasil panen sesuai dengan RKAP sehingga stok bahan baku akan tetap tersedia untuk dapat memenuhi permintaan pasar.
c.              Pengendalian tenaga kerja
Pengendalian tenaga kerja diperlukan karena berkaitan dengan biaya produksi. Pengendalian ini bertujuan agar penggunaan tenaga kerja yang optimal sesuai dengan kegiatan produksi yang dilakukan. Mengetahui jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam proses produksi akan meminimalkan biaya produksi dan mengefisienkan penggunaan karyawan. Kegiatan pengolahan dilaksanakan oleh pekerja borongan (buruh) dimana apabila kekurangan buruh maka dilakukan pengambilan tenaga kerja melalui ketua borongan sesuai yang dibutuhkan. Para pegawai pengolahan bertanggungjawab atas kegiatan pengolahan yang terjadi dan bertindak sebagai mandor untuk mengawasi jalannya produksi. Karyawan harian lepas juga diterapkan pada perusahaan ini guna mengatasi kekurangan karyawan dan pengambilan karyawan harian lepas juga sesuai kebutuhan perusahaan dengan tidak lepas dari ijin terlebih dahulu kepada kantor regional.
d.             Pengendalian biaya produksi
Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Biaya produksi dalam pelaksanaan proses produksi perlu direncanakan dan dikendalikan dengan baik agar tidak melampaui anggaran yang telah ditetapkan. Pengendalian biaya produksi di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas sudah cukup baik yang dibuktikan dengan selalu terdapat pembukuan terhadap perencanaan dan pengendalian untuk biaya produksi. Pembukuan tersebut tidak dipublikasikan, karena merupakan rahasia perusahaan.
e.              Pengendalian mutu
Pengendalian mutu yang dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas telah dilakukan dengan baik. Pengendalian mutu dilaksanakan dari persiapan areal tanam hingga benih yang akan dipasarkan. Pengendalian mutu benar-benar dilaksanakan pada tiap tahap produksi di perusahaan ini karena mutu benih adalah nomor satu bagi perusahaan.
Kualitas produk mempunyai peranan yang penting dalam rangka untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari perusahaan yang bersangkutan. Berproduksi tanpa memperhatikan kualitas hasil produksinya, akan mengakibatkan terancamnya kehidupan perusahaan tersebut pada masa yang akan datang.

B.        Analisis SWOT Produksi Benih Padi pada PT Sang Hyang Seri, Banyumas


Analisis SWOT mampu mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada. Pada PT Sang Hyang Seri (Persero) cabang Banyumas memiliki deskripsi SWOT sebagai berikut:
1.             Kekuatan (Strength)
a.              Lokasi perusahaan dan pabrik yang terjangkau
Lokasi perusahaan dan pabrik yang berada di Sumpiuh merupakan daerah tengah areal wilayah kerjanya (Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, Kebumen, dan Wonosobo) sehingga memudahkan pengangkutan calon benih dari berbagai daerah (dalam wilayah kerja) untuk diolah.
b.             Kualitas benih baik
Benih yang diproduksi untuk dipasarkan (semua varietas) memiliki kualitas yang baik dengan tercantumnya label sertifikasi yang diterbitkan dari BPSB pada kemasan sehingga kepusan konsumen dapat diperoleh.
c.              Adanya dukungan dari pemerintah
Sebagai perusahaan milik pemerintah, PT Sang Hyang Seri mendapat dukungan baik dari segi modal maupun non modal.
d.             Teknologi penunjang modern
Kapasitas produksi perusahaan yang cukup besar ditunjang dengan adanya teknologi yang terbilang modern di wilayah kerjanya.
e.              Brand perusahaan dikenal masyarakat
PT Sang Hyang Seri (Persero) merupakan salah satu perusahaan besar penghasil benih yang telah lama eksis dan terus berkembang sehingga brand perusahaan sudah banyak dikenal oleh para pelaku yang menggeluti bidang pertanian.
f.              Dukungan masyarakat setempat
Penggunaan tenaga kerja yang berasal dari warga di sekitar lokasi perusahaan, memberikan keuntungan bagi warga sekitar. Sementara itu perusahaan pun mendapatkan feed back yang baik dari warga dengan adanya perusahaan di wilayah itu tidak dianggap mengganggu masyarakat sekitar.
g.             Lingkungan kerja yang nyaman
Penerapan kondisi kekeluargaan pada perusahaan membuat para karyawan tidak stress dalam melaksanakan pekerjaanya sehingga apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka dapat dilaksanakan dengan baik.
2.             Kelemahan (Weakness)
a.              Kebijakan terpusat
Adanya kebijakan yang terpusat pada jajaran direksi membuat pengambilan keputusan pada tingkat perusahaan cabang menjadi terbatas, karena segala hal mengenai pekerjaan dilakukan berdasarkan SK dan SOP yang diberlakukan dari kantor pusat. Ketentuan-ketentuan yang sudah menjadi landasan dalam menjalankan tugas dapat menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan kerja.
b.             Ketenagakerjaan
Para karyawan tetap yang telah memiliki pengalaman kerja yang cukup tidak menjamin kuatnya sebuah perusahaan, akan tetapi terdapat kelemahan yang muncul yaitu dari segi umur dan tingkat pendidikan tenaga kerja. Jumlah karyawan muda di perusahaan yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah karyawan senior membuat kedinamisan perusahaan cenderung lambat.
Adanya cukup banyak karyawan yang tingkat pendidikannya setara SMA atau sederajat dimana sangat memungkinkan pesaing memiliki tenaga kerja tingkat pendidikannya lebih tinggi yang dapat mendorong adanya inovasi dalam perusahaan. Kurangnya tenaga kerja lapangan pada bagian produksi cukup membuat kewalahan dalam mengawasi dan mengatur areal pertanaman di 6 wilayah kerja yang cukup luas dan lokasinya pun tersebar di berbagai tempat.
c.              Alat pengolahan
Terdapat beberapa alat pengolahan yang rusak dan alat yang sudah cukup tua mampu menghambat proses produksi dimana alat pengolahan yang rusak membutuhkan waktu lama untuk perbaikan dan alat yang sudah cukup tua tidak berjalan dengan optimal sehingga mengakibatkan pengolahan benih cenderung lebih lama dan penurunan produktivitas perusahaan dalam pengolahan benih dapat terjadi.
d.             Fasilitas gudang penyimpanan
Terdapat bagian yang rusak pada bangunan gudang membuat hama gudang seperti burung dan tikus dapat keluar masuk dengan bebas dan merusak kantong benih serta dapat memakan benih-benih dalam kantong tersebut. Hal itu mengakibatkan berat benih dalam karung berkurang dan mampu mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
e.              Kurangnya inovasi dalam pengendalian hama dan penyakit
Inovasi-inovasi baru dalam pengendalian hama penyakit dipelukan agar dapat diinformasikan dan diterapkan bagi petani mitra sehingga mampu mengurangi kemungkinan terjadinya gagal panen yang diakibatkan oleh hama dan penyakit.
3.             Peluang (Opportunities)
a.              Beras merupakan makanan pokok
Kebiasaan masyarakat Indonesia mengkonsumsi nasi, tidak bisa dirubah begitu saja. Hal ini berpengaruh pada persedian stok beras. Untuk memenuhi stok beras, dibutuhkan benih berkualitas dalam waktu relatif singkat dapat menghasilkan padi.
b.             Peluang program
Sebagai perusahaan milik pemerintah sangatlah mungkin bagi perusahaan dalam mendapatkan program. Adanya program-program pemerintah di bidang pertanian terlebih yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan benih, sebagai contoh pada tahun 2014 perusahaan mendapatkaan kepercayaan dari pemerintah untuk memproduksi benih yang akan digunakan untuk subsidi sehingga banyak masyarakat yang akan menggunakan produk Sang Hyang Seri.
c.              Tingkat persaingan perusahaan penghasil benih bersertifikat di daerah masih rendah.
Masih sedikitnya usaha perbenihan di areal wilayah kerja membuat perusahaan dapat mengembangkan usaha seluas-luasnya untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya, sehingga keuntungan perusahaan dapat meningkat.
4.             Ancaman (Threats)
a.              Kondisi cuaca dan iklim
Perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu berdampak pada kegiatan produksi benih padi PT Sang Hyang Seri di lapang. Perubahan cuaca dan iklim sangat mempengaruhi pada penanaman dan hasil panen.
b.             Serangan hama dan penyakit
Hama dan penyakit yang menyerang areal pertanaman dapat mempengaruhi berkurangnya produksi benih bahkan menyebabkan gagal panen apabila tidak dikendalikan dengan baik.
c.              Kompetitor
Saat ini banyak bermunculan perusahaan yang memproduksi produk benih padi. Hal ini mengakibatkan pangsa pasar berkurang.
d.             Perubahan teknologi pesaing
Semakin berkembangnya jaman, teknologi pun semakin berkembang. Perusahaan harus mengimbanginya agar tetap dapat bersaing dengan perusahaan lain, sehingga hasil dapat meningkat.
e.              Tengkulak
Berperannya tengkulak di sekitar petani mampu mengancam ketersediaan benih bagi perusahaan. Petani cenderung menjual hasil panennya ke tengkulak, karena harga yang ditawarkan oleh tengkulak lebih tinggi. Ini mengakibatkan pasokan calon benih ke perusahaan berkurang.
f.              Perilaku petani
Masih terdapatnya sikap petani yang belum terbuka kesadarannya terhadap kegunaan benih bersertifikat.

Dari penjelasan analisis SWOT di atas dapat dibuat strategi-strategi matriks EFAS dan IFAS. Matriks EFAS (External Factor Analysis Summary) adalah suatu matriks yang difokuskan pada kondisi yang ada dan kecenderungan muncul dari luar, tetapi dapat mempengaruhi kinerja suatu organisasi atau perusahaan. Faktor eksternal adalah peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats), sedangkan matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summary) adalah suatu matriks yang menggambarkan susunan daftar faktor-faktor internal yang mempengaruhi kinerja suatu organisasi atau perusahaan. Faktor internal adalah kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness). Strategi yang digunakan perusahaan adalah:
1.             Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Strategi yang dapat dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas adalah :
a.         Mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk
Kualitas produk yang baik yang telah dimiliki perusahaan harus dapat dipertahankan dan diadakan penelitian dan perkembangan mengenai mutu benih yang lebih baik.
b.        Memanfaatkan teknologi modern untuk mengoptimalkan produksi
Banyaknya teknologi modern yang telah berkembang saat ini baik mesin ataupun inovasi-inovasi baru mengenai usaha pembenihan tetap diterapkan agar produksi optimal dapat tercapai.
c.         Meningkatkan produksi atas dasar program pemerintah
Terdapatnya program pemerintah dibidang pembenihan yang sering melibatkan PT Sang Hyang Seri dimanfaatkan tanpa memberikan kekecewaan pada pemerintah sehingga program-program pemerintah lainnya akan melibatkan kembali PT Sang Hyang Seri dimana peningkatan produksi dapat tercapai dan menguntungkan perusahaan.
2.             Strategi WO
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki perusahaan. Strategi yang dapat dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas adalah :
a.         Meningkatkan kinerja perusahaan
Meningkatkan kinerja perusahaan hubungannya dengan manajemen perusahaan, sehingga setiap komponen dalam perusahaan secara optimal dimanfaatkan untuk mencapi tujuan perusahaan.
b.        Mendukung pengembangan teknologi global
Perusahaan selalu mendukung perkembangan teknologi di bidang industri benih padi, sehingga dapat meningkatkan mutu benih padi yang dihasilkan. Perkembangan teknologi ini tidak hanya meliputi bagian pengolahan saja tetapi juga pada bagian budidaya.
3.             Strategi ST
Strategi ini adalah strategi untuk menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan dengan cara menghindari ancaman. Strategi yang dapat dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas adalah :
a.         Menjaga kualitas produk
Konsistensi dalam menjaga kualitas produk sangat diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
b.        Memberikan penawaran harga yang menarik pada petani mitra
Perusahaan harus mampu memberikan penawaran harga yang menarik agar petani mau untuk bekerjasama dalam penangkaran dan  menjual hasilnya pada perusahaan. Syarat petani mitra dalam penangkaran benih yaitu petani tergabung dalam kelompok tani dan memiliki areal tanam minimal 5 hektar.
c.         Memperbaharui dan mengembangkan teknologi
Perbaruan dan pengembangan teknologi perlu dilakukan agar perusahaan dapat bersaing dengan kompetitor.
d.        Mempertahankan kontinuitas kerjasama dengan petani penangkar
Hubungan kerjasama perusahaan dan petani penangkar dalam upaya mempertahanka areal pertanaman yang sudah ada dan jaminan stok calon benih harus tetap dipertahankan dengan baik agar produksi dapat tetap berjalan.
4.             Strategi WT
Strategi ini ditujukan untuk meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman bagi perusahaan. Strategi yang dapat dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas adalah :
a.         Peningkatan manajemen
Peningkatan manajemen dan budaya organisasi perlu dilakukan agar semua kegiatan dapat berjalan sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAT). Peningkatan keahlian tenaga kerja menjadi prioritas pertama, karena tenaga kerja merupakan faktor penting dalam proses produksi benih padi.
b.        Informasi penggunaan teknologi tepat guna
Teknologi baru yang bermunculan khususnya pada penanganan hama dan penyakit tanaman perlu diinformasikan dengan tepat kepada para petani agar diterapkan dan hasil yang diperoleh optimal.
c.         Perbaikan dan pemeliharaan fasilitas pabrik
Adanya fasilitas pabrik seperti mesin pre cleaner dan air screan cleaner yang kurang baik harus segera diperbaiki atau diperbaharui sehingga produksi optimal dapat tercapai.
Dari penjelasan analisis strategi di atas, strategi SWOT secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 8.

IV.     KESIMPULAN DAN SARAN

A.                Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil praktik kerja lapangan yang dilakukan di PT. Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas, maka dapat disimpulkan :
1.        Kegiatan produksi benih padi non hibrida di PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas meliputi kegiatan pra panen (persiapan lahan dan fase pendahuluan, pengolahan tanah, pembuatan pesemaian, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, fase vegetatif, fase berbunga, dan fase menjelang panen), kegiatan panen, dan pasca panen (penerimaan calon benih, pengujian 1, pengeringan, pembersihan dan sortasi, pengujian 2, pengemasan, dan penyimpanan).
2.        Kegiatan manajemen produksi benih padi non hibrida yang diterapkan oleh PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas adalah perencanaan produksi, pengorganisasian produksi, pengarahan dan pengkoordinasian produksi, pelaksanaan proses produksi, pengawasan proses produksi serta pengendalian produksi.
3.        Permasalahan yang terdapat pada PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas yaitu adanya kebijakan terpusat yang menjadikan perusahaan cabang terkesan lamban dalam mengambil keputusan, kurangnya tenaga kerja, terdapat beberapa fasilitas gudang dan mesin pengolahan yang rusak dan belum diperbaiki serta kurangnya inovasi dalam pengendalian hama penyakit.
B.     Saran
Saran yang dapat diberikan pada PT. Sang Hyang Seri (Persero) Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas berdasarkan kegiatan praktik kerja lapangan adalah sebagai berikut:
1.        Mengoptimalkan kapasitas produksi dengan memaksimalkan kemampuan mesin-mesin pengolah benih seperti Box Dryer, Pre cleaner, dan Air Screen Cleaner untuk dapat menigkatkan volume produksi sehingga penggunaannya dapat lebih efisien.
2.        Perlunya pemeriksaan intensif kepada calon benih di lapang agar calon benih yang dihasilkan sesuai dengan perencanaan perusahaan.
3.        Jumlah tenaga kerja pengelola wilayah (petugas lapang) diperbanyak menimbang areal kerja PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas luas sehingga pemeriksaan lapang dapat meyeluruh ke setiap daerah. Tenaga kerja khusus penanganan hama penyakit perlu diadakan dan penambahan tenaga kerja kendali mutu juga perlu dilakukan mengingat kegiatan pemeriksaan mutu dari lapang hingga akan dipasarkan membutuhkan tenaga ekstra.
4.        Pengawasan terhadap proses pengolahan benih di pabrik perlu ditingkatkan agar para tenaga kerja borongan dapat tetap memperhatikan standar mutu perusahaan sehingga kualitas benih unggul dapat terjaga.
5.        Kegiatan manajemen produksi yang sudah berjalan dengan baik pada PT Sang Hyang Seri cabang Banyumas perlu dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, A. 1999. Manajemen Produksi Perencanaan Sistem Produksi. Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Assauri, S. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Fahmi, Irham. 2012. Manajemen Produksi dan Operasi. Alfabeta, Bandung.
Handoko, T. Hani. 1991. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
Ismunadji, M. 1990. Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
Kartasapoetra, A.G. 2003. Teknologi Benih. Rineka Cipta, Jakarta.

Kusuma, Hendra. 2009. Manajemen Produksi. Andi Yogyakarta, Yogyakarta.

Kuswanto, H. 1996. Dasar-Dasar Teknologi, Produksi dan Sertifikasi Benih. Andi Yogyakarta, Yogyakarta.

Las, Irsal. 2009. “Revolusi Hijau Lestari untuk Ketahanan Pangan ke Depan”. Sinar Tani. 14 Januari 2009.

Nurainal, Leni. 2012. Taksonomi Tanaman Padi. http://leniblogs.blogspot.com/2012/12/taksonomi-tanaman-padi.html.       diakses 10 November 2013.
Purnomo, Arifin Budi. 2012. Varietas Padi Indonesia. http://arifinbudi.blogsopt.com, diakses 9 November 2013.
Soemartono, Bahrin Samad, dan R. Hardjono. 1984. Bercocok Tanam Padi. CV. Yasaguna, Jakarta.
Sutopo, L. 1998. Teknologi Benih. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Wirawan dan Sri Wahyuni. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar Swadaya, Jakarta. 


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship