-->

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH / PENETAPAN ANGKA-ANGKA ATTERBERG


LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR ILMU TANAH

PENETAPAN ANGKA-ANGKA ATTERBERG





Semester :



Disusun Oleh :

Nama            :

NIM              :

Rombongan :

Asisten          :


KEMENTERIAN  PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN

PURWOKERTO






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Kekuatan suatu tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat komplek dari parameter-parameter yang didapatkan dari suatu pemeriksaan yang mendalam.. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat tanah tersebut, yang meliputi sifat fisis dan mekanis tanah.
                Salah satu hal yang perlu diketahui sebelum memulai suatu pengelolaan tanah disuatu lahan, adalah konsistensi tanah karena konsistensi merupakan resistensi terhadap deformasi atau perpecahan dan ditentukan oleh adhesi dan kohesi mulsa tanah. Olehkarena itu, konsistensi tanah harus secara tepat agar pengelolaan tanah yang dilakukandapat berjalan baik, serta dapat diusahakan secara maksimal.
    Konsistensi tanah merupakan resistensi terhadap deformasi atau perpecahan yang ditentukan oleh adhesi dan kohesi mulsa tanah, sehingga konsistensi mempengaruhi kemampuan tanaman memanjangkan akarnya, serta mempengaruhi jumlah oksigen dan air dalam tanah yang merupakan kebutuhan esensial pertumbuhan tanaman. Konsistensi tanah adalah bagian dari Rheologi. Rheologi adalah ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan bentuk (deformation) dan aliran (flow) suatu benda (Baver, 1959).
            Penentuan nilai konsistensi dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu (1) kualitatif (biasanya di lapangan dan di laboratorium) dengan menekan bongkah tanah diantaraujung telunjuk dengan ibu jari atau ujung ibu jari dengan pangkal tangan. Penetapansecara kualitatif dapat digunakan untuk melihat tingkah kelekatan, keliatan pada konsistensi basah dan tingkat kekerasan pada konsistensi kering. Metode ini lebih seringdilakukan di lapangan karena lebih simple dan tidak membutuhkan alat dan bahan yangrumit. (2) kuantitaif (di laboratorium) dengan pendekatan angka-angka atterberg yaitubatas cair (BC), batas lekat (BL), batas gulung (BG), dan batas berubah warna (BBW).
    Batas cair (liquid limit) adalah jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah. Kalau air lebih banyak maka tanah bersama air akan mengalir. Batas melekat adalah kadar air dimana tanah mulai tidak dapat melekat pada benda lain. Bila kadar air lebih rendah dibanding batas lekat maka tanah tidak dapat melekat, tetapi bila kadar air lebih tinggi dari batas lekat maka tanah akan mudah melekat pada benda lain. Batas gulung adalah kadar air dimana gulungan tidak dapat digulung lagi. Apabila digulungkan maka tanah akan pecah-pecah ke segala jurusan. Pada kadar air lebih rendah dari batas gulung maka tanah sukar diolah. Batas berubah warna adalah tanah yang telah mencapai batas gulung, masih dapat terus kehilangan air sehingga lambat laun menjadi kering dan ada suatu ketika tanah berwarna lebih terang. Batas berubah warna merupakan batas terendah kadar air dapat diserap tanaman.

B. Tujuan
            Praktikum ini bertujuan untuk mengertahui Batas Cair (BC), Batas Lekat (BL), Batas Gulung (BG), dan Batas Berubah Warna (BBW).




BAB II
METODE KERJA

A. Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya Casagrande, stop watch, colet/spatel, timbangan analitik, botol semprot, lap/serbet, kertas label, lempeng kaca, oven dan eksikator. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Contoh tanah kering udara, halus berdiameter 0,5 mm (Inseptisol, Andisol, Ultisol, Fertisol, Entisol).

B. Prosedur Kerja
1.      Batas Cair (BC)
a.       Alat casagrande yang mempunyai tinggi 1 cm disiapkan.
b.      Tanah basah yang homogen dibuat pasta secukupnya dengan cawan porselin.
c.       Latihan memutar alat casagrande dengan kecepatan konstan 2x per detik.
d.      Pasta tanah yang telah dibuat di atas cawan casagrande dan permukaannya diratakan dengan colet sampai setebal 1 cm, kemudian dengan colet pembelah pasta tanah dibelah di tengahnya dengan gerakan tegak lurus pada bidang cawan. Hasilnya pada dasar cawan harus terlihat bagian yang bersih dari tanah, lebar alur yang terjadi 2mm.
e.       Alat casagrande segera diputar dengan kecepatan konstan (2x per detik). Diamati sampai alur menutup selebar 1cm, putaran dihentika dan catat jumlah putaran yang diperlukan tadi.
f.       Setelah diperoleh jumlah ketukan antara 10-40, ambil pasta tanah disekitar alur yang menutup sebanyak kurang lebih 10 gram dan tetapkan kadar air tanahnya.
g.      Kerjakan untuk 4 ulangan dengan banyak ketukan diatas 25, dua ulangan dan dibawah 25 (2 ulangan).

2.      Batas Lekat.(BL)
a.       Sisa pasta tanah dari acara BC diambil, gumpalkan dalam tangan dan tusukkan colet kdalamnya sedalam 2,5 cm dengan kecepatan 1cm per detik. Dapat juga dijalankan dengan menggumpalkan pasta tanah dengan ujung colet sepanjang 2,5cm ada didalamnya dan kemudian colet ditarik dengan kecepatan 0,5 detik.
b.      Permukaan colet diperiksa: 1) bersih, tidak ada tanah lebih kering, 2) tanah atau suspensi tanah melekat, berarti pasta tanah lebih basah dari BL.
c.       Tergantung dari hasil pemeriksaan dalam langkah ke-2, pasta tanah dibasahi atau dikurangi kelembabannya, dan langkah ke-1 diulang-ulang lagi sampai dicapai keadaan dipermukaan colet disebelah ujungnya melekat suspensi tanah seperti dempul sepanjang kira-kira 1/3 kali dalamnya penusukan (kira-kira 0,8cm)
d.      Tanah sekitar tempat tusukan sebanyak kurang lebih 10 gram dan tetapkan kadar airnya.
e.       Dikerjakan untuk 2 ulangan.

3.      Batas Gulung (BG)
a.       Pasta tanah diambil kurang lebih 15 gram dan bentuk buat sosis atau pita tanah dengan cara menggulung-gulungkan diatas lempeng kaca dengan telapak tangan yang digerakkan maju mundur tanpa ditekan. Pada waktu menggolek-golekkan pasta tanah, gerakan jari memanjang.
b.      Tabung tanah yang terbentuk diperiksa: 1) tidak menunjukkan keretakan sewaktu mencapai tebal 3mm, 2) sudah retak-retak pada diameter lebih dari 3mm. Pada kejadian 1) pasta tanah lebih basah dari BG dan pada kejadian 2) pasta tanah lebih kering.


c.       Praktikum diulangi lagi sampaidiperoleh tambang tanah yang retak pada diameter 3mm. Ambil tambang tanah yang retak tersebut, masukkan ke dalam botol timbang untuk ditetapkan kadar airnya, kerjakan untuk dua ulangan.

4.      Batas Berubah warna (BBW)
a.       Dengan colet pasta tanah diratakan tipis dan permukaan licin mengkilat di atas permukaan papan kayu dan dibuat bentuk elips. Tebal bagian tengah 3mm, makin ketepi makin menipis.
b.      Hasil kerja tadi diletakkan pada tempat teduh dan yang diperangin-anginkan, air akan mulai menguap dan kering mulai dari tepi (bagian yang tipis) berjalan ketengah.
c.       Setelah jalur yang kering pada bagian tepi mulai mengering selebar 0,5cm, ambil bagian yang kering dan pada bagian tanah yang berwarna gelap selebar 1cm (atau maing-masing selebar 0,5cm)
d.      Kemudian dimasukkan kedalam botol imbang dan tentukan kadar airnya, dikerjakan untuk 2 ulangan
e.       Dari kedua pengamatan tersebut, kadar airnya dihitung





BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
      Jenis Tanah : Inseptisol
1.      Tabel Batas Cair (BC)
Ulangan
Ketukan
Ketukan ke
Botol timbang kosong (a) gr
a + contoh tanah (b) gr
b setelah dioven (c) gr
KA %
1
<25
24
22,3798
28,3817
26,0105
65,31 %
2
10-25
14
21,7031
28,4774
25,9161
60,79 %
3
>25
39
22,6482
31,4917
28,2995
56,49%
4
25-40
32
27,8446
35,2283
32,4320
60,95 %

2.      Tabel Batas Lekat (BL)
Ulangan
Botol Timbang Kosong (a) gr
a + contoh tanah
(b ) gram
b setelah dioven
KA %
1
23,0758
28,6440
26,3435
52,04 %
2
23,3363
26,7784
25,5915
52,65 %

3.      Tabel Batas Gulung (BG)
Ulangan
Botot Timbang Kosong (a) gr
a + contoh tanah (b) gr
b stelah dioven
KA %
1.
22,8866
24,8261
24,2136
46,20 %
2.
22,3770
25,0247
24,1790
46,93 %


4.      Tabel Berubah Warna (BBW)
Ulangan
Botot Timbang Kosong (a) gr
a + contoh tanah (b) gr
b stelah dioven
KA %
1.
22,2308
24,5204
24,0839
28,55 %
2.
28,1651
30,2619
29,8869
27,78 %

Perhitungan :
·         BC 1 = KaN .
         = 65,31 .
         = 65,31 . 0,96 = 64,99 %
·         BC 2 = KaN .
         = 60,79 .
         = 60,79 . 0,56 = 56,67 %
·         BC 3 = KaN .
         = 56,49 .
         = 56,49 . 1,56 = 59,61 %
·          BC 4 = KaN .
          = 60,95 .
          = 60,95 . 1,28 = 62,79 %
BC =  64,99 + 56,67 + 59,61 + 62,79 = 61,02 %
B. Pembahasan
Atterberg menggunakan angka-angka konsistensit anah. Angka-angka ini penting dalam menentukan tindakan pengolahan tanah., karena pengolahan tanah akan sulit dilakukan kalau tanah terlalu kering ataupun terlalu basah. (Black, 1965)
Batas mengalir (batas cair) adalah jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah. Kalau air lebih banyak tanah bersama air akan mengalir. Dalam hal ini tanah diaduk dulu dengan air sehingga tanah bukan dalam keadaan alami. Hal ini berbeda dengan istilah kapasitas lapang (field capacity) yang menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah dalam keadaan alami atau undisturbed.  (Foth, 1998)
BL ( Batas Lekat) yaitu kadar air dimana tanah mulai tidak dapat melekat pada benda lain.  Bila tanah yang telah mencapai batas mengalir atau batas melekat tersebut dapat membentuk gulungan atau pita yang tidak mudah patah maka dikatakan plastis, bila tanah tidak dapat dibentuk pita atau gulungan ( selalu patah- patah) maka disebut tidak plastis (Harjowigeno, 2010)
Batas gulung atau batas menggolek adalah kadar air dimana gulungan tanah mulai tidak dapat digolek-golekkan lagi. Kalau digolek-golekkan tanah akan pcah-pecah ke segala jurusan. Pada kadar air lebih kecil dari batas menggolek tanah sukar diolah. (Hardjowigeno,2010)
Batas berubah warna atau titik ubah adalah jika tanah yang telah mencapai batas menggolek, masih dapat terus kehilangan air, sehingga tanah lambat laun akan menjadi kering dan pada suatu ketika tanah menjadi berwarna lebih terang. Titik ini dinamakan titk batas ganti warna atau titik ubah. (Hardjowigeno,2010)

Tanah Inseptisol memiliki tekstur lempung berpasir dengan ciri-ciri agak kasar, bola agak keras tetapi mudah hancur dan melekat. Tanah ini mengandung pisah-pisah lempung lebih besar atau sama dengan 35% dan pasir lebih besar atau sama dengan 45 %. Inseptisol termasuk dalam tanah Andosol karena teksturnya lempung berpasir sebenarnya sudah sangat menyulitkan pertumbuhan padi sebab suhunya rendah sehingga mengakibatkan proses pelapukan terhambat(Hakim, 1996).
Harkat Angka Angka Atternberg
Harkat
Plastisitas (BC-BG)
(%)
Kisaran (BL-BG)
(%)
Kisaran (BC-BBW)
(%)
Tekstur
Sangat rendah
0 - 5
1 - 3
<20
Ringan
Rendah
6 - 10
4 - 8
21 – 30

Sedang
11 - 17
9 - 15
31 – 45
Tinggi
18 - 30
16 - 25
46 – 60
Berat
Sangat tinggi
31 - 43
36 - 40
61 - 100
Luar biasa tinggi
>43
>40
>100
Sangat berat



BAB IV
KESIMPULAN

A.                Kesimpulan
1. Angka-angka Atterberg merupakan metode untuk menentukan klasifikasi suatu konsistensi tanah dalam pengolahan tanah. Penentuan angka atterberg dengan menetapkan Batas Cair, Batas Lekat, Batas Gulung dan Batas Berubah Warna.
2. Hasil perhitungan dalam penetapan Batas Cair (BC) tanah inseptisol mempunyai rata-rata sebesar 61,02 %






DAFTAR PUSTAKA

Black, C. A. 1965. Methods of Soil Analysis part.1. Am. Soc. Agron. Publ. Madison.Wisconsin : USA.
Foth, Henry d. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.
Munir, Moch. 1996.  Tanah-Tanah Utama Indonesia. Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya.
Sutanto, Racman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep Dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta.




Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship