-->

MAKALAH TATA NIAGA PERTANIAN : KONSEP PASAR DAN PEMASARAN

I.             KONSEP PASAR DAN PEMASARAN



1.1.      Definisi Pasar
Seseorang dalam mendefinisikan pasar tidak terlepas dari peran orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ia sebagai produsen, konsumen, lembaga pemasaran,  ataukah sebagai ekonom. Definisi pasar bagi seorang produsen adalah sebagai tempat untuk menjual barang-barang atau jasa-jasa yang dihasilkan. Pihak konsumen mendefinisikan pasar sebagai tempat membeli barang-barang atau jasa-jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sedangkan bagi lembaga pemasaran, pasar merupakan tempat untuk melakukan aktivitas usaha dengan melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran tertentu, sehingga lembaga tersebut mendapatkan keuntungan. Akhirnya bagi  seorang ekonom, pasar merupakan keseimbangan antara penawaran dan permintaan suatu barang atau jasa, sehingga tercapai kesepakatan baik harga maupun kuantitas yang diperjual belikan.
Oleh karenannya dalam mendefinisikan pasar harus memperhatikan pihak-pihak yang berkepentingan tersebut, karena dalam melakukan aktivitas tentu tidak terlepas dari kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas pemasaran ini. Dalam kaitan ini, pasar dapat didefinisikan sebagai berikut:
a.       Pasar secara sempit didefinisikan sebagai lokasi geografis, dimana penjual dan pembeli bertemu untuk mengadakan transaksi faktor produksi, barang dan jasa (Kotler, 1985). Selanjutnya definisi ini perlu ditinjau mengingat perkembangan teknologi informasi memungkinkan dilakukan transaksi tanpa komunikasi tatap muka antara penjual dan pembeli, bahkan untuk beberapa komoditi pertanian terdapat lembaga pemasaran yang berperan sebagai agen penjual (selling broker) atau agen pembeli (buying broker). Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan penjual dan pembeli diwakili individu-individu dan transaksi tidak perlu membutuhkan ruang geografis tertentu.
b.      Pasar menurut Kotler (1988) meliputi keseluruhan pembeli potensial yang akan memenuhi kebutuhan dan keinginannya, dimana pembeli tersebut bersedia dan mampu membeli alat-alat pemuas melalui pertukaran. Ini merupakan definisi berdasarkan sudut pandang penjual, sehingga pasar dianggap sebagai sumber permintaan dari barang-barang yang ditawarkan.
c.       Pasar menurut Broomly (1997) menyatakan bahwa pasar dapat didefinisikan dengan beberapa cara yang terpenting dalam pasar ini terjadi proses pertukaran yang diharapkan memberikan sesuatu yang berharga dan berguna. Esensi pasar ini adalah merealisasikan kesempatan untuk melakukan pertukaran dan mengkaitkan pihak-pihak yang melakukan pertukaran.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, pasar dapat didefinisikan sebagai tempat ataupun terjadinya pemenuhan kebutuhan dan keinginan dengan menggunakan alat pemuas yang berupa barang ataupun jasa, dimana terjadi pemindahan hak milik antara penjual dan pembeli (Sudiyono, 2002).

1.2.  Penggolongan Pasar
Meskipun setiap pasar mempunyai karakter umum yang sama, yaitu mempunyai kebutuhan, daya beli serta kemauan untuk membeli, kita dapat membedakannya ke dalam beberapa golongan (Stanton, 1985) yaitu:
(1) pasar konsumen,
(2) pasar produsen/pasar industri,
(3) pasar penjual atau pasar pedagang,
(4) pasar  pemerintah, dan
(5) pasar internasional atau pasar ekspor-impor.
Penggolongan pasar ke dalam beberapa golongan tersebut didasarkan pada motif pembelian dari mereka dalam membeli suatu produk.
Pasar konsumen adalah sekelompok pembeli barang-barang untuk dikonsumsi bukannya untuk dijual atau diproses lebih lanjut. Termasuk dalam pasar konsumen adalah pembeli-pembeli individu dan atau pembeli rumah tangga.
Pasar produsen atau pasar industri adalah suatu pasar yang terdiri dari individu-individu dan lembaga atau organisasi yang membeli barang-barang untuk diproses lebih lanjut menjadi produk akhir dan kemudian dijual.
Pasar penjual atau pedagang adalah suatu pasar yang terdiri dari individu-individu dan organisasi yang memperoleh atau membeli barang-barang dengan maksud untuk dijual lagi atau disewakan agar mendapatkan laba. Mereka sering disebut pedagang dan atau perusahaan-perusahaan perdagangan.
Pasar pemerintah adalah pasar yang didalamnya terdapat lembaga-lembaga pemerintah, seperti departemen-departemen, direktorat dan kantor-kantor dinas serta instansi lain.
Akhirnya pasar internasioal adalah pasar yang meliputi beberapa negara di dunia atau disebut pula pasar ekspor-impor (Lukiswara, 2004).
Pasar mempunyai keterkaitan harga satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan para penjual dan pembeli akan berkomunikasi satu dengan yang lain melalui signal harga. Menurut Kohl dan Uhl (1972), harga adalah bentuk signal-signal komunikasi yang melayani banyak variasi untuk mengkoordinasikan keputusan pasar. Kekuatan penawaran dan permintaan pasar membentuk harga pasar. Apabila antar pasar mempunyai keterkaitan kekuatan permintaan dan penawaran, harga antar pasar akan mempunyai keterkaitan.

Untuk produk pertanian ada tiga tipe pasar yaitu:
1)      Pasar berdasarkan geografi (pasar kegunaan tempat)
2)      Pasar berdasarkan produk (pasar kegunaan bentuk)
3)      Pasar berdasarkan jangka waktu (pasar kegunaan waktu)
Pada pasar berdasarkan geografi dapat meliputi pasar transaksi individu, pasar lokal, pasar daerah, pasar nasional dan pasar internasional. Pasar berdasarkan produk pertanian misalnya pasar sayuran dan pasar buah-buahan. Pasar menurut jangka waktu misalnya pasar saat ini, pasar hari ini, pasar minggu ini, pasar bulan ini (Lukiswara, 2004).

1.3.  Konsep Pemasaran
Secara umum pemasaran dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi dalam pasar. Dalam pemasaran ini barang mengalir dari produsen sampai kepada konsumen akhir yang disertai penambahan guna bentuk melalui proses pengolahan, guna tempat melalui proses pengangkutan dan guna waktu melalui proses penyimpanan. Sebagaimana dalam  mendefinisikan pasar di atas, maka dalam mendefinisikan proses pemasaran ini sangat tergantung posisi seseorang yang terlibat dalam proses pemasaran. Ada beberapa definisi pemasaran (marketing) yang dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:
a.       Pemasaran menurut Bell (1966) merupakan bagian manajemen yang diterapakan secara strategis dalam perencanaan, pengaturan dan pengawasan dengan motivasi untuk mencapai keuntungan dengan jalan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik dengan melakukan integrasi usaha ke belakang (backward linkage) maupun integrasi usaha ke depan (forward linkage). Integrasi usaha ke belakang pada umumnya bertujuan untuk menjamin ketersediaan bahan baku, sedangkan integrsi ke depan lebih menekankan aspek pemasaran;
b.      Pemasaran menurut Fisk (1969) adalah segala usaha bisnis sehingga dapat memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang diinginkan oleh semua konsumen;
c.       Berdasarkan hasil rumusan pada fakultas pemasaran Universitas Negara Bagian Ohio, maka pemasaran didefinisikan sebagai proses antisipasi pemenuhan kebutuhan barang dan jasa ekonomis yang berdasarkan struktur permintaan melalui pembuatan konsepsi, promosi pertukaran dan distribusi secara fisik barang-barang atau jasa-jasa;
d.      McCharthy dan Perceaunt (1986) membagi pemasaran menjadi dua, yaitu pemasaran makro (macro-marketing) dan pemasaran mikro (micro-marketing). Pemasaran mikro adalah kenampakan dari aktivitas-aktivitas untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan dengan mengantisipasi kebutuhan konsumen atau pelanggan dengan cara mengendalikan aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen atau pelanggan.  Pemasaran makro merupakan proses sosial dimana terjadi pengaturan arus barang-barang dan jasa-jasa ekonomis dari produsen ke kosumen melalui interaksi penawaran dan permintaan secara efektif dengan harapan mencapai tujuan masyarakat;
e.       Pemasaran menurut Downey dan Erikson (1989) merupakan ilmu untuk menelaah terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis dari produsen melalui lembaga pemasaran kepada konsumen;
f.       Pemasaran menurut Kotler (1988) adalah proses sosial dan manajemen, dimana individu-individu atau kelompok dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui pembuatan dan pertukaran suatu produk dan uang dengan individu-individu atau kelompok-kelompok lainnya;
g.      Pemasaran menurut Anindita (2004) suatu runtutan kegiatan atau jasa yang dilakukan untuk memindahkan suatu produk dari titik produsen ke titik konsumen.
Definisi pemasaran di atas dapat digunakan untuk membahas pemasaran komoditas pertanian ataupun non-pertanian. Fenomena lapang menunjukkan bahwa pemasaran komoditas non-pertanian lebih bersifat distributive, sedangkan pemasaran komoditas pertanian bersifat consentration-distributive.
Gambaran aktivitas pemasaran komoditi non-pertanian dan komoditi pertanian di atas, dapat dijelaskan lebih lanjut perbedaan antara pemasaran komoditi non-pertanian dan komoditi pertanian sebagai berikut:
1.      Pada pemasaran komoditi non-pertanian lokasi produsen terkonsentrasi dan barang yang dihasilkan dapat direncanakan secara cermat, mengenai jumlah mutu dan waktu pembuatan barang. Produsen produk non-pertanian pada umumnya menghasilkan barang dalam jumlah besar, sehingga produsen dapat mendistribusikan secara langsung melalui pedagang besar, agen dan pengecer serta konsumen. Sifat distributive dicirikan dengan penurunan volume yang ditransaksikan dari pedagang besar, agen dan pengecer serta konsumen.
2.      Sebaliknya komoditi pertanian dihasilkan secara terpencar-pencar, berupa bahan mentah yang perlu pengolahan lebih lanjut dan dalam jumlah yang relatif sedikit sehingga untuk menutup biaya-biaya yang diperlukan lembaga pemasaran dalam melakukan fungsi-fungsi pemasaran diperlukan volume perdagangan yang cukup besar. Pemasaran komoditi pertanian dari proses konsentrasi yaitu pengumpulan produk-produk pertanian dari petani ke tengkulak, pedagang pengumpul dan pedagang besar serta diakhiri proses distribusi yaitu penjualan barang dari pedagang ke agen, pengecer dan konsumen.
Perbedaan sifat pemasaran non-pertanian dan pemasaran pertanian di atas mendorong dikemukakannya  definisi-definisi pemasaran pertanian (agricultural marketing) oleh beberapa ahli atau institusi sebagai berikut:
1.      FAO pada tahun 1958 mendefinisikan pemasaran pertanian atau tataniaga hasil pertanian merupakan serangkaian kegiatan ekonomi berturut-turut yang terjadi selama perjalanan komoditi hasil-hasil pertanian mulai dari produsen primer sampai ke tangan konsumen.
2.      Breimeyer (1973) dengan mengutip “What Happens School” yang menyatakan bahwa pemasaran pertanian adalah kegiatan-kegiatan yang terjadi diantara usahatani dan konsumen. Definisi ini menegaskan bahwa pemasaran pertanian terjadi setelah usahatani dan produksi terjadi pada usahatani. Dengan demikian pemasaran pertanian hanya mempelajari aliran komoditi hasil-hasil pertanian yang terjadi antara usahatani dan konsumen akhir.
3.      John Philips (1968) mendefinisikan pemasaran pertanian sebagai semua aktivitas perdagangan yang meliputi aliran barang-barang dan jasa-jasa secara fisik dari pusat produksi pertanian ke pusat konsumsi pertanian.
Selain definisi di atas juga ada beberapa penulis yang menyatakan bahwa pemasaran pertanian itu tidak saja meliputi aliran komoditi pertanian yang terjadi setelah proses produksi pada usahatani, tetapi pemasaran pertanian juga meliputi penyediaan input produksi untuk melakukan proses produksi usahatani, definisi yang dimaksud sbb: :
1.      Pemasaran pertanian menurut Abbot dan Makeham (1979) dimulai pada tingkat usahatani, yaitu mulai pada saat petani merencanakan pertanian yang dipanen biasanya tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen secara langsung karena: (1) lokasi produksi letaknya berbeda dengan lokasi konsumsi, sehingga dibutuhkan transportasi untuk mencapai konsumen, (2) produksi pertanian bersifat musiman, sementara itu konsumsi bersifat regular dan kontinyu dari tahun ke tahun, (3) produk pertanian biasanya dalam bentuk mentah, sehingga tidak dapat dikonsumsi secara langsung oleh konsumen. Menurut J.C Abbot dan J.P Makeham, pemasaran pertanian ini juga meliputi penjualan produk, pestisida dan bahan kimia lainnya, pakan ternak, mesin, alat dan peralatan pertanian.
2.      Thomson (1951) menyatakan bahwa pemasaran pertanian adalah semua kegiatan dan aktivitas agen perdagangan yang menghubungkan pergerakan bahan pangan pertanian terolah dan bahan baku, serta permintaan atau penawaran turunannya, seperti tektil, dari usahatani sampai kepada konsumen akhir, dimana aktivitas-aktivitas ini berpengaruh terhadap petani, pedagang perantara dan pengolahan, yang biasanya terjadi pada pemasaran industri.
3.      Cramer dan Jensen (1979) dengan mengutif definisi pemasaran yang dikemukakan oleh Asosiasi Pemasaran Amerika menyatakan bahwa pemasaran langsung dengan aliran barang-barang dan jasa-jasa dari produsen ke konsumen atau pemakai akhir. Titik produksi, yaitu usahatani atau usaha ternak, merupakan sumber penawaran. Pemasaran pertanian juga meliputi penawaran input oleh perusahaan-perusahaan untuk melayani usahatani atau usaha ternak. Pada pemasaran ini selain terjadi perpindahan pemilikan juga menciptakan kegunaan waktu (time utility), tempat (place utility) dan kegunaan bentuk (form utility) pada komoditi pertanian.

1.4.  Mengapa Pemasaran itu Komplek dan Mahal         
            Proses pembelian hasil produksi petani di daerah produksi dan diteruskan ke tempat-tempat konsentrasi tertentu adalah sulit dan mahal. Sebagian besar petani kita adalah petani kecil-kecil dan tersebar luas di berbagai daerah. Banyak produk/hasil pertanian yang dihasilkan mempunyai sifat mudah rusak (perisable), menempati ruang yang luas (bulky), dan kualitasnya tidak seragam. Selain itu sifat produksi bidang pertanian yaitu: dihasilkan secara musiman,  dan tersebar di daerah yang jauh dari konsumen.
            Keberadaan berbagai jasa seperti: pengepakan, transportasi, prosesing, dan lain-lain bagi produk pertanian yang dihasilkan oleh petani membutuhkan biaya yang besar, sehingga kegiatan atau aktivitas menyediakan barang agar tersedia bagi konsumen secara tepat (waktu, bentuk, tempat) memang membutuhkan biaya besar.

1.5.  Mengapa pemasaran itu produktif?
Pemasaran dikatakan produktif karena menciptakan kegunaan (utility), yaitu proses untuk menciptakan barang dan jasa menjadi lebih berguna. Kegunaan bukan kualitas barang, melainkan adalah kekuatan untuk memuaskan keinginan (the want satisfying power) dari suatu obyek atau jasa.
Ada empat jenis kegunaan yang diperoleh melalui kegiatan pemasaran yaitu:
1)      Kegunaan bentuk (form utility). Kegunaan ini muncul apabila suatu barang memiliki persyaratan yang dibutuhkan. Kegunaan bentuk biasanya mengubah bentuk bahan mentah dan menciptakan sesuatu yang baru.
2)      Kegunaan tempat (place utility) yaitu kegunaan yang timbul ketika hasil produksi disediakan di suatu tempat yang masyarakatnya menginginkan barang tersebut.
3)      Kegunaan waktu (time utility) yaitu kegunaan yang timbul ketika produk pertanian dihasilkan secara musiman namun dibutuhkan sepanjang waktu, sehingga perlu disimpan.
4)      Kegunaan milik (possession utility) yaitu kegunaan yang timbul ketika terjadi transaksi antara penjual dan pembeli.

1.6.  Mengapa Pemasaran Pertanian dianggap sebagai  disiplin ilmu yang berdiri sendiri ?

Menurut Bateman (1976) dalam artikel yang berjudul ” Agricultural Marketing: a Review of the Literature of Marketing Theory and of Selected Application”, mengemukakan tujuh alasan mengapa pemasaran pertanian merupakan disiplin yang berdiri sendiri, yang harus dibedakan dengan pemasaran pada umumnya, yaitu:
1)      Pemasaran dikembangkan dengan menitikberatkan sebagai disiplin ilmu bisnis, dengan mengemukakan keputusan dan mencapai tujuan bisnis.
2)      Adanya alasan nyata bahwa mahasiswa mempelajari pemasaran pertanian karena tertarik terhadap persoalan yang dihadapi petani, yang relatif kecil mendapat perhatian dari pelaku bisnis. Kesempatan petani menggunakan konsep pemasaran mengalami hambatan, karena ukuran usahataninya relatif kecil, sehingga usaha meningkatkan pendapatan melalui perbaikan pemasaran menjadi sia-sia.
3)      Konsentrasi perhatian pemasaran pertanian terhadap bahan pangan yang merupakan salah satu bidang telaah pemasaran pada umumnya sangat berkaitan erat dengan kepentingan produsen dan konsumen, sehingga sangat terbuka dipengaruhi kepentingan politis oleh pembuat kebijakan.
4)      Pemasaran sebagai subyek bisnis dibagi dengan sendirinya berdasarkan geografis ke dalam beberapa spesialisasi, seperti pemasaran konsumen, pemasaran industri, pemasaran internasional. Pemasaran pertanian sebagai subyek bisnis sangat sulit dibagi menjadi susb-sub devisi seperti di atas, sebab pembagian pemasaran pertanian ke dalam pemasaran konsumen dan pemasaran industri sangat tidak beralasan.
5)      Pengambilan keputusan pemasaran secara optimal  oleh suatu perusahaan sangat tergantung lingkungan pasar, yaitu kegiatan perusahaan lainnya. Salah satu aspek lingkungan pasar tersebut adalah kebijakan pemerintah. Kebijakan pertanian akan mengalami tumpang tindih jika tidak dipisahkan dengan pemasaran pada umumnya.
6)      Pemasaran pertanian tradisional merupakan salah satu topik bahasan yang lebih kecil dibanding pemasaran, tetapi mempunyai pengaruh yang besar sekali.
7)      Pemasaran pertanian bukan menyangkut aktivitas bisnis semata, tetapi juga menyangkut kepentingan sosial.

1.7.    Bidang Penelitian Pemasaran Pertanian
Menurut Quilkey (1986), pada umumnya bidang-bidang yang diteliti dalam pemasaran pertanian meliputi: marjin pemasaran; rekayasa ekonomi; perencanaan fasilitas; grading; preferensi konsumen; respon penawaran dan permintaan; analisis permintaan dan penentuan harga; teori lokasi; dan integrasi pasar.
Shepherd (1949) mengatakan bahwa ruang lingkup pemasaran pertanian dibedakan menjadi arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit dilaksanakan untuk menyampaikan produk pertanian dari tempat panen sampai meja konsumen. Sedangkan dalam arti luas ruang lingkup pemasaran pertanian meliputi seluruh kekuatan yang menimbulkan masalah-masalah pemasaran pertanian. Oleh karena itu ruang lingkup pemasaran pertanian dalam arti luas meliputi: penelitian permintaan konsumen (dikaitkan dengan pendapatan, elastisitas, perubahan permintaan).
Norton (1949) menyatakan bahwa produsen ke konsumen juga meliputi hubungan harga-jumlah keseimbangan, efek hubungan persaingan dalam pasar, tujuan permintaan dan lain-lain, tujuan penelitian pemasaran pertanian adalah untuk: 1) meningkatkan konsumsi produk-produk pertanian dan 2)  meningkatkan pendapatan usahatani.







                           REFERENSI  KULIAH TATANIAGA PERTANIAN



Anindita, R., 2004. Pemasaran Hasil Pertanian.  PAPYRUS,  Surabaya.

Dahl, Dale C. and J.W. Hammond. 1977. Market and Price Analysis of The Agricultural Industries. McGraw-Hill Company, New York, USA.

Kohls, R.L and J.Uhl. 2002. Marketing of Agricultural Product. Ninth Edition, Prentice-Hall, Inc. Upper Sadle River, New Jersey.

Rhodes, V.J. 1983. The Agricultural Marketing System. Second Edition. John Wiley and Sons Inc., USA.

Saefuddin. 1978. Pengkajian Pemasaran Komoditi. Institut Pertanian Bogor.

Saefuddin, A.M. 1982. Tataniaga Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Sudiyono, A. 2002. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhammadiyah Malang.

Tomek, W. G. and K.L. Robinson. 1972. Agricultural Product Prices. Cornell University Press, USA.






















Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship