-->

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN PRODUKSI AGRIBISNIS PT. PERKEBUNAN TEH NUSANTARA VIII CIATER DAN PT SERBA SUSU LEMBANG


LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN PRODUKSI AGRIBISNIS
PT. PERKEBUNAN TEH NUSANTARA VIII CIATER
DAN PT SERBA SUSU LEMBANG

  



Disusun oleh:
Nama          : Arifin Budi Purnomo
NIM            : A1C012025



FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014




DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................   1
BAB II. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
1. PT. Perkebunan Nusantara VIII...........................................................   1
2. PT. Serba Susu Lembang......................................................................   8
B. PROSES PRODUKSI
1. PT. Perkebunan Nusantara VIII........................................................... 11
2. PT. Serba Susu Lembang...................................................................... 20
C. PEMASARAN PRODUK
1. PT. Perkebunan Nusantara VIII........................................................... 22
2. PT. Serba Susu Lembang...................................................................... 25
BAB III. KESIMPULAN
A. PT. Perkebunan Nusantara VIII............................................................... 28
B. PT. Serba Susu Lembang.......................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................  29
LAMPIRAN...................................................................................................... 30




KATA PENGANTAR
Puji syukur atas rahmat dan karunia penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan serta kelancaran penulis dalam menyelesaikan Laporan Praktikum Manajemen Produksi tanpa suatu halangan. Sholawat serta salam semoga senantiasa Allah SWT curahkan kepada para sahabat, serta para pengikutnya yang senantiasa berada di jalanya.
Penyelesaian laporan ini tidak lepas dari berbagai bantuan, motivasi dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga tim penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Prof. Dr. Ir. Anny Hartati, S.U. selaku dosen pembimbing praktikum Manajemen Produksi serta dosen pengampu mata kuliah manajemen produksi
2.      Dr. Ir. Agus Sutanto, M.P.  selaku dosen pengampu mata kuliah manajemen produksi
3.      Semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun secara tidak langsung dalam penyelesaian laporan ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa penyusuan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran serta kritik sangat penulis harapkan guna memperbaiki karya penulis selanjutnya. Semoga laporan praktikum ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun bagi semua yang membacanya. Amin.
.

Purwokerto,    Juni 2014


Tim Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu fungsi yang terpenting dalam usaha mencapai tujuan perusahaan atau pabrik adalah manajemen perencanaan dan pengawasan produksi. Manajemen merupakan suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian serta pengendalian. Perencanaan memiliki arti yang sangat penting bagi seluruh kegiatan  yang dilaksanakan oleh perusahaan. Perencanaan merupakan suatu spesifikasi dari tujuan yang ingin di capai serta cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Pengorganisasian sering diartikan sebagai kerja sama dari dua orang atau lebih dengan atau tanpa peralatan lain untuk mencapai tujuan tertentu (Ahyari, 2002)
Adapun yang dimaksud dengan perencanaan dan pengawasan produksi adalah penentuan dan penetapan kegiatan-kegiatan produksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan pabrik tersebut, dan mengawasi kegiatan pelaksanaan dari proses dan hasil produksi, agar apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Jadi, perencanaan dan pengawasan produksi merupakan kegiatan pengoordinasian dari bagian-bagian yang ada dalam melakukan proses produksi.
Di dalam perusahaan, kerja sama sangat mutlak diperlukan, oleh karena tanpa adanya kerja sama yang baik maka tujuan dari sebuah perusahaan tidak akan tercapai. Pengarahan di dalam suatu perusahaan sangat diperlukan guna pelaksanaan kerja yang cukup baik. Tanpa adanya pengarahan yang baik, maka pelaksanaan kerja di dalam organisasi perusahaan akan mengikuti aspirasinya sendiri-sendiri. Kegiatan dalam perusahaan akan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya dengan adanya pengkoordinasian, sehingga keberhasilan dari suatu kegiatan akan berpengaruh pula terhadap kegiatan yang lain.
Pentingnya sebuah manajemen dalam proses berjalanya sebuah usaha di perusahaan atau di pabrik menjadikan latas belakang perlu dilakukan praktikum manajemen produksi agribisnis. Praktikum manajemen agribisnis kali ini dilakukan pada perkebunan teh PTPN VIII Ciater serta usaha Serba Susu Lembang Bandung Jawa Barat.




BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

1.      PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII
PT Perkebunan Nusantara VIII berlokasi di Ciater Subang, Jawa Barat. Perkebunan ini memiliki ketinggian rata-rata 600-1450 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan klasifikasi kualitas teh dilihat dari ketinggian tanah diatas permukaan laut, maka perkebuna teh di Ciater berpotensi menghasilkan produk teh kualitas Good Medium Tea (Teh Medium Tinggi), karena jenis ini sangat cocok dengan kondisi geografis wilayah Ciater.
Gambar. 1.1 PT. Perkebunan Nusantara VIII

a)      Skala Usaha Perusahaan Teh PTPN VIII

PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau disingkat PTPN VIII, ini mengelola dan mengembangkan usaha agribisnis dan agroindustri serta usaha-usaha terkait lainnya. Perusahaan teh PTPN VIII ini termasuk jenis usaha besar dan terus-menerus mempertahankan dan mengembangkan kesinambungan perusahaan yang sehat untuk dapat bersaing di pasar global.
Sebagai salah satu perusahaan BUMN dengan bisnis perkebunan teh terbesar mencapai 26.000 hektar di Nusantara, PTPN VIII mengembangkan industri teh dari Produk industri hilir teh tersebut masih mencapai 300 ton per tahun dengan omset hingga 3 milyar per tahun dan pemasarannya masih terbatas di Jawa Barat dan sebagian kecil kotakota besar di pulau Jawa.
Namun pada tahun 2009 ini PTPN VIII akan meningkatkan kinerja industri hilir teh milik mereka hingga dua kali lipat atau sebesar 600 ton agar dapat dikenal masyarakat dan bersaing dengan merk swasta yang telah beredar di pasar teh lokal. Sedangkan pada tahun 2014 ini PTPN VIII mampu memproduksi produk jadi teh sebanyak 45 ton per harinya atau setara dengan 16.605 ton tiap tahunya.

b)     Sejarah Perusahaan Teh PTPN VIII

Berkembangnya perkebunan teh di daerah Ciater Subang ini tidak lepas dari pengaruh pegusaha dari Belanda. Perkembangan sejarah perkebunan teh Ciater ini dapat dibagi menjadi tiga periode:
1)      Periode Jaman Pemerintah Belanda
Pada tahun 1812 dua orang bernama Mutinghe dan Sharpnell memberi dua bidang tanah yang sangat luas, ialah tanah Pemanukan dan tanah Ciasem dari pemerintah kolonial. Kemudian tanah tersebut didaftarkan dengan nama “Pamanoekan En Tjiasem Landen“ (P en T Landen).
            Sepeninggal Tuan Sharpnell pada tahun 1830, diangkat seorang Manager atau Penguasa yang selain ditugaskan untuk mengusahakan tanah-tanah itu, juga diberi tugas Khusus/terpenting, yaitu “Penghematan Keras Dalam Pengeluaran Uang“. Pada tahun 1840 tanah-tanah tersebut dari bangsa Inggris dijual kepada dua orang bersaudara dari negeri Belanda, yaitu Hofland bersaudara dengan susah payah maka diputuskanlah untuk merubah tanah-tanah itu dijadikan N.V.
Kemudian saham-saham tersebut dalam tahun 1911 dibeli oleh “Teh Anglo Dutch Plantation Of Java Ltd.” Di London, oleh karena itu maka tanah-tanah P & T Landen tersebut berada kembali pada tangan bangsa Inggris. Perlu juga diterangkan disini bahwa pada tahun 1953 nama N.V. Maatschapij der Exloitate Der Pamanukan En Tjiasem Landen, telah dirubah menjadi : “P & T LANDS PT” dan nama “Teh Anglo Dutch” juga dirubah menjadi “Teh Anglo Indonesian Plantation Ltd”.
2)      Periode jaman Pemerintahan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 dan tahun-tahun revolusi selanjutnya membawa perubahan penting bagi keadaan Perusahaan Perkebunan milik P&T Lands, kerugian yang diderita sangatlah menyedihkan. Dua buah Perkebunan dikembalikan lagi kepada Pemerintah, enam buah Perkebunan lainnya telah dijual. Maka dengan demikian telah di jual kepada Pemerintah seluas 22.100 hektar tanah yang meliputi seluruh Perusahaan Padi Sukanagara dan beberapa ribu hektar tanah-tanah persedian dan hutan-hutan Hydrologis, sedangkan P&T Lands diperkenankan memiliki 45.600 hektar tanah Eigendom dan 750 hektar tanah-tanah Erfpacht.
3)      Periode Jaman Kemerdekaan
Dalam rangka Konfrontasi antara negara Indonesia dengan Malaysia, oleh karena negara Malaysia dianggapnya menjadi proyek Neo Kolonialisme dan Imprialisme Inggris, maka perusahaan-perusahaan perkebunan milik inggris yang berada di Pulau Jawa, termasuk P&T Lads mengalami tiga fase perubahan, yaitu :
Ø  Tingkat pengawasan oleh pemerintah Jawa Barat
Dimulai sejak bulan September 1963, yang berlandaskan kepada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat nomor : 376/BI/Pem/Sek/1963 tertanggal 19 September 1963 yang menentukan bahwa semua Perusahaan milik Inggris yang berada dalam wilayah Jawa Barat, diawasi sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat.
Ø  Tingkat Pengawasan Sementara
Dimulai sejak bulan Pebruari 1964, yang berdasarkan kepada Surat Keputusan Mentri Pertanian / Agraria nomor : 31/MPA/1964, yang menentukan bahwa semua perusahaan milik Inggris yang berada dalam wilayah Republik Indonesia, diawasi sementara oleh Pemerintah Pusat.
Ø  Tingkat Penguasaan Penuh
Menurut Penetapan Presiden Republik Indonesia nomor : 6/1964, yang dikeluarkan dan di undangkan pada tanggal 26 Nopember 1964, maka semua perusahaan-perusahaan milik Inggris yang ada dalam wilayah nergara Republik Indonesia, dikuasai sepenuhnya secara langsung serta diurus oleh Pemerintah Pusat.
Ø  Tingkat Joint Venture
Sejak tanggal 1 Januari 1970 secara Administratif telah dinyatakan bahwa perusahaan-perusahaan ini telah mengambil bentuk Joint Venture antara pemerintah Republik Indonesia dengan pengusaha-pengusaha Inggris, dengan perbandingan modal masing-masing sebasar 30% dan 70%.
Ø  Tingkat kembali ketangan pemerintah Republik Indonesia
Berdasarkan Keputusan Pemerintah Pusat untuk membeli saham yang dimiliki oleh Inggris, maka status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan IV adalah 100% menjadi milik bangsa Indonesia. Dengan melihat kepada perjalanan sejarah Perkebunan tersebut di atas, maka kita dapat ketahui bahwa pada tanggal 11 Maret 1996 di Subang terdiri dari tiga PTP :
1. PTP XI
2. PTP XII
3. PTP XIII
Perkebunan teh Ciater yang merupakan bagian dari PTPN VIII memiliki visi misi dalam pengembangan pelaksanaan tujuan suatu perusahaan teh. Adapun visi misinya, sebagai berikut:
Visi
Menjadi Perusahaan Agribisnis terkemuka dan terpercaya, mengutamakan kepuasan pelanggan dan kepedulian lingkungan dengan didukung oleh SDM yang profesional.
Misi
·      Menghasilkan produk bermutu dan ramah lingkungan yang dibutuhkan oleh pasar dan mempunyai nilai tambah tinggi;
·      Mengelola perusahaan dengan menerapkan Good Governance dan Strong Leadership, memosisikan sumber daya manusia sebagai mitra utama, serta mengedepankan kesejahteraan karyawan melalui kesehatan perusahaan;
·      Mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk dapat meraih peluang-peluang pengembangan bisnis, secara mandiri maupun bersama-sama mitra strategis;
·      Mengedepankan Corporate Sosial Responsibility (CSR) seiring dengan kemajuan perusahaan.

c)      Jenis Perusahaan Teh PTPN VIII

PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), disingkat PTPN VIII, dibentuk berdasarkan PP No. 13 Tahun 1996, tanggal 14 Pebruari 1996. Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di wilayah Jawa Barat dari eks PTP XI, PTP XII dan PTP XIII. Perusahaan ini mengelola dan mengembangkan usaha agribisnis dan agroindustri serta usaha-usaha terkait lainnya, dan terus-menerus mempertahankan dan mengembangkan kesinambungan perusahaan yang sehat untuk dapat bersaing di pasar global.
d)     Jenis Produk
Perkebunan Teh Nusantara VIII yang terletak di Ciater Jawa Barat ini memproduksi teh menjadi berbagai produk mulai produk setengah jadi hingga produk jadi. Produk setengah jadi yakni produk teh yang biasanya diekspor ke luar negeri. Sedangkan produk jadi adalah produk teh yang sudah dalam sebuah kemasan dan siap dipasarkan menggunakan brand tertentu.
Produk setengah jadi biasanya diekspor dalam kemasan yang berukuran 50 kg hingga 60 kg. Pemasaran produk setengah jadi mayoritas ditujukan ke permintaan ekspor dan sebagian ke konsumen dalam negeri seperti PT pengolahan teh atau minuman.
e)      Rata-rata Produksi
Perkebunan teh Ciater PTPN VIII sampai saat ini terus berkomitmen melakukan pengembangan produksi teh. Pada tahun 2014 ini rata-rata teh yang diproduksi bisa mencapai 45 ton tiap harinya. Artinya perusahaan teh PTPN VIII yang terletak di kawasan Ciater ini mampu memproduksi setidaknya sekitar 16000 ton tiap tahunya. Produksi yang besar tersebut ditujukan pada konsumen luar negeri atau ekspor.
f)       Jumlah Karyawan
Jumlah karyawan pada perkebunan teh Ciater PTPN VIII adalah sebanyak 1500 orang tenaga kerja. Tenaga kerja tersebut terdiri dari tenaga kerja tetap maupun tenaga kerja non tetap dan tenaga kerja karyawan.
g)      Lokasi Perusahaan
Perusahaan teh PTPRN VIII terletak di kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang Jawa Barat. Perkebunan teh ini yang dekat dengan pemukiman maupun jalan begitu mempengaruhi proses transportasi untuk kepentingan produksi. Mudahnya fasilitas dan prasarana dari luar yang masuk juga tidak lepas karena lokasi perusahaan yang strategis. Kesediaan tenaga kerjapun dibilang mencukupi. Hal tersebut dikarenakan tenaga kerja karyawan, tenaga kerja tetap maupun tenaga kerja non tetap mudah melakukan akses terhadap perkebunan teh PTPN VIII Ciater.
h)     Struktur Organisasi
Secara umum, struktur organisas dari perusahaan tehPTPN VIII Ciater memiliki hierarki sebagai berikut:


Gambar 1.2 Struktur Organisasi Perusahaan Teh PTPN VIII
     Keterangan:
            Posisi jabatan direktur utama memiliki kewenangan membawahi dan mengatur beberapa direktur lain dibawahnya seperti direktur produksi, direktur SDM dan umum direktur perencanaan dan pengembangan serta direktur keuangan. Pada bagian jabatan direktur produksi masih dibagi menjadi beberapa manajer yang digolongkan berdasarkan wilayah yang nantinyatiap wilayah itu ditunjuklah seorang yang megang jabatan sebagai adminitratur kebun.

2.      PT. SERBA SUSU LEMBANG

a)      Skala Usaha PT. Serba Susu Lembang

Serba Susu Lembang, merupakan pionir produk olahan susu dengan varian terbanyak. PT Serba Susu lembang termasuk usaha skala usaha mikro dimana kapasitas produksi berkisar 6000-12.000 liter susu murni tiap bulanya. KUPS Serba Susu Lembang telah berhasil menciptakan resep olahan susu yang belum diproduksi di tempat manapun dengan menggunakan bahan baku susu murni dengan kualitas terbaik dan diolah higienis sesuai dengan standar produksi yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan.

b)     Sejarah Perusahaan Serba Susu Lembang

PT. Serba Susu terletak di Lembang Kabupaten Bandung. Berdiri sejak tahun 2009 yang didirikan oleh Lucy Trisna Mayasanti, wanita muda yang sudah lama bergelut di dunia sapi perah serta pengolahan produk susu. PT ini berawal dari peternak sapi perah yang bergabung di sebuah koperasi. Namun, karena harga pembelian susu murni oleh koperasi sangat rendah maka muncullah ide untuk mengolah susu menjadi berbagai olahan susu. Mulai tahun 2009 berdirilah kelompok usaha pengolahan susu yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual susu sehingga meningkatkan kesejahteraan para peternak atau buruh sapi perah.

Gambar. 1.3 PT. Serba Susu Lembang Jawa Barat
c)      Jenis Perusahaan
PT. Serba Susu Lembang Bandung ini termasuk perusahaan berbadan hukum PT (Perseroan Terbatas) dengan kategori usaha kecil yang bergerak pada pengolahan susu sapi. Perusahaan ini terbentuk atas inisiatif dari seorang pengusaha muda yang telah cukup lama berkecimpung dalam dunia bisnis pengolahan susu.
d)     Jenis Produk
Jenis produk yang dihasilkan pada PT. Serba Susu ini adalah jenis produk jadi dan setengah jadi. Produk jadi dimana produk yang dihasilkan adalah produk siap konsumsi karena telah melewati proses pengolahan. Perusahaan pengolahan susu ini telah menghasilkan berbagai variasi produk olahan susu yang dikemas menjadi produk baru dengan tambahan nilai gizi maupun ekonomi.
PT. Serba Susu hingga saat ini dianggap sebagai pengolah susu yang paling banyak memiliki variasi produk terbanyak. Bagaimana tidak, selain menyediakan produk jadi seperti susu pasteurisasi, yoghurt krim, youghurt cair, yoghurt es krim, es krim susu, noughat susu, permen susu, dodol susu, pie susu, kerupuk susu, rempeyek susu, bagelen susu, milk stick, colostrum ,es mambo susu, donat susu, klappertart susu, kue kering, tiramisu, PT Serba Susu juga menyediakan produk setengah jadi, yaitu susu murni.
e)      Rata-rata Produksi
Total rata-rata produksi yang dihasilkan oleh PT serba susu adalah kurang lebih 200 liter susu per hari. Jumlah ini dapat bertambah berkali-kali lipat apabila ada perayaan hari-hari besar agama (lebaran, natal, dsb) dan hari libur. Namun, apabila dihitung berdasarkan jenis produksi itu bervariasi dan tergantung banyak sedikitnya jenis produk yang diproduksi. dan untuk rata-rata sehari minimal 100 botol susu dan 100 bungkus premen.
Kegemaran Lucy mengolah makanan, menuntunnya untuk menghasilkan produk-produk susu sapi yang lebih bervariasi. Awalnya, Lucy mencoba untuk membuat yoghurt dari susu murni hasil sapi perah yang diternaknya. Ternyata setelah ditawarkan ke beberapa orang di sekitarnya, hasilnya tidak mengecewakan. Dari situ, Lucy mulai melanjutkan usahanya, hingga mampu membentuk sebuah kelompok usaha pengolahan susu Serba Susu yang terdiri dari 20 peternak dan perorangan yang menjual hasil ternaknya ke Lucy. Saking sibuknya mengurus kelompok pengolahan susu ini, peternakan sapi perah yang dulu di kelola Lucy, kini sudah sepenuhnya diserahkan ke adiknya. Sejak saat itulah pada November 2009, usaha dan Gabungan Kelompok Pengolahan Susu Serba Susu ini berdiri. Pemilik kelompok ini yang sebenarnya, bukan hanya Lucy. Beliau hanya sebagai inisiator dan ketua yang mengelola hasil olahan-olahan dari para anggota kelompok yang terdiri dari 20 peternak dan perorangan (anggota keluarga si peternak dan juga masyarakat sekitar yang ingin ikut berpartisipasi dalam pengolahan susu. Contoh: masyarakat sekitar yang ingin membuat bungkusan produk dan lain-lain).
f)       Jumlah Karyawan
PT Serba Susu yang awalnya hanya kumpulan dari para peternak sapi perah ini tidak memiliki struktur organisasi secara jelas. Hal ini karena, PT Serba susu ini merupakan perusahaan pribadi milik kelompok yang didirikan oleh Lucy Trisna Mayasanti. Namun, meskipun tidak ada struktur organisasi yang jelas, PT serba susu memiliki karyawan sebanyak 15 orang dan merupakan pegawai tatap semua.
g)      Lokasi Perusahaan
PT. Serba Susu terletak di kawasan penghasil atau sentra susu di Jawa Barat yakni Lembang Bandung. Lokasi perusahaan yang dekat dengan lokasi bahan baku pengolahan ini menyebabkan efisiensi produksi maupun pemasaran produk. PT Serba Susu berkantor di Jl. Sesko AU No. 7 Lembang 40391 Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Walaupun kantor pusat PT. Serba Susu berada di Jawa Barat, namun perusahaan ini juga membuka outlet di daerah lain seperti di Rest Area Tol Purbaleunyi KM. 125 Bandung dan Floating Market Lembang.

           

 B. PROSES PRODUKSI

1.      PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII

a)      Bahan Baku dan Bahan Mentah yang digunakan

Bahan baku merupakan satu faktor penting yang harus ada dalam suatu proses produksi. Hal ini erat kaitannya dengan penyediaan bahan mentah serta pemetaan atau proyeksi ketersediaan bahan mentah yang dimiliki oleh suatu perusahaan.
Gambar 2.1 Bahan Baku Pengolahan Teh: Petikan Teh Halus

b)     Spesifikasi Bahan Mentah

Bahan dasar pucuk segar yang disediakan harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh pabrik meliputi jenis petikan dan gilir petik. Berdasarkan penelitian Perkebunan Gambung (1992), jenis petikan dapat dibedakan menjadi :
      Petikan halus
Apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b) dengan daun muda (m). Biasanya ditulis dengan rumus p+1 atau b+1.
      Petikan medium
Apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan dua daun, tiga daun muda serta pucuk burung dengan satu, dua atau tiga daun muda, ditulis dengan rumus p+2, p+3m, b+1m, b+2m, b+3m.
      Petikan kasar
Apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan empat daun atau lebih, dan pucuk burung dengan beberapa daun tua, ditulis dengan rumus p+4 atau lebih, b+(1-4t).
c)      Fluktuasi dan atau Proyeksi Ketersediaan Bahan Mentah
Ketersediaan bahan mentah yang diolah setiap hari sangat fluktuatif. Salah satu faktor yang mempengaruhi ialah adanya variasi musim. Saat musim penghujan jumlah pucuk cenderung lebih banyak dibanding saat musim kemarau. Hal ini disebabkan pada saat musim hujan tanaman teh akan tumbuh lebih subur sehingga jumlah pucuk teh yang tumbuh dan memenuhi syarat untuk dipetik akan jauh lebih banyak. Kondisi tanaman yang ada juga turut mempengaruhi ketersediaan pucuk. Tanaman yang tumbuh subur dan terawat dengan baik sehingga tidak terserang hama dan penyakit akan memiliki produktifitas pucuk segar yang tinggi.

d)     Tahap pengolahan

Pengolahan teh pada prinsipnya adalah memperlakukan bahan dasar berupa pucuk teh segar melalui tahapan proses pelayuan, penggilingan, fermentasi (oksidasi enzimatis), pengeringan, dan sortasi kering. Tujuan dari proses tersebut ialah mengubah kondisi fisik dan komposisi kimia pucuk teh segar secara terkendali sehingga diperoleh hasil olahan berupa bubuk teh kering yang memiliki sifat-sifat yang dikehendaki seperti kenampakan bubuk, warna air seduhan, aroma serta warna ampas seduhannya.
1)      Pelayuan
Pelayuan merupakan proses tahap awal dari rangkaian tahap pengolahan teh hitam. Pelayuan menggunakan aliran udara segar yang dialirkan melalui bagian bawah palung dengan tujuan untuk :
      Menurunkan kandungan air bebas sampai kadar air tertentu. 
      Membuat daun menjadi lemas, tidak mudah patah dan mudah digulung.
      Mengurangi jumlah air yang harus diuapkan dalam proses pengeringan. 
      Memberi kesempatan terjadinya perubahan senyawa kimia dalam daun. Perubahan kimia berlangsung setelah pucuk dipetik di kebun sampai proses pelayuan.  Dalam proses pelayuan ini terdapat 3 kegiatan, yaitu pembeberan, pelayuan itu sendiri dan turun layu.
  
Gambar 2.2 Proses Pelayuan Pengolaha Teh
Pembeberan
Pembeberan berfungsi untuk meratakan pucuk segar di palung pelayu agar ketebalannya merata. Penguapan air dipengaruhi oleh ketebalan dan kerataan beberan. Beberan yang terlalu tebal akan mengahalangi aliran udara dari bagian bawah Whitering Trough ke pucuk yang terletak di bagian atas sehingga derajat layu tidak seragam.
Pucuk segar yang telah ditimbang diletakkan di atas monorail berwarna biru yang berjalan mengitari Whitering Trough. Kemudian pucuk segar diturunkan dari monorail, dimasukkan dalam Whitering Trough dan diratakan. Dengan batas maksimum setiap Whitering Trough 1800 kg. Tinggi hamparan kurang lebih 30 cm.
Pembeberan pucuk dilakukan dari ujung yang berlawanan arah dengan fan, agar udara segar tertahan oleh pucuk yang telah dibeberkan di ujung Whitering Trough. Kemudian dilakukan pengkiraban dengan hamburan. Pengkiraban merupakan pembalikan pucuk. Pembalikan ini bertujuan untuk memindahkan posisi pucuk yang semula di atas dipindahkan ke bagian bawah sehingga pelayuan berlangsung sempurna, selain itu untuk memisahkan pucuk yang masih lengket.
Udara segar yang digunakan dialirkan dengan menggunakan fan. Fungsi udara segar adalah untuk mempercepat proses pelayuan dan menghilangkan air di permukaan daun. Setelah pembeberan, dilakukan analisa pucuk dan analisa petikan. Syarat untuk analisa pucuk 65% dan analisa petik 70%.
Pelayuan
Pelayuan pada dasarnya menurunkan kadar air pucuk sampai 68-76 % untuk proses CTC. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pelayuan adalah 12 – 28 jam. Apabila waktu pelayuan melebihi batas waktu tersebut maka pucuk akan terlalu gosong.
Untuk mendapatkan hasil layu yang baik, perlu dilakukan pembalikan pucuk 2 – 3 kali. Dan apabila pucuk terlalu kering, fan dihentikan dan pintu Whitering Trough dibuka sehingga kuantitas udara yang mengenai pucuk berkurang. Prosentase layu adalah berkisar 90 %. Pelayuan dihentikan jika :
      Pucuk layu sudah berwarna kekuningan.
      Jika pucuk layu digenggam akan membentuk gumpalan, jika dilepas akan mengembang secara perlahan.
      Tangkai daun lentur, jika dibengkokkan tidak patah.
Namun, pada kenyataannya, sering dijumpai pucuk yang kadar airnya belum mencapai kadar air yang ditentukan meskipun waktu pelayuannya melebihi 28 jam.
Menurut Kustamiyati (1982), selama proses pelayuan, terjadi perubahan-perubahan kimia, seperti :
      Berkurangnya kandungan zat padat.
      Berkurangnya kandungan pati dan gum, naiknya kadar gula.
      Berkurangnya protein, naiknya asam amino. Selama proses pelayuan terjadi pembongkaran protein menjadi asam-asam amino.
      Senyawa katekin tidak mengalami perubahan selama pelayuan, tetapi karena kandungan air turun maka kadar katekin menjadi tinggi.
      Perubahan sebagian klorofil menjadi feoforbid.

Turun Layu

Merupakan proses pemindahan pucuk dari ruang pelayuan ke ruang penggilingan.
Selama proses pelayuan, terdapat hal-hal yang mempengaruhi proses, seperti :
§  Kondisi Pucuk Teh
§  Suhu dan Kelembaban Udara
§  Waktu Pelayuan
§  Tebal Hamparan
2)      Penggulungan dan Penggilingan
Proses ini merupakan proses penting karena proses pembentukan mutu teh secara fisik dan kimiawi.
Proses CTC
Pada proses CTC, tidak dilakukan proses sortasi basah. Tetapi, sesuai dengan namanya, yaitu Crushing, Tearring dan Curling, proses penggilingannya meliputi 3 hal, yaitu perobekan (pemotongan), pengepresan dan penggulungan.
Tujuan penggilingan dan penggulungan yaitu:
      Memperkecil  ukuran pucuk teh layu.
      Menggiling pucuk teh agar cairan sel keluar semaksimal mungkin sehingga terjadi kontak dengan oksigen, enzim dan substrat sehingga terjadi oksidasi enzimatis.
      Mengoptimalkan terbentuknya inner quality.
 
Gambar 2.3 Proses Penggulungan dan Penggilingan Teh
Di Pabrik teh PTPN VIII, proses CTC memiliki 2 jalur, jalur 1 dan jalur 2. perbedaan kedua jalur ini yaitu pada jalur 1 digunakan RV untuk penggilingan awal dan jumlah mesin CTC ada 3 buah. Sedang jalur 2 menggunakan BLC untuk penggilingan awal, dan jumlah mesin CTC ada 4. Penggilingan pada proses CTC ini dimulai dari ketika pucuk teh layu diturunkan dari ruang pelayuan ke ruang penggilingan melalui corong menuju GLS (Green Leaf Sifter). GLS digunakan untuk memisahkan pucuk layu dengan kotoran seperti tangkai, pasir, logam sehingga kotoran tidak merusak pisau CTC dan membuat macet pisau CTC. Dari GLS, masuk ke BLC (jalur 2) atau RV (jalur 1) untuk dilakukan penggilingan awal. Pada alat ini, pucuk belum sepenuhnya halus. Tujuan dari penggilingan awal ini untuk memudahkan penggilingan berikutnya di mesin CTC. Setelah masuk CTC, potongan pucuk akan dirobek lagi, dipress dan digulung sehingga dihasilkan bubuk teh yang sangat halus. Kemudian menuju CFU (Continue Fermenting Unit) untuk proses fermentasi. 
Pengendalian Proses
·        Penggunaan 4 pisau roll CTC pada jalur 1 dan 3 pisau roll CTC pada jalur 2.
·        Pemasangan humidifier untuk mengatur kondisi ruangan agar selalu berada pada suhu 18 – 24 °C dan memiliki kelembaban udara 90 – 98 %.
Pengendalian Mutu
·        Pemeriksaan keseragaman dan warna bubuk teh oleh petugas secara visual. - Pengujian kadar air bubuk hasil penggilingan.
3)      Fermentasi (Oksidasi Enzimatis)
Fermentasi merupakan proses pembentukan sifat-sifat teh yang paling penting dalam pengolahan teh hitam. Proses ini lebih tepat jika disebut sebagai proses oksidasi enzimatis, karena reaksi yang terjadi adalah reaksi oksidasi senyawa polifenol dengan enzim polifenol oksidase dengan adanya oksigen. Sifat-sifat teh hitam yang terpenting seperti warna, aroma, rasa, dan warna air seduhan timbul selama proses ini.
Yang dinamakan fermentasi dalam pabrik teh ialah bercampurnya zat-zat yang terdapat di dalam cairan sel yang terperas keluar selama proses penggilingan yang selanjutnya mengalami perubahan kimiawi dengan bantuan enzim-enzim dan oksigen dari udara (Lehninger et al, 1951; Adiprayoga, 1971; Eden, 1958).
Tujuan dari oksidasi enzimatis ini adalah untuk memberikan kesempatan terjadinya reaksi oksidasi enzimatis antara substrat polifenol dengan enzim polifenol oksidase pada pucuk teh yang dibantu oleh oksigen. Oksidasi senyawa polifenol, terutama epigalochatekin dan galatnya akan menghasilkan quinon-quinon yang kemudian akan mengkondensasi lebih lanjut menjadi senyawasenyawa bisflavanol, Tehaflavin dan Teharubigin. Proses kondensasi dan polimerasi berjalan membentuk substansi-substansi tidak larut.
Ada hubungan erat antara rasa, dan jumlah total antara Tehaflavin dan Teharubigin (Roberts, 1958). Untuk teh kering yang berkualitas baik, yaitu baik kekuatan dan kesegarannya, maka jumlah Tehaflavin dan Teharubigin kemungkinan mempunyai perbandingan 1 : 10 atau 1 : 12. Tetapi untuk teh yang kekurangan kesegaran dan kekuatan, kemungkinan mempunyai perbandingan 1 : 20 atau lebih (Harler, 1970). Tehaflavin berhubungan erat dengan karakteristik air seduhan (liquor) seperti kecerahan (brightness), kesegaran (briskness), dan kekuatan (strength). Sedangkan Teharubigin berhubungan dengan penampakan terutama warna air seduhan.
Pengendalian Proses
·      Pengendalian suhu dan kelembaban menggunakan humidifier agar suhu terjaga pada range 18 – 24 °C. Apabila suhu di bawah 18 °C, maka proses fermentasi akan berjalan lambat. Sedangkan apabila suhu terlalu tinggi, maka enzim akan rusak. Sementara kelembaban udara yang dipersyaratkan adalah 90 – 98 %. Apabila kelembaban udara di bawah 90 %, maka menyebabkan bubuk yang diproses akan mengalami  penguapan air dan menurunkan mutu teh.
·      Pada Proses CTC, pengendalian waktu sudah diatur oleh alat, yaitu berjalannya CFU sudah diset sehingga waktu untuk fermentasi sudah terorganisir. Waktu fermentasi pada sistem CTC adalah 60 – 120 menit. Waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi pada sistem CTC cukup singkat, karena pada sistem CTC prosesnya continue.
·      Pengaturan keadaan bubuk selama proses fermentasi berlangsung. Yang dimaksud keadaan bubuk adalah keadaan bubuk selama proses fermentasi. Meliputi suhu bubuk, ketebalan bubuk, kerataan bubuk dan kadar air bubuk. Suhu bubuk selama proses fermentasi diupayakan 26,7 °C. Ketebalan bubuk diatur 6 – 10 cm, dan diupayakan bubuk rata pada setiap tray. Pengaturan ketebalan bubuk dengan garu dan pembalik. Pengaturan kadar air bubuk terfermentasi adalah  72,4 % (untuk CTC).

Pengendalian Mutu

·           Pemeriksaan mutu hasil fermentasi secara visual dengan cara di lihat, diraba dan dihirup aroma bubuk tehnya.
·           Pemeriksaan mutu hasil fermentasi dengan Green Dhool Test.
Selama oksidasi enzimatis, terjadi perubahan pada senyawa polifenol yaitu katekin. Katekin yang mengalami perubahan adalah epigalokatekin dan epigalokatekin galat, yang dengan adanya O2 dari udara dan polifenol oksidase, katekin akan mengalami reaksi oksidasi enzimatis membentuk ortoquinon. Sebagian ortoquinon akan diendapkan oleh protein (Harler, 1963). Ortoquinon akan berkondensasi membentuk bisflavanol. Kemudian mengalami kondensasi lagi membentuk Tehaflavin yang berwarna kuning. Dan akan mengalami kondensasi membentuk Teharubigin yang berwarna merah dan coklat (Kirk dan Othmer, 1965). Teharubigin bersama protein yang tersedia membentuk senyawa tidak larut.
4)      Pengeringan
Pengeringan merupakan proses pengaliran udara panas pada bubuk hasil fermentasi sehingga diperoleh bubuk yang kering. Pengeringan pada pengolahan teh hitam di pabrik PTPN VIII dilakukan dengan VFBD (Vibro Fluid Bed Dryer).
Udara panas yang digunakan untuk pengeringan berasal dari udara luar yang dipanaskan dengan Heat Exchanger. Kemudian udara masuk melalui celah dan melewati bagian bawah VFBD dan digunakan untuk mengeringkan bubuk teh. Menurut Sultoni Arifin (1994), pengeringan pada pengolahan teh hitam memiliki tujuan yaitu :
      Menghentikan proses oksidasi enzimatis.
      Menjaga sifat-sifat spesifik teh pada saat teh mencapai kualitas optimum.
      Menurunkan kadar air sampai mencapai 2,5–3,5% sehingga teh hitam mempunyai daya simpan yang lama.
 
Gambar 2.4 Pengeringan Teh
Perubahan yang terjadi selama proses pengeringan sistem CTC meliputi perubahan yang bersifat fisik maupun perubahan yang bersifat kimiawi.

     Perubahan Fisik
-       Terjadi pengurangan kadar air pada bubuk teh menjadi 2,5 – 3,5 %.
-       Warna bubuk teh menjadi coklat kehitaman setelah proses pengeringan.
     Perubahan Kimiawi
-       Reaksi oksidasi enzimatis terhenti karena enzim polifenol oksidase terdenaturasi.
-       Lapisan gel pectin di permukaan bubuk teh akan mengering sehingga permukaan bubuk teh menjadi mengkilap.
-       Pembentukan teaflavin dan Tehrubigin terhenti.
-       Terjadi karamelisasi karbohidrat.
5)      Sortasi dan Pengepakan
Sortasi kering pada dasarnya merupakan upaya untuk memperoleh produk teh hitam yang seragam dan baik ukurannya, bentuknya maupun beratnya, disamping teh tersebut harus bersih dari kotoran, tulang, atau serat-serat daun. Dengan dasar tersebut maka pelaksanaan sortasi kering meliputi: memotong/mengecilkan ukuran, mengayak, membersihkan dari kotoran, dan menghembus teh untuk mendapatkan berat partikel yang seragam.
 
 Gambar 2.5 Sortasi Produk dan Pengepakan Teh



2.      PT. SERBA SUSU LEMBANG
            Serba Susu hingga saat ini dianggap sebagai pengolah susu yang paling banyak memiliki variasi produk terbanyak. Bagaimana tidak, selain menyediakan produk jadi seperti susu pasteurisasi, yoghurt krim, youghurt cair, yoghurt es krim, es krim susu, noughat susu, permen susu, dodol susu, pie susu, kerupuk susu, rempeyek susu, bagelen susu, milk stick, colostrum ,es mambo susu, donat susu, klappertart susu, kue kering, tiramisu, PT Serba Susu juga menyediakan produk setengah jadi, yaitu susu murni.
 
Gambar 2.6 Contoh Produk Olahan Susu
Dalam proses produksinya, perusahaan ini menggunakan susu murni sebagai bahan dasar. Bahan baku pendukung menggunakan tepung terigu, tepung ketan, gula, buah-buahan yang didapatkan dari wilayah lembang. Sedangkan campuran-campuran tertentu diberikan sesuai dengan produk jenis apa yang akan dibuat. Misalnya dodol, maka untuk membuat dodol susu diperlukan tepung ketan dan gula sebagai campuran. Proses penentuan kebijakan produksi diatur oleh kepala produksi dan dilakukan meeting produksi seminggu sekali. Semua jenis produksi dilakukan terus menerus setiap hari.
   
Gambar 2.7 Proses Produksi Pengolahan Susu
Proses produksi selanjutnya adalah pengemasan. Pengemasan dilakukan dengan cara manual yang dilakukan oleh pegawai yang tetap menjaga higienitas dari produk. Pengemasan dilakukan untuk menambah nilai produk baik dilihat dari segi tampilan maupun harga ekonominya.
 
Gambar 2.8 Proses Pengemasan Produk Olahan Susu
Perusahaan ini merupakan milik kelompok beberapa peternak sapi perah dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak dan masih menggunakan cara tradisional dalam kegiatan produksinya. Perusahaan ini masih mengandalkan kemampuan sendiri dalam pengembangan perusahaannya. Jenis proses produksi perusahaan ini adalah proses produksi terus-menerus atau tidak terputus, karena kegiatan produksi dilakukan setiap hari. Hal ini bertujuan untuk memenuhi permintaan konsumen.


C.    PEMASARAN PRODUK
1.    PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII
Pemasaran produk yang dilakukan oleh PTPN VIII Perkebunan Teh Ciater adalah 90% ke luar negeri dan 10% di dalam negeri. Untuk pemasaran di dalam negeri, perkebunan teh Ciater menjual produk setengah jadi pelelangan di PT. Kharisma Nusantara yang berada di Jakarta setiap Hari Rabu. PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT. KPB Nusantara) adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran komoditas perkebunan sebagai perubahan bentuk/transformasi dari Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara I-XIV. Sedangkan untuk pemasaran ke luar negeri, perkebunan teh Ciater biasanya mengimpor ke Negara-negara antara lain: Arab, Singapura, Malaysia, Irak, Iran, dan Negara-negara di Timur Tengah. Sementara produk jadinya dipasarkan di daerah sekitar dengan merk dagang “Walini”.
Teh Celup Walini dibuat dari bahan baku teh pilihan yang diolah tanpa campuran apapun, dengan kombinasi campuran beberapa jenis kualitas ekspor, dan dikemas secara profesional. Kemasan teh dibuat sedemikian rupa yang membuat keutuhan mutu teh terjaga. Keunggulan Teh Celup Walini dibanding teh lainnya yang sejenis, diantaranya adalah terbuat dari bahan baku yang berkualitas ekspor dari hasil perpaduan atau kombinasi dari beberapa jenis hasil kreativitas olahan para pakar teh di Indonesia.
Merk Walini mulai dibangun di Bandung Jawa Barat dan selanjutnya mulai diperkenalkan ke kota-kota besar di Jawa Barat pada tahun 2005. PTPN VIII menggunakan two level channel dalam memasarkan produk Teh Walini Organik dimana pada saluran ini terdapat dua pedagang perantara dalam menyalurkan produk sebelum sampai ke tangan konsumen yaitu wholesaler yaitu PT Atri Distribusindo dan retailer yaitu Alfamart dan Carrefour.
Gambar. 2.9 Sistem Pemasaran Produk Walini
Dari awal PTPN VIII menggunakan saluran distribusi dengan menunjuk satu distributor yang khusus menyalurkan produknya di wilayah tertentu dengan syarat distributor tersebut tidak boleh menjual produk dari produsen lain. Distributor yang digunakan yaitu Puskopkar yang distribusinya dikonsentrasikan kepada daerah Bandung dan sekitarnya. Pada tahun 2008 terjadi penambahan distributor yaitu PT Atri Distribusindo yang mampu memasarkan produk hingga ke tingkat propinsi seperti DKI, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur melalui Alfamart dan Carrefour. Kegiatan promosi yang dilakukan untuk memasarkan produk Teh Walini Organik di Jawa Barat dilakukan melalui :
a.        Media Cetak
PTPN VIII melakukan promosi media cetak melalui surat kabar, majalah, dan brosur. Beberapa iklan di surat kabar yang diterbitkan diantaranya terdapat di surat kabar Kabinet dari bulan Juli sampai Agustus tahun 2005, surat kabar Tribun Jabar pada tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan setiap hari selama dua bulan dengan luas jangkauan informasi meliputi wilayah Jawa Barat, serta surat kabar Dialog pada tahun 2007.
Iklan majalah yang diterbitkan diantaranya terdapat di majalah Pangan tahun 2003, majalah Mawadah pada tahun 2005, majalah Gandawibawa pada tahun 2007 yang diterbitkan bagi kalangan kepolisian, majalah Indonesian Agriculture, majalah Directory of Indonesian Exporter untuk kalangan kedutaan, tabloid Agrina dan majalah Agro Observer pada tahun 2008.
Gambar. 2.10 Iklan Surat Kabar (kiri) & Iklan Majalah Teh Walini Organik (kanan)
Penggunaan brosur sebagai media periklanan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan demonstrasi, pajangan, dan promosi. Brosur tersebut berisi manfaat teh bagi kesehatan, kualitas, kandungan Teh dan varian produk Teh Walini.
b.        Media Luar Ruang
Dalam melakukan kegiatan promosi menggunakan media luar ruang, PTPN VIII melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti pemasangan sign board bekerjasama dengan Departemen Agama, serta Polres Bogor. Untuk daerah Bandung sign board diletakkan pada daerah-daerah strategis seperti kawasan Soekarno-Hatta dan Sukajadi, sedangkan untuk daerah Bogor sign Board diletakkan di kawasan pasar Cibinong dan Mega Mendung. Kerjasama dengan Jasa Marga dilakukan dengan membuat tebing berukir dan sign board Teh Walini pada salah satu tepi jalan tol Cipularang. Pemasangan Bilboard dipilih kawasan Bandara Husein Sastranegara, dan spanduk melalui kerjasama TNI AU dipasang di jalan-jalan strategis di kota Bandung.
c.         Kegiatan Reguler
Kegiatan promosi Teh Walini Organik dalam bentuk pameran yang dilaksanakan oleh PTPN VIII meliputi kegiatan demonstrasi, pajangan, dan promosi gabungan. Kegiatan demonstrasi meliputi pembukaan stand Tea Corner di tempat-tempat keramaian misalnya dipusat perbelanjaan dan dilapangan Gasibu Bandung pada hari-hari libur nasional atau acara-acara tertentu, seperti acara pergantian tahun. Pada acara itu diperagakan penyajian teh dengan diseduh murni, ataupun menggunakan campuran susu, lemon, dan jahe, juga pemberian sampel gratis.
Pihak PTPN VIII juga melakukan kegiatan promosi gabungan dengan perusahaan teh lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan rutin setiap tahun pada acara Teh Festival dan jangkauan promosi tersebut mencangkup seluruh wilayah Jawa Barat. Komunikasi yang ingin dibangun adalah teh asli Indonesia dengan kualitas terbaik sesuai dengan standar kesehatan internasional tanpa ada campuran bahan kimia apapun yang terlihat dari taglinenya yaitu ”WALINI Sensasi Teh Indonesia”.


d.        Kontrak (listing fee)
Kegiatan pajangan produk Teh Walini Organik dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai supermarket yang berada di regional Jawa Barat. Beberapa pihak yang melakukan kontrak kerjasama dengan PTPN VIII adalah Hero, Yogya Group, Borma, dan Alfamart. Melalui pemasaran disertai kegiatan promosi yang konsisten di Jawa Barat yang telah dilakukan oleh PTPN VIII maka terjadi peningkatan volume penjualan dari tahun ke tahun. Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2005 dan pada awal tahun 2007 dikarenakan pemilihan media promosi dan frekuensi penayangan promosi yang lebih sering dari tahun-tahun sebelumnya.
Realisasi peningkatan penjualan tertinggi diperoleh tahun 2008 namun memang masih dinilai rendah jika dibandingkan dengan rencana volume penjualan yang telah diterapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 763.200 kg atau baru terealisasi sebesar 9,7 % dari target penjualan. Walaupun dinilai masih rendah namun terdapat indikasi peningkatan realisasi volume penjualan dari tahun ke tahun yaitu sebesar 6,2 % pada tahun 2006 dan 8,6 % pada tahun 2007.
e.         Peningkatan Produksi Teh Walini Organik Untuk Memperluas Pasar
Bagas Angkasa, Direktur Utama PTPN VIII, mengatakan volume produksi Teh Walini Organik akan ditingkatkan mencapai 600 ton atau dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan guna memperluas distribusi pemasaran dan memenuhi pertumbuhan konsumsi teh nasional. Produksi industri hilir teh yang akan ditingkatkan adalah kategori teh celup dan kemasan siap minum.
Hal ini karena dirasakan terjadi perubahan dan trend konsumsi teh masyarakat lokal yang meningkat disebabkan karena semakin lama masyarakat semakin menyadari akan manfaat mengkonsumsi teh, salah satunya adalah teh mampu memerangi berbagai jenis penyakit, seperti kanker dan melindungi jantung karena mengandung antioksidan. Peningkatan ini juga disebabkan karena masyarakat lebih menyukai mengkonsumsi teh setelah makan daripada minuman bersoda dengan alasan lebih sehat.


2.      PT. SERBA SUSU LEMBANG
Dalam melakukan kegiatan sebuah unit usaha produksi tentunya diperlukan pemasaran untuk menyalurkan produk yang dihasilkan. Begitu juga dengan KUPS Serba Susu Lembang yang memasarkan berbagai produk olahan susu. Pemasarn produk-produk tersebut dilakukan di outlet-outlet. Outlet-outlet tersebut berada di tiga tempat, yang pertama yaitu di Head Office Jl. Sesko AU No. 7 Lemang 40391 Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat, Rest Area Tol Perbaleunyi KM. 125 bandung, dan di Floating Market Lembang. Selain itu, pemasaran dilakukan dengan cara kerjasama dengan beberapa Event Organizer (EO), travel perjalanan, tempat pariwisata, hotel, sekolah, dan instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta. Kerjasama tersebut dilakukan dengan cara perkenalan atau promosi dari berbagai produk olahan susu tersebut,
Lembang merupakan daerah pariwisata, oleh karena itu konsumen Serba Susu Lemabng mayoritas adalah berasal dari luar kota. Konsumen terbesar berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Garut, Tasikmalaya, Semarang, Surabaya, Medan, Pontianak, Banjarmasin dan batam. Konsumen produk olahan Serba Susu ini tidak hanya bersala dari dalam negeri saja, tetapi juga dari wisatawan yang berasal dari luar negeri. Konsumen asing terbanyak berasal dari Malaysia dan Arab Saudi.
Kegiatan-kegiatan pemasaran yang dilakukan tidak hanya berjualan pada outlet-outlet Serba Susu saja. Kegiatan pemasarn dilakukan dengan melakukan kegiatan seperti Edukuliner (kegiatan Edukasi yang berkaitan dengan pangan), Wisata Kampung yang biasanya dikaukan masih didaerah Lembang, Pengenalan Kewirausahaan untuk para siswa-siswi atau untuk para mahasiswa dan mahasiswi, serta ada program pra-pensiun. Untuk sasaran konsumen adalah semua usia, yaitu usia anak-anak sampai usia  dewasa dengan tingkat ekonomi menengah keatas.
Lembang merupakan daerah pariwisata, oleh karena itu konsumen serba susu lembang mayoritas berasal dari luar kota. Konsumen terbesar berasal dari: Jakarta, Garut, Tasikmalaya, Semarang, Surabaya, Medan, Pontianak, Banjarmasin, dan Batam. Sedangkan dari luar negeri, konsumen terbanyak berasal dari Malaysia dan Arab Saudi.

 
Gambar. 2.11. Produk Pie Susu
Harganya, mulai dari yoghurt Rp 7.500 sampai satu kotak dodol Rp 15.000. Rata-rata ada 200 orang pengunjung yang berbelanja di pusat penjualannya yang luasnya 800 meter persegi tersebut. Total penjualan yang diperolehnya Rp 3 juta - Rp.4juta. Peningkatan penjualan diperoleh dari kunjungan liburan akhir pekan hingga Rp 5 juta - Rp 6 juta. Sebab, banyak yang datang dari Jakarta. Kunjungan dan penjualan bisa meningkat hingga dua kali lipatnya. "Setiap hari ada 200 orang wisatawan yang datang belanja," kata Sekretaris Ketua Kelompok Usaha Pengolahan Susu Serba Susu Lembang Titin Wahyuni Ahad, 7 Oktober 2012 siang.
  
Gambar. 2.12. Produk Permen Susu dan Produk Nougat Susu

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dalam praktikum tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
A.    PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII
1.      Perkebunan Teh Ciater didirikan tahun 1934 oleh pemerintah Belanda pada tahun dan pada tahun 1989 direksi PTP VIII.
2.      Proses pengolahan teh di PT. Perkebunan Nusantara VIII meliputi : a) Pengolahan pucuk daun teh, b) Pengeringan, c) Fermentasi, d) Penggulungan dan penggilingan
3.      Pemasaran  produk teh ciater adalah 90% ke luar negeri dan 10% di dalam negeri. Negara tujuan ekspor antara lain : Arab, Singapura, Malaysia, Irak, Iran. Sementara produk jadinya dipasarkan di daerah sekitar dengan Merk dagang “WALINI”.
B.     PT. SERBA SUSU LEMBANG
1.    PT. Serba Susu terletak di Lembang Kabupaten Bandung, berdiri sejak tahun 2009 oleh Lucy Trisna Mayasanti PT ini berawal dari peternak sapi perah yang bergabung di sebuah koperasi.
2.    Proses produksi PT. SERBA SUSU menggunakan susu murni sebagai bahan dasar. Bahan baku pendukung menggunakan tepung terigu, tepung ketan, gula, buah-buahan yang didapatkan dari wilayah lembang.
3.    Pemasaran produk PT. SERBA SUSU dilakukan di outlet-outlet sendiri dan bekerjasama dengan beberapa event organizer (EO), travel, tempat pariwisata, hotel, sekolah, dan instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta.


DAFTAR PUSTAKA
Adiprayoga, 1971. Bercocok Tanam & Fabrikasi Teh. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta.
Ahyari, Agus M. B. A. 2002. Manajemen Produksi Perencanaan Sistem Produksi. BPFE-yogyakarta
Arifin, Sultoni, 1994. Petunjuk  Teknis Pengolahan Teh. Pusat Penelitian Teh dan Kina. Gembong. Bandung.
Assauri, Sofjan. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Cardoso Gomes, Faustino. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Andi Offset, Yogyakarta.
Gumbira-Said, E. dan A. Haritz Intan. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Harler, C. R, 1963. Tea Manufacture. Oxford university Press London.
Kartika, Bambang, 1983. Perkembangan Penelitian Standar Teh Hitam di Indonesia. Warta BPTK 9 (1/ 2) : 81-89.
Kirk, R. E. and P. F. Othmer, 1965. Chemistry of Tea. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol 13 2nd. John Wiley and Sons Inc. New York.
Kustamiyati, B., Ratna B., saripah H., dan Betty Dewis, 1987. Warna dan Rasa Seduhan Teh Hitam dengan Berbagai Macam Air Penyeduh. Buletin Penelitian Teh dan Kina. Vol 2 (1) : 29-38.
Lehninger, h. A., H. R. Break, E. Verhaan, 1951. Harleiding Veor de Tehe Bereiding. Deel II. De Centrale Vereniging Tot Beneer Proefstations Voor de Over Jarige culture in Indonesia Jakarta.
Riyanto, Bambang, 1989. Dasar- Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada.
Robbins. P.S. 2002. Prinsip-prinsip Perlaku Organisasi. Edisi kelima. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Sofyandi, Herman. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit: Graha Ilmu, Yogyakarta.
Yamit, Zulian. 2002. Manajemen Produksi dan Operasi. Ekonisia. Yogyakarta.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship