-->

TUGAS TERSTRUKTUR PENGANTAR ILMU PERTANIAN / LAPORAN KUNJUNGAN POTENSI DESA KEBUMEN


TUGAS TERSTRUKTUR
PENGANTAR ILMU PERTANIAN

LAPORAN KUNJUNGAN POTENSI DESA KEBUMEN


 










KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO





BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan sektor yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya.
Perjalanan pembangunan pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Pembangunan pertanian di Indonesia dianggap penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Ada beberapa hal yang mendasari mengapa pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain: potensi Sumber Daya Alam yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan.
      Pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai beberapa kelemahan, yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan skala kecil, modal yang terbatas, penggunaan teknologi yang masih sederhana, sangat dipengaruhi oleh musim,  wilayah pasarnya lokal, umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani. Selain itu, masih ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia seperti pembaruan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani, kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada beras yang tidak meningkatkan kesejahteraan petani dan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Petani, menuntut pemerintah untuk dapat lebih serius lagi dalam upaya penyelesaian masalah pertanian di Indonesia demi terwujudnya pembangunan pertanian Indonesia yang lebih maju demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia.
      Pembangunan pertanian di masa yang akan datang tidak hanya dihadapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada, namun juga dihadapkan pula pada tantangan untuk menghadapi perubahan tatanan politik di Indonesia yang mengarah pada era demokratisasi yakni tuntutan otonomi daerah dan pemberdayaan petani. Disamping itu, dihadapkan pula pada tantangan untuk mengantisipasi perubahan tatanan dunia yang mengarah pada globalisasi dunia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian di Indonesia tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berdaya saing tinggi namun juga mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat. Ketiga tantangan tersebut menjadi sebuah kerja keras bagi kita semua apabila menginginkan pertanian kita dapat menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.

1.2  Tujuan Penulisan
      Tujuan dibuatnya laporan penulisan ini adalah guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian yaitu untuk mengetahui jenis tanaman dan sayuran yang dibudidayakan di desa, serta sistem administrasi dan organisasi kelompok desa di Desa Kebumen.

1.3  Metode Penulisan
           Metode penulisan yang digunakan guna melengkapi laporan penulisan ini ada tiga cara, yakni secara pustaka, observasi dan wawancara.
1.3.1   Pustaka
            Dalam penulisan karya ilmiah ini, kami menggunakan metode pustaka yaitu dengan mencari sumber dari internet dan buku – buku yang berkaitan dengan karya ilmiah kami.
1.3.2   Observasi
            Dalam penulisan karya ilmiah ini kami menggunakan metode observasi yaitu pengamatan langsung ke daerah persawahan dan perkebunan untuk mengetahui jenis – jenis tanaman yang ada di daerah tersebut.
1.3.3   Wawancara
            Dalam penulisan karya ilmiah ini, kami menggunakan metode wawancara yaitu dengan cara mewawancarai beberapa pengurus gapoktan dan para petani yang ada di lokasi tersebut.



1.4  Tinjauan Pustaka
            Pertanian  adalah  suatau  jenis kegiatan produksi  yang  berlandaskan proses pertumbuhan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Awal kegiatan pertanian terjadi ketika manusia mulai mengambil peranan dalamproses kegiatan tanaman dan hewan dan pengaturan guna memenuhi kebutuhan.
            Pertanian dapat diartikan dalam arti terbatas dan dalam arti luas. Dalam arti terbatas pertanian dapat diartikan sebagai, pengelolaan tanaman dan lingkungan agar menghasilkan suatu produk. Sedang dalam arti luas, pertanian dapat diartikan sebagai, pengolahan tanaman, ternak, dan ikan  agar menghasilkan suatu produk (Soetirono,Anilk Suwandari,dan Rijanto,2003).
            Kondisi sosial budaya petani adalah  masalah utama dalam fungsi sektor pertanian di dalam pembangunan nasional dan kemampuan sektor tersebut untuk bersaing dengan sektor yang lain di masa yang akan datang. Berdasarkan data yang ada saat ini sekitar 75 % penduduk indonesia tinggal di pedesaan dan sekitar 54 % di antaranya bekerja pada sektor pertanian, dengan tingkat pendapatan yang rendah bila di bandingkan dengan penduduk yang tinggal di perkotaan. Perbedaan pendapatan tersebut berkaitan erat dengan produktivitas petani indonesia, yang di pengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain, luas lahan yang dimiliki, kebijakan pemerintah dalam pemberian insentif kepada petani, dan sebagainya.
            Pada sosiologi barat,terdapat dua konsep mengenai petani, yaitu peasants dan farmer .Peasants (subsistance farmers) adalah petani  dengan lahan sempit dan memamfaatkan sebagian besar hasil pertaniannya untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Farmers adalah orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari pertanian dan memanfaatkan hasil pertaniannya untuk dijual. Berbeda dengan Peasants, farmers telah akarab dengan pemanfaatan teknologi pertanian moderen, misalnya perbankan. Farmers adalah petani-petani yang hidup dalam dunia pertanian di Inggris atau Amerika. Para sosiolog petani Indonesia kesulitan dalam mengaplikasikan dua konsep tersebut, sebab dalam kosa kata Bahasa Indonesia, semua orang yang menggantungkan hidup  dari pertanian disebut petani.
            Jumlah rumah tangga petani Indonesia didominasi oleh petani yang mempunyai luas lahan yang kurang dari 0,5 ha. Di Pulau Jawa, pada tahun 1983 jumlah petani mencapai angka 7,3 juta, dan pada sensus pertanian 1993 jumlah tersebut  meninkat menjadi 8,1 juta. Di luar Jawa, pada kurun waktu yang sama terjadi peningkatan jumlah petani dari 2,3 juta menjadi 2,8 juta. Jika dilihat dari luaslahan yang di miliki, dapat dapat dikatakan bahwa sebagian besar petani Indoesia dapat di golongkan sebagai peasants.
            Sekitar 40,73 % petani Indonesia berpendidikan sekolah dasar, 4,62 %  berpendidikan SLTA, dan 0,39 % berpendidikan akademis/universitas. Petani yang termasuk tidak berpendidikan dan tidak tamat SD mencapai 47,33%. Dari data-data tersebut petani indonesia dapat digambarakan sebagai petani “gurem”, suatu istilah yang tepat untuk menggantikan istilah Peasants. Data-data tersebut juga menunjukan rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki oleh sektor pertanian indonesia.
            Kondisi di atas semakin memperihatinkan, jika melihat usia para petani. Sebagian besar pentani Indonesia, yakni 15,1 juta jiwa(76,2%), berusia antara 25-54 tahun; 7,7 juta jiwa(50,9%) di antaranya berada di pulau jawa dan 7,3 juta jiwa (49,1%) berada di luar jawa. Petani yang berusia lebih dari 55 tahun mencapai 4,2 juta jiwa atau 21,46% dari jumlah ruman tangga petani di indonesia. Umur rata-rata petani Indonesia yang cenderung lamjut usia sangat berpengaruh pada produktivitas sektor pertanian Indonesia. Petani yang berusia lanjut biasanya cenderung koservatif dalam menyikapi perubaha atau inovasi teknologi. Petani Indonesia pada umumnya adalah petani gurem dan mengusahakan pertaniannya dilingkungan tropis yang penuh resikao, misalnya banyaknya hama, tidak menentunya curah hujan, dan sebagainya. Dlam kondisi yang demikian,para petani harus lebih hati-hati dalam menerima inovasi,karena kegagalan berarti penderitaan bagi seluruh keluarga(Loekman Soetrisno,1999).



1.5  Sistematika Penulisan
            Sistematika penulisan laporan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
       BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan
1.3. Metode Penulisan
1.3.1.      Pustaka
1.3.2.      Observasi
1.3.3.      Wawancara     
1.4  Tinjauan Pustaka
1.5  Sistematika Penulisan
       BAB II PEMBAHASAN
                   2.1 Lembaga Pertanian
                        2.1.1 Perangkat Desa
                        2.1.2 Organisasi Tani Sekelompok
                        2.1.3 Sarana Produksi Pertanian
                   2.2 Jenis-jenis Tanaman
                        2.2.1 Jenis Tanaman yang Di Budidaya
                        2.2.2 Jenis Tanaman Endemik
                        2.2.3 Hasil Produksi Pertanian
BAB III PENUTUP
          3.1 Kesimpulan
          3.2 Saran
          3.3 Lampiran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Lembaga Pertanian
                 Secara prinsip, desa adat dan desa administratif (contoh kelurahan) memiliki struktur birokrasi pemerintahan yang berbeda. Desa adat memiliki struktur birokrasi yang berbeda di setiap daerah. Mereka yang menjabat dalam kepemimpinan desa, umumnya diangkat dan diberhentikan atas dasar musyawarah, keturunan, atau kasta. Penggajian atau renumerasi biasanya diberikan kepada mereka dari sumber daya alam. Struktur birokrasi disusun berdasarkan urusan-urusan yang ada di desa.
                 Setiap desa memiliki kekhasan jenis kewenangan dan cara mengelola kewenangan yang merupakan hak otonom mereka. Termasuk hak untuk mengatur berbagai sektor yang dikembangkan di daerah itu sendiri. Baik itu sektor peternakan, kelautan dan perikanan, kehutanan, peternakan, dan lainnya. Sektor pertanian, yang mencakup tanaman bahan makanan, peternakan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan kehutanan, yang menyerap sekitar 46,3 persen tenaga kerja dari total angkatan kerja, menyumbang hampir 6,9 persen dari total nilai ekspor non migas, dan memberikan kontribusi kurang lebih 15 persen dari PDB nasional. Sektor pertanian juga berperan besar dalam penyediaan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam rangka memenuhi hak atas pangan.
                 Maka dari itu dibuatlah wadah yang berfungsi untuk mewadahi segala aktivitas yang berhubungan dengan produksi dan usaha di sektor pertanian yang disebut lembaga atau usaha tani. Begitu pula yang di lakukan oleh desa Kebumen untuk mewadahi kegiatan para warganya dan membantu menunjang kehidupan.


                 2.1.1 Perangkat Desa
                        Desa Kebumen dipimpin oleh seorang kepala desa. Berikut adalah struktur organisasinya.
                        Desa Kebumen memiliki sturktur organisasi yang valid dan harmonisasi yang tercipta cukup baik antara satu sama lain. Sehingga program kerja yang terencana dapat direalisasikan dengan baik. Hasilnya pun berupa kerukunan warga dan kepercayaan masyarakat Desa Kebumen terhadap perangkat desa yang ada.

                 2.1.2 Organisasi Tani Sekelompok
                         Kelembagaan masyarakat desa dan kelompok tani adalah penyediaan dan penyebarluasan informasi, pendidikan dan pelatihan, inventarisasi dan identifikasi, pembentukan kelompok atau organisasi, penyuluhan dan bimbingan serta pemberdayaan kelembagaan masyarakat atau kelompok.
                 Sasaran dari kegiatan kelembagaan masyarakat desa dan kelompok tani adalah tumbuhnya kelembagaan masyarakat desa dan kelompok tani yang tangguh, dinamis dan berdaya saing serta mandiri.
                        Prinsip – prinsip
1.      Keterbukaan, demokrasi dalam setiap kegiatan rapat keanggotaan yang dilaksanakan.
2.      Kepastian hak, kewajiban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan rapat keanggotaan.
3.      Mendorong masyarakat untuk memecahkan masalahnya sendiri.
4.      Mengembangkan dan menggali potensi kelompok tani.
5.      Kesetaraan dan kesejajaran antara para pihak dan kelompok tani dalam proses belajr bersama.
6.      Tidak memaksakan sesuatu diluar kemampuan dan kebiasaan yang dimiliki kelompok tani dan anggotanya.

Pelaksanaan Kelembagaan
      Kelembagaan masyarakat atau kelompok pada dasarnya merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh pihak yang berkepentingan dan peduli terhadap kelestarian, funhsi dan manfaat sumber daya alam dan lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia. Para pihak yang berkepentingan, berkewajiban untuk mengupayakan kelancaran pelaksanaan kelembagaan masyarakat atau kelompok dan saling berkoordinasi.

Pelaksanaan kelembagaan dapat dilaksanakan oleh:
1.      Pemerintah (pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa)
2.      BUMN/BUMD
3.      Swasta (LSM yayasan dan pihak lainnya)
                                     Struktur Organisasi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Desa Kebumen
Ketua                                : Ahmad Mukti
Sekretaris                          : Slamet Miftahudin
Bendahara                                    : Sugito
Humas                              : Suwedi
Manajer LKM                  : Tukiman
Pengurus Harian               : Nur Hayati
Manajer Peternakan          : Amir
Manajer Saprotan             : Ahmad Solih
Terdapat 6 kelompok tani, yaitu:
1.     Ngudi Mulyo 1
     Ketua              : Ahmad Rokhman
     Sekretaris        : Samso
     Bendahara       : Sugito
2.     Ngudi Mulyo 2
     Ketua              : H. Narsidi
     Sekretaris        : Subedi
     Bendahara       : Yahya
3.     Ngudi Mulyo 3
     Ketua              : Sudi
     Sekretaris        : Kuwatno
     Bendahara       : Rahmat
     Ngudi Mulyo merupakan organisasi kelompok tani yang bergerak di bidang pertanian. Setiap kelompok tani Ngudi Mulyo mengolah lahan pertanian seluas 12 hektar.
4.     Wanita Tani
     Ketua              : Ir. Sucirah
     Sekretaris        : Sri Budiyati
     Bendahara       : Eni Yuliastuti
     Organisasi Wanita Tani merupakan organisasi yang bergerak dalam pengolahan hasil produksi pertanian. Seperti proses pebgolahan padi menjadi beras.
5.     Petani Hutan  
     Ketua              : Lukman
     Sekretaris        : -
     Bendahara       : Usman
6.     Raharja           
     Ketua              : Drs. H. Saekhudin
     Sekretaris        : Adi Prawoto
     Bendahara       : Suroso
    
    
Raharja merupakan organisasi tani yang bergerak dibidang perairan air tawar khususnya. Kelompok ini mengembangbiakkan ikan nila, mujair, gurame, dan lain-lain. Jadi pertanian di desa Kebumen ini tidak hanya bergerak dibidang pertanian tanah saja. Namun juga bergerak dibidang perikanan serta kehutanan.
Kehutanan itu sendiri memiliki organisasi tani yang bernama Petani Hutan, namun kurang produktif dalam mengembangkannya.
     Akan tetapi, gabungan kelompok tani di Desa Kebumen belum berjalan maksimal. Hal ini dikarenakan kurangnya keprofesionalisme dari masyarakat dan perangkat desa. Sehingga kurang maksimal dalam hal pendistribusian hasil tani.

2.1.3. Sarana Produksi Pertanian
                 Sarana produksi pertanian adalah alat-alat dan sarana pertanian yang digunakan untuk membantu proses dalam kegiatan produksi pertanian, seperti:
1.      Cangkul
2.      Traktor
3.      Hewan pembajak
4.      Penggiling padi
5.      Pupuk
6.      Pestisida (racun)
7.      Dan lain-lain
                 Sarana produksi pertanian tersebut biasanya dimiliki oleh individu atau perorangan. Di Desa Kebumen sudah mendapatkan bantuan berupa dana sejumlah Rp 25.000.000,00,- (dua puluh lima juta rupiah) dan satu unit traktor dari pemerintah, tetapi bantuan tersebut saat ini belum sampai ke pihak perangkat desa sehingga belum direalisasikan.

2.2 Jenis-jenis Tanaman      
                 Mata pencaharian penduduk di Desa Kebumen sebagian besar bercocok tanam. Oleh karena itu, terdapat berbagai jenis tanaman. Tanaman yang dibudidayakan di Desa kebumen, antara lain:
1.      Padi
2.      Jagung
3.      Manis Jangan (kayu manis)
4.      Al basiyah (sengon)
5.      Jabon (jati kebon)
6.      Jati Emas
7.      Durian
8.      Kopi
9.      Petai
10.  Jengkol
11.  Salak
12.  Nanas
13.  Gandul (Pepaya)
14.  Muncang (Daun Bawang)
15.  Cabe Rawit Merah
16.  Terong Ungu
17.  Terong Hijau
18.  Sawi Hijau (Caisin)
19.  Kacang Panjang
20.  Buncis
21.  Singkong, dan lain-lain

2.2.1 Jenis-jenis Tanaman yang Di Budidaya

1.      Padi
        Padi merupakan salah satu tanaman yang sangat diunggulkan sebagai hasil produksi mata pencaharian warga Desa Kebumen. Maka dari itu berbudidaya tanaman Padi merupakan pilihan utama dan favorit oleh masyarakat sekitar. Selain itu, hasil produksi padi yang biasa disebut beras itu sendiri merupakan makanan pokok yang menjadi menu wajib di setiap rumah. Sehingga permintaan beras pun akan selalu ada dan sanggup meminimalisir terjadinya defisit produksi. Tanaman padi jika tumbuh dengan baik, dapat memiliki tinggi kisaran 80-120 cm. Ukuran malainya diukur dari buku terakhir sampai butir di ujung malai. Panjang malai ditentukan oleh sifat baka (keturunan) dari varietas dan keadaan keliling. Panjang malai beraneka ragam, pendek (20 cm), sedang (20-30 cm) dan panjang (lebih dari 30 cm). Memiliki enam benang sari dengan ukuran pendek dan tipis. kepala sari besar serta mempunyai kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu.
     Padi yang di budidayakan dio desa kebumen adalah jenis IR-64. Dengan masa umur panennya 90-100 hari. Hasil produksi sekitar 6ton perhektar, namun ini masih terbilang sedikit sebab pengaruh cara bercocok tanam yang masih tradisional dan struktur tanah yang berbeda didaerah dataran tinggi (di tanah yang cocok bisa mencapai 8-10 ton perhektar hasil produksinya).
        Dalam taksonomi, padi atau Oryza Sativa memiliki sub divisi sebagai berikut ;
        Kingdom         : Plantae
        Division           : Magnoliophyta
        Class                : Liliopsida
        Order               : Poales
        Family             : Poaceae
        Subfamily        : Panicoideae
        Genus              : Panicum                                                     
        Fungsi hasil produksi tanaman padi adalah sebagai berikut;
a)    Beras
              Beras sebagai makanan pokok. Mengandung karbohidrat dan zat pati yang sangat berperan penting dalam produksi energi bagi tubuh. Zat pati atau biasa disebut Amilum terbagi dua, yakni amilosa dan amilopektin. Pada beberapa bahan makanan, beras diolah menjadi tepung dan bahan baku jamu. Tepung dibuat untuk dijadikan sebagai salah satu bahan pembuat makanan tradisional. Untuk jamu, biasanya digunakan dalam pembuatan beras kencur.
b)   Gabah
              Gabah berfungsi sebagai bahan pembuat pupuk yang dibakar biasa dikenal dengan nama merang. Pada jaman dahulu, merang ini sering digunakan sebagai shampo untuk menghitamkan rambut. Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, shampo dari merang atau gabah ini tidak lagi digunakan. Bahkan beralih fungsi menjadi pupuk sekam bagi tanaman yang di budidayakan di dalam pot khususnya.
c)    Daun Padi
              Biasanya diolah sebagai bahan dasar kerajinan tangan. Pengolahannya biasanya di anyam, dikeringkan atau bahkan untuk hiasan pada bross asessoris wanita.
d)   Malai
              Malai atau bunga padi, juga dimanfaatkan untuk kerajinan tangan dan kesenian. Anak-anak di pedesaan biasanya menjadikan malai sebagai mainan.
2.    Jagung
              Selain padi, jagung juga merupakan salah satu tanaman pilihan mata pencaharian warga Kebumen. Faktor iklim, tanah, perawatan dan pemanfaatan maksimal setiap bagian tanaman jagung adalah faktor terbesar yang mempengaruhi kenapa Jagung adalah tanaman pilihan warga yang pas untuk di budidayakan. Tinggi tanaman Jagung ideal bisa mencapai 2 meter. Bentuk daunnya menyirip dengan tulang bergaris. Sebagai tanaman monokotil dan berakar serabut, jagung tidak memiliki cabang batang. Buahnya tumbuh diantara ketiak daun. Bijinya terlindung oleh kulit buah yang berambut pirang. Dalam taksonominya, jagung di klasifikasikan sebagai berikut:
              Kingdom         : Plantae
              Family             : Graminiae
              Subfamily        : Zea
              Genus              : Zea Mays
 
Menurut karakteristik bijinya, jagung dapat dibagi dalam beberapa golongan antara lain:

1)      Jagung Gigi Kuda (Zea mays Indentata)
2)      Jagung Mutiara (Zea mays Indurtata)
3)      Jagung Tepung (Zea mays Amylacea)
4)      Jagung Bungkus (Zea mays Junicata)
5)      Jagung Manis (Zea mays Saccharata)
6)      Jagung  Waxy atau Jagung Lilin (Zea mays Ceratina)
7)      Jagung  Brandong (Zea mays Everata)          

Hampir seluruh bagian tanaman Jagung bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan bernilai ekonomis. Misalnya;
a)      Biji Jagung
Buah dari tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai makanan pokok(untuk beberapa kalangan masyarakat tertentu). Bisa dimanfaatkan sebagai campuran makanan lauk dan lain-lain.
b)      Daun Jagung
Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan kerajinan tangan, seperti hiasan pada lukisan 3 dimensi.

c)      Rambut Jagung
Merupakan salah satu bahan untuk pembuatan bunga hias dan kerajinan tangan lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
d)     Bonggol Jagung
Bonggol Jagung adalah tempat dimana menempelnya biji-biji jagung. Dimanfaatkan sebagai hiasan pada kerajinan tangan, hiasan kap lampu, bahkan ada beberapa yang memanfaatkannya sebagai aromatherapy.
e)      Batang Jagung
Batangnya digunakan sebagai mainan tradisional.

3.      Manis Jangan
Manis Jangan biasa disebut kayu manis di kalangan masyarakat umum. Manis Jangan merupakan hasil produksi yang pernah menjadi andalan Desa Kebumen. Namun kini tidak lagi karena lemahnya sistem organisasi tani dan sikap individualisme masyarakat yang ingin mengeruk keuntungan sendiri. Dalam taksonominya Manis Jangan termasuk kedalam:
             
              Kingdom         : Plantae
              Division           : Magnoliophyta
              Class                : Magnoliopsida
              Ordo                : Laurales
              Family             : Lauraceae
              Genus              : cinnamomum
              Spesies : C. Verum

Tanaman Manis Jangan biasa dimanfaatkan bagian kayunya terutama bagian kulitnya. Terdapat tiga jenis Kayu Manis yang biasa dimanfaatkan kulitnya, yakni Manis Jangan, Manis Teja, dan Manis Keningar. Kulitnya biasa digunakan sebagai bumbu penyedap, bahan pokok pembuat jamu, aroma rokok. Tidak hanya itu, ekstraknya pun digunakan sebagai aroma parfum. Pohon Manis Jangan dapat tumbuh dengan tinggi lebih dari 4 meter. Cara budidayanya dengan mencangkok pada batang yang dipilih. Merupakan tanaman dikotil dan berakar tunggang.

4.      Albasiyah
Albasiyah bila tumbuh dengan baik dapat mencapai ketinggian lebih dari 40 meter, sedangkan pertumbuhan batang bebasnya sekitar 20 meter. Tidak berbanir, kulit licin, berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau. Batangnya terpusat sentralistis di atas.
Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yang berisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau pupus. Masa panennya 5-6 tahun. Merupakan pohon dikotil berakar tunggang. Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.
Dalam taksonominya, pohon Albasiyah termasuk kedalam:
            Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Fabales
Famili : Fabaceae
Sub Famili : Mimosoidae
Marga : Paraserianthes
Jenis : Paraserianthes falcataria
Fungsinya Merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan, kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik, pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Di Ambon kulit batang digunakan untuk penyamak jaring, kadang-kadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.

5.      Jabon (Jati Kebon)
Jabon atau Jati Kebon mulai dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Jabon biasanya dimanfaatkan kayunya sebagai bahan berbagai macam industri. Tingginya dapat mencapai 40 meter. Daun jati bertulang menjari. Batangnya berwarna hijau pupus. Sifat hidupnya dengan menyerap habis unsur hara yang ada ditanah, sehingga tidak menyuburkan tanah. Terdapat dua varietas dari jambon ini, yakni Jambon Merah dan Jambon Putih. Berasal dari India
Kingdom         : Plantae
Ordo                : Gentianales
Family             : Rubiaceae
Genus              : Neolamarckia
Spesies            : N. cadamba

6.      Muncang (daun bawang)
Atau biasa disebut Daun Bawang adalah tanaman budidaya yang cukup diminati sebab cara bercocok tanamnya yang terbilang mudah. Muncang biasa dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap dan salah satu bahan pokok wajib yang menjadi khas dari Indonesia. Kadang menjadi campuran di gorengan (mendoan, tahu isi, dll), penyedap pada soto, sayur sop, dll.
Merupakan tanaman berakar serabut. Bentuk daunnya menyirip. Memiliki tinggi tumbuh sampai 30 cm. Warna daun hijau kebiruan. Lebar daunnya hanya sekitar 4 cm. Memiliki getah bening yang lendir. Dalam taksonominya, muncang digolongkan pada:
Kingdom         : Plantae
Divisia             : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Ordo                : Asparagales
Family             : Alliaceae
Genus              : Allium
Spesies            : Allium Fistulosum

7.      Gandul (pepaya)
Gandul merupakan bahasa daerah yang digunakan masyarakat Kebumen dalam menyebut buah Pepaya. Memiliki tinggi bisa mencapai 5-10 meter. Bentuk tulang daunnya menyirip lima jari. Menghasilkan bunga yang dapat dimasak (bahkan dijadikan obat alternatif bagi beberapa kalangan). Buahnya memiliki kulit daun yang tipis, permukaan tidak rata sehingga sulit dikupas. Buahnya berair, terasa manis bila masak, berukuran besar dan merupakan buah dari Thailand yang di budidayakan ulang di Indonesia.
Memiliki banyak manfaat, diantaranya mencegah kanker, daunnya bisa untuk obat diabetes (karena pengaruh rasa pahitnya), batang daunnya bisa untuk mainan dan kerajinan tangan yang bisa bernilai ekonomis tinggi. Dalam taksonominya, pepaya digolongkan ke dalam:
Kingdom         : Plantae
Ordo                : Brassicales
Famili               : Caricaceae
Genus              : Carica
Spesies             : Carica Papaya


8.      Cabai Rawit
Sangat popular di negara-negara Asia Tenggara sebagai bumbu penyedap masakan dan pemberi rasa pedas. Dianggap paling pedas karena memiliki tingkat kepedasan 50.000-100.000 pada skala Coville. Tinggi tanaman ini bila tumbuh dengan baik bisa mencapai 1,5 meter. Berakar tunggang, dengan diameter tahun yang kecil. Bentuk daun elips, dengan tulang daun majemuk biasa. Warna bunganya putih dan ungu, namun itu tergantung perawatan, cara bercocok tanam, dan racun apa yang di berikan ke dalam tanaman tersebut.

Dalam taksonominya cabai rawit tergolong ke dalam:

Kingdom         : Plantae
Ordo                : Solanales
Family              : Solanaceae
Genus              : capsicum
Spesies             : Frutescens

9.      Kopi
Hasil produksi tanaman ini cukup familiar di kalangan masyarakat. Terutama kandungan kafein yang tersimpan didalamnya. Berasal dari daerah Asia Barat, pertama kali di temukan awalnya oleh Bangsa Ethiopia di Afrika pada 3000 tahun yang lalu (1000 SM).
Disamping rasanya yang menarik, kopi kini menjadi suatu tren tersendiri di beberapa kalangan masyarakat. Berikut adalah macam-macam jenis Pengolahan Kopi:
a.       Kopi Hitam
Merupakan hasil ekstraksi langsung perebusan biji kopi yang disajikan tanpa penambah perisa apapun
b.      Espresso
Merupakan kopi yang dibuat dengan mengekstarsi biji kopi dengan uang panas yang bertekanan tinggi.
c.       Caffe latte
Sejenis espresso yang ditambahkan susu dengan rasio antara susu dan kopi 3:1
d.      Kopi moka
Serupa cappuccino dan latte tetapi dengan penambahan sirup coklat.
10.  Jengkol
Pada beberapa kalangan masyarakat tanaman jengkol menjadi makanan favorit karena bau dan rasanya yang khas. Pengolahan daging buah jengkol pun kini beragam, tidak hanya dimasak semur, tetapi juga di buat keripik bahkan rica-rica.
Tanaman ini merupakan endemik Asia Tenggara, bersifat diuretik dan dapat mencegah diabetes. Bijinya lunak dan pohonnya tumbuh menjulang tinggi hingga 7-10 meter lebih. jengkol adalah tanaman dikotil berakar tunggal
.
Namun, jengkol juga mempunyai kelemahan bila di konsumsi secara terus menerus. Yaitu penumpukan kristal di saluran urin yang disebut jengkolan. Hal ini disebabkan karena produksi asam jengkolat tinggi. Dalam taksonominya, jengkol termasuk dalam:
Kingdom                     : Plantae
Filum                           : Magnoliophyta
Kelas                           : Magnoliopsida
Ordo                            : Fabales
Family                         : Fabaceae


11.  Salak
Merupakan salah satu buah tropis yang banyak diminati oleh Jepang, Amerika, dan Eropa. Buah ini memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan dapat dikonsumsi untuk manisan.
Salak adalah sejenis palma dengan buah yang bisa dimakan. Tinggi tanaman salak bila tumbuh dengan baik dapat mencapai 4 meter. Daunnya menyirip tajam, terdapat duri-duri disepanjang batangnya. Pada beberapa tanaman salak yang tumbuh liar, biasanya dihinggapi ular salak (dengan sisik yang sangat mirip dengan buah salak) di bagian bawah pohonnya. Memiliki buluh dibagian kulit buah yang masih muda. Dalam taksonominya, salak termasuk kedalam:
Kingdom         : Plantae
Filum               : Magnoliophyta
Class                : Liliopsida
                        Ordo                : Arecales
                        Family             : Arecaceae
                        Genus              : Salacca
                        Species            : s. zalacca
                       
12.  Buncis
Buncis dikenal sebagai sayuran sehat berklorofil dan berserat tinggi yang sering digunakan sebagain bahan pokok lauk-pauk khas indonesia. Tanaman buncis tumbuh segar didaerah pegunungan beriklim sejuk. Tumbuh dengan cara merambat, biasanya para petani membudidayakan dengan melilitkannya pada 3 batang bambu yang disusun piramida. Tanaman ini akan tumbuh merambat dan buahnya bergelantungan. Warnanya hijau segar, namun dapat berwarna kekuningan bila hampir layu. Memiliki panjang buah sekitar 20 cm. Dalam taksonominya, buncis termasuk ke dalam:

Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Fabales
Famili              : Fabaceae
Genus              : Phaseolus
Spesies : P. Vulgaris
Pemanfaatan tanaman buncis adalah bagian buahnya bisa digunakan sebagai sayuran yang kaya akan protein  dan vitamin. Sayur ini berguna untuk membantu menurunkan tekanan darah serta mengawal metabolisme gula dalam darah. Selain itu, sayur ini mengandung serat dan enzim yang tinggi untuk membantu menurunkan berat badan.

13.  Kacang panjang
Kacang panjang merupakan tanaman yang dijadikan sayur atau lalapan. Ia tumbuh dengan cara memanjat atau melilit. Ia mudah didapat di kawasan panas di asia. Kacang panjang berguna untuk mengobati berbagai macam penyakit, seperti: anti kanker, kangker payudara, leukimia, anti bakteri, anti virus, antioksidan, dan lain-lain.
Dalam taksonominya, kacang panjang termasuk ke dalam:
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Fabales
Family             : Fabaceae
Genus              : Vigna
Species            : V. unguiculata
Kacang panjang mengandung sumber protein yang baik, vitamin A, thiamin, riboflavin, besi, fosfor, kalium, vitamin C, folat, Mg, dan Mangan.


14.   Sawi Hijau (Caisin)
Sawi hijau merupakan jenis sayuran yang cukup populer. Dikenal pula sebagai caisin, sayuran ini sangat mudah dibudidayakan dan dapat dimakan atau diolah menjadi asinan. Jenis sayuran mudah tumbuh didataran rendah maupun dataran tinggi. Bila ditanam pada suhu sejuk tanaman ini akan cepat berbunga.

Dalam taksonominya, sawi hijau termasuk ke dalam :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Brassica rapa
Family             : Brassicaceae
Genus              : Convar
Spesies : Parachinensis
Karena mudah tumbuh dan responsif terhadap perubahan lingkungan, sawi hijau sering dimanfaatkan sebagai tumbuhan percobaan untuk pemupukan, kesuburan, dan gangguan karena kurang hara.
15.  Nanas
Nanas adalah sejenis tanaman tropis  yang berasal dari negara Brazil, Bolivia, dan Paraguay. Perawakan tumbuhannya rendah dengan panjang 30 cm, berujung tajam, tersusun dalam bentuk rose2t mengelilingi batang yang tebal.

Dalam taksonominya, Nanas termasuk ke dalam:
Kingdom         : Plantae
Ordo                : Poales
Family             : Bromeliaceae
Genus              : Ananas
Spesies : A. comosus

Buah nanas mengandung Vitamin A dan C sebagai antioksidan, dan juga mengandung Bromelain berkhasiat sebagai anti radang, membantu melunakan makanan di lambung serta menghambat pertumbuhan sel kanker. Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita penyakit sembelit.
16.  Petai
Petai atau melanding merupakan pohon tahunan tropika dari suku polong-polongan. Tumbuhan ini tersebar luas di wilayah Indonesia. Petai dikonsumsi ketika masih segar maupun direbus. Pohon petai menahun tingginya dapat mencapai 20meter dan kurang bercabang. Daunnya majemuk dan tersusun sejajar. Bunganya majemuk tersusun dalam bongkol. Bunga muncul biasanya di dekat ujung ranting. Buahnya besar memanjang bertipe buah polong.
Dalam taksonominya, petai termasuk ke dalam :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Class                : Magnoliopsida
Ordo                : Fabales
Family             : Fabaceae
Genus              : Parcia
Spesies : P. spesiosa

Manfaat petai merupakan sumber energi yang mengandung protein empat kali lebih banyak dari apel, memiliki karbohidrat dua kali lebih banyak dari apel, memiliki fosfor tiga kali lipat dari apel, vitamin A dan zat besi lima kali dari apel dan dua kali lipat jumlah vitamin dari mineral lainnya. Petai mengandung tiga macam jenis gula alami yaitu fruktosa, sukrosa, dan glukosa.

2.2.2           Jenis Tanaman Endemik
            Tanaman endemik adalah gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik suatu organisme harus ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain. Faktor fisik, iklim, dan biologis dapat menyebabkan endemisme.
            Beberapa ancaman terhadap wilayah dengan endemisme tinggi adalah penebangan hutan secara berlebihan serta metode pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Dua faktor ini umumnya didapati pada negara-negara dengan populasi yang tinggi. Misalnya di daerah purwokerto dan sekitarnya terdapat tanaman endemik, yaitu tanaman padi dan jagung.

2.2.3           Hasil Produksi Pertanian
             Pada zaman penjajahan Belanda Desa kebumen merupakan Desa penghasil manis jangan yang dieksport hingga ke jepang. Namun, sejak tahun 1955 manis jangan tidak lagi di eksport karena lahan yang dikuasi oleh belanda sudah di kembalikan kepada warga desa kebumen dan saat ini hasil produksi pertanian utamanya adalah pohon albazia. Pohon albazia digunakan untuk produksi mebel dan bahan baku pembangunan rumah. selain pohon sengon juga terdapat pohon jati kebon dan jati emas yang hasil produksinya untuk bahan baku pembangunan rumah dan bahan pembuatan mebel.
Untuk jenis tanaman pangan utama hasil produksi pertaniannya yaitu beras dan jagung. Beras dan jagung mengandung karbohidrat yang berfungsi sebagai zat pembangun tubuh dan penghasil energi bagi manusia.
Untuk jenis tanaman sayur terdiri dari daun bawang, kacang panjang, buncis, terung ungu dan hijau, sawi, dan cabai rawit. Hasil produksi tersebut distribusikan kepada warga desa itu sendiri.
Untuk jenis tanaman buah terdiri dari durian, nanas, salak, dan kopi. Hasil produksi distribusikan untuk warga desa itu sendiri dan sekitarnya.
Hasil-hasil produksi pertanian di desa kebumen merupakan milik individu atau perorangan. Dan mereka mendistribusikan sendiri hasil pertanian tersebut langsung ke konsumen dan tempat transaksasi jual beli.




BAB III

PENUTUP



3.1       Kesimpulan
            Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas merupakan daerah pertanian yang cukup subur sehingga dapat ditanami berbagai macam tanaman yang dibudidayakan. Dan sebagian besar tanah pertaniannya milik pribadi atau individu.
Di desa Kebumen, mempunyai organisasi kelompok tani (GAPOKTAN) yang terbagi dalam 6 kelompok tani, yaitu ngudi mulyo 1, ngudi mulyo 2, ngudi mulyo 3, wanita tani, petani hutan, dan raharja. Namun kenyataannya, organisasi kelompok tani tersebut belum berjalan maksimal. Hal ini dikarenakan kurangnya keprofesionalisme dari masyarakat dan perangkat desa. Sehingga kurang maksimal dalam hal pendistribusian hasil tani.
3.2  Saran
Perlu diadakannya revitalisasi organisasi kelompok tani agar tercipta keharmonisasian antara perangkat desa dengan organisasi tani serta warga sekitar. Profesionalisme dalam bekerja pun juga dibutuhkan supaya menghasilkan hasil tani yang maksimal dan bermanfaat juga bagi warga desa. Perlu diubah pandangan dari individualisme kerja menjadi sesuatu yang bersifat kerjasama dan bergotong royong.  Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penyuluhan kepada masyarakat sangat diperlukan, mengingat cara bercocok tanam warga desa yang masih tradisional dan enggan menggunakan teknik modern.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship