-->

Rp 15 Juta Dari Ketimun


Mentari sore sudah mulai turun di sisi barat, Minggu (10/6). Agak hangat, tapi disitulah letak nikmatnya. Semilir angin menciptakan pohon kepala di kejauhan berlenggak-lenggok, menyerupai penari. Sementara di pondok, Tohari bersama istrinya sedang asyik memilah ketimun. Yang bentuknya kurang baik, dipisah.
Itu panen terakhir ketimun untuk kali ini.
Hasilnya lumayan, lima ton. Harganya pun lumayan, sekitar Rp 3 ribu per kilogramnya. Berarti sekitar Rp 15 juta dikantongi Tohari dari hasil sekitar 4500 batang ketimun. Beberapa hari lalu, ia juga gres panen jagung yang hasilnya juga lumayan.
Hanya saja, selama beberapa waktu terakhir Tohari tak lagi menanam cabe. Debu dari eksplorasi bauksit menciptakan daun cabai rusak. Padahal harganya cukup bagus. Saat ini saja harga cabai di Kota Tanjungpinang, per kilogramnya mencapai Rp 36 ribu.
Tapi Tohari bersyukur, alasannya yaitu sekarang perlahan ia dan keluarganya dapat mulai hidup layak. Keputusannya untuk merantau dari tanah Pasundan, tidak sia-sia. Apalagi ketika ini ia tak banyak mengeluarkan modal. Hanya modal bibit, tenaga dan kemauan. Sedangkan tanah, ia pinjam cuma-cuma dari pemilik lahan bauksit.
Malah hasil pertaniannya tidak hanya masuk pasar lokal, tapi juga dibeli pengumpul di Batam, Tak banyak orang Melayu yang dapat menyerupai Tohari dan keluarganya. Orang Jawa cenderung lebih sukses di tanah Melayu ini.
Bukan tanpa alasan. Karena memang orang Jawa lebih sabar dan tekun. Ditambah orang Jawa lebih biasa bekerja di atas tanah. Sedangkan kami orang Melayu, biasa menunggangi ombak di lautan. Tohari contohnya, merantau ke Tanjungpinang semenjak 1990.
Awalnya ia diajak saudaranya membuka lahan untuk perhotelan di Lagoi. Setelahnya, ia sempat luntang lantung sampai risikonya menjadi petani. Kini, dari bertani Tohari sudah mempunyai motor, tanah dan perlahan membangun rumah.
Angin kembali berhembus, membawa aroma keringat Tohari yang bagiku sedikit berbau tak sedap. Tapi tak mengapa, itu keringat kerja keras, keringat tak kenal lelah mengolah tanah Tuhan. Ya, memang sebaik-baiknya makanan yaitu yang diusakan sendiri.
Tohari juga tak pelit. Niat untuk membeli ketimun, malah diberi gratis. Plus jagung yang sudah direbus, juga ilmu yang tak dapat diperoleh di kursi sekolah. Bahwa, tidak ada yang tak mungkin. Buktinya, diatas tanah bauksit yang disebut tak dapat ditanami, Tohari dapat menyambung hidup yang lebih baik

Sumber : kompasinan.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship