-->

Rekayasa Manusia


Di dalam hidup ini, kita sanggup mencapai hal apapun jua yang jauh melebihi dari apa yang pernah kita bayangkan untuk sanggup tercapai. Tidak percaya? Coba lihatlah kehidupan masing-masing sobat sendiri. Dibandingkan 10 tahun yang kemudian tentu ada banyak sekali perubahan yang sudah kita alami. Bagi sobat yang gemar sekolah, sekarang banyak yang sudah menyandang gelar profesor. Bagi sobat yang tekun berbisnis, sekarang besar hati melihat perusahaannya
 listed di bursa, terus bertumbuh, dan terkemuka. Bagi sobat yang mendedikasikan diri di bidang olahraga, sekarang menjadiliving story akan diam-diam dan kunci prestasinya kepada mereka yang membutuhkan. Dan begitu banyak lagi kisah dan versi lainnya dari hidup kita masing-masing yang mengagumkan. Tak kurang dari ratusan standar pencapaian yang ada di dunia ini, pun terus menampilkan sejarah yang bisa menginspirasi banyak orang. Mulai dari Guinness World Records, Olympics Records, Time 100, Fortune Global 500, Nobel Prize, dan lain-lain, yang kesemuanya menceritakan satu hal kepada kita untuk dicermati bersama: kapasitas manusia.

Apakah talenta dan kecerdasan yang diwariskan, ataukah pembelajaran dan training yang dilakukan, yang bisa menciptakan semua pencapaian itu menjadi nyata? Kita semua menyadari bahwa pembelajaran dan pelatihanlah yang lebih banyak berperan dalam memaksimalkan kapasitas kita sebagai manusia. Melalui sebuah “rekayasa pikiran”, yang melibatkan secara aktif kiprah keyakinan dan emosi, menyerupai optimisme, meaningful self-talks, manajemen mood, imajinasi, atau motivasi kenikmatan vs. penderitaan, ditambah dengan strategi, teknik, role model, mentor, serta proses pembelajaran yang tepat, semua orang mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan kapasitas di bidang apapun juga semasa hidupnya. Mind beyonds body ujar beberapa pakar. Hal mana yang sanggup kita simak dalam aneka macam fenomena kehidupan.
Dalam acara The Biggest Loser misalnya. Semua kontestan dengan bobot tubuh yang sangat gemuk sekalipun, ternyata bisa untuk menciptakan terobosan, yakni menurunkan berat badannya sampai 50% dari beratnya semula. Hal yang tampak tidak mungkin namun menjadi mungkin dengan memakai pendekatan menyerupai apa yang telah dijabarkan di atas. Begitupun halnya dengan fenomena yang terjadi kepada para kontestan Fear Factor, komunitas suspensi Fakir Musafar, penganut sekte Nath di India yang melaksanakan ritual berjalan di atas api, Nelson Mandela yang bisa bertahan walau dipenjara selama 26 tahun, Y.W. Junardy yang awalnya operator berijazahkan SMU namun jadinya menjabat presiden administrator IBM Indonesia, Mark Zuckerberg yang mendirikan facebook, para pemecah rekor dunia, bahkan dalam fenomena ESP (extra sensory perception), intelijen, maupun terorisme.
Kekuatan pikiran kita, yakni keyakinan dan emosi, yang dikombinasikan dengan fokus berpengaruh pada training pembelajaran terhadapnya, bisa mengubah sikap dan karakter, serta menghasilkan karya dan penemuan.
Sebagai fasilitator belajar, pun saya sering menunjukan akan hal ini. Sekedar menyebarkan dongeng kepada sahabat, beberapa tahun yang kemudian salah seorang karyawan kami berinisial D, berusia 36 tahun, sudah mengabdi di kantor kami selama 7 tahun berturut-turut dengan jabatan dan pekerjaan yang sama, yakni sebagai seorang office boy. Tugas komplemen lain dia yaitu sebagai kurir perusahaan untuk korespondensi tempat Jabodetabek dengan memakai sepeda motor. Sebelum bergabung ke kantor kami, pengalaman kerjanya hanyalah sebagai seorang buruh bangunan setamatnya dari STM. D tak bisa berbahasa Inggris apalagi mengoperasikan komputer.
Saat salah seorang karyawan di bidang ekspor-impor mengundurkan diri, kami sangat kesulitan mencari penggantinya. Namun saya menantang diri untuk mengajukan D sebagai kandidat internal ke Manajemen alasannya yaitu saya melihat kemauannya yang tinggi untuk belajar. Setelah melalui diskusi yang panjang, administrator kami yang bijak pun mempersilahkan saya untuk merealisasikan hal ini dengan syarat, yang bersangkutan benar bisa melaksanakan tugasnya yang gres nanti.
Rekan-rekan kantor ketika itu menganggap saya berlebihan, namun saya tetap bersikeras dengan meminta waktu 3 bulan dalam mempersiapkan D. Selama 3 bulan tersebut, selepas jam kantor di malam hari, saya memperkenalkan komputer, khususnya aplikasi perkantoran, dan bahasa Inggris kepada D, yang nota bene seumur hidup gres kali ini mempelajarinya secara intensif. Namun syukurlah, dengan ketekunan dan kesabaran ketika membimbingnya, sesudah 3 bulan, D bisa untuk berbahasa Inggris dan mengerjakan urusan ekspor-impor dengan lancar layaknya karyawan yang mengundurkan diri tersebut. Dan akhirnya, Manajemen pun menyetujui untuk mempromosikan D sebagai staf ekspor-impor kami yang baru. Sebuah proses yang tidak gampang untuk dijalani namun sangat membahagiakan untuk saya kenang.
Merangkum goresan pena ini, saya mengajak sobat semua untuk mensyukuri limpahan nikmat karunia-Nya yang luar biasa kepada diri kita masing-masing. Bahwa dimanapun kita berada ketika ini, sebenarnya kapasitas kita sebagai insan di bidang apapun, dengan izin dan perkenan dari-Nya, akan sanggup kita kembangkan sebaik-baiknya melampaui apa yang sanggup kita bayangkan. No matter what.
 Sumber : kompasiana.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship