-->

Kisah Sukses Carnegie-Buffett

Warren Buffett. Siapa yang tak kenal nama ini. Sedikitnya, tiap orangyang membaca berita-berita ekonomi, atau pemain di bursa saham seluruh dunia, mengenal nama ini dengan baik. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mencoba menggandakan sepak terjangnya, berguru darinya, atau bahkan ingin menjadi menyerupai Buffett.

Selama bertahun-tahun nama Buffett tercantum sebagai salah satu dari orang terkaya di dunia, bergantian dengan Bill Gates. Dalam biografi berjudul The Snowball yang ditulis Alice Schroeder tahun 2008 (diterjemahkan oleh penerbit Elexmedia, 2010, setebal lebih dari 1352 halaman), disebutkan jumlah kekayaan pribadinya pernah melebihi 60 miliar dolar Amerika, sekitar Rp 540 triliun. (Jika harta Buffett dibagikan kepada 30 juta penduduk miskin di Indonesia, maka masing-masing orang akan kebagian 2.000 dolar Amerika, kurang lebih Rp 18 juta).

Nama besar Buffett inilah yang menciptakan saya pribadi duduk menonton tayangan mini biografinya di sebuah akses tivi berbayar belum usang ini. Sayang saya hanya sempat melihat tayangan 15 menitan terakhir. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya saat Buffett bicara wacana sertifikat yang dipajang di kantornya.

Ia menyampaikan bahwa tidak satu pun ijazah pendidikan formalnya yang tertempel di dinding tempatnya bekerja. Tetapi sertifikat dari Dale Carnegie Training ada. Ketika ditanya mengapa begitu, ia menjawab singkat, "Pelatihan Dale Carnegie mengubah hidup saya".

Sebagai mantan pelatih senior berlisensi Dale Carnegie Training, saya menduga bahwa aktivitas pembinaan yang mengubah hidup Warren Buffett itu adalah Effective Speaking and Human Relations(ESHR). Program ini merupakan satu dari dua aktivitas yang memang dirancang pribadi oleh Dale Carnegie (1888-1955) lewat proses panjang yang mengagumkan. Diujicoba dan dilatihkan untuk umum semenjak 1912, pembinaan yang awalnya bernama Public Speaking for Businessmen ini memang fenomenal, sehingga "penganut"ajaran Carnegie disebut Carnegian. (Bisa ditambahkan bahwa Mochtar Riady, pendiri kelompok Lippo; Jonathan L. Parapak, Direktur Utama PT Indosat pada masa Orde Baru, dan Cacuk Sudarijanto, yang pernah menjabat sebagai Direktur Telkom, ialah alumni Dale Carnegie Training tahun 70-an akhir).

Apa inti pokok fatwa Carnegie, yang berhasil menginspirasi dan mengubah hidup banyak orang, termasuk orang sekaliber Buffett?
Jawabannya sanggup ditemukan dalam dua karya klasik: How To Win Friends and Influence People (terbitan 1936) danHow To Stop Worrying and Start Living (1948). Kedua bukubest-seller sepanjang masa itu yang ditulis oleh Dale Carnegie menurut catatan yang amat cermat dari kesaksian penerima pelatihannya selama puluhan tahun, ditambah sejumlah referensi. Gaya penulisannya populer, sehingga sangat nikmat dibaca.

Dalam How to Win, Carnegie secara cerdas merumuskan 30 cara atau teknik untuk menjadi pribadi yang disukai, rekan kerja yang menyenangkan, dan pemimpin yang efektif. Ke-30 teknik human relations itu sanggup dibedakan dalam tiga kategori.

Kategori pertama untuk mendapat teman, yang memuat 9 cara semoga gampang disenangi orang lain. Mulai dari anjuran menghindari kebiasaan menyalahkan, mengomeli, dan mengkritik; berikan penghargaan kepada orang lain; beri dorongan untuk maju; berikan perhatian yang tulus ikhlas; tersenyumlah; sebutkan nama lawan bicara; jadilah pendengar yang baik; bicarakan hal yang diminati orang lain; hingga buatlah orang merasa sebagai very important person (VIP).

Kategori kedua untuk mendapat kolaborasi antusias dari rekan kerja, berisi 12 cara. Mulai dari anjuran untuk menghindari debat kusir; hormatilah pendapat orang lain; jikalau salah akui dengan simpatik; mulailah dengan ramah; upayakan respons ya, ya, dan ya; biarkan orang lain berbicara lebih banyak; buat orang merasa bahwa itu idenya; cobalah melihat dari sudut pandang orang lain; tunjukkan simpati para ide orang lain; imbau dengan motivasi agung dan mulia; dramatisir ide-ide Anda; hingga berilah tantangan untuk maju.

Dan kategori ketiga, berisi 9 cara menjalankan tugas sebagai pemimpin yang menghargai manusia. Mulai dengan penghargaan yang jujur; beritahu kesalahan orang secara tidak langsung; akui kesalahan sendiri sebelum mengkritik orang; ejekan pertanyaan sebagai ganti perintah langsung; selamatkan muka orang; pujilah kemajuan sekecil apa pun; beri reputasi tinggi untuk dicapai; buatlah kesalahan tampak gampang diperbaiki; hingga buatlah orang lain senang melakukan ide Anda.
Dalam How To Stop Worrying, Carnegie juga menunjukkan 30 tehnik mengatasi kecemasan dan kekhawatiran yang tak perlu. Mulai dari fakta-fakta mendasar yang perlu diketahui wacana kesedihan hati; teknik dasar menganalisis kesedihan hati; bagaimana menghancurkan kebiasaan bersedih hati; tujuh cara menyebarkan perilaku mental semoga hidup tenteram bahagia; cara paling tepat untuk tak bersedih; cara menghadapi kritik orang; enam cara semoga jangan lekas lelah; mencari pekerjaan yang menciptakan Anda bahagia; mengurangi kekhawatiran alasannya ialah duduk kasus keuangan; dan
seterusnya.

Jadi, fatwa Dale Carnegie bertumpu sedikitnya pada lima pilar utama. Pertama, jadilah mitra yang menyenangkan. Kedua, jadilah rekan kerja yang antusias. Ketiga, jadilah pemimpin yang efektif. Keempat, kuasailah cara mengatasi ketakutan, kekhawatiran, kecemasan atau kesedihan hati. Dan akhirnya, jadilah pembicara yang baik.

Buffett mendapat manfaat besar yang mengubah hidupnya dari fatwa tersebut. Anda?


Sumber : andriewongso.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship