-->

Ketika Kreativitas Berkontribusi Dalam Sebuah Perekonomian


Pergeseran sistem perekonomian di Indonesia yang semula berbasis pertanian, lalu menjadi kurun industrialisasi, dan kini balasannya dengan optimisme, luapan aspirasi untuk mendukung Indonesia menjadi negara maju, serta pemikiran-pemikiran, cita-cita, imajinasi dan mimpi untuk menjadikan masyarakat hidup sejahtera dan kreatif,
beradalah Indonesia dalam suatu kurun yang dirumuskan dalam suatu perencanaan jangka panjang oleh pemerintah dengan dikepalai oleh Dr. Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan RI), maka terumuskanlah

”Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015”, yaitu kurun ekonomi kreatif. Industri kreatif merupakan bab yang tak terpisahkan dengan ekonomi kreatif. Kolaborasi antara Pemerintah-Pengusaha-Cendikiawan sangat dibutuhkan dalam mendukung pengembangan 14 subsektor industri kreatif nasional, antara lain: sektor periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, design, fesyen, video; film; fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan; percetakan, layanan komputer; piranti lunak, televisi; radio, riset; pengembangan.



Peluang indsutri kreatif dalam negeri atapun dunia internasional sangatlah besar, apalagi dengan majunya tingkat pendidikan dan kesehatan di aneka macam dunia, maka contoh hidup kebanyakan masyaraktpun berubah alasannya yaitu adanya keterhubungan dan internasionalisasi yang tercipta. Ekonomi kreatif ini tentu saja sanggup menyokong perekonomian negara kita, ketika ketika ini sedang terjadi krisis perekonomian global yang mengakibatkan jumlah ekspor menurun, maka ekonomi kreatif-lah yang dibutuhkan menjadi penyokong perokonomian Indonesia yaitu dengan memanfaatkan produk-produk lokal yang kita miliki dan SDM yang tentunya mempunyai kreatifitas tinggi, begitu juga dengan musik. Industri musik merupakan salah 1 subsektor yang termasuk dalam ekonomi kreatif, melihat perkembangan musik dunia yang begitu cepat berkembang menyerupai di Korea misalnya, maka hal inilah yang lalu menjadi trigger bagi dunia musik kita biar sanggup tetap berkompetisi dengan pasar internasional. Selain itu, dengan melihat keberagaman ”sosio-kultura” yang dimiliki Indonesia, maka seharusnya sistem ekonomi kreatif menjadi sangat gampang untuk dikembangkan di negara ini.

Namun demikian banyak hal yang perlu kita sadari, permasalahan utamanya yaitu mengenai ada atau tidaknya ketersediaan SDM yang kreatif dan berkualitas di dalam negeri, serta masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Harus disadari bahwa negara-negara maju lainnya sudah lebih dulu mengalami masa ”ekonomi kreatif” sehingga hal ini tidak gila lagi bagi mereka. Namun di Indonesia perlu ditilik kembali ihwal bagaimana teknologi dan pelatihan-pelatihan yang harus tersedia untuk menunjang keberhasilan ekonomi kreatif di Indonesia. Begitu juga dengan persoalan HKI, beberapa kali sering kita dengar permasalahan antar Indonesia dan Malaysia terkait HKI, inipun juga yang harus diedukasikan kepada masyarakat kita biar mempunyai pandangan dan wawasan yang lebih luas mengenai kebudayaan daerahnya.

Memang harus diakui perkembangan ekonomi kreatif sangat menawarkan bantuan yang signifikan kepada Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini. Selain itu, tentu saja dengan makin berkembangnya 14 subsektor diatas, maka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal dipedesaan (ataupun perkotaan) meningkat, lalu tingkat ekspor dari Indonesia pun meningkat dan hal ini tentu saja menawarkan imbas faktual dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. rasanya kita membutuhkan sebuah revolusi dalam aneka macam aspek. Sudah saatnya kita mulai memikirkan bagaimana caranya melestarikan warisan dan nilai-nilai budaya yang Indonesia miliki, mulai kembali membenahi setiap sektor industri kreatif biar “ekonomi kreatif” di Indonesia sanggup berlangsung usang dan tentunya menawarkan dampak faktual tidak hanya bagi negara, tapi juga bagi masyarakat.

Sumber : kompasiana.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship