-->

“Imperialisme Dan Kapitalisme” Dimata Bung Karno


“Imperialisme itulah penghasut yang bersarang menyuruh berontak, lantaran itu bawalah itu ke depan polisi dan hakim” (Bung Karno)

“Menolak Kerjasama” dengan pihak ajaib yaitu cara Bung Karno untuk menutup peluang Penjajahan Gaya Baru (Imperialisme Moderen), lantaran Bung Karno sudah sangat faham dengan pola-pola yang digunakan dan cara-cara penjajah menanamkan cengkramannya di Tanah Indonesia. 
Membangun kekuatan Bangsa Indonesia yaitu menjadi tujuannya, dan itulah tujuan final dari Kemerdekaan Indonesia.
Imperialisme Moderen bisa masuk lewat Kapitalisme, itu yang diyakininya. Dalam pandangan Bung Karno, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dar cara produksi yang memisahkan kaum buruh dengan alat produksi. Kapitalisme timbul dari cara produksi, yang menjadi alasannya nilai lebih tidak jatuh ketangan kaum buruh, melainkan ketangan pengusaha. Kapitalisme meyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisai kapital, dan indutrieel reserve-armee (barisan penganggur). Kapitalisme memiliki atah kepada verelendung (memelaratkan kaum buruh).**
Apa yang ditakuti dan dikatakan Bung Karno dalam Pledoinya “Indonesia Menggugat”dihadapan pemerintah Belanda 18 Agustus 1930, terjadi kini ini, fase imperialisme moderen lewat Kapitalisme sudah kita hadapi. Cengkraman kuku-kuku imperialisme dan bujuk rayu kaum imperialis sudah mulai kita rasakan. Sebagian besar dari bangsa ini menikmatinya sebagai upaya untuk menumpuk kekayaan dengan cara menjadi boneka kaum imperialis, dan sebagiannya lagi mencicipi ketertindasan.
Kita memang butuh investor dan kita butuh proteksi modal asing, yang menjadi persoalan yaitu bukan investor dan pinjamannya, yang menjadi persoalan yaitu perilaku pemerintah yang berkuasa dalam mengarahkan kebijakannya. Prinsip dari sebuah kerjasama dengan investor asing, Negara haruslah diuntungkan, dan rakyat tersejahterakan oleh kerjasama yang dilakukan dengan pihak asing. Ini yaitu hal yang tidak bisa ditawar kalau memang harus melaksanakan kerjasama.
Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian, dari kerjasama yang ada negara tidak diuntungkan, yang diuntungkan hanyalah pihak-pihak yang memilih kebijakan dan yang ada dalam bulat kebijakan, yaitu penguasa, pembuat hukum dan haluan kebijakan, dan rakyat tidak mencicipi manfaat apa-apa, terbuka lapangan pekerjaan tidak menjamin peningkatan kesejahteraan, semua tergantung hukum dan komitmen kerjasama.
Apakah semua ini sudah sesuai dengan impian Kemerdekaan ?  Jelas belum sesuai dengan impian kemerdekaan bangsa. Kedaulatan rakyat saja sudah diabaikan, bagaimana mungkin rakyat akan tersejahterakan. Amanat UUD 1945 salah satunya yaitu Mencapai kehidupan rakyat yang Adil dan Sejahtera, memang untuk mencapai itu tidak mudah, tapi juga tidak sulit kalau diupayakan. Mencapai Indonesia Merdeka saja yaitu sesuatu yang sangat sulit, tapi hal itu ternyata bisa dicapai.
Imperialisme Moderen lebih pada bentuk penjajahan secara ekonomi, yang dilakukan melalui banyak sekali politik ekonomi oleh negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi. Penjajahan ekonomi juga dilakukan lewat industrialisasi dan desentralisasi ekonomi, inilah yang sedang kita alami. Untuk melawan penjajahan ekonomi jalan satu-satunya yaitu membuat perekonomian yang mandiri, dengan mengembangkan pusat industri kecil dan menengah, menghidupkan perekonomian rakyat. Selain itu merubah arah kecerdikan kerjasama, membatasi investor ajaib dalam pengelolaan sumber daya alam.
Kalau tidak ada kesadaran dari penentu kebijakan dalam kerjasama dengan investor asing, maka para imperialis yang berkedok investor akan semakin merajalela, yang terjadi tidak lagi hanya penjajahan ekonomi, tapi juga sosial, budaya dan politik. tanda-tanda itu pun sudah mulai terlihat nyata. harus ada sebuah generasi gres yang bisa melaksanakan perubahan secara besar-besaran, yang bisa menghapuskan segala bentuk penjajahan di Tanah Indonesia yang kita Cintai ini.
“Aku satu-satunya presiden di dunia ini yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk berbagi sebuah gedung buatku. Tapi di hari berikutnya saya melarangnya. Ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka,” ujar Soekarno ibarat ditulis Cindy Adams dalam buku ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia’.
**Dikutip dari buku Mahakarya Soekarno-Hatta

Sumber : kompasiana.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship