-->

Dua Tangan Yang Bekerja Keras



Tubuh kurusnya tergolek tak berdaya. Kulit tipis membalut tulangnya yang terlihat mata. Dia yaitu perempuan yang cerdas dan tegar, tapi akibatnya beliau harus beristirahat alasannya sakit.

Dia dirawat di rumah sakit swasta yang mahal, tapi inilah rumah sakit yang paling dekat dengan rumahnya. Kaprikornus bawah umur dan cucunya bisa menjenguk atau menunggunya sembari mengerjarkan pekerjaan mereka sehari-hari.
Di usia tua, beliau masih bekerja dan mempunyai penghasilan. Penghasilannya cukup untuk biaya hidupnya. Dia niscaya ditolak untruk ikut Jamkesnas alasannya dianggap mampu, namun yang menciptakan saya mengernyitkan dahi saya tahu biaya dokter dan rumah sakit swasta ini niscaya tidak terjangkau olehnya. Besar penghasilannya masih terlampau jauh dengan biaya rumah sakit yang telah melambung tinggi.
Sejak muda, lebih keras dari suaminya, beliau membanting tulang. Membuka toko accumobil dan motor, tidak sungkan bergaul dengan pegawainya yang semua laki-laki. Menerima paket dan menciptakan permen. Dia tidak pernah mendapatkan uang yang cukup dari suaminya. Meski begitu beliau tidak meratapi alasannya suaminya cukup baik, tidak pernah menyeleweng meski kadang tidak sabaran.
Dia bersahabat dengan siapa saja. Ayahnya keturuan Cina, ibunya pribumi yang bergelar Hajjah.
Dia gampang bergaul alasannya keramahan dan kebaikan hatinya. Dia bahagia menolong orang lain. Dia gemar memasak, termasuk menciptakan permen tradisional. Resep permen ini didapat dari sepasang suami istri yang tidak mempunyai keturuan. Waktu muda beliau merawat sepasang suami istri ini yang sudah sakit-sakitan. Suami istri yang juga tetangganya ini mewariskan resep permen kepadanya. “Bisa untuk menambah penghasilan,” kata mereka. Permen tradisional buatannya digemari banyak orang. Bahkan sudah dikirim ke luar kota juga.
Jarang beliau menolak memberi pertolongan kepada teman-teman yang membutuhkan bantuannya. Apalagi usul cucu-cucu yang disayanginya. Dia berusaha memenuhi usul mereka. Karena itu semua orang menyayanginya.
Dia mempunyai dua anak perempuan. Anaknya yang bungsu sering sakit-sakitan alasannya tubuhnya memang lemah sedari lahir. Dia sukses menjaga anaknya dengan baik. Anak yang pertama dibekali pendidikan keterampilan salon, sehingga bisa membuka salon kecantikan sendiri. Anak yang kedua  lulus perguruan akuntansi yang cukup bergengsi.
Malang sebagian besar harta yang telah dikumpulkannya bertahap dijarah sekelompok orang suatu hari di bulam Mei tahun 1998. Penjarahan pada Mei 1998 itu membuatnya takut untuk hidup di jalan besar, akibatnya beliau menjual rumah warisan keluarga sebagian dibelikan rumah kecil di pinggiran kota. Dia tidak bisa lagi meneruskan perjuangan mendapatkan paket ataupun menyetrum accu karena tidak lagi tinggal di jalan utama. Tapi beliau masih menciptakan permen. Seorang menantunya tidak begitu beruntung. Dipecat dari pekerjaan yang cukup mapan sehingga anak bungsunya yang lemah badan harus kembali bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Dia mempunyai lima orang cucu, 4 perempuan, satu laki-laki. Dia bersahabat dan sayang dengan cucu-cucunya. Semua cucunya pun menyayanginya. Dia menabung, ikut arisan demi membantu anak bungsunya membiayai sekolah cucunya. Dia kadang juga ke sekolah berdiskusi dengan guru perkembangan pendidikan cucunya. Dia punya sedikit tabungan, tetapi ini masih terlalu sedikit untuk membantu biaya masuk Sekolah Menengan Atas salah seorang cucunya. Dia heran mengapa biaya pendidikan kini begitu mahal. Doa untuk anak-anak, menantu dan cucu-cucunya tidak pernah putus. Barangkali hanya ini yang bisa diperbuatnya kini sehabis paru-parunya banyak terisi air sehingga sering membuatnya sesak nafas.
Gaya hidupnya selalu sangat sederhana. Kemewahan jauh darinya. Dia tidak suka berada di mall, lebih suka berbelanja di pasar tradisional. Memasak dengan memakai arang. Termasuk memakai arang untuk menciptakan permen tradisionalnya. Mungkin beliau terlalu banyak menghirup asap masakannya. Karena sakit paru-parunya beliau harus banyak beristirahat dan bahkan sering keluar masuk rumah sakit.
Mungkin ini waktunya untuk beristirahat, sehabis sekian usang mengabdi untuk keluarga, selama bertahun-tahun. Atau mungkin inilah takdir kehidupan manusia: lahir, menuntut ilmu, bekerja, berkeluarga, mendidik anak-anak, hingga badan tidak lagi kuat.
Catatan:
Dengan dongeng aktual diatas bahwasanya saya ingin mereportase dongeng perempuan tangguh yang sukses tanpa terkecuali. Namun kenyataannya apa yang saya tulis yaitu wacana seorang yaitu perempuan tangguh, rajin, cerdas juga, sukses dalam beberapa hal namun tak berdaya menghadapi arus kenaikan inflasi, terutama biaya pendidikan dan biaya kesehatan yang harus dibayarkan. Bekerja dengan rajin dan keras, bisa bertahan hidup namun masih harus mengalami kesulitan dan tantangan dari faktor eksternal. Mungkin kita harus bekerja dengan lebih cerdas lagi, alasannya ternyata kedua tangan kita yang telah bekerja keras masih tidak cukup.
Tulisan ini saya persembahkan untuk Tante WN yang sedang tergolek sakit radang paru-paru. Ini yaitu penggalan dongeng aktual hidupnya. Tante, ketangguhan dan kebaikanmu tidak akan sia-sia bagi keluarga dan orang-orang di sekitarmu.
 Sumber : kompasiana.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship