-->

Budaya Ingin Cepat Kaya (Get Rich Quick)


Hampir semua orang ingin menjadi kaya. Tentunya dengan cara yang terhormat dan halal, biar apa yang diperolehnya menjadi berkah dan bermanfaat. Bukan dengan jalan pintas  atau instant yang bisa dicapai tanpa kerja keras dan  cerdas.
Hal ini juga sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa semuanya harus melalui proses. Dengan proses dan kerja keraslah bahwasanya yang membawa pujian bangsa ini. Lihat saja budaya kita yang populer di seanterao dunia yaitu budaya yang lahir dari proses kreatif dan kerja keras, alasannya yaitu kita tidak malas untuk berkeringat.
Tapi kenapa kita jadi kehilangan nalar dan menggantinya dengan budaya instant dan jalan pintas untuk menjadi kaya? Budaya instan ini justru mengakibatkan kita bangsa yang kerdil, alasannya yaitu budaya jalan pintas ini bahwasanya tak ada dalam kamus sejarah bangsa Indonesia. Demikian dengan kemerdekaan kita, yang diraih dengan tetesan darah, kehilangan nyawa serta keringat bukanlah hibah dari penjajah. Sungguh budaya jalan pintas ini memperlihatkan suri referensi yang amat jelek bagi anak bangsa ini. Padahal Bapak bangsa selalu mengingatkan untuk terus menggali kekayaan kita yang berlimpah dengan cara bekerja keras dan cerdas serta menghargai proses dalam menggapai suatu cita-cita.
Peristiwa ini mengingatkan kita pada Koperasi abal-abal ala Koperasi Langit Biru (KLB)atau penipuan yang berkedok investasi (investasi bodong) PT Gradasi Anak Negeri(GAN). Walau koperasi gres bangun tahun lalu, KLB sudah menjaring uang Rp 6 triliun dari 140 ribu nasabahnya. Begitu juga dengan terungkapnya penipuan oleh PT GAN pekan lalu. Hanya dalam waktu lima bulan saja PT GAN bisa menggaet 21 ribu investor. Total dana yang terkumpul oleh PT GAN ini mencapai Rp 390 miliar dengan investasi paling sedikit per nasabahnya Rp5 juta dengan dijanjikan uangnya bisa berlipat sampai puluhan juta dalam waktu relatif singkat (Editorial Media Indonesia, 11 June, 2012).
Praktik itu terperinci telah memperlihatkan tumbuh suburnya budaya instant atau budaya ingin cepat kaya (Get Rich Quick), yang semakin melenakan masyarakat kita. Meski kita punya uang yang bahwasanya bisa digunakan untuk berusaha, namun masyarakat lebih suka mendapatkan eksklusif tanpa perlu bersusah payah. Budaya instan ini pulalah yang menyuburkan praktik korupsi di negeri ini dengan menilep uang rakyat maupun  dengan menduduki jabatan atau kekuasaan dengan cara instant. Tentunya dengan cara berbuat curang, baik dalam pemilu maupun pemilu kada.
Walaupun keajabaiban atau miracles itu  ada, tapi tidak berlaku untuk semua orang. Makanya bagi kebanyakan dari kita, memang harus berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian. Kenapa kita jadi begitu gampang terpengaruh oleh iming-iming yang tidak masuk akal? Jangankan ingin cepat kaya, untuk makan siang pun tidak ada yang gratis. Suatu anekdot yang sempurna untuk menggambarkan ini, “There is no such thing as a free lunch”. Ini terperinci suatu sindiran bahwa bahwasanya semua harus dilalui dengan pengorbanan, apalagi kalau kita mau menjadi kaya. Pantaslah orang-orang kita jaman dahulu menyebutnya: “Jer Basuki Mowo Beo” yang pada dasarnya kalau kita menginginkan sesuatu, harus dimulai dengan menanam dan merawatnya, bahkan diharapkan biaya baik waktu, tenaga, pikiran dan terkadang juga uang.
Semoga kita bisa berguru dari pengalaman masa kemudian dan mengambil hikmah serta mengakibatkan kita lebih berhati-hati  dalam mendapatkan semua usulan yang ada. Kalau kita merasa usulan itu seolah-olah it’s too good to be true, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Tak ada salahnya kita untuk bersikap skeptis dan tidak percaya. Daripada kita alhasil menjadi korban atau mangsa. Bagaimana berdasarkan Anda???
Selamat Beraktivitas dan Terima kasih

Sumber : kompasiana.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship