-->

Apakah Orang Tetap Miskin Alasannya Pilihan Sendiri?


Kadang saya bertanya2 sendiri apakah orang miskin tetap miskin alasannya yaitu faktor diluar kontrol mereka. Apa benar mereka tetap miskin alasannya yaitu kurang menerima kesempatan yg layak?
Atau alasannya yaitu mereka sendiri orangya malas, maunya menyalahkan pihak luar dan berharap pemerintah, boss dan pihak luar lain yg menarik mereka keluar dari kemiskinan?

Dari satu pengalaman ini setidaknya saya sanggup mengintip cara berpikir ‘orang miskin’. Bulan Febuari kemarin saya membantu orang renta pindah rumah. Kami meminta dukungan 3 pegawai toko tetangga untuk membantu angkat barang2 furniture dsb. Saya ikut membantu mengangkat dan merasakan sendiri betapa melelahkannya pekerjaan mereka. Ketika semua pindahan sudah beres saya bilang ke ortu bayar mereka lebihan, kasihan mereka udah capek2 lagian kitakan gak tiap hari pindahan. Ortu menolak, alasannya: “Gak lezat ama tetangga bila kita bayarnya lebih dari honor harian yg beliau bayar, lagian takut mereka gak tiba kerja besok”.  Tapi saya tetap ngotot dan mereka dibayar lebih paling tidak 3x lipat dari honor harian di toko.
Besoknya, beneran saja 2 dari 3 orang pegawai kemaren tidak masuk kerja. Yg masuk kerja si supir yg memang populer rajin dan jujur. Melihat ini saya amat sangat kecewa. Maksud baik ingin membantu semoga mereka sanggup nabung dan menyiapkan masa depan malah ngeyel. Pemilik toko malah gak heran sama sekali dengan kejadian menyerupai ini. Menurut ortu (sebagian) wong kecil mikir duit cuma untuk sehari lewat sehari tidak berpikir jauh untuk masa depan. Kalau pikirannya menyerupai itu terperinci tetap miskin gak peduli brapa penghasilannya!
Dalam kasus lain pembantu sobat saya ngutang honor 3 bulan untuk beli HP terbaru yg belom tentu beliau ngerti dan perlu untuk profesi dia. Alasannya: untuk pamer waktu mudik bila beliau sudah ‘sukses’ merantau . Dalam kehidupan sehari2 saya juga melihat tukang bajaj, angkot yg menghabiskan duitnya untuk rokok dan taruhan kecil2an main kartu bukannya untuk menyekolahkan anaknya.
Salah Siapa?

Apakah fair menyalahkan mereka atas kemiskinan mereka? Mungkin saja diantara kita ada yg beropini bahwa mereka itu gak berpendidikan jadi maklum saja bila gak sanggup atur duit jadi harus dikasihanin.
Atau mungkin dari pola diatas kita pantas menyalahkan sobat saya yg membiarkan pembantunya ngutang honor 3 bulan? “Terserah dialah gajinya mau diapain emank gue financial planner dia!“. Mungkin kata temen saya bila ditanya hehe.
Atau budaya sekitarnya yg begitu mendewakan materialisme dan gengsi sebagai lambang kesuksesan sampai wong kecil pun terhanyut setidaknya ingin ‘mencicipi’?
Entahlah. Tapi satu hal yg pasti: memberi uang ke orang yg bermental miskin tidak akan menuntaskan persoalan kemiskinan. Baca berita ini kalau mau tahu lebih lanjut. Uang hanya menunda kebangkrutan bagi mereka yg bermental miskin!
Dari pengalaman dan pengamatan diatas setidaknya saya mencar ilmu untuk tidak naïf. Dulu saya percaya setiap orang miskin pasti mau dan berusaha keluar dari kemiskinan. Saya rasa pendekatan yg bersifat mendidik jauh lebih bermanfaat daripada memperlihatkan uang.
Beri mereka ikan maka anda memberi mereka makan untuk sehari, ajarkan mereka memancing maka anda akan memberi mereka makan seumur hidup”. – Pepatah Tiongkok

Sumber : kompasiana.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan

Iklan pulsa anita

Sponsorship