Usaha Mie Lidi Modal per Hari Usaha Mie Lidi Tak Sampai 70 Ribu Lho

Usaha Mie Lidi: Modal per Hari Usaha Mie Lidi Tak Sampai 70 Ribu Lho!

Peluang Usaha Mie Lidi

Generasi tahun 90-an pasti sudah tidak asing nih dengan camilan murah meriah bernama mie lidi. Pernah sangat eksis pada awal tahun 2000-an, beberapa tahun terakhir ini usaha mie lidi juga kembali tenar tidak hanya secara offline tapi juga di berbagai media sosial mulai dari Facebook hingga Instagram.

Camilan dengan cita rasa gurih, renyah, dan pedas ini juga memiliki angka penjualan cukup tinggi lho di sejumlah e-commerce dalam negeri. Hal ini karena mie lidi tidak hanya digemari oleh anak-anak sekolah tapi juga para orang dewasa. Sama seperti harganya yang murah, modal jualan mie lidi juga rendah lho.

Estimasi Modal dan Laba untuk Berjualan Mie Lidi

1. Bahan dan Alat

Harga dari masing-masing item dalam daftar berikut bisa berbeda di masing-masing kota/kabupaten dan tergantung juga dimana membelinya, apakah di toko biasa atau di mini/supermarket.

2. Bahan Baku Usaha Mie Lidi

100 gr tepung sagu Rp 4.000
1/2 kg tepung terigu Rp 10.000
2 butir telur ayam Rp 4.000
45 gr baking powder Rp 5.000
1 botol / 50 gr bubuk cabai Rp 17.500
1 bungkus kecil garam Rp 3.000
50 gr bubuk balado Rp 15.000
Plastik pembungkus mie Rp 5.000
Total= Rp 63.500

 

Takaran bahan dalam daftar di atas adalah untuk berjualan sehari / sekali jual (meskipun sebenarnya garam 1 bungkus tidak mungkin habis hanya dalam satu hari). Namun untuk mempermudah hitungan saja, maka anggaplah biaya operasional / modal harian untuk berjualan mie lidi adalah sekitar Rp 63.500 tadi.

Sedangkan biaya operasional untuk satu bulan (misalnya dalam satu bulan hanya ingin berjualan sekitar 25 hari), maka Rp 63.500 x 25 hari = Rp 1.587.500.

3. Peralatan

Usaha camilan mie lidi disebut hemat modal karena pelaku usahanya memang tidak membutuhkan banyak peralatan untuk membuat mie lidi.

Peralatan yang dibutuhkan termasuk sangat umum dan besar kemungkinan sudah ada di dapur rumah masing-masing, seperti kompor, tabung LPG, sendok, pisau, wadah / baskom, wajan, spatula, gunting, pengadung, dan lain-lain.

Namun, ada satu alat yang sepertinya tidak dimiliki oleh semua orang nih, yaitu gilingan / cetakan / pemotong mie. Alat ini tersedia di berbagai toko offline dan online, dengan harga paling murah sekitar 100 ribuan dan yang termahal hampir 3 juta.

Bentuk, fungsi, dan kualitas / ketahanan dari alat ini tentunya sangat tergantung pada harga. Semakin tinggi harganya tentu semakin bagus juga alatnya dan biasanya jauh lebih mudah dioperasikan daripada yang versi murah.

4. Estimasi Modal Awal Usaha Mie Lidi

Jika anggaran untuk membeli alat pemotong mie misalnya Rp 500.000, maka angka ini tinggal ditambah saja dengan total bahan baku dalam daftar di atas tadi. Jika langsung dikalkulasi untuk kebutuhan satu bulan, maka hasilnya adalah Rp 500.000+ Rp 1.587.500= Rp 2.087.500.

Berarti, dengan Rp 2.087.500 saja pelaku usaha sudah bisa mendapat alat pemotong mie dan modal untuk berjualan mie lidi selama 1 bulan. Dibanding berbagai jenis usaha kuliner lain, jumlah modal segini sudah termasuk sangat sedikit lho.

5. Estimasi Pendapatan Usaha Mie Lidi 

Pendapatan dari usaha mie lidi tergantung pada harga jual dari masing-masing penjual. Mie lidi sendiri di pasaran dijual dengan harga yang bervariatif, tapi umumnya di antara Rp 5.000 – Rp 10.000 untuk kemasan plastik kecil.

Ada juga yang menjualnya dalam kemasan lebih besar di dalam wadah toples plastik dengan harga sekitar Rp 15.000 – Rp 25.000 tergantung beratnya.

Jika misalnya mie lidi dikemas dalam wadah plastik kecil dan dijual dengan harga Rp 7.000/bungkus, lalu dalam sehari bisa menjual sekitar 30 bungkus, dan dalam satu bulan berjualan selama 25 hari saja bukan 30 hari, maka hasilnya adalah (Rp 7.000 x 30 bungkus) x 25 hari= Rp 5.250.000.

5. Perhitungan Laba Bulan Pertama

Laba pada bulan pertama akan berbeda dengan laba di bulan kedua dan seterusnya, karena cara menghitung laba pada bulan pertama adalah estimasi pemasukan bulan pertama dikurangi dengan modal awal yang di dalamnya ada alat utama yang harus dibeli berupa pemotong mie tadi.

Sedangkan laba untuk bulan kedua menggunakan perhitungan estimasi pemasukan dikurangi biaya operasional dalam satu bulan. Jika dihitung secara matematis, maka berikut gambarannya:

Laba bulan pertama       = pemasukan bulan pertama – modal awal

= Rp 5.250.000 – Rp 2.087.500

= Rp 3.162.500

Laba bulan berikutnya    = pemasukan per bulan – biaya operasional sebulan

= Rp 5.250.000 – Rp 1.587.500

= Rp 3.662.500

Jika penjualan dalam sehari kurang dari 30 bungkus, maka laba yang didapat pada bulan pertama dan berikutnya tentu juga tidak sesuai dengan angka di atas ya. Begitu juga jika penjualan sehari bisa lebih dari 30 bungkus, maka labanya juga akan lebih tinggi.

Jika ditulis secara ringkas, usaha mie lidi membutuhkan modal awal keseluruhan sekitar Rp 2.087.500, biaya operasional per hari Rp 63.500, dan laba setelah bulan pertama adalah Rp 3.662.500 tapi dengan syarat harus bisa menjual minimal 30 bungkus per hari selama minimal 25 hari dalam sebulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.