Panduan Budidaya Porang Lahan Terbuka

Panduan Budidaya Porang Lahan Terbuka

Panduan Budidaya Porang Lahan Terbuka

Orang adalah salah satu tanaman umbi yang sangat populer saat ini. Apalagi umbi ini dimanfaatkan untuk membuat beberapa produk seperti nasi atau mie shirataki. Selain itu bisa juga dibuat menjadi konyaku. Karena cukup memiliki nilai yang tinggi, budidaya porang lahan terbuka saat ini mulai digalakkan.

Budidaya porang ini akan meningkatkan Jumlah penghasilan khususnya pada penduduk di area pedalaman. Apalagi umbi ini suka sekali ditanam di area yang tidak terlalu subur. Jadi prosesnya bisa berjalan dengan cepat dan bisa dilakukan di semua tempat.

Budidaya Porang Lahan Terbuka

Budidaya porang yang dilakukan pada lahan terbuka cukup membantu meningkatkan produksi dari umbi yang sangat bernilai ini. Untuk mengetahui bagaimana proses budidaya yang tepat untuk umbi porang simak selengkapnya di bawah ini.

1. Memahami Syarat Tumbuh Porang

Hal pertama yang harus dipahami adalah mengetahui syarat apa saja yang harus dipenuhi agar porang yg bisa tumbuh dengan baik. Apabila tidak memenuhi syarat maka bisa saja tumbuhan ini tidak bisa tumbuh dengan maksimal atau mati dengan cepat. Berikut beberapa syarat tumbuh dari porang.

  • Harus memiliki pH tanah sekitar 6-7, apabila di luar dari itu maka pertumbuhan dari pohon tidak akan bisa maksimal.
  • Umumnya membutuhkan kerapatan naungan sekitar 40%. Artinya cocok ditanam dibawah pohon yang sangat besar dan tinggi seperti jati atau pohon lain. Jadi bisa melakukan tumpang sari ke beberapa pohon komoditas.
  • Orang sangat menyukai tempat yang cukup teduh bahkan memiliki toleransi yang cukup tinggi meski tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Selebihnya cocok sekali ditanam di dataran rendah.
  • Dataran rendah yang dimaksud disini adalah kawasan dengan ketinggian sekitar 0-700 meter diatas permukaan air laut. Jadi tidak perlu di kawasan pegunungan di kawasan dekat pantai pun bisa tumbuh dengan baik.

2. Mempersiapkan Lahan Terbuka

Tahapan awal dalam budidaya porang lahan terbuka adalah persiapan lahan. Agar tumbuh dengan maksimal maka porang harus ditanam dengan jarak yang tidak terlalu besar. Paling tidak masih bisa dilewati oleh orang yang tanpa mengalami kesulitan sama. Selanjutnya lahan tidak perlu digemburkan seluruhnya cukup di bagian yang akan ditanami bisa dibuat lebih gembur.

Bahan bisa dilakukan pada area yang terbuka atau area di bawah pohon yang cukup tinggi. Yang paling penting tanaman ini ditanam dengan kedalaman sekitar 25 cm. Hal ini dilakukan untuk menguatkan akar dan tidak mudah patah.

Bahan jenis apapun bisa dipakai asalkan sebelum ditanam, lubang bisa diberikan pupuk kompos atau jenis popok lainnya. Selanjutnya bibit dari porang bisa langsung ditanam sana. Penanaman bisa dilakukan secara monokultur ataupun secara tumpangsari. Jadi bisa disesuaikan dengan bahan yang dimiliki.

Meski demikian sangat direkomendasikan jika lahan yang digunakan berjenis monokultur atau tidak ditanami tanaman lainnya. Dengan begitu pertumbuhan dari porang bisa berjalan dengan baik dan akhirnya umbi yang dihasilkan bisa lebih besar.

3. Menyiapkan Bibit dan Penanaman

Porang biasanya disiapkan dalam bentuk ubi untuk bibitnya. Kopi ini akan dipotong kecil-kecil bagian yang memiliki tunas. Setelah itu dibiarkan terlebih dahulu selama beberapa saat sebelum dimasukkan ke dalam lubang yang sudah diberi pupuk.

Apabila menanam dalam bentuk biji disarankan untuk kesenangan dalam wadah polybag terlebih dahulu. Setelah tumbuh cukup tinggi baru dipindahkan ke lahan terbuka. Jangan menanam dalam bentuk biji di lahan terbuka karena akan sulit tumbuh dan tidak bisa diawasi dengan baik.

Apabila sudah mendapatkan bibit yang nantinya akan ditanam proses selanjutnya adalah memilih waktu penanaman yang tepat. Normalnya waktu penanaman yang tepat dilakukan saat awal musim hujan seperti pada bulan Oktober hingga Desember.

Pemilihan awal musim hujan dilakukan agar tanaman ini mendapatkan suplai air yang cukup. Selanjutnya jika memasuki musim panas tanaman akan tumbuh dengan sehat sehingga di bagian umbi dan akar mendapatkan cadangan air yang cukup tinggi.

Apalagi proses pemupukan juga harus dilakukan secara rutin. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan dari porang dan akhirnya bisa segera dipanen dengan hasil yang lebih tinggi.

4. Perawatan Tanaman Porang

Proses selanjutnya dalam budidaya porang lahan terbuka adalah perawatan. Perawatan porang sebenarnya cukup mudah dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Meski demikian tetap harus diperhatikan beberapa elemen yang ada di sekitar agar tanaman ini bisa tumbuh dengan optimal. Apabila tidak bisa tumbuh dengan optimal maka hasil yang didapatkan tidak akan sebanding dengan usaha.

Perawatan bisa dilakukan dengan menyiangi gulma atau tanaman yang mengganggu di sekitar lahan. Hal ini harus dilakukan tanaman tersebut tidak menyerap sari makanan atau nutrisi sehingga porang bisa tumbuh dan memiliki cukup banyak nutrisi untuk membuat umbinya semakin besar.

Selanjutnya adalah dengan melakukan pemupukan secara rutin. Sebenarnya proses pembentukan awal saja sudah cukup tetapi beberapa orang ingin memberikan tambahan agar umbi yang dihasilkan lebih besar dan saat panen menghasilkan lebih banyak porang.

Melakukan penjarangan memotong beberapa bagian dari tanaman porang yang tumbuh dalam satu tempat. Dalam satu lobang penanaman harus ada satu pohon porang agar pertumbuhannya bisa maksimal. Apabila lebih dari satu yang satu harus pangkas terlebih dahulu.

5. Panen Porang

Proses selanjutnya dalam budidaya porang lahan terbuka adalah melakukan panen dari porang. Setelah melakukan penanaman sekitar 7 bulan proses panen sudah bisa dilakukan. Jadi dalam 1 tahun bisa melakukan proses tanam dan panen nyaris 2 kali. Namun disarankan cukup satu kali Saja karena proses penanaman disarankan saat awal musim hujan saja.

Selanjutnya umbi yang sudah dihasilkan bisa langsung diolah dengan dipotong-potong lalu dikeringkan. Porang dalam bentuk tari memiliki harga yang jauh lebih tinggi. Satu kilo bisa berada di atas Rp100.000. sementara itu dalam bentuk mentah hanya sekitar Rp9.000.

Setelah panen biasanya sudah ada orang yang langsung mengambil hasil itu untuk diolah di dalam negeri atau di luar negeri. Pabrik pengolahan porang di dalam negeri sudah ada meski tidak terlalu banyak. Hasilnya adalah berbagai jenis produk olahan shirataki yang cocok untuk diet.

Selanjutnya jika ingin menghasilkan porang yang nantinya digunakan untuk bibit. Tanaman akan dibiarkan hingga maksimal 2 tahun. Setelah itu bisa langsung digali lalu umbinya digunakan untuk proses tanam lebih lanjut.

Dalam satu kali panen biasanya akan disisakan beberapa puluh atau ratus tanaman. Nantinya tanaman ini akan dibiarkan tumbuh hingga akhirnya menghasilkan bibit yang unggul dan tidak akan mudah mengalami kerusakan.

Bibit ini nantinya akan digunakan sendiri oleh para petani atau bisa juga dijual lagi. Bibit dari porang biasanya memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan porang standar meski sama-sama mentah dan belum diolah.

Budidaya porang lahan terbuka bisa meningkatkan produksi. Seorang petani bisa meningkatkan jumlah penghasilannya dalam satu tahun atau dalam satu musim panen. Apalagi umbi porang dikenal cukup mudah bertahan hidup dan juga berkembang dengan pesat.

Satu hal yang cukup disayangkan adalah umbi porang sering sekali diekspor dalam bentuk mentah. Padahal jika diekspor dalam bentuk olahan seperti aneka olahan shirataki akan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi. Meski demikian, ekspor dalam bentuk mentah sudah cukup membantu beberapa petani lokal Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *